The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
New Episode



Mayang menonton tv bersama Taera. Taera yang menggeliatkan badannya dalam bentuk kucing tiba-tiba mendekatkan badannya dan menaruh kepala nya dibantalan empuk pangkuan Mayang dan merubah kembali wujudnya dalam bentuk manusia.


"Hey Taera! Apaan si tiba-tiba?? Kan disebelah sana masih luas?! Bisa kan tidurannya disofa satunya lagi?"


Mayang mendumel, protes dengan meninggalkan wajah yang sedikit memerah dipipinya.


"Pinjem pangkuan mu bentar." Taera acuh dan tak bergeming dengan tangan mayang yang mengusir badannya.


Merasa tak ada gunanya menyuruh Taera pergi, Mayang menyerah dan membiarkan Taera tetap tiduran di pangkuannya. Taera kemudian memejam kan matanya. Bulu mata panjang Taera terlihat begitu panjang.


Mayang mengingat kembali nada suara yang lembut dari Taera. Ini seakan-akan mereka dalam konteks hubungan yang sangat dekat sampai mungkin bisa dibilang kekasih.


'..... kekasih?'


Menyadari pikiran yang melayang sekilas dibathinnya. Mayang agak terhentak dan bertambah malu. Mencoba menutup matanya dan menghindari keinginannya yang ingin terus menatap Taera.


Lalu, sebuah berita muncul di tv yang dilihat oleh Mayang.


"Terekam hewan buas berkepala tiga di cctv?" Mayang mengencangkan suara televisi nya.


Melirik Taera yang mengedipkan matanya sekali secara spontan saat melihat beritanya.


Mayang melihat dengan seksama liputan berita yang dilihatnya. Bayangan samar hewan yang dimaksud terekam melalui cctv dan menghilang dengan cepat.


"Ini hoax bukan yah?" Tanya Mayang lagi.


"Kuharap ini cuma hoax."


"Eh?"


Ia mulai menceritakan pelan-pelan pada Mayang tentang rahasia dunia saat ini yang sudah menjadi rahasia umum.


Zaman dulu ada mitos yang beredar dari Yunani. Percaya atau ga percaya, mitos adalah mitos.


Salah satu mitologi terbesar di dunia berasal dari Yunani. Bukan hanya kisah dewa-dewi dan pahlawan saja yang diceritakan secara turun-temurun. Masyarakat Yunani Kuno juga memiliki banyak kisah mengenai monster dan berbagai makhluk mitos lainnya.


Para monster digambarkan kejam, haus darah, dan sulit untuk ditaklukkan.


Beberapa makhluk mitos yang terlihat mengerikan adalah Cyclops, Hydra, Cerberus, Medusa, dan Chimera.


"Sulit itu dipercaya oleh Manusia kalau monster yang berada di luar nalar itu ada." Taera yang enggan mengatakan lebih lanjut memegang rambut panjang Mayang yang menyentuh hidungnya.


"Tapi..."


Tatapan Taera mulai serius.


Lalu Ia meneruskan kata-katanya.


"Tapi, kalau seandainya berita itu benar, berarti ada sekelompok orang yang sudah mulai bergerak untuk menghancurkan dunia ini."


"Apa?? Maksudnya?? Kenapa mereka melakukannya..?"


Taera menghela nafas. Dan melirik ke arah Mayang.


"Kamu itu.. hidup di jaman apa si? Kenapa hidupmu lurus-lurus aja?"


Taera membangunkan badannya dan menatap Mayang. Lalu, menggaruk kepalanya.


"Banyak orang yang yang senang melukai dan menghancurkan orang lain demi kepuasannya sendiri. Begitu juga orang-orang yang tidak puas dengan dunia ini berencana untuk menghancurkannya dengan bagaimana pun caranya."


"Apa?" Melihat Taera yang melihat lurus kearahnya, Mayang bertanya dan mencoba tak memalingkan matanya.


Taera mendapati sisi yang manis di ekspresi Mayang. Menjadikannya lupa dengan ketegangan yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


"Yah pokoknya, jangan jadi orang yang terlalu lurus biar pas ada jalanan berbelok, kamu ga nabrak!" Ucap Taera sambil mengusap-usap kepala Mayang.


Mayang memegangi kepalanya dengan canggung. Lalu, sedikit tersenyum.


'benar. Inilah Taera yang ku kenal.' bathin Mayang berucap.


"Hmmm ....."


Dari rumah yang berada jauh lurus di depan rumah Mayang, Nata melihat melalui sebuah teleskop dan memfokuskannya pada objek yang dilihat, yaitu kakaknya sendiri, Taera.


"Nata, perbuatanmu mengintip kakak itu agak tak sopan." Nara melihat Nata dari arah yang berlawanan darinya.


"Tak sopan gimana? Mengetahui keseharian kakaknya adalah hak seorang adik." Balas Nata yang masih melihat kakaknya dari kejauhan.


"Itu kan pendapatmu aja." Nara menghela nafas. Sudah terbiasa dengan Nata yang tak mengindahkan komentar darinya.


"Huh yah. Aku masih mending, ngepoin aktivitas kakak nya sendiri. Kamu lihat paman itu? Peralatan pengawasan jarak jauhnya bahkan lebih lengkap dari aku." Ucap Nata dengan senyum yang kesal.


Nata mengarahkan teleskopnya ke arah bangunan apartemen disebelah mereka dan dilihat oleh Nara.


"Ugh. Paman."


Nara mengernyitkan dahinya dan menepuk pelan dahinya.


'bagaimana bisa dia jadi paparaji kakak dan tak pernah ketahuan oleh mereka?' pikir Nara melihat Paman Butler yang mengurus mereka dari kecil.


Mulai bosan dengan aktivitasnya, Nata meninggalkan teleskopnya lalu menyeruput kopi yang sudah dibuat oleh Nara di atas meja.


"Hey nara."


Dengan menyilangkan kaki nya ke atas di sofa, Nata melihat ke arah Nara.


"Kamu juga lihat kan kejadian beberapa waktu lalu?" Nata bertanya pada Nara yang berdiri agak jauh darinya.


"Yah. Kak Taeza kan?"


"Iyah."


Nata menyeruput kembali kopinya.


"Hanya masalah waktu sampai kak Taeza mengambil alih pikiran kak Taera. Dirinya yang haus darah."


Nara terdiam dengan perkataan Nata.


Dibalik tatapan mata yang dingin, ada kekhawatiran dalam hati Nara. Nara mengingat gadis naif yang berada bersama kakaknya. Jelas keberadaan mereka tidak seharusnya melibatkan manusia seperti Mayang yang sejak awal berada dalam dunia keseharian yang biasa.


Aura yang gelap dan dingin menyelimuti Nata secara perlahan. Bayangan dan pikiran terus terbesit di hatinya.


'Bagaimana bisa dia terlibat dengan kakak? Apakah ini takdir? Haruskah Aku yang menghentikan takdir ini? Dan mengembalikan mereka ke keadaan sebelum keduanya saling mengenal?'


Nata mengetahui jalan pikiran Nara yang berada dalam dilema. Lalu, menaruh kopi nya kembali ke atas meja. Dengan lembut, Nata memegang pipi Nara dan mendekatkan dahi mereka bersamaan.


"Kau tahu, kata orang, saudara kembar itu berbagi perasaan yang sama. Ternyata itu tak sepenuhnya salah." Nata tersenyum sambil memejamkan matanya.


"Aku mengerti keresahan dalam hatimu, Nara. Jadi, kalau kamu mau melakukan sesuatu, jangan merasa sulit sendiri. Berikan aku separuh hal yang kau pikirkan." Lanjut Nata.


Nara yang masih memiliki perasaan dan pemikiran yang sulit dijelaskan oleh dirinya sendiri mulai tersenyum tipis


"Yah kak. Kita pikirkan bersama dan selesaikan bersama untuk kakak bodoh kita itu."


Sinar dihati Nara mulai kembali terang. Nata yang melihat adik kembar nya itu mulai melepaskan tangannya dan berputar satu kali menjauhi Nara.


"Nah. Kalau hatimu sudah mulai membaik, ayo kita rancang strategi penguntitan kakak selanjutnya!" Ucap Nata dengan semangat.


Nara hanya mampu menghela nafas. Karena kalau Nata sudah bilang begitu, keinginannya itu akan sangat sulit dihentikan.


Di toilet, Taera terlihat kesakitan dan menyentuh bagian kepalanya yang terasa berat. Ia terus mengatur nafasnya lalu memegangi dadanya yang terasa terbakar. Taera berusaha dengan keras untuk menjaga kesadarannya lalu melihat kearah depannya.


".....Kau.....?!"


Dengan pandangan yang tajam, Taera melihat bayangan yang menyerupai dirinya berada di sisi cermin, tersenyum ke arahnya.


"Taeza."