T

T
New Normal



Aktifitas yang banyak dilakukan dalam rumah, membuat Deden lebih fokus mengerjakan video konten untuk kanal youtube miliknya. Setelah diskusi panjang, selama masa pandemi mereka akan melakukan penjualan online khusus delivery order.


Video promosi terkait protokol kesehatan yang dilakukan di dapur One Punch dibuat untuk mendapat kepercayaan pelanggan. Semua karyawan dipanggil kembali untuk bergabung dalam proses pembuatan video. Promosi iklan memalui media sosial digencarkan lagi. Deden merasa seolah mengawali bisnis seperti dulu. Semangatnya muncul.


Rehat sebentar untuk memikirkan strategi. Hanya dua pekan One Punch tutup total. Selama dua pekan itu, Adang dan Deden memilih melakukan banyak kegiatan untuk saling berbagi.  Meski tak sebanyak kondisi sebelumnya, satu demi satu pesanan datang.


Dapur One Punch kembali mengepul. Baterai semangat Deden kembali terisi. Menyambut Ramadhan yang akan segera datang, menu paket buka puasa dan paket berbagi diluncurkan. Sejak gerakan One Punch for Corona dilakukan, Deden memahami satu hal terkait budaya berbagi.


Berbagi itu tak harus dilakukan saat berlebih, tak sedikit orang semangat memberi meskipun berada dalam kesempitan.


Terlebih di bulan Ramadhan, bulan berbagi bagi kaum muslim. Deden Optimis.


Prediksi Deden terbukti. Pintu resto boleh tutup, tapi dapur selalu sibuk menerima puluhan pesanan setiap harinya di bulan Ramadhan. Sejak pagi, kompor sudah dinyalakan. Lima pegawai dikerahkan. Pesanan yang masuk kemarin akan dieksekusi dan diantar hari ini.


Tidak hanya One Punch pusat yang banjir pesanan. Pengumuman program Delivery Only dan paket berbagi di setiap cabang resto, membuat Marko kembali sibuk mengantar belasan container box daging ayam ke dapur One Punch pusat.


Akhir pekan, Adang yang libur kerja sibuk jadi sopir mengantar pesanan. Gerakan One Punch for Corona masih berlangsung bahkan ketika Ramadhan usai.


 


Juni 2020


New normal, mereka menyebutnya. Toko-toko boleh buka kembali, begitu juga rumah makan, tetap dengan syarat mengikuti protokol kesahatan. Memakai masker, menjaga jarak fisik, dan membatasi jumlah mengunjung dalam satu ruang.


Semua cabang resto One Punch mulai buka, meja dan kursi ditata ulang agar sesuai standar jarak fisik. Meskipun pengunjung yang datang tak sebanyak hari-hari sebelum pandemi, Deden tetap semangat. Pesanan untuk diantar masih berdatangan.


Deden merebahkan diri di kasur merasakan lelah di sekujur tubuhnya. Inilah lelah yang ingin ia rasakan, lelah yang akan membuatnya terlelap dan esok kembali bersemangat.


Deden menatap langit-langit gelap, terbiasa ia matikan lampu jika hendak tidur. Terngiang pertanyaan Adang padanya tadi sore.


“Kamu semangat nyari duit buat apa?” Adang mengingatkan agar Deden bisa mengendalikan diri dalam bekerja. Karena badan mempunyai hak untuk dijaga.


“Ya, buat makan ‘lah. Buat hidup,” jawab Deden santai.


“Dulu emang bisa kamu jawab gitu. Kalo sekarang? Bisnis udah besar, rumah udah punya, sampai kamu beli rumah buat Agah dan ogut. Kendaraan punya. Kalo cuma buat makan itu udah lebih dari cukup,” kata Adang panjang lebar. Deden diam.


“Den, bukan ogut ga suka kamu bekerja keras, tapi jangan lewat batas. Harus ada istirahat. Harus ada waktu untuk dirimu. 'Kan kita hidup bukan cuma buat makan dan cari duit,” Adang mengaduk teh manis panas yang ia buat, “ibadahmu ... jangan sampai lolos. Abah dan Umi sering ingetin kita tentang itu.”


Ting! Adang menyandarkan sendok di tepian piring berisi pisang goreng.


Deden tak berkata apa-apa, tahu ia salah. Sudah jadi ciri khas Deden. Diam saat tahu dirinya salah. Bukan membantah.


Ramadhan tahun ini Deden lebih sibuk di dapur daripada di atas sajadah. Demi apa? Mencari uang. Untuk apa? Untuk pertahankan bisnis.


“Pertahankan bisnis bagus, tapi jangan sampai terlewat dan sepelekan ibadah. Kamu juga harus mulai mikir tentang istirahat. Kalo perlu nikah,” Adang melirik sekilas mencari tahu respon Deden.


“Lha kamu aja belum nikah, masa nyuruh ogut nikah?” Deden protes, tak mau diam saja.


“Ogut mo nikah. Dua minggu lagi,” Adang meneguk teh perlahan, “nggak rame-rame karena masih musim corona, akad nikah doang. Tapi khusus kamu, Agah, Aki, dan Fadli wajib datang.”


Deden mendekat, melihat mata Adang lekat berusaha temukan tanda kebohongan.


“Serius?” tanya Deden, Adang mengangguk mantap.


Deden tersenyum teringat obrolan dengan Adang. Ada-ada saja. Kapan pacaran tiba-tiba memutuskan nikah. Lalu pertanyaan Adang kembali terngiang? Untuk apa kerja banting tulang?


Deden berpikir. Badannya lelah, tapi mata tak hendak tertutup. Punya uang banyak buat apa? Ketika memikirkan hal itu, suara pintu diketuk dari luar terdengar.


“Den ....”


“Iya, Ki,” Deden menyalakan lampu dan membuka pintu. Aki Ukun tersenyum di depan kamar.


“Aki mau ngomong sesuatu,” Aki Ukun mengajak Deden duduk. Ada Fadli, Agah, dan Adang.


"Semua kumpul ternyata, apa yang ingin Aki Ukun katakan pastilah hal serius," pikir Deden.


***


“Saya terima nikahnya Resti Putri binti Sidik Hanif dengan mas kawin tersebut di atas dibayar tunai!”


“Sah!” Agah mengangguk mantab. Saksi dari pihak mempelai wanita pun berkata yang sama.


“Alhamdulillah!”


Doa panjang diucap untuk keberkahan masa depan kedua pengantin. Dihadiri tak lebih dari sepuluh orang, acara akad berlangsung dengan khitmat. Semua tertunduk mengaminkan. Tak terasa air mata Agah dan Deden mengalir. Bahagia melihat saudara mereka menikah.


Resti adalah teman Adang ketika pelatihan di Mercedes-Benz. Resti direkrut perusahaan dan ditempatkan di cabang yang berbeda dengan Agah. Lama tak bertemu, baik Adang maupun Resti jarang bertukar kabar.


Adang tak biasa dekat dengan perempuan, tak pernah tahu bagaimana memulai obrolan. Sampai suatu sore, satu minggu setelah hari raya Idul Fitri mereka bertemu secara kebetulan.


Adang yang berniat makan bakso di Bakso Sido Sugih langganannya dulu harus kecewa lantaran warung bakso tutup. Musim corona, warung-warung diwajibkan tutup jika tak mau dirazia Satpol PP. Ketika Adang mau memakai helm, seseorang memanggilnya.


“Dang!” Adang menoleh ke sumber suara dan ia dapati gadis berwajah biasa saja tersenyum ceria, Resti.


Berbicara sebentar sekedar bertanya kabar. Esoknya Adang datang lagi, bukan ke warung bakso tapi ke rumah Resti. Ekspresi wajah Resti manyun saat Adang bilang mau bertemu ayahnya Resti. Berpikir mungkin Adang hendak membicarakan bisnis, Resti memanggil ayahnya tanpa tahu maksud Adang sebenarnya.


Resti meninggalkan Adang dan ayahnya bicara berdua karena menganggap ia tak perlu tahu pembicaraan bisnis mereka. Namun, tiga puluh lima menit kemudian terdengar suara ayahnya memanggil Resti.


Resti duduk, memasang wajah datar sampai ayahnya mengeluarkan satu kalimat pertanyaan, “Adang kesini mau melamar kamu. Kamu sudah punya jawaban belum?” Wajah Resti pucat.


Tanda tanya tergambar jelas di mata Resti ketika menatap Adang. Mengangguk Adang membenarkan.


Tak perlu berpikir lama, Resti mengiyakan. Gadis mana yang akan menolak jika lelaki yang disukai selama tiga tahun secara diam-diam datang untuk melamar. Saat itu juga ditetapkan hari pernikahan.


Dua minggu kemudian Resti dan Adang sah jadi suami istri. Sesingkat itu. Sesederhana itu.


Agah memeluk Adang, tulus mengucapkan selamat pada saudaranya. Tak lupa ia selipkan pesan bisnis, “Jangan kelamaan kalo mo honeymoon. Mina sama Minho nunggu kiriman barang.”


Adang mengepalkan tangan memukul perut Agah sambil bercanda. Bisnis clothing Adang berjalan lancar. Produknya disukai pengunjung Introvert, toko milik Minho kakak teman Agah, Mina. Sudah delapan bulan Agah rutin mengirim produk Adang ke Korea.


Deden yang menunggu giliran foto bersama pengantin berdiri di samping bersama Agah, terharu melihat Adang dan Resti bersanding dengan senyum bahagia. Aki Ukun duduk di kursi, berfoto bersama pengantin.


Deden mengingat kata-kata kakeknya sewaktu membicarakan sesuatu bersama Adang, Agah dan Fadli dua pekan lalu. Kakek memberikan buku tabungan pada Deden.


“Apa ini, Ki?” tanya Deden.


“Semua yang ada di situ, Aki mau sedekah dan wakafkan,” kata Aki Ukun mantap.


“Aki sudah tua. Udah nggak butuh apa-apa lagi. Makan juga sudah cukup dengan yang kalian kasih. Jumlahnya kebanyakan kalo cuma buat disimpen.”


“’Bukannya sebagian Aki juga udah sedekahin di gerakan donasi kita?" Agah bertanya.


“Iya. Tetap masih sisa banyak kalo menurut Aki."  Semua diam.


“Aki minta tolong untuk diwakafin buat bikin sumur di masjid. Aki takut nggak manfaat uangnya kalo didiemin saja.”


Tak ada yang komentar. Uang Aki, terserah Aki mau dipergunakan untuk apa. Itu yang terlintas dalam benak para pemuda yang duduk di depan Aki.


“Kalian, mumpung masih muda. Aki nggak tahu kapan akan mati. Aki cuma pesen, jalani hidup yang bener. Kalo punya harta jangan pake buat hal nggak berguna apalagi foya-foya. Kerja cari rejeki itu harus, tapi memanfaat untuk hal baik juga wajib,” Aki berhenti menata napasnya, “badan kita, umur kita, harta kita, semuanya cuma titipan. Pergunakan sebaik mungkin buat bekal pulang. Karena setiap yang hidup pasti mati.”


Empat anak muda tertunduk mendengar kata-kata Aki.


“Ingat, rumah kita itu bukan di bumi. Bukan di sini. Rumah asli kita adalah rumah yang sama tempat nabi Adam tinggal sebelum pindah ke dunia.”


“Yuk Den!” Agah menjawil tangan Deden, membuyarkan lamunan Deden tentang nasihat Aki Ukun.


“Ih nangis kamu ya?” Deden mengusap air mata yang tak terasa jatuh.


“Dang! Ada yang sedih nih ditinggal nikah!” Agah menggoda. Deden tersenyum. Ikut bergabung dengan Aki Ukun. Memilih pose bagus untuk berfoto dengan pengantin.


“Siap!”


“Satu! Dua! Ciiiiiiiiis!”


***


--tamat--