
Aula olahraga lapang, sedikit penonton. Tempat duduk sepi, terisi beberapa bagian saja. Turnamen karate tingkat SMP berlangsung sudah dua hari. Adang melihat temannya bertanding di arena kanan.
Tak ada yang menyemangati mereka selain pelatih dan teman satu Tim. Adang tak ambil pusing, Demikian biasanya. Kemenangan dan kekalahan lomba dibagi satu tim saja.
Ekskul karate tak semenarik basket yang setiap turnamen dimeriahkan pendukung. Setiap tahun ajaran baru di mulai, ada lima sampai sepuluh siswa bergabung di ekskul karate. Jumlah menurun seiring waktu jadi sepertiga yang bertahan.
Seperti siswa baru lain, Adang adalah siswa biasa. Mempunyai badan tinggi besar jadi faktor keberuntungan karena anak-anak tengil tak berani mem-bully. Cenderung pendiam dan suka membantu, membuat Adang disegani.
Tidak menonjol dalam prestasi meski ia suka membaca. Adang suka otomotif. Sering ia membeli majalah otomotif bekas dan memenuhi rak bukunya.
Memilih ekstrakurikuler karate untuk mengisi kegiatan, Adang menemukan kesukaan baru. Tak lelah berlatih, bukan sekedar di sekolah tapi di rumah ketika libur. Seiring bumi berotasi, prestasi terkumpul satu demi satu.
Nama Adang mengembang seperti layar nelayan. Namanya viral dan popular di kalangan siswa dan para guru. Tidak ada kisah buruk tentangnya, sampai insiden dengan kakak kelas terjadi.
Sekolah SMP Z terkenal sebagai penghasil personil tawuran nomer satu. Adang bukan anak yang suka ikut tawuran meski mampu. Tawuran tak ada guna dan buang-buang energi, mending makan cilok jadi tambah energi.
Suatu ketika kakak kelas mengajak Adang ikut tawuran membela nama sekolah. Ia tegas menolak. Sedikit bicara, sekali bicara selalu lugas. Itulah Adang.
“Kalo ga ikutan ...."
"Apa! Mau apa kamu!" Adang memotong sebelum kakak kelas sempat mengancamnya.
Sifat asli Adang seperti anak sekolah pada umumnya, baik dan cara bicara sopan. Ia bersikap baik kepada teman yang baik padanya. Kalau menghadapi anak tengil yang mengajak tawuran, Adang menampakkan wajah beda. Cakar dan taring diasah.
Tak terima dilawan adik kelas di depan teman-temannya, si kakak kelas yang tingginya tak lebih tinggi dari Adang itu bersiap memukul muka Adang.
Wush!
Adang berhasil menghindar lalu menjegal kaki kakak kelas yang bernama Marko.
Gubrak!
Spontan jatuh pantat mencium lantai, tanggung malu Marko berdiri, pasang kuda-kuda bermaksud melawan lagi.
Satu pukulan dilancarkan, lagi-lagi Adang menangkis dan balas memukul tepat di hidung. Suara krek tulang rawan retak. Badan terjengkang. Kepala mulai senut-senut, Marko mencoba berdiri. Darah mengucur, menetes di telapak tangan. Melihat kucuran darah, Marko pingsan.
Teman-temannya langsung membopong ke ruang UKS meninggalkan Adang tegak berdiri bergeming. Teman-teman Adang yang melihat kejadian dari kelas, bersorak-sorai mengacungkan jempol.
Sejak itu, tidak ada yang berani mengajak atau memaksa Adang tawuran.
Esok mitos tersebar.
Adang, dikenal dengan nama Black, jago gelut, tinggi hitam dan jarang bicara. Sekali gebrak lawan langsung terjengkang pingsan.
Tak hanya internal sekolah, mitos Black menggelombang ke sekolah lain.
Ada empat siswa bernama Adang di SMP Z, untuk membedakan, setiap Adang punya julukan beda.
Adang Black warna kulitnya dark brown paling gelap di antara Adang lain. Adang Huis rambutnya sudah beruban, huis artinya uban. Adang Cungkring paling kurus di antara Adang lain, dan Adang Toples pakai kacamata.
Tawuran antar SMP yang melibatkan SMP Z biasanya berakhir sebelum dimulai kalau nama Black disebut-sebut ikut turun. Mereka tidak tahu, Black, yang tidak lain adalah Adang Mandela, seorang pendiam jagoan turnamen karate, tidak hobi tawuran bahkan tak pernah ikut tawuran dan seorang penyayang kucing.
Sesampai di rumah Deden melepas hoody baru yang ia pakai. Adang dan Agah makan di depan televisi bersama Umi Ela.
“Udah beli, Den?” tanya Adang.
“Apa?” Agah bertanya pada Adang yang menunjuk hoody Deden
“Weh, bagus ning.” Agah kasih jempol melihat hoody merah bertulis One Punch. Deden nyengir.
Entah kebetulan atau keberuntungan, Deden menemukan hoody bertulis dua kata menarik hatinya. Dua kata yang akan mengingatkannya pada hari itu. Hari ia bertemu One Punch Boy.
Melihat pantulan diri memakai hoody baru, Deden tersenyum. Berpikir, apa kira-kira Adang tahu mitos yang tersebar tentang dirinya selama ini? Apa perlu ia tanyakan? Atau sebaiknya diam, pura-pura tak tahu apa-apa seperti yang ia lakukan pada Agah.
Hari itu, Deden melihat Agah di antara kerumunan anak SMP T lawan tawurannya. Deden melihat Agah ragu-ragu dan tak melakukan apa-apa selain berusaha menghindar. Deden melihat sebentar, lalu pura-pura tak melihatnya sama sekali.
***
Tempat: resto One Punch
Waktu: Januari 2020; 16.05 wib
Rumah dua tingkat dicat warna merah dan biru dongker mencolok di antara rumah lain. Rumah tinggal itu disulap jadi rumah makan, halaman luas cukup ruang bagi enam mobil dan belasan motor terparkir. Pohon pucuk merah jadi pagar hidup menyejukkan pandangan.
Dinding kaca mendominasi bagian luar, siapa yang melintas bisa melihat pelanggan sedang makan. Meja dan kursi warna navy, empat set sofa tersedia bagi yang ingin duduk empuk. Tulisan peringatan tertempel di pintu masuk: No Smoking.
Dinding magenta bergambar siluet kepalan tangan bertulis One Punch di salah satu sisi. Dinding lain dipenuhi hiasan kayu bertulis quote menggugah. Tiga bohlam menggantung sejajar di atas meja kasir. Semua meja penuh pelanggan, menikmati pesanan mereka.
“Oh ... Ternyata, kamu liat ogut juga,” kata Agah terkekeh sambil menarik seragam yang menempel di perut buncitnya.
Bukan seragam polisi atau pilot. Seragam resto berupa kaos warna navy lengan pendek berkera eton, cetak sablon kecil warna merah di bagian dada bertulis One Punch bergambar kepalan tangan.
“Liat 'lah, ogut mah diem-diem aja,” jawab lelaki di depannya puas.
Pelanggan menghampiri meja kasir. Agah mengalkulasi pesanan, terima pembayaran dan beri kembalian.
“Makasih ya." Kata Agah ramah menyerahkan uang kembalian pelanggan.
“Den, meja lima siap angkat,” katanya pada Deden, lelaki kurus memakai topi berlogo sama dengan seragam Agah.
“Siap!” Deden gesit membersihkan piring dan gelas kosong di meja. Mengelap setelah disemprot pembersih, merapikan posisi nomer meja. Meja kembali bersih dan rapi, siap digunakan pelanggan lain.
Deden senang dan puas karena berhasil menyembunyikan rahasia selama dua belas tahun pada Agah tentang tawuran mereka saat duduk di kelas dua SMP.
Motor Suzuki Thunder hitam masuk tempat parkir. Laki-laki berambut ikal panjang melepas helm putih, tersenyum lebar pada dua saudara yang melambai dari dalam.
“Ini nih, satu lagi One Punch Boy kita,” sapa Deden ketika Adang masuk resto membawa dua kantong belanjaan. Adang memukul pundak Deden pelan, menuju dapur meletakkan kantong belanja.
Alunan lagu Still fight in It dari Ben Fold terdengar di speaker hangatkan sore. Gerimis kecil membasahi paving block tempat parkir. Adang biarkan hujan basahi motornya.
Satu keluarga masuk terburu-buru menghindari hujan. Pintu kaca terbuka, melihat sekeliling resto. Masih ada meja kosong.
Agah senyum menyapa, “Selamat datang di resto One Punch."
***