The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Hilang



"Persiapannya sudah selesai semua?" Tanya Veronica sambil melihat catatan yang dipegangnya.


"Yah, Nyonya. Kami sudah melakukan semua yang dipinta Nyonya." Sang Butler pun menjawab dengan Sopan.


"Hmm.."


Seraya berfikir, Veronica melihat kembali Butler nya itu. Butler itu menyadari tatapan Veronica yang bermaksud menyidiknya.


"Ini pesanan Nona Rosella. Persis sama yang seperti dipinta Nona Kemarin."


Butler itu menyerahkan boneka kelinci peter milik Rosella. Tampak dengan tampilan serupa seperti sang Butler.


"Hihi. Kuharap Rosella akan menyukainya." Gumam Veronica sambil tertawa senang.


Veronica yang sedang memakai gaun malamnya yang menyentuh lantai berjalan menyusuri lorong rumahnya.


Dengan membawa Boneka Peternya, Ia memasuki kamar putrinya, Rosella.


Rosella menoleh ke arah Veronica yang berdiri disampingnya.


"...?!"


Veronica tiba-tiba terkejut saat berada di kamar anaknya itu.


"Bau Manusia?" Bathin Veronica berusaha menangkap naluri nya.


Veronica duduk di atas kasur Rosella, tepat disamping putrinya. Kemudian, Ia meberikan boneka peter yang telah dibawanya.


Rosella langsung memeluk Boneka Peter itu dengan raut wajah gembira.


"Rosella, putri ku. Apa Kamu sangat menyukai Peter?" Tanya Veronica mengamati putrinya.


Sedikit berfikir, Rosella kemudian menggeleng.


"Tidak, mama."


"Hoo. Kalau tidak menyukainya, kenapa bukunya saja dibaca berulang-ulang seperti itu, sayang?" Veronica tersenyum mendengar jawaban dari putrinya.


"Rose agak cemburu dengan Peter. Rose juga ingin punya saudara dan teman-teman seperti peter, mama. Rasanya tidak adil sekali jika Peter punya banyak teman sedangkan Rose tidak."


Rosella menampakkan wajah cemberutnya. Yang membuat Veronica kembali tersenyum.


"Bagaimana kalau Mama bawakan untuk Rosella, teman-teman yang sesuai keinginan Rosella?" Veronica bertanya kembali. Ada ekspresi dingin di wajahnya.


"Rose sudah mendapatkan satu, Ma." Raut Senyum yang manis terlihat diwajah Rosella yang mungil.


Veronica mendekatkan wajahnya ke arah Rosella sambil mengamatinya dari dekat.


"Jadi, Sayang. Teman seperti apa yang sudah Rosella dapatkan?"


Rosella menunjuk-nunjuk Peter yang ada di buku gambar nya.


"Dia sedikit nakal kayak Peter, Ma. Dia bahkan melompat jendela dan memanjat pohon.


"Hoho. Dia melakukan itu?"


Meski tertawa, mata Veronica berkata lain.


"Baiklah Sayang, Mama masih harus melakukan kerjaan Mama. Selamat Malam, Sayang."


Setelah mencium kening Rosella, Veronica pun kembali keruangannya.


Di dalam ruangan, emosi nya yang dari tadi ditahannya akhirnya terluapkan.


Dengan kesal, Dia membanting beberapa benda yang terlihat olehnya di ruangannya.


Setelah beberapa saat Ia tenang, Veronica langsung bersandar di kursi nya.


Agak frustasi, Veronica memejamkan matanya.


"Ternyata Aku sudah sangat tua. Sampai-sampai Aku tak menyadari keberadaan manusia di rumahku." Ucap Veronica lirih.


Dirumah, Kean merebahkan badannya di tikar rumahnya. Sambil berguling malas, Ia agak cemberut.


"Udah dong Aa Kean, ngambek mulu. Udah gede juga." Adik Kean yang umurnya cuma selisih dua tahun dari Kean berdiri di depan sambil mengomelinya.


"Ah. Kamu mah masih kecil, dek. Belum tau perasaan Aa. Mau main dilarang terus sama ibu sama bapak. Apalagi temen-temen tuh hobinya ngebully mulu gara-gara Aa ga bisa main sama mereka. Harus bantu jualan, kan." Gerutu Kean.


Adik Kean, Sari, duduk disamping kakaknya yang masih rebahan. Memperhatikan kakaknya yang terus menghela nafas.


"Yah udah Aa. Mumpung bapak lagi mancing ke waduk, kan? Ibu juga lagi tidur. Biar warung, Sari aja yang jaga. Aa mau main ke temen yg tinggal di hutan itu kan?"


Kean membelalakan matanya dan langsung bersemangat bangun dari rebahannya.


"Benar nih? Ga apa-apa nih? Ko Sari tumbenan baik banget?"


Kean langsung bergegas mengambil beberapa cemilan dan mainan masuk ke dalam plastik kecil yang dibawa nya.


"Yah udah. Aa berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Kean segera berlari riang meninggalkan rumah nya untuk bermain.


"Rose tunggu. Kean datang buat main!!" Teriak Kean bersorak.


Beberapa menit, Kean menyusuri hutan yang sering dilewatinya, lalu Kean baru menyadari.


Jalanan hutan yang biasa dilewati Kean tiba-tiba terasa asing bagi Kean. Kean melihat ke sekelilingnya. Pohon-pohon yang mengelilingi dirinya terlihat begitu besar. Kean menatap dedaunan dan ranting rimbun di hutan itu.


"Lah. Ga mungkin Kean nyasar, kan. Haha." Kean tertawa kecil menutupi rasa cemasnya.


Kean tiba-tiba merasa kepala nya berat dan pusing. Sekekelingnya terasa bergoyang. Agak berlutut, Kean mencoba melihat kembali jalanan yang Ia lalui.


"Kean harus balik ini." Kean berbisik disuara nya yang sudah mulai tak terdengar.


Seketika aroma mawar menyebar disekeliling Kean.


"Eh ... Lho?"


Kean terhuyung dan terjatuh. Dipandangannya yang samar, Kean melihat seorang Pria tengah berdiri di hadapannya.


"Om siapa?"


Belum sampai dijawab oleh pria itu, pandangan Kean semakin kabur dan menjauh. Kean pun kehilangan kesadarannya.


...🥀🥀🥀...


Adzan Magrib berkumandang. Bapak yang habis memancing mendapati Ibu sudah dalam keadaan panik. Dengan mondar-mandir Ibu mendatangi rumah warga. Tempat utama pencariannya adalah rumah teman-temannya Kean.


"Ada apa, bu?" Tanya Bapak menghampiri Ibu.


"Ini pak. Kean belum juga balik." Jawab Ibu khawatir.


"Yah. Udah. Ibu masuk dulu ke rumah. Kita solat dulu. Nanti selesai solat kita cari bareng." Bapak mencoba menenangkan Ibu.


Setelah selesai solat pun, Kean juga belum pulang ke rumah. Sari, satu-satunya yang mengetahui kepergian Kean, menunduk khawatir.


"Jadi, Ko Kean belum pulang padahal udah magrib gini?" Bapak tampak kesal.


"Tadi pas Ibu bangun tidur siang, Kean udah ga ada, pak. Kata Sari, Kean main sama temennya. Tapi, satupun temen Kean, ga ada yang lihat Kean tadi."


Bapak menoleh ke Sari, yang terlihat merasa bersalah.


"Sari tadi Aa Kean ngasih tahu mau kemana, ga? Aa Kean ga biasanya main sampai ga tau waktu gini kan?"


Bapak bertanya dengan nada yang halus saat melihat Sari yang mulai menangis.


"Aa Kean pak.. Dia.."


Sari berbicara terisak sambil mengelap air matanya. Tak butuh berapa lama untuk bapak menyadari bahwa kemungkinan tempat Kean bermain adalah hutan yang biasa dia lewati.


"Ya Allah, Nak. Kenapa ga mau dengerin omongan si." Bapak tampak menahan emosinya.


Kemudian, Bapak melihat ke arah Ibu yang masih gelisah sambil memeluk Sari.


"Kita ke pak Rt dulu, bu." Ucap Bapak seraya bersiap.


Bapak bersama Ibu menghampiri rumah Pak RT dan menceritakan kejadian yang menimpa keluarga mereka.


Dengan disertai beberapa warga, mereka bersama menuju hutan dengan membawa beberapa perlengkapan penerangan dan senjata untuk memudahkan mereka melewati hutan.


Setelah sampai di hutan yang terlarang dimasuki..


"Bapak-bapak..."


Seorang pemuka agama yang berdiri diantara mereka mengisyaratkan semua warga untuk tak melangkahkan kakinya sebelum Mereka membaca doa terlebih dahulu.


Kemudian setelahnya, Bapak pemuka agama pun melanjutkan ucapannya.


"Bapak-bapak. Energi disini sangat kuat. Terlebih lagi, hari semakin larut. Saya menyarankan supaya setengah orang ikut Saya masuk ke dalam, setengahnya lagi berada diluar hutan. Supaya berjaga."


Semua warga mengangguk usulan pemuka itu. Bapak Kean yang ikut masuk kedalam hutan melihat hutan yang dimasuki anak nya itu dengan perasaan khawatir.


"Tenanglah pak Anton. Kean benar ada didalam sini. Tapi, keberadaannya seperti terhalang oleh energi yang kuat. Bapak-bapak tetap dzikir dan berdoa. Karena jalan hutan ini telah dirusak."


Mata bapak pemuka agama itu menatap lurus ke arah jalan setapak yang tak terdapat pohon satupun.


...🥀🥀🥀...