The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Mata Merah



Setelah Taera menyerahkan Kean pada Hanna, Taera dan Allen langsung pergi tanpa menunjukkan wajahnya pada para warga yang telah dilihatnya dari kejauhan.


_bruugh_


Seketika Taera merasakan tubuhnya tak memiliki energi untuk membuatnya terus berjalan.


"Tae! Tae!"


Allen terus memanggil nama Taera sampai Taera dapat melihatnya walaupun samar.


"Lu tuh! Sejak kapan tubuh lu jadi selemah ini, Tae?" Allen memperhatikan Taera yang sedang dipapahnya.


"Hm..." Taera tak ingin mendengar kebisingan saat ini. Apalagi penyebab kebisingan nya berada tepat disampingnya.


"Jangan-jangan pas ngeliat si Nata minum dengan rakusnya itu? Lu jadi lebih diam dari situ kan?" Meski Taera tampak tak senang mendengar celetukkan dari Allen, Ia tak punya pilihan lain selain mendengarnya.


"Antarkan gue ke rumah."


Mendengar permintaan Taera, Allen sedikit berkedip.


"Ke rumah siapa?"


Taera merasa sakit kepalanya semakin menjadi, ditambah dengan Allen yang membuatnya kesal.


Tak mempedulikan Taera yang menampakkan ketidaknyamanan-nya, Allen terus mengomel.


"Gue heran yah. Lu tuh kenapa si, keras kepala banget? Ga habis pikir gue. Lu kayak yang nahan-nahanin puasa. Tapi, lu sendiri ga kuat? Lu beneran percaya mitos itu?"


Taera hanya mendengarkan tanpa memberi komentar balik atas omelan Allen.


Hal itu memang tak bisa dibantah. Karena alasan Taera berada di kondisinya sekarang yaitu karna campuran perasaan mual nya saat melihat darah segar di gelas Nata beberapa saat yang lalu. Atau mungkin juga perasaan lapar nya yang sulit terkendali saat ini.


Dengan kesal, Allen menggaruk kepala nya sambil mendecakkan lidahnya.


"Oke. Terserah lu dah. Tapi, sebagai temen satu-satunya yang setia menemani lu sampai saat ini, gue cuma bisa bilang. Mitos itu belum tentu bener. Daripada lu nyiksa diri sendiri, mendingan lu udahin tuh puasa ga berfaedah lu itu."


Setelah mengantarkan Taera sampai rumah Mayang, Allen pun pergi. Ada kecemasan di ekspresi Allen. Tapi, Ia hanya mampu berdoa dan berharap tak akan ada sesuatu yang tak diinginkan menimpa sahabatnya itu.


_CKLEK_


Suara pintu terbuka. Mayang mengintip dan melihat jam di handphone-nya.


Jam 04.35


Mayang memakai jaket hangat nya dan segera pergi dari tempat tidurnya untuk memeriksa ke arah datang nya suara.


_syuuuut_


Di dalam kamar yang pencahayaannya remang, Taera tiba-tiba muncul di hadapan Mayang tanpa Ia sadari.


Mayang terhentak dan terjatuh kembali ke kasurnya. Mata Mayang terbelalak saat melihat Taera yang semakin mendekatinya.


Taera mendekatkan dirinya pada Mayang yang kehilangan keseimbangan karena keterkejutannya diawal tadi.


"Hey? Taera? Apa yang sedang kau lakukan??" Mayang mencoba menjauhkan tubuh Taera darinya.


Tetapi, perbedaan kekuatannya terlalu besar.


Taera juga tampak kesulitan untuk menahan hasratnya saat melihat Mayang.


"Sebentar saja." Bisik Taera pelan.


Mayang merasakan nafas berat tersenggal dari Taera.


Dengan khawatir, Mayang memperhatikan kondisi Taera saat ini. Tubuhnya menjadi lebih panas dari biasanya dan terlihat berkeringat. Kemudian, Mayang mengingat kembali perkataan Nata.


Jika Taera sedang tak meminum darah dan hal ini dapat merusak tubuhnya. Dan menyebabkan kannya kembali tertidur untuk waktu yang sangat lama.


Meskipun dari luar, tubuh vampire tampak seperti manusia, tapi metabolisme tubuhnya berbeda. Tanpa asupan darah yang menjadi nutrisinya, sulit untuk vampire mempertahankan kondisi tubuhnya.


Akhirnya, rasa penasaran terlintas di pikiran Mayang.


"Apa yang membuat mu tak mau meminum darah, Taera?"


Pertanyaan Mayang membuat Taera menatapnya tajam.


Taera pun mengingat kembali alasannya.


"Meski ini terdengar bodoh, Keinginan gue. Harapan gue. Saat ini, Gue harap akan terkabul."


Taera berusaha untuk membiarkan kesadarannya terjaga.


Lalu, memperhatikan Mayang dengan tatapan yang sedih.


"Gue ingin jadi manusia." Ucapan Taera membuat hati Mayang berdenyut. Detak jantungnya pun terdengar semakin cepat.


Taera menyandar pada tempat tidur Mayang, membiarkan Mayang disampingnya melihat dengan penasaran.


Taera meletakkan kepalanya dipundak Mayang.


Sedikit terpejam, Taera pun mulai menceritakan kisahnya dulu.


Diingatan Taera, ada seorang wanita cantik berambut panjang berwarna kecoklatan yang selalu disampingnya.


Wajahnya terlihat samar diingatan Taera. Yang tampak jelas hanya senyuman di wajah berserinya.


"Dulu. Pernah ada. Seorang yang sangat spesial. Semakin lama bersama, semakin Gue gak bisa mengontrol keinginan saat menghisap darahnya. Karena itu gue trauma setiap kali inget kejadian waktu itu."


Taera pun terdiam kembali. Mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Mayang.


"Dia.. ternyata sedang mengandung anaknya. Dan kehilangan darah yang banyak karena gue."


Mata Mayang terbuka lebar. Dan melihat ke arah Taera.


"Anak?"


Taera melihat sekilas ke arah Mayang. Taera tersenyum saat melihat Mayang menatap kearahnya tanpa ekspresi.


Sebenarnya, Taera ingin sedikit menjahili Mayang sebelum dia menjelaskan hal yang sebenarnya. Tapi, sakit kepalanya membuat nya tak ingin menimbulkan kesalahpahaman diantaranya dan Mayang.


"Anak dia dan kekasihnya."


"Eh?"


Melihat Mayang yang tak bergerak saat mendengarnya, Taera tertawa kecil.


"Dari dulu, gue paling ga mau berhubungan sama manusia. Karena manusia itu menyusahkan."


Mayang mendengarkan Taera disampingnya. Mempehatikan Taera yang masih tak bergerak dari sandaran disampingnya.


"Manusia itu ga bisa menemani sampai akhir. Mereka punya jangka hidup yang sangat pendek dan juga rapuh."


Mayang menghela nafas atas komentar dari Taera.


"Jangan mengeluh begitu. Semua makhluk yang diciptakan Tuhan akan ada masa hidupnya masing-masing. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi, pada akhirnya semua pasti akan kembali pada Yang Maha Kuasa."


Taera melirik ke arah Mayang. Lalu, berpikir.


Apa itu juga bisa berlaku pada seorang vampire seperti nya? Hal apa yang membuatnya bangkit kembali?


"Begitu yah?"


Taera tampak lelah dengan pikirannya. Hanya harapan tak pasti yang selalu dipercayainya.


Taera yang masih berada dipundak Mayang, mengecup bagian leher Mayang yang membuat Mayang terperanjat.


"Tapi Aku menikmati saat-saat ini. Sejak mengenal mu, membuat ku berpikir. Hidup bersama manusia menjadi begitu berharga dan tak membosankan."


Mayang masih terkejut dengan perubahan intonasi suara yang lembut dari Taera. Mayang dengan spontan menutupi lehernya dengan telapak tangannya. Sementara Taera masih terlihat lemas dan lelah.


Taera pun bergumam.


"Menurut mitos, jika vampire berpuasa mungkin Yang Maha Kuasa akan mempertimbangkannya untuk menjadi manusia."


Taera tersenyum, terlihat sedikit frustasi. Ia mengingat kembali perkataan Allen yang tadi memarahinya.


"Karena itu, meskipun mitos belum tentu benar. Selagi ada harapan untuk terkabul, ga ada salahnya buat dicoba kan?" Taera melihat ke arah Mayang dengan senyuman sedih di wajahnya.


Mayang merasa perkataannya terlalu dipaksakan, tapi tak tahu mengapa. Rasanya hal itu mungkin akan terjadi. Dan Ia berharap Taera tak akan merasakan nyeri lagi.


Perlahan Taera memejamkan matanya. Tubuhnya yang menyandar pada pundak Mayang kehilangan energinya dan Ia pun tertidur dalam kondisi berkeringat dan demam.


Mayang memegang badan Taera yang tak bergerak. Berulang kali digoyangkannya, Taera tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


"Apa yang harus kulakukan?" Tanya nya dibathinnya. Mayang menjadi resah setelah mengingat Taera yang tak juga bangun waktu itu.


Kemudian Mayang berpikir hal yang bisa dilakukannya.


"Mungkin kau akan marah lagi. Tapi, Maaf Taera. Aku harus melakukannya."


Setelah membulatkan tekadnya, Mayang segera mengambil pisau dapurnya. Agak ngeri saat melihatnya. Tapi, Ia tak dapat memikirkan cara lain.


Darah mengalir dari telapak tangannya yang tersayat oleh pisau. Mayang merasakan perih dibagian yang terluka.


Tapi, rasa itu tak sebanding dengan kekhawatirannya akan kondisi Taera.


Darah Mayang kembali mengalir memasuki bibir Taera. 5 menit setelahnya, mata Taera terbuka. Membuatnya kembali tersadar. Namun, Mayang merasakan hal yang berbeda. Mata hijau Taera berwarna gelap kemerahan.



......🥀🥀🥀......


...note: thanks untuk semua pembaca. maaf yah kalau jarang update dan banyak hal ga masuk akal dari cerita vampire versi aku. karena halu ku yang seperti ini, harap dimaklumi 😆 untuk kedepannya, mohon bantuan semuanya biar ceritaku bisa sampe tamat dan ceritanya disukai. yah itu aja yang jadi target goal ku saat ini 😂😂 see u next episode 😘❤️...