
Darah Mayang kembali mengalir memasuki bibir Taera. 5 menit setelahnya, mata Taera terbuka. Membuatnya kembali tersadar. Namun, Mayang merasakan hal yang berbeda. Mata hijau Taera berwarna gelap kemerahan.
Taera langsung menyambar sumber darah yang menjadi makanannya. Menarik nya dengan kasar.
Mayang terdiam kaku saat memperhatikan Taera yang berubah seperti monster penghisap darah yang ditemuinya beberapa waktu yang lalu.
Taera seakan memiliki dua kembaran dalam tubuhnya. Mata yang berwarna kemerahan. Menampakkan kedinginan yang mendalam seperti dasar laut yang tak terjarah.
"Tae.. ra?"
Mayang mencoba memanggil namanya. Tapi, hal itu tentu mustahil. Taera saat ini seperti bukan Taera yang dikenal olehnya.
Dengan wajah yang persis sama dengan Taera, senyumnya terlihat sempurna seperti tak ada kekurangan sedikitpun. Membuat kaum haum hawa menjadi terpikat dan menggila melihatnya.
Mayang pun merasa tubuhnya terhuyung dengan aura kuat yang dirasakannya. Seakan ada obat candu yang menghipnotisnya, Ia memberikan dirinya tanpa perlawanan.
Taera yang sekarang dihadapannya. Menggigit beberapa tubuh Mayang. Setiap gigitan dan hisapan yang dilakukan Taera membuat Mayang mendesah kesakitan.
"Merepotkan. Kain ini menghalangi." Taera mendecakkan lidahnya dengan geram.
"Maksud.. mu?" Masih menahan rasa sakitnya, Mayang bertanya dengan tatapan bingung.
Taera melihat Mayang dengan matanya yang dingin. Senyumnya ditujukan pada Mayang. Ia tertawa ringan.
"Hehe. Kamu benar-benar cewek yang bodoh. Kenapa nanya si? Kan udah dibilang, kain ini ngalangin."
Taera menunjuk pakaian Mayang. Kata-katanya itu membuat mata Mayang kembali ke sinarnya. Tanpa tahu dari mana asal kekuatannya, Mayang kembali sadar dan mencoba melepaskan tangan Taera yang memegangnya kuat.
"Ho.. kuat juga nih cewek?" Bathin Taera berpikir sambil mendecak kagum.
Merasa lebih tertantang dari sebelumya, Taera hendak menyentuh Mayang kembali. Namun, tiba-tiba rasa sakit kepala yang kuat menyerangnya.
"Uuuukkkkhhh......!!!!!!!!"
Agak melompat dan menjauhi Mayang, Taera terlihat kesakitan dan memegang kepalanya dengan sangat kuat.
"Sialan!!! Sialan!!!! Enyah kau sana!!!"
Mayang terdiam bingung memperhatikan Taera yang seperti berbicara sendiri.
"Taera?"
Mayang tanpa ada rasa takut seperti yang barusan. Mendekati Taera yang terus mengerang.
"Taera! Taera!" Mayang memanggil nama Taera. Tak peduli pada Taera yang terus mendorongnya untuk menjauh.
"Itu kamu yang biasa nya kan Taera?" Mayang kembali berpikir.
Mungkin orang lain akan memandangnya dengan tatapan aneh. Mungkin Ia akan dicap seperti orang yang tidak waras. Tapi Mayang percaya ada insting yang tak bisa dijelaskannya untuk saat ini.
Ia merasa bahwa ada sosok Taera yang biasanya. Yang menekan tubuhnya saat ini. Mencoba menerobos keluar dari pertahanan kokoh sebuah dinding tebal yang menghalanginya.
"TAERAA!!!!!!!!!!!"
Mayang memanggil nama Taera dengan sekencang yang Ia bisa. Taera yang semula tampak meraung kini menjadi lebih diam.
Mayang mendekatinya dan melihat Mata hijau Taera yang kembali ke warna sebelumnya.
"Mayang?"
Seakan sudah lama tak bertemu, Mayang menjadi rindu akan mata itu dan suara itu. Tampang angkuh itu.
Dengan spontan, Mayang memeluk Taera dan menempelkan wajahnya pada pundak Taera yang lebar.
Karena rasa lelah keduanya, mereka tertidur bersampingan dalam pelukan yang hangat.
Taera membuka matanya perlahan. Melihat samar sinar lampu yang ada di ruangan. Memelekkan matanya. Dan mengumpulkan energinya untuk bangun.
"Uuhmp..." Masih belum beranjak dari kasurnya yang empuk, Taera mendengar suara disampingnya, Ia merasa de javu.
Lalu, menoleh ke samping. Di atas tempat tidur yang sama dengannya, Mayang tertidur nyenyak disampingnya. Taera merasakan hembusan nafas yang hangat dari Mayang. Tubuh Mayang yang terlihat kecil dan rapuh dimata Taera membuatnya tanpa sadar menyentuhnya dengan lembut.
"....." Taera terdiam.
Sesaat Ia melihat bekas luka di telapak tangan Mayang yang telah dibalut perban.
Dengan ragu, Ia memegang pangkal tenggorokannya. Taera menyadari. Rasa dahaga yang telah terobati.
Berapa banyak Ia meminumnya? Sampai perutnya merasa kenyang seperti ini.
Taera menepuk jidatnya sambil menarik nafas panjang.
Mendekati Mayang yang masih tertidur. Taera mendekatkan bibirnya pada telapak tangan Mayang yang terluka.
"Kamu benar-benar cewek yang bodoh." Ucap Taera mengecup telapak tangan Mayang.
Mayang merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bagian tangannya. Berbalik sekali untuk mengubah posisi tidurnya, mata Mayang terbuka seketika Ia teringat kembali memory semalam.
"Taera!!" Agak terhentak dengan bangunnya yang tiba-tiba. Taera masih menunjukkan senyum nya yang lembut, menghadap ke arah Mayang.
"Ya " jawab Taera membalas panggilan Mayang.
Mayang mengumpulkan kembali nyawanya yang seperti masih tertinggal di dalam mimpi. Lalu, memegang pipi, pundak, tubuh dari Taera. Untuk memastikan bahwa dirinya sudah tidak lagi bermimpi.
"Hey. Meraba cowok yang baru bangun tidur itu namanya pelanggaran dong. Ini kayak serangan pagi hari. Jangan salahin cowoknya, kalau tiba-tiba dia nyerang balik." Taera terlihat sedikit meggoda Mayang. Mayang yang mendengar itu langsung menjauhkan badannya dan membuat telapak tangannya yang terluka membentur sisi keras dari tempat tidurnya.
"Ah.." mayang merintih kesakitan karena luka yang dibuat oleh nya sendiri.
Dengan cemas, Taera langsung memeriksa kembali bagian luka yang kembali berdarah.
Tanpa pikir panjang, Taera langsung membuka perban yang ada di telapak tangan Mayang.
Dilihat nya dengan serius dan tajam ke arah luka itu.
"Eh.. bentar.. mau apa lagi, Taera?"
Taera mengabaikan Mayang yang memanggil namanya berkali-kali. Dengan terus fokus pada luka sayat ditelapak tangan Mayang, Taera mulai menjilatinya.
Jilatan pertama. Jantung Mayang sudah seakan terasa berhenti kapan pun.
Jilatan kedua. Ia datang tanpa disadari. Seakan waktu terjadi hanya dalam hitungan kedipan.
Jilatan ketiga.
Mayang mulai merengek meminta berhenti. Memanggil nama Taera tapi tetap tak membuatnya berpaling.
Jilatan ke empat. Jantung Mayang yang kian berdebar kencang seperti akan meledak begitu saja.
Mayang mulai mengingat kembali mata Taera yang dilihatnya kemarin. Berwarna semerah dedaunan yang sedang terbakar kini kembali ke warna nya yang hijau teduh seakan embun membawanya tumbuh kembali.
Jilatan kelima. Energi Mayang seperti meninggalkan tubuhnya. Melayang bagaikan terbang di udara.
"Uwaaaah....." Mayang berteriak di dalam hatinya. Dan mulai menutupi wajahnya.
Lalu ketika dia melihat telapak tangannya yang sudah dilepaskan Taera, Mayang terdiam bingung memperhatikan bekas luka nya.
"Bagaimana bisa?" Mayang bertanya dengan heran ke arah Taera, mengharap ada penjelasan.
"Ini..." Taera dengan senyum nakal nya menunjuk bagian lidah yang menjilati Mayang barusan.
"Apa?"
"Kalau ku jilat 3x. Luka orang yang kujilatin bisa sembuh tanpa bekas."
"Tapi kami d w tadi nge jilatin nya 5 kali kan?"
"Hm. Itu karena duanya bonus."
Setelah wajahnya tersipu, Taera mulai berbalik. Memalingkan wajahnya sebentar dari Mayang. Lalu, mencuri lihat kembali ke arah wanita yang disukainya itu.
Pandangan Taera menjadi serius saat melihat baju Mayang yang longgar, sedang sedikit turun dari bahunya yang kecil. Alih-alih menutup wajahnya karena malu, mata Taera fokus pada bekas gigitan berwarna merah yang muncul dari bagian dada atasnya,
Butuh beberapa waktu saat Mayang menyadari asal dari tatapan Taera yang tajam ke arahnya.
Mayang mencoba menutupinya, tapi hal itu sudah terlambat. Taera langsung menyadari nya dan memegang tangan mayang yang menutupinya.
"Ini?"
Taera mencoba menerka ulang kejadian yang terjadi dengan dirinya.
"Taeza?!"
Menyuarakan nama yang asing ditelinga Mayang, Mayang menatap Taera yang memberi tatapan dingin. Mengepalkan tangannya dalam diam.