The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Woman Killer (I)



---Potongan Episode Sebelumnya---


"Jadi... mana laporan mu atas kejadian yang lalu?"


Kini, di hadapan Taera telah berdiri seorang cewek cantik bertubuh s*ksi dan bermata Oranye cerah yang menatap Taera dengan sinis.


Ariel, Kakak Tiri Taera berada dihadapannya sekarang.


Taera berusaha tersenyum sambil menyembunyikan rasa takutnya terhadap cewek didepannya sekarang.


...🥀🥀🥀...


Part. 1


Hari ini adalah hari libur. Waktu yang tepat bagi Mayang untuk menenangkan pikiran dengan bersantai. Mayang biasanya melakukan aktifitas rutinnya dengan berolahraga pagi, sarapan, dan berjemur di halamannya. Sambil meregangkan tubuhnya, Ia melihat ke arah Taera yang sedang duduk diam dengan menyilangkan tangannya.


Taera terlihat sangat fokus.


Mayang mencoba memgabaikan Taera, tapi kemudian Taera menarik lengannya.


"Apa?" Mayang bertanya dengan risih.


"Hari ini libur kan? Temani gue sekarang."


Kata-kata Taera membuat Mayang sebal.


"Kenapa gue harus nemenin lu?"


Mayang tedengar lebih jutek dari sebelumnya.


Taera agak terkejut.


"Kenapa ga pake bahasa formal lagi?" Tanya Taera bingung.


"Lho? Lu sendiri juga ga pake bahasa formal kan? Apalagi kalo dilihat lagi, muka lu tuh umur nya masih sekitaran SMA kan?"


Taera menghernyitkan alisnya.


"Gue dah ada sebelum nenek uyut lu ada lho?"


Taera dengan senyum angkuhnya yang menyeringai, merasa tak terima di samakan dengan bocah belasan tahun.


Tak mau memperpanjang urusan, Mayang berpaling dengan cuek menjauhi Taera.


Taera menarik lengan Mayang untuk kedua kalinya.


"Aku membutuhkanmu. Kumohon antarkan aku."


Taera menatap ke arah Mayang. Wajah tampannya menyilaukan pandangan. Ditambah tatapan matanya yang menatap lurus ke arah Mayang. Seperti terhipnotis, tanpa sadar Mayang mengangguk dan menyetujui ajakan Taera.


"Oke. Kali ini aja."


Dengan raut tersipu namun terkesan jutek, Mayang memalingkan wajahnya.


"Yaai. Thanks mayang."


Mendengar Taera memanggil nama Mayang untuk pertama kalinya (*sebenernya mah kedua kali nya (lihat ch.2), tapi bagi Mayang, Ini pertama kalinya dia mendengar Taera memanggil namanya.), Mayang merasa ada getaran ditelinganya yang membuat jantungnya berdetak.


Tak merasakan perubahan hati Mayang, Taera langsung kembali pada wujud kucingnya dan melompat riang.


 


Part. 2


Mayang dan Taera kucing pergi siang hari nya setelah Taera menyelesaikan setumpuk kertas yang berisi laporannya.


"Kalo lu jadi kucing gituh, gimana lu kerja nanti? Itu laporan kerja kan?"


Mayang tampak bingung sambil memperhatikan Taera kucing yang duduk disampingnya.


Taera Kucing dengan santai menjawab.


"Ga masalah si. Semua yang kerja disana juga adalah 'kaum Kami' yang sedang menyamar. Nanti gue tunjukkan aja jalannya. Lu tinggal ngikutin."


Mayang memegang dagunya dan berpikir,


Untuk apa Dia membantu Tuan muda yang tak sopan, angkuh, dan tak tau diri ini?


Dengan menghela nafas, Mayang melajukan mobil nya sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah gedung.


"BH Entertainment?"


Mayang agak menganga melihat gedung tinggi yang berada di hadapannya sekarang.


Ia memperhatikan Taera Kucing yang sudah melompat dipelukannya.


"Yuk jalan. Kertas laporan gue dah di siapin kan?"


Masih melirik sekeliling, Mayang membawa Taera Kucing seperti Kucing beneran.


Saat memasuki gedung, Mayang merasa banyak mata yang menatap ke arah nya. Ini membuat nya timbul perasaan tak nyaman. Namun, Taera kucing menyadarinya dan menatap tajam ke arah orang-orang yang menatap Mayang dengan tatapan haus ke arahnya.


Karena melihat Taera Kucing, mereka menjauhi pandangan nya kembali.


Memasuki eskalator, kebetulan hanya ada Mayang dan taera kucing yang sedang dipegangnya. Buru-buru Mayang bertanya dengan antusias karena rasa penasarannya.


"Eh tadi lu bilang, orang-orang disini itu 'kaum kami'? Maksudnya 'kaum Kami' itu vampir gituh?" Tanya Mayang dengan penasaran.


"Yaps. Tapi, Ga semua nya si. Ada juga manusia-manusia yang kerja disini. Tapi kebanyakan itu 'kaum vampir darah campuran'. Biasanya umuran mereka belum nyampe 100 tahun, jadi mereka masih susah buat ngendaliin hawa napsu nya."


Taera menoleh ke arah Mayang yang masih terlihat bingung.


"Nanti gue jelasin lebih lengkap nya di rumah."


Taera langsung terlihat diam seketika mereka berhenti di lt. 4. Kemudian, pria dengan setelan jas lengkap masuk bergabung bersama mereka. Tatapan Taera menjadi lebih serius saat pria itu mendekati Mayang.


"Hai. Mau kemana?" Tanya Pria itu.


"Eh? Mau keatas."


Mayang panik karena ditanya tiba-tiba orang pria berwajah cakep yang berada disampingnya.


Pria itu tertawa dengan jawaban Mayang yang terkesan lugu.


"Yah Atas nya dimana?"


Pria itu masih tertawa. Mayang tersenyum dan terbawa dengan keramahan si pria. Taera yang tampak sedari tadi memasang wajah curiga semakin menguatkan penjagaannya. Bulu kucingnya berdiri tatkala si pria berkeinginan menjabat tangan Mayang.


"Meooong!"


Taera Kucing mencakar tangan Pria itu yang membuat Pria itu maupun Mayang terkejut. Timbul bekas cakaran di tangan pria itu.


"Maaf. Bener-bener maaf. Biasanya kucingku tenang."


Mayang meminta maaf dengan tulus ke arah pria yang sedang memegang tangannya kesakitan itu.


"Tak apa tak apa. Ini ga begitu dalam ko."


Mayang masih tak enak hati.


"Aku bisa belikan obat buat luka mu."


Pria itu masih tersenyum ramah. Ia menggelengkan kepalanya.


"Aku senang dengan kebaikan mu. Tapi, aku masih ada urusan. Ini nomor ku. Kalau ada waktu, hubungi saja nomor itu. Biar bisa ngobrol lagi."


Pria itu berpisah dengan mereka duluan.


Setelah Mayang kembali hanya berdua dengan Taera Kucing. Mayang mengoceh dan mengomeli tindakan Taera barusan.


"Luuh! Kenapa ngelakuin itu??" Mayang bertanya dengan marah.


Taera mengabaikan omelan Mayang dan tetap memasang wajah serius. Taera terlihat enggan untuk mengatakan alasannya di awal. Namun, untuk berjaga, Ia merasa harus memberi peringatan pada Mayang supaya Ia mewaspadai nya.


"Bau darah."


Taera memalingkan wajah nya dari Mayang dan masih menatap arah perginya sang pria.


Mayang menatap dengan penasaran maksud dari kata-kata Taera. Berharap ada lanjutan dari kata-katanya itu.


Sambil mencoba menjelas kan pada Mayang, kilauan hijau di mata Taera, menatap Mayang dengan serius.


"Pria itu. Tercium bau aroma darah yang pekat."


Mendengar Taera mengatakan itu, Mayang menjadi khawatir akan apa yang terjadi bila Ia mengikuti pria itu barusan.


Taera memberikan aba-aba pada Mayang untuk berhenti di lantai selanjutnya.


Setelah mereka keluar dari eskalator, tampak orang-orang berjas hitam berlarian.


Sirine pemanggilan pun berbunyi.


[Woman Killer muncul di sektor M! Dimohon divisi penanganan dan keamanan Majelis bergabung di sektor M! Sekali lagi! Panggilan ditujukan untuk semua anggota bagian divisi penanganan dan keamanan majelis untuk bergabung segera.]


Mayang menengok kanan dan kirinya. Memperhatikan orang-orang dengan bingung. Mayang melirik Taera Kucing yang kemudian lompat dari lengan Mayang.


Mayang yang tidak ingin ditinggal sendiri, langsung mengejar Taera. Taera berjalan dengan santai memasuki sebuah ruangan. Sambil menoleh ke belakang melihat Mayang yang berlari mengejarnya, Taera memberi arahan untuk masuk ke ruangan itu.


...🥀🥀🥀...