The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Hunter



Ryan dan Hanna bergerak dengan cepat menembus perisai pertahanan kediaman keluarga Veronica.


Senjata yang dibuat untuk mereka dirancang khusus oleh asosiasi hunter yang dibuat untuk para esper berkemampuan khusus demi menjaga ketertiban dan kestabilan antara dunia manusia dan esper.


--Beberapa jam yang lalu--


Hanna yang merupakan keponakan dari pak ustadz mendengar pembicaraan pamannya itu dan para warga yang meminta bantuannya. Bermula dari feeling nya yang ingin mencari tahu keberadaan Kean, anak tetangganya, Hanna menelpon Seniornya, Ryan untuk meminta bantuan.


"Kak, bantuin nyari Kean." Ucap Hanna memohon di telpon.


Mendengar permintaan Hanna, Ryan hendak menutup telpon dari adik kelas nya yang merengek meminta bantuannya.


Mengetahui kebiasaan seniornya itu, Hanna langsung mengatakan kunci emas untuk membuka gembok pertahanan dari Ryan yang sekeras batu.


"Kalau kakak bantu aku satu kali ini aja, Aku jjanji beliin kakak makan dikantin selama 1 bulan! Beneran ini mah."


Mendengar itu, Ryan tak jadi menutup telponnya. Karena hal yang paling dia tak suka adalah mengantri dikantin dan bertemu dengan kerumunan orang yang membuatnya risih dan tak nyaman.


Merasa seniornya masih mendengarkannya lewat telpon, Hanna melanjutkan ucapannya sebelumnya.


"Jadi, kak. Nanti kita susul pamanku ke hutan deket rumah ku itu. Abis itu kita lihat situasi kalau butuh yah kita bantu gituh."


"Jam berapa?" Tanya Ryan singkat.


"Kalau bisa yah sekarang kak, hehe."


Dengan enggan, Ryan menggangguk.


Sesaat sampai di hutan yang dimaksud oleh Hanna, Ryan langsung menyadari bahwa ada energi tak biasa yang berasal dari hutan. Karena itu, untuk berjaga, Ryan segera menghubungi pihak asosiasi untuk melapor meminta ijin penggunaan senjatanya.


Senjata mereka di design khusus berdasarkan kemampuan yang mereka miliki.


Sesuai dengan kemampuan beladiri Ryan, Ryan diberikan pedang berwarna keemasan yang merupakan keahliannya dari jarak dekat. Sedangkan, Hanna yang ahli jarak jauh mendapatkan busur berwarna kebiruan dengan ukiran bunga teratai.


Setelah mendekati rumah kediaman Veronica, Ryan langsung mencari energi dari Kean yang mulai melemah.


"Kak!"


Hanna berteriak memberi peringatan untuk Ryan.


Karena fokus dengan pemusatan inderanya, Ryan hampir tak menyadari serangan yang datang dari para penjaga rumah.


Dengan reflek, Ryan menghindari serangan.


Keduanya dikepung oleh para penjaga yang semuanya merupakan vampire.


"Wah! Rame kak!" Hanna melihat sekelilingnya dengan khawatir.


"Berisik."


Ryan sebenarnya merasa sangat risih dengan keberadaan Hanna yang terus menempel dengannya dari awal. Tapi, karena Hanna terkadang berguna untuk beberapa hal, Ryan membiarkannya.


'Tapi, sungguh. Dia menyebalkan sekali.' Pikir Ryan.


Hanna dan Ryan langsung mengambil posisi masing-masing dan menyerang penjaga-penjaga yang terus berdatangan menyerang mereka.


Satu hal lagi yang membuat Hanna berguna bagi Ryan adalah kemampuan Hanna dalam memanah. Ia sangat ahli menggunakannya sehingga membuat Ryan menjadi lebih cepat bergerak saat dalam misi tertentu.


Setelah 'membersihkan' pertahanan pagar depan rumah, keduanya langsung melanjutkan masuk kedalam rumah Veronica.


Setelah masuk kedalam rumah pun, banyak sekali penjaga yang berdatangan seakan tak ada habisnya.


"Sepertinya akan lumayan lama, kak."


"Fokus."


Hanna menghela nafas. Meski sudah biasa dengan sikap Senior nya itu, Hanna masih menyayangkannya. Kalau saja seniornya lebih mudah diajak bergaul, Ryan pasti lebih terkenal di antara anggota asosiasi dan akademik.


"Semoga Kean baik-baik saja." Ucap Hanna yang kepikiran dengan keadaan Kean saat ini.


Rosella yang penasaran dengan ruangan yang dari tadi dilihat nya segera menghampirinya.


Ruangan bawah tanah penuh dengan bau stock makanan. Tapi, hanya diruangan ini, Rosella mencium aroma yang dikenalnya.


Pintu nya terkunci dari luar. Dengan kesusahan, Rosella terus mencoba membuka pintunya. Namun, tak juga menunjukkan hasil yang diinginkan.


Masih tak ada jawaban dari dalam.


Semakin lama, Rosella semakin yakin. Bahwa didalam sana terdapat Kean yang ditunggunya untuk main.


Rosella kepikiran untuk meminta Ibunya, Veronika untuk membantunya melepaskan Kean, tapi setelah dipikirnya kembali, Rosella tak tahu apa yang akan dilakukan nya terhadap Kean.


"Rose?" Suara Kean terdengar seperti berbisik. Samar namun masih terdengar oleh Rosella.


"Kean. Kean ada di dalam, kan? Sebentar. Rose akan buka pintunya." Ucap Rosella khawatir.


Rosella hendak mencari kunci yang bisa digunakannya untuk membuka pintu ruangan. Siapa tahu, kuncinya ada didalam ruangan bawah tanah itu. Saat hendak berbalik, untuk kedua kalinya di malam ini, tubuh mungil Rosella menabrak sesuatu yang lebih besar darinya.


"Ah. Nona. Kita Ketemu lagi."


Rosella melihat seorang pria bertubuh tinggi, bermata biru dan berambut keemas muncul didepannya. Lalu, mengingat kembali, beberapa saat lalu, Ia juga menabrak pria itu.


"Maaf, om." Rosella memohon maaf dengan tulus.


Sementara, Allen yang mendengarnya dipanggil 'om' merasa agak tersinggung.


"Nona, harusnya panggil 'kak' bukan 'om', kan?" Allen tersenyum kearah Rosella yang masih tampak cemas.


"Ini, yah tempatnya?"


Taera yang tiba-tiba muncul tak tahu darimana, seketika berada didepan pintu ruangan dimana Kean berada.


"Eh..."


Rosella menjadi sangat khawatir saat Taera mencoba mengetuk pintunya.


Dengan pukulan yang agak kasar, Taera dengan mudah menghancurkan Pintu ruangan Kean.


Rosella segera berlari kearah Kean yang sudah tertidur lemas didalam ruangan. Rosella menganggap keberadaan Allen dan Taera menjadi ancaman buatnya. Rosella berpikir jika dua orang vampire itu akan mencoba memangsa Kean. Sehingga, Ia tak punya pilihan lain selain berteriak meminta bantuan ibunya.


Teriakan Rosella berbeda dari teriakan biasa. Begitu melengking sampai membuat gendang telinga berdenging saat mendengarnya.


Tak memerlukan waktu lama, Taera dan Allen juga sudah dikepung pelayan-pelayan dan penjaga yang telah bersiap menyerang mereka.


Keduanya langsung mengeluarkan senjata masing-masing. Dan dengan mudah mengalahkan pelayan dan penjaga yang mengepung mereka.


Aroma mawar menyeruak mengelilingi seisi ruangan.


"Muncul juga dia." Allen menatap kearah datangnya Veronica yang berjalan dengan anggunnya.


"Mohon maaf atas keributan malam ini, Tuan-tuan. Saya baru saja mengevakasi para tamu undangan. Karena sepertinya ada yang tamu tak diundang masuk ke rumah saya."


Veronica dengan senyumnya yang mencoba menutupi amarahnya, mencoba tampil dengan tenang sambil terus memperhatikan Rosella yang memegangi Kean diujung ruangan.


"Sepertinya saya melihat adanya sedikit kesalahpahaman disini?" Tanya Veronica meminta penjelasan.


"Ah. Maaf jika kami juga membuat keributan karena nona muda ini sepertinya berpikir bahwa kami akan melakukan kejahatan." Allen juga membalas Veronica dengan senyuman diwajahnya.


"Jadi, berniat untuk berdamai? Karena saya juga harus mengurusi tamu tak diundang yang menuju kemari?" Veronica menutup senyumannya dengan kipas besar berwarna merah yang dipegangnya.


Veronica hendak menghampiri Rossela dan Kean. Tapi, Allen dan Taera segera bergerak mendepani Veronica.


Mulai merasa kesal, Veronica menatap keduanya dengan dingin.


"Saya tadi sudah berniat damai kan?"


"Yah. Kami juga suka kedamaian. Tapi, anak laki-laki itu akan kami yang bawa."


Taera menunjuk Kean yang tak sadarkan diri.


"Dia akan langsung kami bawa. Energi didalam hutan ini sangat berat untuk anak-anak." Taera menampakkan aura yang dingin sampai mampu dirasakan oleh semua yang ada diruangan.


Tak sempat mereka berdebat, tiba-tiba serangan datang dengan cepat mengarah ke mereka. Beberapa mampu menghindar, tapi banyak juga pelayan dan penjaga diruangan itu yang terkena serangannya.


Taera, Allen, yang berada paling dekat dengan Rosella dan Kean langsung membawa mereka melompat menghindari serangan.


Setelah serangan beruntun berakhir, mereka melihat asal dari pemilik serangan. Dua orang berpakaian putih telah membawa senjata mereka, siap untuk melawan.


...🥀🥀🥀...