T

T
Kingdom of Jin



Seumur-umur baru kali itu Deden melihat orang kesurupan secara live. Bukan melalui media televisi. Kesurupan di rumah masih mending banyak yang bisa tolong, kesurupan di hutan? Makin parah yang ada.


Jae, Adang dan Tono mengepung Beler. Bersiap menangkap membatasi gerak. Kekuatan orang normal satu lawan satu bisa ditandingi, orang kesurupan miliki kekuatan lima pendekar dikompilasi.


“Sambil kita coba baca Ayat Kursi,” kata Jae pada Adang dan Tono.


“Kalian, yang muslim. Hafal Ayat Kursi kan?” tanya Jae pada empat anak berdiri menjauh ketakutan. Mereka mengangguk.


“Yuk! Yang hafal, bantu baca. Surat apapun yang kalian hafal di Al Quran” kata Jae.


Seketika, suara Surili yang dari tadi menggema sendiri bertumpukan dengan suara lantunan Ayat Kursi. Deden komat-kamit ikut membaca pelan. Hafalannya tidak banyak, tapi kalau sekedar Al Fatihah dan surat-surat pendek, mulut lebih cepat dari otak. Hafal di luar kepala, tanpa mikir.


Deden mendengar bacaan Qur'an Jae yang indah. Suara merdu dan lantunan menenangkan. Anak lain termasuk Tono dan Adang otomatis mengikuti lagu bacaan Jae.


Suasana seperti pengajian di gunung. Deden tak menyangka ia akan bersinggungan dunia mistis seperti dalam program acara televisi yang dibawakan pembawa acara berkepala botak.


Beler meraung-raung, matanya tajam dan air ludah menetes. Gerakan cepat hendak menyerang Tono, tapi seolah kakinya patah sebelah, Beler terjatuh, terjengkang.


“Huwaaaaaaaaaaaarrrrgggggggg!"


“Huwaaaaaaarrrrrggggggghhhhh!"


Raungan Beler membuat burung yang bertengger terbang ketakutan.


Ilmuwan biologi mengelompokkan kehidupan dalam tujuh Kingdom of Life: Plantae, Animalia, Protozoa, Fungi, Eubacteria, Archaebacteria, dan Chromista. Semua Kingdom of Life itu bisa diindera oleh manusia. Baik langsung dengan mata atau memerlukan bantuan mikroskop. Bentuk dan keberadaannya bisa ditemukan dan dilihat wujudnya.


Namun, ada satu kingdom yang diyakini ada tapi tidak bisa dibuktikan secara nyata keberadaannya. Tak seperti tujuh kingdom lain yang berada di alam sama dengan manusia, kingdom ini dipercaya berada pada dimensi lain.


Kingdom of Jin.


Kerajaan Jin.


Dunia Lain.


Mahkluk Astral.


Walaupun tidak termasuk dalam klasifikasi kingdom of life-nya para ahli biologi, keberadaan mahkluk ini nyata meski tak terbukti secara empirik. Tak terukur.


Ada dimensi berbeda secara hukum alam, tak bisa ditembus. Manusia normal tak bisa melihat dunia jin. Dua dunia yang tidak seharusnya tercampur dan berinteraksi. Begitu kondisi normalnya.


Jika ada interaksi menghubungkan dua dimensi dunia, bisa dikatakan telah terjadi hubungan dalam kondisi tak normal. Entah bagaimana caranya, kedua mahkluk yang beda dimensi bisa menyamakan frekuensi sehingga terjadi interferensi.


Salah satu bentuk interferensi antar manusia dengan mahkluk dari kingdom of jin adalah kesurupan.


Manusia dijadikan media untuk berkomunikasi antar dua alam. Belum ada penelitian membuktikan, tapi kejadiannya nyata.


Beler meraung-raung, kesakitan, kepanasan, sedang dijadikan media oleh mahkluk lain untuk mengungkap kemarahannya. Entah apa yang dilakukan Beler, yang pasti mahkluk yang sekarang ada dalam diri Beler menunjukkan kemarahan dan eksistensinya.


Jae mendekati Beler yang jatuh meraung tak berdaya. Tak bisa gerakan kaki dan tangan, badan Beler seolah menempel di tanah.


Tangan Jae memegang kepala Beler, sambil terus melanjutkan bacaan Qur'an, Beler teriak tersiksa, padahal Jae hanya memegang bagian tengah dahi dengan jari.


“Panaaaaaaaaaas. Panaaaaaaaaas!" teriak Beler.


“Keluar kalo panas. Jangan ganggu teman kami!” Aura Jae berubah dari pendaki kelelahan jadi ustadz perkasa. Bawaan Jae tenang, bukan pertama kali ia berada dalam situasi semacam itu.


“Temanmuuuuuuu! Dia kotori rumahkuuuuuuuu! Aaaaarrrrggghhhhhhh!"


"Panaaaaaasssshhhhhhhhh!"


Jae mengangguk. Melanjutkan terus bacaan, begitu pula anak-anak lain. Tono dan Adang memegang bagian kaki dan tangan.


Ingin berontak, tapi tak punya tenaga. Beler kelelahan. Bukan Beler, tapi mahkluk yang meng-hack tubuh Beler. Tak berdaya, raungan Beler melemah. Dadanya naik turun lambat.


“Maaf. Adik kami ini mungkin sudah mengganggu. Dia tak sengaja,” ucap Jae.


“Panaaaaaaaasssssshhhhhhhh!” Dengan sisa tenaga teriakan serak dikeluarkan.


“Kalo panas keluar. Jangan ganggu adik kami." Tak satupun bergerak. Empat anak SMA dan Deden lanjut membaca komat-kamit. Berharap Jae berhasil buat mahkluk itu pergi.


Lama terdiam, mata melotot Beler lambat laun meredup, tubuh menegang jadi lunglai. Beler pingsan lagi.


“Gimana Bang?” tanya Tono menahan kaki Beler.


“Gapapa. Kita tunggu saja. Kita pastikan dulu dia sadar sepenuhnya."


Langit berubah kelabu, sudah hampir gelap. Jae meminta anak lain mengemas barang bawaan mereka. Tak perlu lanjutkan perjalanan. Sudah hampir gelap, sebaiknya pulang.


Menunggu lima belas menit, Beler terbangun. Matanya merah, bukan marah. Semua siaga, menunggu jika ada serangan berikutnya. Beler celingukan melihat kanan dan kiri. Menegakkan badan perlahan.


“Alhamdulillah” Jae tersenyum menepuk pundak Beler dan memberikan botol air minum.


"Minum dulu."


Cegluk! Cegluk! Cegluk!


Jakun Beler naik turun. Beler minum seperti orang kehausan.


“Coba berdiri pelan-pelan” meski tak mengenal orang di depannya, Beler menurut. Ia merasakan sakit sekujur tubuh seperti baru seleseikan perlombaan triathlon.


“Masih bisa jalan?” tanya Jae. Beler mengangguk belum paham apa yang terjadi.


“Yuk! Kita turun bareng-bareng.” Jae memimpin jalan meletakkan lengan Beler pada pundaknya.


Perjalanan sunyi di bawah langit keabuan dan kabut menggantung di atas dedaunan. Sebentar lagi magrib. Mereka mempercepat langkah dengan target sebelum magrib sudah ada di bawah.


Dua jam lamanya mereka berjalan. Mereka sampai. Jae memberi pesan pada anak-anak SMA itu agar langsung pulang. Kondisi fisik Beler merosot karena lelah. Mereka menurut.


“Makasih banyak Bang” kata mereka.


“Jangan cerita-cerita ya” pesan Jae. Empat anak lain tersenyum mengacungkan jempol, sementara Beler masih bingung.


Deden menelan ludah. Adang menepuk pundak Deden tersenyum.


“Jangan dipikirin. Yang kayak gini, kadang emang terjadi” kata Adang. Menuju tempat motor terparkir.


“Sebenernya Bang Jae itu siapa?” Deden penasaran memperhatikan betapa santainya Jae menangani masalah bersinggungan dengan mahkluk halus, bukan tepung.


“Ya sama kayak kita. Cuma emang dia ngajinya pinter. Jadi ga takut sama yang begituan” jelas Adang mulai memanaskan motor. Penjaga parkiran bersiap menerima hak-nya. Jae memberi uang tiga puluh ribu untuk dua motor yang terparkir sejak kemarin.


“Yuk! Sholat dulu di masjid depan. Sekalian istirahat.” Kata Jae melajukan motor.


Adang membonceng Deden mengikuti dari belakang. Kumandang adzan sayup-sayup terdengar. Mereka sudah dekat dengan pemukiman.


Pendakian hari itu terpatri dalam ingatan Deden. Tak akan lupa kecuali karena demensia.


***


--Bonus--  Resep Sambal Bawang Pendaki


Bahan:


Tiga siung bawang putih.


Tujuh cabe setan alias cabe rawit merah membara.


Terasi sepanjang ruas jari. Jari manusia bukan jari gorila.


Sejumput gula jawa, boleh jawa timur, jawa barat atau jawa tengah. Rasanya sama.


Penyedap rasa secukupnya. Kalau kebanyakan bukan makan sambal tapi makan micin.


Cara membuat:


Sebelum berangkat mendaki, jangan lupa masukkan semua bahan dalam tas, taruh di tempat kedap supaya isi tas kalian tidak bau.


Setelah dirikan tenda dan buat api unggun, kalau malas bisa pakai kompor portable mini khusus camping. Tusuk bawang putih dan bakar diatas api. Kalau bisa sampai agak gosong, biar wangi. Wangi gosong.


Bakar juga cabe setan, biar setannya kepanasan. Bakar sampai cabe layu dan jangan terlalu gosong. Kalau gosong semua jadi pahit sambalnya.


Bakar terasi sampai aroma terasi tercium oleh Surili.


Para pendaki jarang sekali bawa cobek, berat. Di tempat camping atau di gunung cari batu ceper sebagai pengganti cobek dan batu bulat sebagai pengganti ulekan.


Jangan lupa cuci sampai bersih, pakai sabun kalau perlu. Mematikan kuman menghindari sakit perut.


Sakit perut dikala camping atau naik gunung itu menyiksa. Susah kamar mandi.


Semua bahan yang sudah dibakar, letakkan di atas batu ceper, ulek dengan batu bulat sampai halus dan rata. Tambahkan gula jawa dan penyedap.


Kalau ada kawan kalian yang bawa jeruk nipis, minta setengah dan peras diatas bahan yang sudah diulek.


Aduk-aduk rata. Siap santap bersama kawan seperjalanan kalian.


Maknyus!


***