The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Bunga Mawar



--Potongan Episode yang lalu--


Mayang menjadi terdiam begitu melihat mereka pergi. Mood nya terlihat sangat down ketika mengingat Taera yang ada kemungkinan meninggalkannya lagi.


"Tidak bisa kah.. kamu tinggal disini lebih lama?" Mayang menyuarakan isi hati nya di samping Taera yang tertidur. Berharap jika itu menjadi doa untuk mereka.


...🥀🥀🥀...


"Hmmm..."


Taera memperhatikan sebuket bunga mawar berwarna merah muda yang ada di atas meja di samping sofa nya. Dengan berjongkok, Ia menyentuh mawar itu dengan penasaran.


"Hey. Ini mawar darimana? Ga nyangka lu tipe orang yang suka sama bunga kayak gini?" Tanya Taera.


Mayang mengambil bunga mawar nya dan memindahkannya ke ruangannya.


"Ini dikasih sama ibu-ibu tetangga samping rumah. Bahkan Aku diajarin cara biar mawar nya ga cepet layu."


Mayang bernyanyi pelan, melihat mawar yang Ia terima dengan sukacita.


"Taera. Apa kau tahu Arti dari Mawar ini?"


Mayang tersenyum dengan bangga dan menatap ke arah Taera.


Taera diam memperhatikan. Dia teringat dengan kenangan nya dulu. Pada berpuluh-puluh tahun yang lalu. Saat itu, ada seorang gadis kecil penjual bunga yang menawarkan bunga mawar itu padanya.


"Tuan. Maukah Anda membeli bunga kami ini?"


Sang gadis kecil berpakaian lusuh itu menghadap Taera dengan membawa sekeranjang bunga. Tak banyak bunga yang ditawarkan. Hanya ada beberapa jenis bunga. Namun, bunganya terlihat masih segar. Sepertinya dirawat dengan sangat baik.


Taera tersenyum, melihat ke arah gadis kecil yang berjualan sambil menggendong anak yang lebih kecil darinya.


"Kalau gituh, Aku minta tiga." Ucap Taera sambil menunjuk bunga mawar yang stock nya paling banyak.


"Baik tuan."


Gadis itu mengambilkan tiga kuntum mawar berwarna merah muda yang dipinta Taera.


Taera memberikan tiga koin emas yang ada di sakunya sebagai bayaran atas bunganya.


"Tuan. Ini banyak sekali. Saya tak punya kembalian walau hanya satu koin emas." Ucap gadis itu dengan panik.


Taera mengambil dua bunga yang telah dibelinya. Lalu, memberikannya untuk gadis kecil itu dan adiknya.


Gadis kecil itu terlihat bingung.


"Aku hanya butuh satu bunga. Itu hadiah untuk kalian." Ucap Taera menjelaskan.


Mata gadis kecil itu terlihat berbinar. Kemudian, Ia terlihat riang. Sebelum berpamitan, Gadis kecil itu tersenyum dibelakang Taera dan berkata.


"Taukah Tuan, bahwa setiap bunga itu hidup dengan memiliki nama dan arti masing-masing?" Tanya gadis kecil itu.


Taera menjadi penasaran. Dan menoleh kembali ke belakang. Memperhatikan gadis kecil itu.


"Apa itu?" Tanya Taera bingung.


"Tuan, arti Mawar merah muda yang anda ambil ini adalah...."


"Cinta yang sedang bersemi." Sambil tersenyum, Taera meneruskan perkataan Mayang yang berniat menjelaskan pada Taera.


"Wow. Tuan muda ini ternyata tau." Ucap Mayang kagum.


"Iyah lah. Apa dunia ini yang ga gue tau? Bahkan, Gue satu-satunya vampire agung yang ahli mengikuti perkembangan jaman."


Mayang menghela nafas melihat Taera yang narsis sekarang tengah duduk bersila dengan tangan dilipatnya kedepan.


Taera melihat kembali mawar yang telah diletakkan Mayang diruangan kerjanya.


"Jadi, cinta lu lagi bersemi gituh? Pantesan setiap hari keliatan berbunga-bunga gituh?" Tanya Taera curiga.


Mayang terlihat panik.


"Siapa? Berbunga-bunga gimana?"


Mata Taera menatap Mayang dengan penasaran.


Mayang berniat menghindar dari tatapan Taera yang bermaksud menyelidiki.


"Taera. Mau ikut ngasih kue ini ke ibu-ibu tadi ga?" Tanya mayang untuk mengalihkan obrolan.


"Yey. Kue darimana itu?" Taera berubah menjadi bersemangat melihat kue yang dikeluarkan oleh Mayang. Sepintas Mayang melihat telinga kucing yang keluar dari kepala Taera.


Mayang memberikan sekantung kue kering yang dibelinya tadi pada Taera. Dan 3 kantung yang sudah diletakkannya ke dalam kotak untuk diberikan pada ibu tetangga yang memberinya bunga tadi.


Setelah sampai di rumah tetangga nya itu, Mayang menjadi lebih tak enak hati karena bermaksud membalas kebaikan ibu tetangga itu, Ia malahan disuguhkan teh hangat dan aneka makanan kue-kue dan agar-agar di atas mejanya.


Mayang melirik Taera yang dengan mudah mengobrol bersama bapak lansia, suami ibu itu. Dengan lahapnya, Taera menikmati hidangan dihadapannya tanpa banyak mikir.


"Hadeh. Dia ini..."


"Tak apa. Ini neng. Cobalah."


*Neng (panggilan untuk anak perempuan yang lebih muda.)


"Maaf..." Ucap Mayang sambil menyantap kue buatan ibu itu.


"Kami senang karena sudah lama tamu yang tak berkunjung datang ke rumah." Ucap ibu itu.


Umurnya kelihatannya lebih tua dari penampilannya. Ibu itu kemudian menceritakan tentang keluarganya dan tentang kehidupannya dulu.


"Oh iyah. Sejak kapan eneng ada di rumah sebelah?" Tanya ibu itu.


Mayang menggaruk kepalanya.


"Udah satu setengah tahun yang lalu bu. Cuma saya jarang keluar rumah selain buat kerja aja."


"Pantesan Ibu jarang lihat." ucap Ibu itu tersenyum.


Mayang bersyukur hari ini dia berjalan kaki untuk ke minimarket membeli beberapa keperluannya. Ibu itu kemudian menunjukkan album foto nya kepada Mayang.


"Ini siapa?" Tanya Mayang.


Mayang melihat foto yang ada di album itu.


"Itu Almarhumah Kakak perempuan Saya."


"Hoo cantik."


"Iyah. Dulu saat kami masih sangat sulit, Saya sering ikut berjualan dengan kakak Saya."


Ibu itu melihat bunga-bunga yang ditanamnya di kebun.


"Kakak Saya sangat menyukai bunga-bunga. Dia membantu ibu kami mengurus dan menjual bunga-bunga di rumah."


Mayang memperhatikan bunga itu dan mendengarkan cerita ibu yang tengah mengenang kakaknya itu.


Ibu itu kemudian melihat ke arah Mayang.


"Apa pemuda itu adalah kekasih nya eneng?" Tanya Ibu itu tiba-tiba.


Mayang menjadi panik untuk kedua kalinya hari ini.


"B. Bukan bu. Itu peliharaan Saya. Eh maksudnya teman saya."


Mayang memalingkan wajah nya dengan malu.


"Saya seperti melihat cinta pertama saya. Pemuda itu mirip sekali dengan nya." Ucap ibu itu.


"Apa??" Mayang bertanya kaget.


"Tapi itu udah lama sekali. Haha." Ibu itu tetawa riang.


"Haha"


Mayang tertawa dengan kaku. Membayangkan, mungkin saja itu memang Taera.


Hari mulai gelap. Mayang dan Taera berpamitan pada pasangan lansia itu. Tentunya dengan membawa beberapa kue yang diberikan oleh ibu itu.


"Haaaa......" Mayang menghela nafas panjang.


"Kenapa?" Tanya Taera sambil makan kue coklat yang ada ditangannya.


"Apa nya yang kenapa?? Kita kan kesana buat ngasih kue. Ko malahan kita yang dikasih lagi?"


Taera mengunyah kue yang ada di mulutnya. Lalu menjilati jarinya.


"Yah ga masalah kan? Namanya rejeki. Datengnya dari mana aja." Ucap Taera santai.


"Yah tapi kan. Ibu itu udah ngasih banyak banget."


Taera menyuapi kue coklat yang telah digigitnya separuh untuk Mayang.


"Eh?" Mayang langsung diam dan spontan mengunyah kue yang masuk ke mulutnya.


"Kamu ini..." Selesai mengunyah kue itu, Mayang bermaksud mengomeli Taera.


"Hahaha. Lagian si sambil jalan ngomong mulu. Kapan sampe nya?" Tawa Taera.


"Sendirinya makan sambil jalan." Pikir Mayang dengan geram.


Mayang kemudian mengejar Taera yang berjalan semakin mendahuluinya.


Dirumah ibu itu, Ia melihat bingkai foto yang terpajang di kamarnya.


"Mirip banget." Ucap ibu itu.


"Siapa yang mirip?" Tanya suaminya bingung.


"Ini lho pak. Tuan yang ada difoto sama kakak ini."


Ibu itu menunjukkan foto yang ada di bingkai fotonya. Tertulis tahun 1958. Seorang gadis kecil yang menggendong anak kecil bersama dengan pria jangkung di samping mereka.