
Dua orang berpakaian putih telah berdiri dihadapan Taera dan Allen. Pakaian putih keduanya terkesan mencolok. Cukup untuk Taera dan Allen untuk menduga seragam mereka.
"Hunter." Pikir Taera maupun Allen.
Hanna yang melihat Taera menggendong Kean, langsung mengarahkan panah nya ke arah Taera. Tanpa pikir panjang, Ia langsung menarik busur panahnya tepat kearah Taera. Beruntung dengan reflek cepat Taera, Ia mampu menghindar.
"Cewek bodoh. Kalau meleset dan telat menghindar, Kean malah yang kena." Gerutu Taera kesal.
"Kenapa dia bisa kenal kean?" Hanna bertanya dalam hati. Lalu berpikir sejenak.
"Jangan-jangan vampire-vampire ini memang sudah mengincar Kean dan mencari tahu tentang keberadaannya?" Tanya Hanna dalam bathinnya kembali. Pandangannya melihat Taera dengan curiga.
Ryan yang lebih tenang, menghabisi satu persatu pelayan vampire yang berusaha menyerang nya.
"Saya Anggota asosiasi hunter no.3. Ryan. Mendapatkan wewenang untuk menangkap pemilik rumah ini Victoria. Dengan tuduhan penculikan dan penyekapan anak manusia bernama Kean di kediamannya."
_C.A.ST_
Ryan
Ryan yang kelihatan sangat membenci kaum vampire menampakkan kilatan di matanya melewati bagian lensa kacamatanya.
Victoria yang melihat kilatan di warna mata Ryan tampak agak bergedik. Ia merasakan aura yang kuat terpancar dari Ryan. Mencoba tampil tetap tenang. veronica bergerak perlahan menuju Rosella. Kegusarannya saat ini hanya saat melihat Rosella yang sedang dberada dilengan Allen, tatapan Rosella menunjukkan bahwa Ia sangat tidak nyaman berada disana.
Tanpa mengubah ekspresinya, Victoria menghadap Ryan yang telah mengarahkan pedangnya tepat pada bagian leher Veronica yang mulus.
"Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman disini, tuan dan nona." Ucap Victoria dengan senyumnya yang dingin.
Ryan tetap diam mendengarkan tanpa mengendurkan pertahanannya.
Veronica menghela nafas, merillekskan pundaknya sambil terus menuju ke arah Rosella dengan perlahan.
"Malam ini putri ku, Rosella mengadakan pesta ulang tahun kebangkitannya kembali."
Veronica lalu melirik ke arah Kean. Lalu, memberikan senyumnya kembali.
"Sepertinya teman manusia Rosella juga berkunjung ke rumah. Karena kami khawatir bahwa keberadaannya malah menjadi opium para tamu undangan, sehingga Kami menyimpannya sementara di ruangan ini." Lanjut Veronica.
Ryan terdiam sesaat, terlihat sedikit berpikir, lalu dengan tenang memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya.
"Begitu." Ryan menghela nafas ringan, memajamkan matanya lalu menapakkan langkah mundur, menjauhi Veronica.
Tanpa mengubah ekspresinya yang dingin saat melihat para vampire yang masih mengelilinginya, Ryan berkata dengan intonasi yang jelas.
"Mohon maaf atas kerusuhan yang terjadi malam ini. Dan juga penjaga-penjaga yang terbunuh. Mohon dimaklumi, Karena ini kami lakukan juga untuk mempertahankan diri kami karena mereka terus-menerus memberi serangan."
Senyum Ryan yang tak biasa diperlihatkan didepan para pelayan yang merasa ngeri dengan tatapan mata Ryan yang dingin.
"Karena sudah seperti ini, Kami juga berharap tak ada kesalahpahaman lagi yang terjadi. Anda tahu kan, akhir-akhir ini juga banyak masalah yang disebabkan para vampire dan monster disaat yang bersamaan?"
Mata Ryan terus memperingati. Veronica agak bergetar ketika mendengar nya. Lalu, dengan senyumnya yang tak berubah, Veronica hanya mengeluarkan satu kalimat.
"Baiklah."
Dengan satu kalimat biasa, nada suara yang diberikan terdengar seperti sebuah besitan suara yang tajam yang membuat telinga berdengung saat mendengarnya.
Setelah memeluk dan membawa Rosella, Veronica tiba-tiba menghilang dari ruangan.
"Hey. Serahkan Kean." Hannah yang sudah merapihkan busurnya menghadap Taera, mengulurkan telapak tangannya yang terbuka untuk meminta Kean diserahkan padanya.
Taera menatap Hanna dengan acuh. Mengabaikan permintaannya yang sedikit memaksa.
"Lhoo? Ko malah dibawa??" Hanna ikut berlari karna Taera dengan cepat membawa Kean menuju keluar dari kediaman veronica.
"Apa-apan cowok ini? Dia tuli apa emang ga punya telinga??" Protes Hanna di dalam hatinya.
Taera mengabaikan Hanna yang terus mendumel di belakang nya dan terus bergerak dengan cepat diikuti oleh Allen dan Ryan.
Setelah hampir mencapai jalan keluar hutan, Taera melihat cahaya penerangan yang menyala.
Ia mengamati asal dari cahaya itu. Warga-warga yang berkerumun membuat barisan berkelompok, seperti menunggu sesuatu yang keluar dari hutan.
"Oh. Ini penyebab nya, cewek itu minta Kean untuk diberikan padanya?" Bathin Taera berucap.
"Hoi, cewek! Nih." Taera segera melemparkan Kean pas dihadapan Hanna yang berada dekat dengannya. Agak terkejut dengan Operan tiba-tiba dari Taera, Hanna menangkap Kean berdasarkan insting nya.
"Cowok si alan." Hanna terlihat begitu kesal dengan kesan pertamanya pada Taera.
"Unnngh~~~" Kean terdengar merintih dalam tidurnya. Bagian wajahnya terlihat memerah. Hanna dapat merasakan temperatur tubuh yang panas dari Kean.
Pak Anton, Bapak Kean menunggu dengan cemas kedatangan putra sulungnya itu. Setelah tatapannya tak beralih dari jalan setapak di hutan itu, Matanya kemudian berbinar saat melihat Hanna yang keluar dengan membawa Kean.
"Anakku." Pak Anton langsung berlari menghampiri dan menggedong Kean.
Pak Anton melihat kondisi Kean yang badannya berkeringat dan merasakan suhu tubuh nya yang panas.
"Kita harus segera membawa Nak Kean ke klinik, pak." Ucap pak RT disertai anggukan warga yang lain.
Semua warga terlihat lega saat melihat Kean kembali. Sementara Ryan yang berada di belakang Hanna terdiam tanpa ekpresi.
Hanna mencoba melirik kembali ketiga laki-laki yang bersamanya keluar dari kediaman Veronica beberapa saat yang lalu.
Selain Ryan yang diam, kedua orang yang tak dikenalnya sudah tak ada disana.
Ryan duduk di teras sementara warga-warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Mengeluarkan handphone-nya, Ryan menelpon kembali pihak asosiasi hunter. Memberitahu informasi singkat pada pihak asosiasi tentang apa yang terjadi malam ini.
"Kak. Ini ucapan terimakasih dariku."
Hanna sudah menunggu Ryan saat Ia menutup telponnya. Setelah memberikan sebuah minuman kaleng simpanan pamannya, Hanna duduk disamping Ryan.
Ryan yang memang sedang haus membuka minuman itu tanpa pikir panjang.
"Ini ga termasuk kesepakatan awal." Ryan melihat ke arah Hanna yang melihat nya meminum minuman kaleng nya.
Agak tertawa, Hanna menepuk-nepuk bahu Ryan dengan kasarnya.
"Yah ngga lah kak. Ini diluar perjanjian yang ku buat."
Hanna juga meminum minuman yang sama dengan Ryan. Ia membuka minumannya lebih cepat daripada manusia pada umumnya.
"Oh yah. Kean sudah dibawa ke klinik sama bapaknya tadi."
"Syukurlah."
Hanna melihat Ryan yang duduk disampingnya.
"Kak, ko kak Ryan ga ngelawan vampire cowo yang ikut kita tadi?"
Ryan mendecakan lidah nya saat mendengar pertanyaan Hanna.
"Aku heran kenapa kamu tak mengikuti saran dari ku waktu itu?" Ryan tampak malas menjelaskan.
"Eh? Yang mana kak?" Hanna serius bertanya. Ia tampak lebih bingung dari sebelumnya.
Menghela nafas. Ryan dengan enggan menjelaskan kembali.
"Vampire yang membawa Kean tadi adalah adik dari Nona Ariel. Pimpinan dari divisi keamanan dan penyelidikkan vampire bermasalah." Ucap Ryan seraya membenarkan kacamata nya.
Mendengar itu, Hanna mencoba menerka kembali reka ulang saat dia melihat Taera.
"Pantas Aku seperti pernah melihatnya." Ucap Hanna dengan polos.
Kesal dengan sifat Hanna yang terkadang ceroboh, Ryan menjetikkan jarinya pada kening Hanna.
"Yah pokoknya gituh. Jangan lupa mulai besok, Tugas mu mengambilkan jatah makanan ku dikantin selama 1 bulan." Ryan melihat Hanna sambil tersenyum.
Sementara Hanna yang sangat langka melihat senyum muncul di wajah Ryan membuatnya sedikit berdebar. Ia pun tertawa kegirangan.
"Sip kak. Serahkan padaku!" ucap Hanna penuh semangat.
...🥀🥀🥀...