The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Mimpi




...Jam 02.00 tepat....


Di dalam mobil, Mayang terus memperhatikan waktu dijamnya.


"Ya Tuhan. Ini lebih larut dari yang kuperkirakan." Bathin Mayang gelisah.


Disampingnya, Laerry yang mengantar pulang memperhatikannya tengah bolak-balik mengecheck jam nya.


"Maaf yah, yang. Padahal kamu begitu mikirin kucing peliharaan mu itu. Harus nya aku ngingetin buat kamu pulang lebih awal yah."


Laerry terlihat merasa bersalah. Mayang kemudian menggeleng.


"Ngga apa ko. Aku tadi sangat menikmati makan bareng semuanya. Jadi tanpa sadar aku lupa waktu."


Mendengar itu, Laerry agak tenang. Perasaan Laerry saat ini begitu baik sampai Ia lupa mengemudikan mobil nya dengan agak kencang. Bertepatan dengan dia menggas mobil nya, sepintas bayangan hitam muncul di depan mobil Laerry.


...--braaak---...


Suara benda yang seperti tertabrak mobil Laerry membuatnya terkejut dan memberhentikan mobilnya.


Mayang terhentak karena rem yang mendadak. Keduanya pun keluar untuk mengecheck keadaan. Tapi, tak ada satu pun keanehan yang terlihat didepan mobil Laerry. Tak ada benda apapun yang tampak akan menimbulkan bunyi seperti yang barusan terjadi.


Keduanya menatap dalam bingung.


"Tadi kamu juga dengar kan, yang?" Tanya Laerry yang masih mengumpulkan jawaban atas pertanyaan dikepalanya.


"Iyah kayak ada bayangan dan suara yang nabrak kan? Tapi ko ga ada apa-apa yah?" Mayang juga bertanya bingung.


"Tunggu sebentar. Aku minggirin mobil dulu."


Laerry masih memeriksa dengan penasaran. Tapi, setelah mereka lihat lebih lanjut, tetap tak ditemukan apapun.


Pasrah. Laerry menghela nafas dan berkata kembali pada Mayang.


"Udah yuk. Kita pulang aja. Mungkin tadi ada kerikil gitu kali yah. Kan ga jelas juga tadi."


Laerry menggaruk kepalanya, melihat ke Mayang untuk mencari alasan yang bisa Ia buat.


"Iyah. Oke." Mayang menjawab pelan sambil terus memperhatikan tempat bayangan yang tadi muncul.


Setelah keduanya pergi dari kejauhan, ada dua pasang mata yang melihat ke arah mereka dengan tatapan yang tajam.


...🥀🥀🥀...


Mayang tiba di depan rumahnya. Setelah mengucapkan terimakasih dan berpamitan pada Laerry, Ia membuka pintu rumahnya dengan perasaan kalut.


"Haaa~~"


Suara nafas panjang terdengar dari Mayang.


Ia masuk ke rumahnya dengan mengendap pelan.


Begitu memasuki ruangan, Mata Mayang lantas langsung mencari keberadaan Taera.


Yah. Seperti biasa, Taera kucing berada di tempat kesukaanya. Di sofa sambil tertidur membelakangi Mayang.


"Taera." Ucap Mayang memanggil nama Taera dengan suara pelan.


Mayang menyentuh bagian ekor panjang dari Taera kucing. Taera kucing yang merasakan ada sentuhan di tubuh nya, menggeserkan badannya dan menoleh ke arah Mayang.


"Omesh." (Singkatan dari hentai wkwk)


"Eeh??"


Tersadar. Mayang melompat kaget kebelakang teringat dengan Taera yang menyerangnya waktu itu.


Taera merasa kesal dengan tindakan Mayang yang menghindari nya terang-terangan.


"Gue lagi sebel. Gue lagi ngambek nih. Kalo mau ninggalin rumah tuh pas ada orang jangan biarin kulkas kosong dong." Gerutu Taera sambil menunjuk-nunjuk kulkas Mayang.


"Haduh maap. Soalnya biasanya ninggalin makanan di kulkas malahan sering basi kalo ga kemakan."


Mayang meminta maaf dengan tulus. Taera kucing masih terlihat ngambek.


"Beneran ini mah. Ga bakalan terjadi lagi deh. Besok aku libur. Mau main kemana?" Bujuk Mayang.


Taera mengedipkan matanya, menyembunyikan perasaan senangnya dibalik sikapnya yang acuh.


"Oke dimaafkan. Sekarang Tidur yuk. Biar ga terlalu siang nanti kita perginya."


Taera langsung bersemangat dan menunjuk tempat tidur Mayang.


"Apa kau pernah dibilang tuan muda manja oleh orang sekitarmu?" Tanya Mayang melihat tingkah Taera.


"Ukh~~~ Jangan bilang gituh. Paling ga suka gue dibilangin gituh."


Sepertinya dugaan Mayang tepat, Taera terlihat kesal kembali.


Setelah beberapa saat rebahan dikasurnya, Mayang masih belum mengantuk. Ia membalikkan badannya di kasur ke kanan dan ke kiri. Lalu, bangun dari tidurnya.


"Ah haus."


Diambil nya segelas air putih di dapurnya. Sembari minum, mata Mayang menuju pada beranda kamarnya.


"Eh..?"


Mayang menyuarakan kebingungan nya.


Tirai kamar yang biasa nya tertutup kini terbuka dan berkibaran seakan tertiup angin. Mayang mendekati berandanya dengan perasaan ragu.


Saat hendak menutup tirai nya, sesosok laki-laki tampan muncul di hadapan Mayang. senyumnya begitu bersinar. Rambutnya yang berwarna agak keemasan terlihat seperti Malaikat. Mayang lantas membelalakkannya matanya. Tak percaya dengan apa yang sedang Ia lihat.


"Aneh. Kenapa sejak ketemu Taera, jadi sering lihat cowok good looking gini?" Bathin Mayang bertanya.


Meskipun tak dapat jawabannya, Ia tahu. Bahwa ketampanan bisa menjadi bahaya jika terlena melihatnya.


"Haha." Tawa Mayang lirih.


Tak sama seperti sebelumnya saat Ia sangat ketakutan melihat woman killer yang menghisap habis darah korbannya di hadapan Mayang, sekarang Ia langsung melayangkan pukulan keras yang dipelajarinya saat masih mengikuti Taekwondo.


...---TAAAK---...


Cahaya putih tiba-tiba terlihat di depan Mayang.


"Lho??"


Mayang terbangun kaget dari tidurnya. Ia melihat ke sekeliling nya.


Mayang sudah tak berada di beranda seperti sebelumnya. Ia sedang berada di atas kasurnya sambil mengepalkan tangannya, mengarahkan nya pada langit-langit kamarnya.


Masih mengumpulkan kesadarannya kembali, Mayang dikejutkan dengan suara eong-an dari kucing di hadapannya.


"Meeeooong~~"


"Aih. Ko Taera mengeong lagi?"


Mayang mengangkat kucing itu dan memperhatikannya.


"Itu kucing beneran bhe guk."


Suara Taera terdengar sangat jelas di telinga Mayang. Mayang memperhatikan kembali kucingnya.


"Oh yah matanya warna kuning beda sama Taera yang hijau." Pikir Mayang.


Menyadari hal yang terpenting bukan kucing yang berada ditangan nya sekarang, Mayang langsung menaruh kembali kucing itu dan turun dari kasurnya.


Taera melihat Mayang yang panik seakan mencari-cari sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Taera


"Tadi ada cowok rambut pirang gituh kayak bule."


"Bule? Jangan-jangan..."


Taera tidak menyelesaikan kata-katanya. Seperti ada yang disembunyikan darinya. Taera langsung terlihat malas melanjutkan kata-katanya.


"Mungkin mimpi. Udah siap-siap gih. Kita kan mau jalan-jalan." Taera santai dengan sikap Mayang yang tak mengendurkan penjagaannya.


"Apa maksudnya. Ini kan masih malam?"


Mayang tampak serius bertanya. Taera hanya menggaruk lehernya. Sambil menunjukkan jam dan cahaya matahari yang menembus dari tirai kamarnya yang masih tertutup, Taera menjelaskan.


"Ini udah jam 11.00."


"Ko bisa?? Sejak kapan aku tidur..??"


Mayang masih tak mempercayai keanehan yang terjadi sejak semalam. Mengingat kembali ada dua kejadian yang janggal terjadi padanya dalam semalam.


"Jangan-jangan Aku diikutin hantu?" Pikir Mayang.


--meeeooong---


Kucing hitam yang berada di hadapan Mayang tadi mengeong kembali.


Mayang menatap dalam diam. Dengan tatapannya yang tajam, mengobservasi kucing itu dari kepala sampai ekornya.


"Itu beneran kucing. Gue ga bohong." Ucap Taera membela diri.


"Lagi ko bisa si kucing ini masuk ke rumah?"


"Tadi pagi kucing ini ada di depan rumah. Jadi mending dibawa masuk aja."


Setelah mengamati kembali, Mayang hanya bisa menghela nafas lagi dengan lebih dalam. Memaklumi dengan setiap tindakan yang Taera lakukan.