
Pandangan Taera melihat ke arah Allan, werewolf wanita yang di bawa oleh Allandis ke villanya.
Allan nampak lebih menghormati Taera daripada kakak dari majikannya, Allen.
Ia membungkukkan badannya yang terbilang besar untuk ukuran wanita.
Dengan tersenyum, Taera berucap.
"Sudah lama tidak bertemu, Allan."
Allan menjadi salah tingkah. Ia cukup mengetahui bahwa kata-kata Taera barusan di tujukan untuk Allandis bukan untuk nya. Tapi, mendengar Taera memanggil namanya saja sudah membuatnya sangat bahagia.
Allandis yang terlihat seperti boneka eropa memberikan ekspresi yang sangat manis, yang Ia sembunyikan dari kakaknya dengan sepenuh usaha nya.
"Kak Ruu. Kakak Allen hari ini datang menghampiriku. Kak Ruu harus nya tadi lihat ekspresi kakak saat memohon padaku." Ucap Allandis dengan riang.
Allandis menepuk-nepuk kan tangannya saat bercerita pada Taera. Taera hanya mendengarkan Allandis dan memberi respon sesekali.
"Ah. Kak Ruu. Aku ingin bertemu dengan Nata. Pengen curhat juga." Ucap Allandis.
Saat nama Nata disebut, Mayang yang mendengarkan menjadi agak terhentak.
"Nata...." Pikir Mayang dalam hatinya.
Teringat lagi saat Nata dan Nara berada di kamar nya beberapa hari yang lalu.
"Ukh~~"
Tiba-tiba air mata Mayang mengalir. Taera yang kebetulan melihatnya, langsung terkejut.
"Ada apa Kak Ru?" Tanya Allandis bingung.
"Ah. Maaf. Allan. Telponnya nanti Kusambung lagi."
Taera meminta maaf dengan tulus dan mengakhiri telpon mereka.
"Eh.. lho.."
Mayang sendiri tak menyadari alasan mengapa Air mata nya menetes.
Taera berdiri di hadapan Mayang dan memperhatikan dengan penasaran.
"Kenapa nangis?"
"Ga ko. Ga kenapa-napa. Gatau juga ko pengen nangis."
Mayang masih menyeka air matanya yang seakan tak juga berhenti.
Taera mengusap lembut air mata Mayang dengan jarinya. Lalu, menaruh jarinya pada lidah dan menjilatnya.
"Asin."
Mata Mayang membuka lebar dan seperti ada air mendidih di kepalanya. Terasa panas sekali.
"Bodoh banget. Suruh siapa dijilatin??"
Suara marah Mayang terdengar gelagapan. Ia terus menepuk badan Taera----
"Cuma dicicip aja. Ternyata air mata rasanya sama semua." Ucap Taera dengan polos.
"Apa?? Emang nya dipikir rasanya akan gimana?" Tanya Mayang heran.
"Hmmm...."
Taera melihat tengkuk leher Mayang. Mayang yang menyadari tatapannya segera menutupinya.
"Cuma penasaran si. Kira-kira rasanya seperti apa?"
Taera bermaksud menggoda Mayang. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Mayang.
Mayang segera menepis bahu Taera dan meninggalkan Taera di ruangannya.
"Udah malam. Aku tidur duluan." Ucap Mayang seraya pergi.
"Hmm..."
Taera tersenyum masam melihat Mayang yang memalingkan badan darinya.
"Yah. Selamat Tidur." Ucap Taera sedikit kecewa.
Di villa Allandis, Ia terdiam sambil memegangi handphone-nya.
"Nona..."
Allan memperhatikan majikannya yang terdiam untuk beberapa lama.
"Allan."
Tiba-tiba, Allandis memanggil nama Allan yang membuatnya agak terhentak.
"Ya. Nona."
Allandis masih dengan aura nya yang kembali dingin, memegangi dagunya sambil berfikir.
"Kamu juga lihat kan tadi? Ada seorang wanita di tempat nya kak Ru." Ucap Allandis melihat ke arah Allan dengan serius.
Allan mengangguk. Ia juga penasaran sejak tadi. Ingin rasanya Ia bertanya siapa yang berada di samping Taera itu. Tapi, Ia menyadari bahwa posisinya tidak layak untuk bertanya hubungan apa yang ada diantara Taera dan wanita itu.
Allandis di balik topengnya yang menutupi sebagian dari wajah nya, mendekati sebuah cermin besar yang ada di kamarnya.
Dengan sentuhan lembutnya, cermin besar itu berubah warna menjadi lebih gelap. Tak beberapa lama, bayangan cermin menampakkan sesosok wajah yang persis sama dengan Allandis. Hanya saja tanpa topeng di wajah nya.
Berbeda dari Allandis yang sedang tidak tersenyum, bayangannya di cermin menunjukkan senyum yang dingin.
...🥀🥀🥀...
Cuci muka, sikat gigi. Segelas kopi sepertinya enak.
Mayang melakukan rutinitas nya seperti biasa.
Lalu, saat kopi yang telah dibuat nya di atas meja, Mayang melihat seorang pria berambut pirang sedang duduk rapih didepan meja nya bersama Taera yang duduk dengan ekspresi nya yang menahan kesal.
Sambil menikmati kopi Mayang, pria itu tersenyum ramah.
"Hai. Kita ketemu lagi."
Pria itu melambaikan tangannya dengan santai.
Mayang terdiam sejenak. Mengeratkan genggaman tangannya.
".... Cukup...."
"Eh...?"
Pria itu bergedik ke arah Mayang.
Suara Mayang tak terdengar jelas. Bahkan Taera hanya melirik sekali.
Mayang menghela nafas panjang. Lalu...
"SUDAH CUKUP KU BILANG!! SEKARANG KELUAR!!"
Dengan agak teriak, Mayang menarik kerah pria barusan yang masih memegang segelas kopi nya dengan cepat dan entah bagaimana menarik baju Taera, mengeluarkan kedua nya dari kamar nya bersamaan.
Yah. Di balik badan kecil dan ramping Mayang, kemampuan beladiri nya cukup untuk mampu menarik keluar dua pria dewasa dengan sekali gerakan.
----braaakkk----
Jendela besar Mayang yang langsung menghubungkan kamar nya dan halaman luar, menjadi cara praktis untuknya mengeluarkan berbagai barang yang tidak dibutuhkan nya di kamar.
Selesai menutup gorden nya kembali, Mayang menyandarkan keningnya pada dinding kamar.
'Privasi ku yang terjaga, kamar ku yang steril dari segala macam makhluk hidup... sudah runtuh...' pikir Mayang galau.
Dihalaman, Taera yang kini juga berada di luar memasang raut wajah yang penuh penyesalan.
"Ko gue juga kena?" Tanya Taera dalam hatinya.
Kemudian, Taera memelototi Allen dengan mata kucing nya yang tajam.
Sementara, Allen yang tak menyangka bahwa bakal terusir ke dua kali nya hanya menganga memperhatikan jendela yang sudah tertutup rapat.
"Lho kok...?"
Allen menoleh pada Taera dengan penuh tanda tanya.
Taera tak mengindahkan pertanyaan Allen dan langsung bangun dari duduknya.
"Yok. Males gue sebenernya. Tapi, kalo dia udah marah gituh biasanya bakalan nunggu ademnya lagi butuh beberapa jam." Ucap Taera dengan malas.
"Seriuus?? Emang kenapa si? Itu cewek emosi-an atau lagi PMS??"
Allen dengan serius bertanya tapi tak ada satu pun jawaban yang diberikan oleh Taera.
Taera melirik Allen lalu memalingkan kembali pandangannya.
"Bukannya lu lagi di villa nya si Allan?"
---Gulp---
Allen menelan ludah, terkejut dengan pertanyaan Taera.
"Haha..."
Agak tertawa. Allen bertanya dalam hati.
'ko bisa dia tahu??'
Suasana menjadi agak hening.
Allen melirik ke arah Taera yang berjalan di samping nya.
"Yah.. semalam gue ke villa nya. Tapi, ga betah. Haha."
"Ga betah?"
Allen menggaruk kepala nya.
"Di kamar nya banyak banget boneka. Creepy banget."
Taera menunjukkan ekspresi iba melihat Allen yang memasang wajah penuh derita.
"Terus kita mau kemana?" Tanya Allen melihat Taera yang terus berjalan.
"Nyari makan lah. Gue belum sarapan." Jawab Taera.
Taera menuju arah rumah tetangga lansia yang memberinya camilan beberapa hari yang lalu. Namun selisih dua rumah di depan rumah tetangga nya itu, ada keramaian yang terjadi.
Taera maupun Allen yang masih berada cukup jauh dari keramaian, langsung menatap satu sama lain.
Sebuah Aroma yang sangat jelas menyerbak di indera pembau mereka.
...🥀🥀🥀...