
Taera maupun Allen yang masih berada cukup jauh dari keramaian, langsung menatap satu sama lain.
Semerbak Aroma yang sangat jelas di indera pembau mereka.
Kedua nya menghampiri tempat itu dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Saat mereka menghampiri tempat ramai itu,
Terdengar sirine Ambulance dan polisi yang bersahutan.
Sudah ada kedua lansia yang telah di kenal oleh Taera sebelumnya di kerumunan itu.
"Ada apa?" Tanya Taera yang mencoba menerobos kerumunan.
"Ah itu.."
Bapak tua beserta istrinya itu terlihat khawatir sembari menunjuk ke arah wanita yang sedang di angkut oleh ambulance.
"Tadi ada suara tabrakan di depan rumah, saat kami keluar, ternyata ada wanita yang sudah terbaring berlumuran darah." Jelas bapak itu lagi.
Taera dan Allen memperhatikannya dengan seksama.
"Tae, tak salah lagi kan?"
Mata Allen yang terus mengamati wanita itu terlihat penuh keyakinan dengan dugaan nya.
"Yah."
Taera menjawab singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari tubuh wanita yang sedang di angkut itu.
Saat tubuh wanita yang sudah pucat itu akan di masukkan ke dalam Ambulance, tiba-tiba terjadi rangsangan gerakan yang tak biasa dari tubuh wanita itu.
Badannya perlahan terbangun dan menapakkan kaki nya.
Semula sekerumunan warga yang menonton dan petugas hanya terdiam menganga, memperhatikan wanita yang masih berdiri mematung dan menunduk.
Ketika wajahnya diangkat, mata wanita itu terlihat merah menyala. Memperlihatkan senyum lebar yang mengerikan.
Wanita itu meraung, gigi-gigi yang tajam dan runcing dari mulutnya ditampakkannya. Sang petugas dan warga yang melihat nya langsung berteriak dan berlarian ketakutan.
Tak perlu berapa lama untuk menyadari pergerakan dari wanita yang kini hendak menyerang orang-orang di sekitar nya, Taera dengan sigap langsung menahan wanita yang hendak mengejar mangsa nya dengan genggamannya.
"Allen!!"
Teriakkan Taera langsung dibalas dengan gerakan cepat Allen yang sudah memegang sebuah senapan laras pendek.
"EREASED!!"
Sebuah tembakan membuka jalan pikiran orang-orang yang berlarian dengan panik, menghilang kan ingatan mereka untuk kejadian dalam peristiwa barusan.
Orang-orang yang terkena kemampuan Allen seketika bergerak dalam diam seakan tak mengingat dan melihat apa yang sedang terjadi di tempat itu. Menjauh dan kemudian menghilang dari tempat kejadian.
Wanita yang ditahan oleh Taera semakin memberontak.
Allen bergabung dengan Taera yang telah memegang Pragma nya.
"Ini mau ditangkap atau langsung dihabisi saja biar gampang?" Allen bertanya dengan santai.
"Banyak kebangkitan vampire campuran akhir-akhir ini kan? Tubuhnya akan berguna untuk di selidiki" Ucap Taera serius.
"Hee.."
Allen menggaruk kepala nya dengan EREASED, senjata yang dipegang nya.
Keduanya bekerja sama untuk menangkap wanita yang sedang dalam kegilaannya untuk memangsa.
Allen memperhatikan Taera yang serius menangkap buruannya. Hal yang lebih sulit daripada membunuh atau menghabisi lawan adalah menangkap nya hidup-hidup.
"Dia udah berubah yah?" Pikir Allen melihat sahabat nya itu.
Setelah mereka berhasil menangkap wanita yang tak diketahui nama nya itu ke pusat divisi Penanganan dan Keamanan Majelis (PKM), mereka berdiri kembali di hadapan Ariel yang tengah bersandar dimeja nya.
"Jadi wanita ini ditemukan di komplek perumahan warga?"
Ariel menatap dokumen wanita yang barusan diterimanya.
Berbeda dari Taera yang memasang wajah poker face nya saat bertemu dengan Ariel, Allen tampak sangat menunggu-nunggu pertemuannya dengan Ariel. Mata nya berbinar dan tampak bunga-bunga tak terlihat namun terasa bermekaran di sekeliling nya.
Taera mengintip dengan sebelah matanya yang terpejam, untuk melirik sahabatnya yang sudah bertepuk sebelah tangan bertahun lamanya.
"Begitulah. Tanpa disengaja Aku dan Tae bertemu wanita seram ini. Lalu, aku menjaga Tae dari serangan wanita ganas ini sehingga...."
"Aku sudah menghubungi seseorang yang memiliki kemampuan telepati untuk melihat orang dibalik kebangkitan wanita ini."
Ariel hanya menatap Taera yang berdiri dengan kalem, agak beda dari biasanya.
Mata Ariel semakin fokus saat Taera masih dalam ekspresi serius nya. Karena tak biasanya dia terlihat serius seperti itu.
"Apa?"
Taera bertanya karena ada tatapan tajam ke arah dirinya yang membuat nya tak nyaman.
"Hoo iyah. Dari tadi Tae tampak kesal. Aku juga heran." Allen berkata dengan lancarnya.
Taera menjadi sangat kesal dan menatap tajam pada Allen dengan sebal.
Allen tak menyadari bahwa penyebab utama hari ini Taera sangat kesal adalah kemunculan nya sendiri dirumah Mayang pagi ini.
Membuat Taera tidak bisa menikmati sarapan rutinitas yang disiapkan Mayang, tak sempat menonton acara kesukaannya, tak sempat menggoda Mayang. Hal ini akibat Taera diusir keluar bersama Allen dan terlebih mendapat kejadian buruk saat Ia hendak menumpang sarapan ke tempat pasangan lansia yang baik itu.
"Kak Aku belum nyarap." Ucap Taera.
Ekspresi nya yang serius tampak nya karena kebutuhan perut nya yang memanggil dari tadi.
"Hm."
Ariel menyerahkan kartu debit nya untuk digunaan Taera membeli sarapannya.
Sebelum melihat Taera yang pergi, Ariel berusaha untuk tetap tenang.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Ariel.
"Baik-baik saja."
Setelah menjawab dengan singkat disertai senyuman yang tipis, Taera langsung keluar dari ruangan Ariel bersama Allen yang terpaksa mengikutinya.
"Tae, tumben lu ngelakuin hal yang ribet."
Allen terlihat agak menyesal karena pergi dari ruangan Ariel dengan sangat singkatnya.
"Tempatnya dekat sekali dengan rumah Mayang." Jelas Taera.
Allen melirik ke arah Taera yang mood nya sedang kurang baik.
"Lu..."
Allen merasa penasaran dengan sikap Taera yang baru kali ini mempedulikan seseorang secara terang-terangan.
"Lu ga mungkin kan punya perasaan khusus ke cewek itu?"
Taera menatap Allen yang ada disamping nya dengan ekspresi kosong, lalu berusaha memalingkan wajahnya dari Allen.
Allen baru menyadari bahwa Taera bermaksud pergi menjauh saat melihat Taera yang terus berjalan meninggalkan dirinya tanpa satu pun jawaban yang ingin di katakannya.
"Hoy...??? TAETAE!!!???"
Allen berteriak memanggil nama Taera, sedangkan Taera hanya melambaikan tangan dengan sedikit menoleh ke arah Allen.
"Kalo mau ikut makan, cepetan! Kalo ngga, yh udah gue tinggal!!" Teriak Taera menyahuti.
...🥀🥀🥀...
Di suatu tempat yang tak terkena sinar matahari, seorang pria bersetelan jas kantoran mengetuk sebuah pintu rumah yang sangat besar. Pintu itu berderit pelan diikuti oleh langkah kaki pria itu.
Pria yang terlihat seperti pegawai kantoran itu membuka topi nya yg senada dengan setelannya.
Suara sepatu nya berdentum di sepanjang lorong yang Ia lewati. Tepat di sebuah jam berlonceng yang besar, Pria itu pun diam berdiri di depannya.
---Kreeet---
---Deng--
Lonceng jam pun berbunyi sekali disertai dengan terbuka nya sebuah pintu yang menghubungkan sebuah jalan menuju ruangan yang lain.
Ruangan yang begitu gelap. Hanya dengan penerangan berupa lilin-lilin yang berwarna merah. Aroma Mawar pun tercium jelas saat memasuki ruangan itu.
Saat pria itu mulai berhenti di tempat nya, sebuah tirai pun terangkat di hadapannya.
Dari balik tirai yang terangkat itu, Seorang wanita berjalan dengan anggunnya.
"Baiklah. Kita mulai ritual nya." Ucap Wanita itu dengan senyum mempesona di bibirnya.