
"Hellooo......??!!"
Allen mengintip suatu ruangan melalui celah pintu yang telah dibukanya sedikit.
"Heheh. Ga ada orang ternyata." Ucap Allen menggaruk lehernya dengan kikuk.
Dari belakangnya, dengan cepat seseorang berbadan besar telah bersiap untuk menerkamnya dengan kuku-kukunya yang tajam.
"Kau tahu..?"
Allen bertanya dengan nada tenang dan sedikit menunjukkan senyumannya.
"Aku paling tak suka ada yang mencoba menusukku dari belakang!!!"
Disertai ucapannya barusan, Allen melompat ringan dan mematahkan kuku panjang orang itu.
"Ggggrrr!!!!" Orang itu yang ternyata adalah wanita berbadan besar dan memiliki setengah badan menyerupai serigala, berteriak geram di ruangan yang gelap. Menampakkan mata nya yang menatap tajam ke arah Allen.
----tuk tuk tuk---
Suara ketukan sepatu mengisi ruangan mereka. Dari depan wanita tadi muncul seorang perempuan berbadan kecil dan berambut pirang bergelombang. Ia berdiri diantara mereka, mengisyaratkan untuk menghentikan perkelahian sia-sia mereka.
Penampilannya mirip sekali dengan boneka eropa. Hanya saja, kecantikan di wajah nya tertutupi oleh sebuah topeng wajah berwarna putih yang menutupi setengah bagian wajahnya, menyisakan bagian bibir nya yang berwarna merah.
Dengan anggunnya, perempuan itu memberi salam dengan sopan. Mengangkat sedikit bagian ujung rok nya yang berada dibawah lutut.
Ia tersenyum dengan ekspresinya yang sulit dibaca.
"Jadi... Apa yang kakak perlukan sampai jauh-jauh datang ke villa ku ini?" Tanya anak perempuan itu.
Ia bernama Allandis. Adik dari Allen. Disebelahnya adalah werewolf tadi, Allan.
Sebenarnya masih merupakan hal yang aneh dan sulit diterima bagi Allen untuk melihat adiknya bersama dengan seorang werewolf di kediamannya. Karena, Vampire dan werewolf adalah dua bangsa yang paling tidak akur dan bahkan bertentangan. Ini dikarenakan perebutan daerah kekuasan untuk mencari mangsa. Sudah terjadi sejak dahulu sekali.
"Memangnya ga boleh yah? Seorang kakak ingin menjenguk adiknya yang tinggal sendiri di kastil sebesar ini?"
Tampaknya alasan Allen sudah biasa didengar oleh Allandis. Ia mengabaikan perkataan kakaknya itu.
Dilihat oleh tatapan adiknya yang tajam dan senyumannya yang tak berubah sedikit pun, Allen menghela nafas, sedikit frustasi.
Mengacak-acak bagian rambut nya, Allen memasang wajah memelas pada adiknya itu.
"Kumohon. Sembunyikan Aku sebentar disini."
Perkataan Allen sangat tidak diduga-duga oleh Allandis maupun Allan.
Sudah 20 tahun terakhir sejak Allan tinggal bersama Allandis, sejak saat itu Allen tak pernah mau berada dekat dengan Allandis ataupun ke villanya.
Allandis merasa telah menang dari kakaknya 1 langkah lagi. Dengan senyum puasnya. Ia berpaling dari kakaknya dan mengibaskan rambut pirang bergelombang nya yang indah.
"Allan. Tolong siapkan kamar untuk kakak ku menginap."
"Baik. Nona."
Ekspresi Allan kembali sangar ketika sang nona majikannya pergi.
"Kemari." Ucap Allan singkat tanpa basa-basi.
Allen yang memang saat ini sedang tak berdaya, menerimanya dengan lapang dada walaupun sedikit jengkel.
Ini terjadi akibat hal sepele dirinya yang tanpa disengaja telah membuat kekacauan di apartemennya.
"Dasar wanita sinting. Harus nya dia bilang kalau dia udah punya suami kan???"
Allen terus mengingat kejadian di apartemennya kemarin. Dan tanpa sadar, meneriakkan isi hatinya dengan keras.
Allan melihat dengan tatapan jijik ke arah Allen.
"Apa?" Tanya Allen Kesal.
Allan hanya menatap Allen. Berusaha memaklumi kakak dari majikannya yang sangat dihormatinya.
"Tidak. Saya hanya merasa terkagum dengan perbedaan yang sangat jauh antara Anda dan nona." Ucap Allan berusaha sopan.
"Maksud??"
Allan langsung pergi sebelum mengatakan apa yang ingin disampaikan nya.
"Baik. Saya permisi tuan." Ucap Allan seraya pergi.
Allen yang mood nya kini menjadi semakin down, mengeluarkan hapenya dan menghubungi nomor teman satu-satunya, Taera.
Berulang kali ditelponnya tapi tetap tak diangkat.
"Jangan-jangan dia..."
Allen mengingat kembali gadis muda yang berada bersama Taera.
---sementara di rumah Mayang---
Taera yang sedang membaca webtoon di ipad nya, tiba-tiba merasakan bulu kuduknya yang berdiri.
"Lho..?"
Taera melirik ke kanan dan ke kiri, tapi kamar begitu hening. Sampai detak jam dinding pun terdengar.
Mayang yang sedang mengerjakan pekerjaannya melihat Taera yang tampak gelisah.
"Ada apa?" Tanya Mayang memperhatikan gerak-gerik Taera.
Taera menggaruk tengkuk lehernya.
"Ah ngga. Cuma perasaan doang." Jawab Taera sedikit bingung.
Mayang melihat jam yang sudah menujukkan pukul 1 dinihari.
"Oh yah Taera."
Tiba-tiba Mayang teringat sesuatu. Taera melirik dan memperhatikan.
"Pernah dengar cerita tentang hantu noni belanda ga?"
Mata Mayang terlihat serius.
"Katanya itu nyata lho." Tambah Mayang lagi.
"Ho-oh. Cerita apa tuh? Coba katakan."
Taera terdengar antusias meskipun tampak jelas Ia tak menyukai hal yang bernuansa horor seperti hantu. Yah. Walaupun dia sendiri ada di bagian horor itu sendiri. (^^)
"Nah menurut cerita yang beredar. Dulu di rumah bekas pejabat negara, sering terlihat noni belanda yang cantik. Berpakaian serba hitam tampak di rumah itu."
Mayang menatap Taera dengan tatapan yang tajam.
"Ketika tengah malam bulan purnama, di rumah itu akan terdengar auman yang mengerikan. Menurut warga sekitar, siapapun yang melewati rumah itu, keesokan harinya akan berubah menjadi seperti orang gila yang linglung."
Taera memperhatikan cerita Mayang dengan serius. Mengumpulkan pikirannya yang sedang travelling ke dalam cerita.
Lalu, dering telponnya berbunyi. Taera agak terkejut dan segera mengambil hape-nya yang sejak tadi diabaikannya. Karena Taera melihat nama orang yang menyusahkan di layar panggilan telponnya.
"Dia lagi pasti.." gerutu Taera.
Dengan kesal, Taera menyambar hapenya tanpa melihat nama orang yang menelponnya, Taera langsung menekan opsi angkat dan telat menyadari bahwa itu adalah sebuah vc (video call).
"Kaaak Ruu!!"
Sebuah suara yang tak asing terdengar dari balik telpon.
"Whoa....!!"
Taera panik dan hampir menjatuhkan hapenya begitu melihat seorang gadis berambut pirang bergelombang yang mirip sekali dengan noni belanda yang diceritakan Mayang barusan.
Kemudian beberapa saat, Taera memperhatikan sang penelepon dan menyadari, bahwa gadis itu adalah orang yang dikenalnya.
Rambutnya yang pirang bergelombang masih sama seperti yang terakhir kali diingatnya. Dengan senyum seumeringah nya yang manis, gadis itu mendekatkan layar hape nya ke arahnya. Sehingga sangat jelas wajah yang nge-zoom di hadapan Taera.
"Ehem. Nona."
Disamping nya, Allan memberikan intuisi pada Allandis.
Menyadari tingkah nya yang berlebihan, Allandis langsung menutupi wajahnya yang masih memakai topeng dengan tangannya yang seperti manekin porselen.
"Uhum.... Kakak Ruu... Ini Allan. Kakak sehat?" Tanya Allandis yang sudah duduk manis dikursi nya sambil melihat Taera yang masih ada di layar vc nya, memperhatikan Allandis dengan senyum yang kaku.
Pandangan Taera melihat ke arah Allan, werewolf wanita yang di bawa oleh Allandis ke villanya.
Allan nampak lebih menghormati Taera daripada kakak dari majikannya, Allen.
Ia membungkukkan badannya yang terbilang besar untuk ukuran wanita.
Dengan tersenyum, Taera berucap.
"Sudah lama tidak bertemu, Allan."
...🥀🥀🥀...
--bersambung ke episode selanjutnya--
dear pembaca:
so sorry kalau lama update yah. pengennya si setiap hari 1 chapter. tapi ternyata susah 😠kalau suka dengan ceritaku, tolong tinggalkan jejak komentar apapun itu supaya aku tetap semangat nge-up cerita Aku yah. gomawoo..