The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Pesta Ulang Tahun (II)



Pak Anton, Bapak Kean, terlihat begitu cemas saat mengingat Kean yang menghilang di hutan sendirian.


"Pak. Dzikir pak. Jangan melamun."


"Iyah, pak ustadz. Saya cuma kepikiran Kean. Pasti Kean lapar sekarang."


"Tenanglah pak. InsyaAllah ketemu."


Seketika kabut menyebar menjadi semakin pekat. Pemuka agama pun melantunkan ayat-ayat.


Bapak-bapak warga yang mengikuti ke dalam hutan mulai panik saat hawa dingin mulai menyeruak keluar dan membuat bulu kuduk mereka berdiri.


"Pak ustadz. Kabut apa ini?" Tanya seorang warga yang khawatir.


Pak Ustadz melihat fokus ke arah kabut yang semakin tebal, lalu akhirnya Ia menjelaskan.


"Ada energi penolak yang menghalangi siapapun masuk ke dalam." Jelas pak ustadz yang tak mengalihkan pandangannya dari arah pekatnya kabut.


Dalam beberapa menit yang terasa begitu panjang, dua energi berbenturan, menimbulkan dentuman yang besar. Pak ustadz masih terus membacakan doa.


"Astagfirullah!" Pak ustadz terperanjat ketika melihat sosok energi yang dilihatnya.


Sesosok bayangan wanita berbaju merah yang sedang menikmati darah segar.


Semakin kuat energi yang diterima oleh pak Ustadz yang berusaha menerjang masuk ke area terlarang itu, semakin kuat alunan surah-surah yang dibacakan.


Ketika energi yang sama kuatnya mulai saling menghisap, dua sosok orang berpakaian putih menghampirinya dari arah berlainan.


"Paman." Salah seorang dari sosok berseragam putih itu tampak seperti remaja putri berambut pendek sebahu. Dan disampingnya, pria berkacamata yang tak banyak bicara.


Pak ustadz melihat keduanya dengan perasaan lega namun sedikit ragu tentang alasan keduanya hadir disini malam ini.


"Kalau 'kalian' juga terlibat, berarti organisasi esper juga sedang bergerak?" Tanya Pak ustadz.


"Yah paman. Mulai dari sini, anggota hunter kami akan ikut dalam pencarian." Ucap Hanna.


Setelah dia mengatakannya, pria disampingnya mengeluarkan sebuah pedang keramat yang berwarna keemasan.


Dengan ayunan ringan, pijakan tanah pun bergetar. Kabut seketika menghilang. Sebuah cahaya kuning keemasan muncul memanjang dari ujung ke ujung hutan itu.


"Dari sini, Kami jalan berdua. Mohon untuk bapak semuanya tidak melewati garis pembatas ini." Pinta Ryan, Pria berkacamata itu.


"Tapi, anakku.." Bapaknya Kean terlihat tak tenang sebelum Ia memastikan keberadaan anak nya sendiri.


"Kami akan segera membawanya kembali." Dengan kata-kata singkat itu, Ryan segera pergi memasuki daerah garis pembatas.


"Maaf bapak-bapak sekalian kalau kami kurang sopan. Tapi, semoga bapak-bapak maklum. Waktunya sudah tidak banyak untuk kami membawa adek kean kembali." Ucap Hanna


Bapak-bapak yang turut ikut masuk ke dalam hutan mengangguk setuju.


Hanna segera berlari mengikuti seniornya yang sudah lebih dulu masuk garis pembatas meninggalkannya.


Tengah malam telah terlewati. Para tamu undangan saling memandang curiga.


Allen yang sebelumnya hendak beranjak pergi, menoleh memperhatikan arah sumber energi yang dirasakan nya.


"Energi yang sangat besar barusan berasal dari dunia luar, kan?" Tanya Allen dengan nada santainya.


"Yah. Sepertinya ada pihak luar yang memaksa masuk kedalam." Taera melihat ke arah Veronica yang masih mempertahankan sikap anggunnya didepan tamu undangannya.


"Hoi Allen. Jadi, nih. Kita ikutin wanita ala stalker cara lu itu?" Taera menampakkan senyum percaya dirinya yang biasa.


"Tuh kan. Gue bilang juga apa. Insting kuat gue kadang pas. Apalagi ngikutin cewek-cewek tuh biasanya ada aja serunya."


Saat Allen mulai membangga-banggakan dirinya, Taera dengan cepat pergi mendahuluinya.


"Oi Tae! Lu tuh! Tungguin dong!"


Allen mengejar Taera yang pergi duluan. Sementara Nata dan Nara masih tak beranjak dari tempatnya. Jelas terlihat bahwa mereka tak ingin ikut serta.


Menggoyang-goyangkan gelasnya yang berisi minuman berwarna merah darah, Nata duduk dengan santai.


"Nara. Menurutmu Kakak berubah ga?" Tanya Nata menatap isi gelasnya.


"Nara Oh Nara. Kamu tuh ga seru banget. Padahal kita kembar, kan? Kenapa kita bisa berbeda banget si?" Nata agak mendumel. Pipi nya yang agak chaby jadi terlihat seperti pipi tupai yang sedang makan kenari.


Nara menghela nafas melihat tatapan tajam kakaknya yang ditujukan padanya. Dengan perasaan risih, Ia menggaruk tengkuknya.


"Yah. Meski dalam rahim yang sama sekalipun, dua orang anak tetap tak akan sama kan? Pasti ada aja bedanya." Nara berucap sambil memalingkan wajahnya dari Nata.


"Hoho. Akhirnya adik tersayang ku mau ngobrol juga." Nata langsung mengubah ekspresinya sebanyak 180 derajat. Menepuk-nepuk tangan nya dan tertawa dengan riang.


Dengan senyuman di wajahnya, Nata pun menghabiskan minumannya.


Rosella yang mengendap-endap pergi dari pesta ulangtahunnya, menajamkan indera nya untuk mencari Kean, teman barunya.


Hanya mengandalkan indera dan instingnya, Rosella mendatangi tempat yang diyakininya terdapat aura keberadaan Kean.


Baju merahnya yang bermekaran seperti bunga mawar, berkibar saat Rosella berlari kecil.


"Haaa.... Haa...."


Nafas terengah-engah mulai dirasakan Rosella yang tak terbiasa berlari.


Tangan mungil nya memegang lututnya yang mulai terasa letih.


"Kean.."


Rosella melihat ke arah ruang bawah tanah dengan hati-hati. Rosella belajar bersembunyi dari buku-buku bergambar yang Ia baca.


Sambil berhati-hati dan mengintip penjaga-penjaga yang berada di setiap ujung ruangan, Rosella berpikir sejenak.


Setelah mendapatkan cara satu-satunya yang Ia bisa pikirkan, Rosella mengeratkan kembali pelukannya ke boneka peter dilengannya. Hal itu penting untuk Rosella supaya menguatkan hatinya.


Ditengah-tengah pelayan yang menjaga ruangan, Rosella muncul seperti peri yang ada didalam buku bergambarnya.


_TAP!_


Para pelayan yang menjaga ruangan penyimapanan bawah tanah terkejut melihat keberadaan Rosella yang ada di dalam ruangan itu. Dengan panik, pelayan-pelayan itu langsung berkumpul menghadap Rosella seperti saat menghadap ke arah nyonya majikan mereka sendiri, Veronica.


Rosella menjadi sangat gugup. Ia tak terbiasa berada ditengah orang banyak.


"Rose mencium bau makanan enak didalam sini." Rosella berkata dengan tenang sambil tetap memeluk boneka peternya.


Para pelayan yang mendengarnya hanya tersenyum bingung dengan penjelasan yang akan mereka berikan untuk nona majikannya ini.


"Penciuman Anda sangat tajam, nona. Didaerah sini memang gudang penyimpanan makanan, jadi banyak aroma yang bisa Anda cium dari sini." Seorang pelayan wanita dengan ramah menjelaskan kepada Rosella.


Rose menatap pelayan itu dengan wajah polosnya.


"Rose ingin berkeliling ruangan ini. Apakah ada yang ingin mengantar?"


Mendengar Rosella mengatakan permintaan itu, para pelayan pun panik dan ragu. Karena, Veronica sudah mendeklarasikan pada semua pelayan yang ada didalam rumah Veronica bahwa Apapun keinginan dari Rosella itu sama saja seperti perintah mutlak dari Veronica yang harus dituruti.


Dengan bimbang, pelayan itu mengangguk. Lalu, mengajak Rosella berkeliling ruangan. Mulai dari penyimpanan hidangan malam ini, stock-stock makanan yang ada untuk nona dan nyonya majikannya, serta menu-menu yang disiapkan oleh Veronica untuk mereka setiap harinya.


Setelah berputar cukup, Rosella mulai melirik sebuah ruangan yang dihindari para pelayannya.


Seakan mencoba mengalihkan pandangan Rosella yang menatap ruangan itu, Pelayan itu mengajak Rosella untuk ke tempat cemilan yang mungkin disukainya.


"Nona, Kami punya hidangan yang nona suka, Apakah Anda tertarik untuk kesana?" Tanya pelayan itu.


Rosella memberi tatapan dingin pada para pelayan yang berusaha membujuknya. Tatapan dari Rosella ternyata membuat tekanan yang cukup mengerikan bagi para pelayan yang melihatnya.


Ditengah-tengah kekhwatiran para pelayan itu, sirine yang berupa gelombang elektro pun berbunyi. Menandakan satu hal yaitu pemberitahuan untuk semua pelayan berkumpul.


Meski ragu, para pelayan pun dengan cepat pergi meninggalkan ruangan.


Rosella yang melihat kesempatan, bergegas menuju tempat yang dicurigainya.


Mata Rosella fokus pada ruangan yang dilihat nya tadi.


...🥀🥀🥀...


...Note: Makasih semua pembaca yang udah mampir ke cerita ku. Jangan lupa like, comment, and follow nya yah. See u next episode! ❤️❤️...