
Lonceng jam pun berbunyi satu kali disertai dengan terbuka nya sebuah pintu yang menghubungkan sebuah jalan menuju ruangan yang lain.
Ruangan yang begitu gelap. Hanya dengan penerangan berupa lilin-lilin yang berwarna merah. Aroma Mawar pun tercium jelas saat memasuki ruangan itu.
Saat pria itu mulai berhenti di tempat nya, sebuah tirai pun terangkat di hadapannya.
Dari balik tirai yang terangkat itu, Seorang wanita berjalan dengan anggunnya.
"Baiklah. Kita mulai ritual nya." Ucap Wanita itu dengan senyum mempesona di bibirnya.
Sinar-sinar dari lilin yang menyala di ruangan menjadi semakin terang. Terlihat beberapa orang telah duduk di kursi masing-masing.
Pria yang terakhir bergabung, menundukkan kepala nya dengan hormat.
"Mohon maaf, my Lady. Saya datang agak telat untuk mengurus pemakaman."
Wanita itu menajamkan kuku nya dan dengan tepat sasaran, kuku panjangnya terlepas dan mengenai bagian pipi dari pria itu. Luka nya tidak dalam namun cukup untuk memberi kesan ngeri saat kuku yang menyerempet terlihat seperti sebilah pisau yang sangat tajam.
"Baiklah, Tuan. Bisakah sekarang Anda bergabung dengan para Saudara ku yang Lain?"
Berlawananan dengan tatapan matanya yang tajam, wanita itu menampilkan senyuman di wajahnya.
Kemudian Ia merapalkan sebuah bahasa yang sulit dimengerti.
Tamu-tamu yang datang bersebelahan dengan pria tadi mengeluarkan darah dengan cara masing-masing. Menyayat, menusuk, dan meletakkannya pada sebuah wadah berupa gelas yang panjang.
Wanita itu yang memiliki kulit yang berwarna seputih susu. Rambut hitam panjang tergelung dengan tusuk konde berwarna coklat berdiri disebuah peti berwarna silver.
Di dalam peti itu tertidur seorang anak kecil berusia sekitar 10 tahun-an dengan dikelilingi mawar berwarna putih.
Setelah rapalannya selesai, tamu-tamu itu mendekat kepadanya dan mengelilingi peti itu.
Sambil memegang segelas darah, mereka bernyanyi sambil menuangkan darah nya di dalam peti itu. Bunga-bunga mawar yang semula berwarna putih berubah menjadi warna merah darah.
Anak itu pun perlahan membuka matanya yang berwarna kemerahan.
Melihat wanita tadi dengan tatapan yang masih mengantuk.
Wanita itu mengelus rambut anak perempuan itu dengan lembut.
"Selamat datang kembali, putri kecil ku."
Ia tersenyum sembari memeluk anak perempuan yang terduduk di petinya.
...🥀🥀🥀...
Mayang mengerjakan kembali pekerjaan editingnya yang tertunda. Karena hari ini tanggal merah, Ia berharap bisa menyelesaikannya dengan cepat. Sehingga Ia bisa kembali beristirahat.
"Hhhmmmmn...."
Mayang menghembuskan nafas panjang. Ia melihat catatan memo yang ditulis nya. Kebanyakan catatan itu ditujukan untuk Taera.
"Dimana kucing itu sekarang?" Pikir Mayang menyesal.
Ia menyesali emosinya yang labil. Ia menyadari bahwa tak seharusnya dia mengusir Taera dan temannya Taera yang berambut pirang itu.
"Mengapa Aku gampang emosi?" Sesal Mayang.
Kemudian, bunyi suara bel terdengar di depan rumahnya.
Mayang langsung beranjak dari kursi nya. Dibukanya dengan cepat pintu rumah nya.
"Taera?!"
180 derajat berbeda dari bayangannya, di depan pintu yang telah dibukanya, berdiri seorang pria yang amat teramat tak ingin dilihatnya.
Dengan spontan, Mayang hendak menutup pintu rumahnya kembali, namun pria itu lebih cepat satu langkah dari Mayang. Dia menahan pintu yang akan ditutup Mayang dengan kaki dan tangannya yang hendak menerobos masuk.
"Mayang. Beri aku waktu sebentar." Ucap Pria itu memohon.
"Pergilah! Udah ga ada juga yang harus dibahas kan?"
Pria itu. Yang mengumbar janji selama 6 tahun lamanya. Memberikan kenangan-kenangan indah yang semu, dia juga yang mengakhiri segalanya dalam satu kali hembusan nafas.
Pria itu. Yang menukar kepercayaan nya untuk membeli kekayaan dan ketenaran. Menggadaikan cintanya untuk promosi dan kekuasaan di hadapannya.
Pria itu. Yang sudah menjanjikan pernikahan pada Mayang, malahan Ia sendiri yang menikahi orang lain demi mendapatkan koneksi dan relasi.
Pria itu. Yang merupakan Mantan kekasih Mayang, orang yang dipercayainya selama 6 tahun, bernama Bima.
"Pergi!"
Mayang mengatakan kembali kata itu kedua kalinya. Dengan suara bergetar, Ia berusaha menutup pintu yang tengah didorong paksa oleh Bima.
"Mayang dengarkan Aku sebentar. Oke Aku emang salah. Tapi, Aku menikahi wanita itu karena terpaksa. Hati ku hanya untuk mu Mayang!"
Pintu itu terus didorong. Mayang sebenarnya memiliki kekuatan yang melebihi gadis normal pada umumnya.
Tapi, tak tahu mengapa. Tubuhnya gemetar membuatnya tak bisa mengeluarkan kemampuan penuhnya.
"Kumohon. Bima! Pergilah!! Ga ada juga yang harus diomongin lagi!! Melihat mu disini membuat ku mual dan sakit!"
Mayang menangis kesal sambil menahan pintu rumahnya dengan sekuat tenaga yang Ia bisa.
"Mayang. Dengarlah. Beri Aku kesempatan kedua. Setelah Aku sudah mendapat kekuasaan yang cukup untuk hidup kita, Aku akan tinggalkan dia dan melamarmu Mayang!"
Mendengar Bima mengatakan itu, Mayang menjadi marah dan jijik. Masih agak bergetar, Ia tak kuasa menahan amarahnya dan menampar Bima dengan sekuat tenaga.
Bima tersungkur ke lantai akibat tamparan yang Ia terima dari Mayang.
"Uuggh~~"
Bima mengaduh kesakitan. Lalu, dengan kesalnya Ia menarik rambut Mayang dengan kasarnya.
"Cewek Arogan! Keras kepala!! Kenapa si ga mau ngerti?!"
Perubahan sikap Bima sudah dilihat sendiri oleh Mayang saat beberapa bulan lalu ketika Bima mengakhiri dan membuang hubungannya dengan Mayang.
Mayang yang masih shock sangat menyesali kebodohannya yang sempat mempercayai Bima bertahun-tahun lamanya.
Bima memiliki perangai yang buruk dan kasar. Harusnya Mayang dapat menyadarinya sejak awal.
Pada perilaku Bima yang sedang kalap karena emosi nya, Ia memukul Mayang dengan kerasnya.
Ditengah perlindungan Mayang terhadap dirinya sendiri, Ia kembali teringat saat pertama kali bertemu dengan Bima.
Beberapa tahun yang lalu saat pertama kali Mayang dan Bima bertemu.
Saat itu Ia masih kuliah di universitas yang sama dengan Bima. Bima yang berada satu tingkat diatas nya terkenal sebagai orang yang ramah dan berasal dari keluarga yang terpandang. Ia merupakan favorit di kampusnya.
Mayang yang saat itu sangat cuek selalu mengacuhkan Bima dari awal.
Tapi usaha keras pendekatan Bima yang berlangsung cukup lama membuat hati Mayang luluh.
Dengan anggukan, Ia mempercayai Bima sebagai kekasihnya.
Hari-harinya yang membosankan menjadi penuh warna berkat kehadiran Bima. Janji-janji yang dilontarkan bima terasa sangat nyata di hati Mayang.
Namun, mengetahui hal yang sebenernya setelah mengenal Bima setelah 6 tahun, membuat pukulan keras dihati Mayang.
Masih terekam jelas di ingatan Mayang perkataan Bima saat mengakhiri hubungan mereka.
"Aku akan menikah. Mari kita akhiri hubungan ini."
Mata Bima saat itu sangat dingin, sulit dikenali oleh Mayang ekspresi dan suara nya saat itu. Dengan gelagapan, Mayang meminta penjelasan. Dengan keegoisan Bima saat itu, Ia meninggalkan Mayang dengan acuhnya.
Mayang melihat kembali Bima yang saat ini kembali dihadapannya. Dengan kecewa, Mayang menampakkan senyumnya.
"Hal yang ku syukuri dalam hidup ku saat ini adalah tak menikahimu. Tuhan masih menyelamatkanku dari pria brengsek macam sampah seperti dirimu!"
...🥀🥀🥀...