
Di kediaman keluarga Victoria. Disetiap ruangan yang dipenuhi oleh mawar merah yang bermekaran.
Rosella duduk dikursi nya sambil menghadap cermin.
Rambut hitam panjang yang tertata rapih. Mata berwarna semerah mawar, kulit yang seputih lilin. Penampakkan Rosella persis sama seperti duplikat dari Victoria. Hanya saja Ia adalah victoria versi mini nya.
Rosella hanya sendiri di kamar nya. Sepertinya Ibunya, Victoria sedang sibuk untuk mempersiapkan pesta ulang tahunnya.
Dengan bosan, Rosella kembali ke kasur nya dan mengambil sebuah buku cerita bergambar.
Buku bergambar kesukaannya. Berkisahkan tentang sekeluarga Kelinci yang bermain bersama-sama temannya.
"Senangnya jadi Peter. Dia punya banyak teman yang mau bermain bersama."
Rosella sedikit cemberut sambil menatap cemburu Kelinci peter di buku nya.
"Rose juga ingin bermain."
Saat Ia sedang menoel-noel buku bergambar nya, tiba-tiba Rosella dikejutkan oleh suara ketukan di jendelanya.
"Hey hey.. "
Rosella melihat asal suara bisikan dari seorang anak laki-laki yang mengetuk jendela nya.
Dihampiri nya dengan penasaran anak laki-laki itu.
--sreekk--
Jendela pun dibuka oleh Rosella.
TAP!
"Yaps! Kean mendarat dengan sempurna!! Hehe."
Anak laki-laki itu yang bernama Kean menghampiri Rosella yang berdiri mematung melihatnya.
"Eh.. Apa kamu boneka? Hello?"
Kean terus berusaha mengalihkan pandangan Rosella yang kaku untuk melihat ke arahnya.
(Poke.. poke....)
Kean menyentuh pundak Rosella. Membuat tubuh kecil Rosella menjadi sedikit bergetar.
Pergerakan Rosella yang benar-benar kaku membuat Kean terheran.
"Ah! Aku punya ini!"
Kean memberikan permen yang ada dikangtungnya untuk Rosella.
Melihat Rosella yang bingung antara mengambil nya atau tidak, Kean segera memberikan permen itu ke tangan Rosella.
"Terimakasih."
Rosella berkata dengan sangat pelan. Kean kesulitan untuk mendengarkannya. Tapi, Ia dapat menangkap apa yang dikatakan Rosella.
"Sama-sama."
Dengan tersenyum, Kean menjabat tangan Rosella yang mungil.
"Namaku Kean. Umur 13."
"Rosella."
Disertai anggukan, Rosella membalas Jabatan tangan dari Kean, teman barunya.
Mereka pun bermain bersama dengan boneka-boneka kesukaan Rosella yang ada dikamar, menggambar, mewarnai, dan membaca buku cerita Rosella.
Rosella menikmatinya.
"Eh gimana ini? Aku lupa sebelum dzuhur harus bantu bapak!"
Kean tiba-tiba lompat dari duduknya. Dengan panik, Ia tersenyum ke arah Rosella.
"Rose aku pulang dulu yah. Bapakku bisa marah kalau aku telat pulang." Ucap Kean.
Rose terlihat sedih. Kean yang menyadarinya langsung mengelus kepala Rose seperti Ia mengelus seekor kucing.
"Besok aku datang lagi. Nanti kita main lagi."
Rose membalas ucapan Kean dengan senyumnya yang manis. Kean masih melihat Rose seperti seorang boneka yang cantik. Kean merasa sedikit tersipu dengan senyum ramah dari Rose yang belum pernah dilihatnya dari teman-teman sebayanya.
Kean pun melompat kembali dari jendela. Rosella memperhatikan Kean yang masuk ke kamarnya dengan memanjat pohonnya. Lalu, berlari dengan cepat melompati pagar rumah Rose yang lumayan tinggi.
"Dia seperti peter."
Rosella melihat buku peternya yang tadi ikut dibaca oleh Kean.
"Hihi."
Rosella tertawa kecil mengingat Kean berjanji akan datang kembali besok untuk bermain bersamanya.
...🥀🥀🥀...
Kean yang pulang ke rumah nya, berlari dengan secepat yang Ia bisa. Kean sangat suka nge-bolang ketempat-tempat yang belum Ia tahu. Kean selalu penasaran dengan tempat misterius yang orang-orang larang untuk dikunjungi. Semakin dilarang, kean malah semakin penasaran.
Dan beruntung, Kean bisa mengetahui rumah yang menurutmya seperti kastil besar milik penyihir jahat. Lalu, keberadaan Rosella seperti seorang putri yang dikurung dikastil itu.
"Assalamualaikum..."
Kean mengetuk pintu rumahnya.
"Walaikumsalam. Kemana aja Kean? Bapak udah nyariin dari tadi." Ibunya bertanya dengan cemas.
"Kean cuma main bu."
Kean mencium tangan ibunya.
Bapak Kean yang baru selesai solat dzuhur, menghampiri Kean.
"Kata Bapak juga sebelum dzuhur pulang. Makan dulu terus solat! Baru anterin pesanan kakak yang ada di komplek itu." Ucap bapak sedikit menggerutu.
"Sip pak. Kean makan dulu."
Kean makan bersama Ibu dan Bapaknya disertai dua adiknya yang masih kecil.
"Oh yah pak. Dihutan itu ada rumah besar banget pak. Ada yang tinggal disitu."
Bapak dan Ibu pun langsung menghentikan makannya dan melihat ke arah Kean yang sedang bersemangat cerita.
"Kean ke hutan lagi?" Tanya Ibu khawatir.
Ibu pun menggeleng.
"Udah Ibu bilang kan, Kean ga boleh main disana. Bahaya. Kalau ketemu binatang buas atau nyasar gimana?"
Ibu menatap dengan penuh kekhawatiran.
"Yaah... Tapi Kean ga nemuin binatang buas satu pun ko bu."
Kean terlihat sedih dan kecewa dengan larangan ibu nya.
Melihat Kean dan Ibu menjadi saling diam, Bapak pun nyeletuk.
"Bapak si ga masalah kalau Kean main asalkan tahu waktu sama ijin dulu ke ibu. Soalnya Anak laki itu kan emang harus keluar buat nyari banyak pengalaman."
Ibu menghela nafas dan melihat Bapak dengan sedih.
"Bapak mah malah ngebela? Itu si Kean kasih tahu dulu yang bener. Kalau terjadi apa-apa gimana? Hutan itu udah terkenal angker sama warga. Banyak yang kesana terus ga balik lagi."
"Bener juga itu ceritanya Kean." Bapak pun teringat sesuatu.
"Bapak pernah denger cerita, katanya ada we-we gombel yang suka nyulik orang-orang. Makanya banyak yang ga balik lagi." Ucap Bapak.
"Lho bukannya we-we itu suka nya anak kecil pak?" Tanya Ibu dengan bingung.
"Iyah. Apalagi anak kecil yang bandel. Suka keluyuran. Ga ijin sama orangtuanya." Bapak terlihat berpikir dan melirik ke arah Kean yang mendengar cerita ibu dan bapaknya sambil terdiam pucat.
"Ah udah lah. Bapak ibu suka nakutin kean gituh!" Kean menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lalu, menyelasaikan suapan terakhir nya dengan cepat.
"Kean selesai! Pesanan kakak komplek itu yang ini kan pak? Kean lansung berangkat! Assalamualaikum!"
Kean bergegas pergi.
"Eh. Walaikumsalam. Lho? Bapak kan nyuruh solat dulu?"
Tak mendengarkan ucapan bapak nya, Kean langsung mengantarkan pesanan.
Dijalan, Ia teringat kembali dengan Rosella yang ada dirumah itu.
"Rose ga kayak we-we ko. Mana ada we-we gembel cantik gituh?" Pikir Kean dalam hati.
Kean agak cemberut. Dia hanya membayangkan Rose yang terkurung di rumah sebesar itu. Tempatnya pasti ga jauh-jauh dari rumah dan kamar.
"Pasti Rose kesepian." Ucap Kean dengan sedih.
"Meooong~~"
"Waaah.."
Kean terkejut dengan kucing yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Hadeuh Bikin kaget aja kamu meong taera!"
Kean melirik rumah tempat tujuannya. Pesanan untuk kakak perempuan yang sering memesan telur dan asinan di warung keluarganya.
Bell dibunyikan. Tak beberapa saat kemudian, Mayang membukakan pintunya.
"Oh udah sampe yah. Makasih yah kean."
"Iyah kak Mayang. Maaf kean telat kak. Tadi habis main. Hehe." Kean menggaruk kepalanya yang agak gatal.
"Ga apa-apa. Mau mampir dulu, Kean? Kakak lagi banyak kue."
"Mauuu!!"
"Meoooong~~"
Taera kucing masuk ke dalam rumah Mayang dengan santainya.
"Oh iyah kak. Kean belum solat. Nanti bapak sama ibu marah lagi. Mampir nya kapan-kapan aja deh."
Kean terlihat kecewa dan berpamitan pulang.
Taera kucing yang sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu menoleh kembali pada Kean dengan penasaran.
"Dari mana itu anak?" Tanya Taera heran.
"Eh?"
Mayang terdengar bertanya-tanya sambil memakan asinan yang dipesannya barusan.
"Bukan apa-apa tapi ko baunya gituh. Ga biasa nya. Dia habis main kemana si?"
"Namanya juga anak-anak. Aku aja waktu kecil suka main kemana-mana, bahkan aku suka panjat pohon. Malahan pas tujuh belas agustusan, aku juga menang panjat pinang."
Mayang berkata dengan bangga saat mengenang masa kecilnya. Taera menatap dengan takjub. Membayangkan Mayang kecil yang sedang panjat pohon dan lomba panjat pinang.
Bell berbunyi kembali. Mayang dan Taera Kucing saling menoleh.
...🥀🥀🥀...