The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Woman Killer (III)



...---- Potongan Episode Yang Lalu ----...


...Merasa berhutang atas kejadian kaca pecah tempo hari, Taera pun menyerahkan kartu nama yang diberikan pria itu pada Mayang beberapa saat yang lalu....


...🥀🥀🥀...



Part.1


Taera menyerahkan kartu nama yang didapatnya barusan pada Ariel. Ia menampakkan senyum percaya dirinya.


"Aku ada Ide. Mau mendengarkan nya?"


----- Sesampainya dirumah ----


Mayang berada di ruangan khusus Ia mengerjakan proses editing nya. Ia tiba-tiba teringat kembali dengan usul Taera untuk memastikan bahwa pria itu adalah tersangka kejadian woman killer atau bukan.


Mayang memiliki kebiasaan: Saat sedang memikirkan sesuatu, Ia akan berputar di kursi kerjanya sekali lalu menghela nafas sembari menopang dagunya.


"Apa bisa berjalan semudah itu?" Pikir Mayang.


Mayang melirik Taera yang sedang tertidur nyenyak. Kini Ia telah kembali pada wujud manusia nya.


Tampan dan memikat. Hanya definisi itu yang mampu Mayang gambarkan untuk sosok Taera yang sedang tertidur.


Taera tampak lelah karena berada dalam wujud kucing seharian.


Mayang bangun dari tempat duduknya, dan memperhatikan Taera dari dekat dan bergumam.


'Masih sulit kupercaya. Bagaimana bisa makhluk-makhluk seperti vampire beneran ada?'


Mayang kemudian mengingat sesuatu kembali tentang cerita-cerita fiksi yang dibacanya.


"Memangnya Vampire tidur yah? Dia lebih mirip kucing daripada vampire. " Ucap Mayang menyuarakan hatinya.


Meskipun Taera mengatakan bahwa Ia adalah jenis vampire, tapi Mayang tak pernah sekalipun melihat Taera meminum darah seperti di film-film ataupun di sinetron yang pernah di tontonnya. Ia juga tak pernah melihat Taera tertarik dengan darahnya. (Setidaknya Itu yang diketahui oleh Mayang).


Mengingat woman killer adalah vampire tak berperasaan yang mampu menghisap habis darah korbannya, Mayang merasa penasaran pada Taera yang mampu menahan hausnya.


Entah bagaimana, Mayang tiba-tiba kepikiran suatu hal, lalu mengambil jarum di tempat jahitnya dan menusukkannya pada jarinya.


---aww...


Mayang meringi kesakitan karena perih dijarinya.


Tetesan darah muncul dari jari Mayang.


Walaupun menyayangkan darah nya yang keluar, Mayang tetap melancarkan rasa penasarannya.


Mayang mendekatkan jarinya pada wajah Taera yang masih tertidur. Setetes darah jatuh pas ke bibir Taera.


Taera yang masih setengah tertidur, menjilat darah yang mengalir kebibirnya.


Dengan instingnya yang kemudian Bangkit, mata Taera seketika membuka. Mayang terhentak dan tubuhnya hampir terjatuh karena berusaha menjauhi Taera. Taera yang gerakannya lebih cepat, mencengkram kedua tangan Mayang sehingga terbaring dibawahnya.


Mayang melihat mata Taera yang semula hijau teduh menjadi warna yang menyala seperti kumpulan dedaunan yang terbakar.


Taera kini sangat berbeda dari yang Ia lihat biasanya.


Mata yang haus darah, hanya melihat kearah Mayang.


Tangan Taera yang mencengramnya dengan kuat terasa gemetar.


Hembusan nafas Taera terasa berat di sekitar tengkuk Mayang.


Taera tampak berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak menyerang Mayang. Dalam hati, Taera ingin melepaskan Mayang segera. Namun instingnya berkata lain. Seperti melihat mangsa empuk dihadapannya. Taera terlihat seperti hewan buas yang kelaparan.


Meski takut, Mayang tak melepaskan pandangannya dari Taera. Tapi Ia tak bisa menyalahkan Taera, karena memang ini kesalahannya. Air matanya kemudian menetes. Mayang berada dalam kekhawatiran. Ia terus berfikir. Bagaimana cara nya menghentikan Taera.


"Kenapa....?" Tiba-tiba suara Taera terdengar.


Suara yang terdengar sangat berat.


Taera melihat Mayang yang menangis di cengkraman nya. Mata Taera kemudian berubah kembali. Ia tampak menatap Mayang yang ketakutan dengan lirih. Taera tak bisa berkata apa-apa saat melihat bekas cengkraman di pergelangan tangan Mayang yang dibuat olehnya.


"Ini ulahku?" Taera yang telah tersadar kembali bertanya pada dirinya sendiri dalam bingung.


Taera memperhatikan Mayang dengan perasaan kalut.


Lalu, dengan cepat, Taera melompat dari jendela dan menghilang malam itu.


Part. 2


Paginya, Taera tidak juga kembali. Sampai dua hari berlalu, Taera tak pulang ke rumah.


"Kucing menyebalkan!" Teriak Mayang yang membuat rekan di kantor nya terkaget.


"Pak. Aku minta ijin pulang lebih cepat."


Mayang pergi sedapatnya izin dari bossnya.


Karena memikirkan keberadaan Taera, Mayang tak fokus di tempat kerjanya. hal ini dirasakan oleh rekannya.


Laerry dan rekan-rekan yang lain hanya mampu melihat kepergian Mayang.


"Gue yakin dia punya cowok baru." Rekan 1 menoel Laerry yang diam memperhatikan Mayang yang telah pergi.


"Sabar yah ***. Kayaknya emang ga ada kesempatan buat lu di hatinya si Mayang.” Rekan 2 menepuk bahu Laerry seakan ikut merasakan apa yang sedang dirasakan temannya itu.


Laerry agak kesal dengan kemungkinan yang dikatakan oleh teman-temannya itu. Hal yang lebih mengesalkannya lagi, karena Laerry juga sependapat dengan mereka.


"Bohong katanya, kalau cewek lagi patah hati, siapapun yang menaruh perhatian buat dia pasti luluh hatinya." Ucap Laerry dengan lirih.


Teman-temannya melihat dengan iba dan menepuk kembali bahu Laerry yang kini tertunduk lesu.


Rekan 3 lalu menyeletuk.


"Kalian kalo ada waktu nge-ghibah mending langsung selesaikan kerja kalian. Biar cepet selesai!"


Rekan 3 agak mendumel yang membuat rekan yang lain terdiam.


Sementara itu, di tempat Taera tinggal selama 2 hari ini, Taera terlihat dalam keadaan gabut dan tak bersemangat. Taera membuat origami pesawat dari kertas dan menerbangkannya di atas beranda apartemen.


Ariel yang berada di ujung pintu melihat Adiknya itu dengan rasa kasihan.


"Jangan-jangan kamu diusir? Hal akhlakless seperti apa yang ngebuat kamu di usir?" Tanya Ariel menyilangkan tangannya.


Taera menghela nafas dalam.


Ia enggan mengatakannya.


Namun, sorot mata Ariel terasa mengintimidasi.


Dengan berat hati, Taera berucap pelan.


"Aku menyerangnya."


Dengan singkat, Taera pun mengatakannya. Ariel menghernyitkan dahinya.


"Ha? Jadi pada akhirnya kamu melakukannya?"


Taera menatap kakaknya, semakin terlihat galau.


"Sudah kuduga. Iman mu hanya sebatas ini."


Taera bingung dengan maksud perkataan Ariel.


Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman.


Tapi, Taera malas bertanya.


Taera memalingkan wajahnya kembali. Tiba-tiba hidung Taera mencium aroma yang tak asing baginya.


"Dia muncul dekat sini." Taera bergegas tanpa menghiraukan Ariel yang bertanya padanya.


Taera melompat mengikuti bau yang tercium olehnya barusan.


Setelah mengikuti indra nya, sesuai dugaan Taera, dari kejauhan, Ia melihat sesosok laki-laki yang terlihat seperti psycho, menghisap darah wanita yang sudah tidak bergerak. Ia tertawa sembari menikmati hidangannya.


Dengan khidmat, pria itu tersenyum lebar.


"Itadakimasuuu.." (*selamat makan dalam bahasa jepang. Wkwk)


"Ck."


Taera yang masih melihat dari kejauhan, mendecakkan lidah nya.


Taera sebenarnya sangat malas melakukan hal yang repot seperti ini. Tapi, Ia orang yang tau balas budi. Kejadian kaca pecah ditambah uang nginap dua hari ini dan lagi pria itu hampir menargetkan Mayang sebagai mangsanya, membuat alasan yang cukup bagi Taera untuk membasmi pria itu langsung dengan tangannya sendiri. Setelah menelpon Ariel, Taera bermaksud menghabisi pria itu dengan kekuatannya.


"Maaf kak. Sepertinya rencana awal sudah berubah." Ucap Taera.


Taera meregangkan dua tangannya kebawah, dan mengatakan sebuah kata yang jelas dan lugas.


"Pragma."


Sesaat Ia selesai mengucapkannya, seketika dua pistol berlaras pendek muncul ditangan Taera.


Taera sudah mengambil ancang-ancang untuk menembakkan pelurunya. Namun, sesosok wanita berambut panjang yang Ia kenal berada di jangkauan pandangnya.


...🥀🥀🥀...