T

T
Horor Gunung Gede



Suara ranting terinjak sepatu terdengar jelas. Delapan jam Adang, Deden, Jae dan Tono jalan. Mereka istirahat setiap empat jam sekali. Adang menyodorkan botol air minum. Deden menggeleng menunjukkan air miliknya masih ada. Deden tersengal-sengal kelelahan.


“Pertama naik gunung Den?” tanya Jae. Tak seperti Adang yang terbiasa mengatur napas, Deden kelimpungan. Deden mengangguk.


“Nih anak dua udah sering kemping di sini” Tunjuk Jae pada Adang dan Tono.


“Baru dua kali Bang. Ini yang ketiga.” Koreksi Tono.


“Biasanya berapa jam nyampe tempat kemping?” Deden mengamati pohon sekitar mereka. Tinggi menjulang, berdaun kecil dan ranting bergesekan tertiup angin. Suara monyet hutan atau biasa disebut Surili bergema menemani langkah para pendaki.


“Kalo cepet bisa sepuluh jam. Jalan santai dua belas jam” Jae mengeluarkan coklat, membagi pada yang lain.


“Dikit lagi nyampe alun-alun. Mumpung belum gelap, mending sambil jalan. Jangan kelamaan diemnya.” Jae melihat jam, berdiri sambil membenarkan posisi ransel menggantung di pundak.


Alun-alun Suryakencana tujuan pertama mereka. Membuka tenda dan bermalam di sana bersama puluhan pendaki lain. Beberapa kali bertemu dengan rombongan pendaki membuat Deden bersemangat.


Semalam Adang menjelaskan hal-hal yang harus dihindari ketika mendaki, karena Deden belum punya pengalaman naik gunung. Masa sekolahnya lebih banyak dihabiskan di jalanan untuk tawuran. Adang lebih berpengalaman, beberapa kali naik gunung banyak membantu Deden menyiapkan perbekalan dan mengingat hal-hal yang harus dihindari.


“Jangan pipis sembarangan."


“Jangan cerita-cerita tentang pengalaman serem kalo lagi di jalan mendaki."


“Jangan sombong atau sok tahu."


“Kalo denger suara-suara yang ga biasa, cuekin aja."


"Kalo liat hal-hal aneh, jangan terlalu dipikir, acuhkan!" Masih banyak nasehat Adang yang selalu ia ingat.


Jam tangan Adang menunjuk angka enam, suasana gelap seperti langit isya’. Senter menyorot tak lepas. Di belakang, rombongan pendaki lain menyapa mereka. Karena tujuan mereka sama, mereka memutuskan untuk jalan bersama.


Deden merasa kaki gemetar karena urat yang tegang. Lelah. Ternyata hanya sebatas itu kemampuan kaki keras yang ia banggakan saat sepak bola. Malu, Deden menutup mulut enggan mengeluh. Satu jam berjalan di jalur menanjak dan tanah berkerikil licin.


Sampailah mereka di tanah lapang disambut angin menderu. Langit biru bertabur bintang tak terhalang apapun menjadi atap. Tanah lapang seluas mata memandang. Cahaya api unggun menari dan lampu dari dalam tenda berjajar warna-warni menyambut.


“Selamat datang di alun-alun timur Surya Kencana” Jae tersenyum menepuk pundak Deden.


Jangan bayangkan alun-alun seperti yang ada di pusat kota dengan banyak tanaman hias, lampu-lampu hias dan permainan anak-anak.


Alun-alun Surya Kencana adalah lapangan besar menghampar tempat puluhan pendaki mendirikan tenda untuk rehat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Gede. Di hari libur atau weekend, puluhan pendaki saling berbagi ruang mendirikan tenda di sana.  Saling mengenal, saling berbagi makanan, saling bertukar cerita pendakian.


“Yuk! Kita pasang tenda biar cepet istirahat. Besok bisa liat sunrise” Jae berjalan paling depan, meninggalkan Deden yang terperangah.


Di atas gunung ada tanah lapang seluas ini. Dalam bayangan Deden, gunung itu isinya pohon, pohon dan pohon atau jalanan terjal berbatu. Seperti balita pertama kali berkunjung ke wahana bermain, bahagia sekaligus takjub merayapi Deden.


Api unggun menjilati pantat panci, menyisakan jelaga tipis. Air direbus, kopi instan dan mi instan siap diseduh.


“Sampah! Sampah! Jangan lupa kumpulin!" Jae mengingatkan.


“Siap Bang!” Tono menyiapkan kresek hitam wadah sampah mereka untuk dibawa saat perjalanan turun esok pagi.


Jaket yang dipinjamkan Adang pada Deden lumayan menghalangi udara dingin. Kopi diseduh, aroma kopi membaangkitkan semangat dan meluruhkan penat.


“Gimana Den. Seru ga naik gunung?” Tono memberi gelas berisi kopi susu panas pada Deden.


“Lumayan.” Udara dingin meretakkan bibir Deden.


“Tadi di jalan, ada yang denger suara aneh ga?” Jae memulai. Adang dan Tono saling melirik.


Mereka tahu kebiasaan Jae ketika kemah, selalu ada horor session. Berbagi cerita seram tentang pendakian. Jae hobi berkisah pengalaman mendaki beberapa gunung di Jawa seperti Gunung Sumbing atau Gunung Semeru.


Tono dan Adang berkali-kali mendengar cerita Jae tentang gunung Rinjani. Cerita sama diulang-ulang setiap kali mereka naik gunung. Adang dan Tono hafal di luar kepala.


“Suara apa Bang?” Deden penasaran, ingat pesan Adang tentang mengacuhkan suara aneh. Deden tak paham suara aneh apa yang dimaksud.


“Ga ada yang denger suara gamelan?” Jae memulai. Ada dua puluh tenda berdiri di alun-alun hari itu, tapi pertanyaan Jae membuat Deden merasa ngeri sendiri.


“Gamelan?” Deden mengulang.


Dua belas jam mendaki, mengobrol, Deden tak mendengar suara apapun selain suara jangkrik atau suara Surili, yang memantul di antara pepohonan hutan.


“Masa ga ada yang denger? Tadi waktu istirahat kedua. Aku bilang yok jangan lama-lama biar ga kemaleman. Disitu inget ga?” Deden mengingat tempat yang dimaksud.


“Nah itu dia. Gua bilang jangan lama-lama tuh biar kita cepet pindah tempat. Soalnya gua denger suara gamelan samar-samar.” Bulu kuduk Deden berdiri.


Ekspresi Tono dan Adang tak berubah, bukan pertama kali mereka mendengar Jae bilang begitu pada mereka. Sudah biasa. Entah benar atau bohong hanya sekedar menakut-nakuti. Karena seringnya mendengar tak ada lagi kejutan dalam cerita.


Kecuali bagi Deden yang baru pertama kali.


“Beneran Bang? Kok saya ga denger ya?”


“Ya gitu, emang yang denger ga semua. Kadang beberapa orang, kadang malah cuma seorang. Kalian denger nggak?” tanya Jae pada Tono dan Adang. Keduanya menggeleng pasti.


“Kalo ngedenger gitu, emang kenapa Bang?” Deden penasaran.


“Katanya sih, kalo ada yang denger, trus iseng nyari sumber suara, bakalan tersesat” Jae berbisik menambah efek horor.


Terdengar suara tawa dari tenda lain di ujung. Tampaknya sekumpulan mahasiswa, mereka memainkan lagu diiringi gitar kecil.


“Kadang ada lagi yang ngeliat pasar setan,” lanjut Jae.


“Apalagi tu Bang?”


“Ya pasar. Awalnya kedengeran suara orang rame kayak di pasar, suaranya doang. Lama-lama ntar kelihatan ada pasar. Ada yang jualan, ada orang yang beli. Kayak pasar biasa."


“Pasar beneran Bang?”


“Ya nggak 'lah. Mana ada pasar di hutan gitu. Makanya disebut Pasar Setan. Soalnya yang jualan atau yang beli bukan orang, tapi setan.” Bulu kuduk Deden berdiri, terasa hembusan dingin di tengkuk. Ia melihat ke arah Tono dan Adang yang lebih asik melihat bintang-bintang. Mereka tak tertarik pembicaraan Jae.


“Abang pernah liat?” tanya Deden setelah menyeruput kopi hangat.


“Belum kalo yang itu, tapi ada temen yang ngalamin” Jae menghabiskan tegukan terakhir di gelasnya.


"Banyak pendaki yang hilang tiga hari bahkan seminggu, kalo ketemu mereka cerita katanya diajak minum di warung kopi sebentar dekat pasar. Padahal ga ada pasar. Katanya sebentar padahal satu minggu dia ngilang" Jae memelankan suara.


"Ada yang sampe ilang Bang?" Deden tak percaya.


"Adalah, ada yang sampai ditemuin meninggal juga. Banyak yang percaya itu karena tersesat, disasarin sama penunggu gunung" tambah Jae.


"Penunggu? Maksudnya kayak jin gitu?" Jae mengangguk.


"Makanya kalo di gunung, jangan suka pipis sembarangan. Bisa marah penunggunya" Jae meninggalkan Deden menuju tenda.


Malam makin menghitam, Deden merasa ada yang memperhatikannya entah dimana. Tak mau sendirian, Deden mengikuti Jae masuk tenda. Membuka sleeping bag dan memaksa mata terpejam melupakan cerita Jae.


Malam itu, di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut, mereka masuk dalam sleeping bag masing-masing. Memasang alarm agar bisa melihat sunrise dan melebur penat setelah jalan nanjak selama dua belas jam.


Adang dan Tono biasanya memerlukan waktu sembilan sampai sepuluh jam, hari itu mereka melambatkan langkah untuk menyeimbangkan diri dengan Deden.


Langit masih gelap, Adang membangunkan Jae dan Deden yang ngorok. Mereka harus bersiap untuk naik ke puncak. Meski sunrise bisa dilihat dari Alun-alun Surya Kencana, mendaki sampai puncak adalah tantangan dan kesenangan tersendiri.


Melihat jam tangan, Jae segera bangun. Tenda dirapikan, perbekalan dimasukkan kembali ke ransel. mereka siap berangkat.


Enam tenda lain sudah berangkat lebih dulu. Meski mengantuk Deden memaksa kaki melangkah. Dingin, lelah dan nyeri di kaki sisa kemarin belum hilang, dan perut lapar.


Adang memberinya coklat dan roti. Tono dan Jae mengunyah sambil berjalan. Mengunyah bantu mengaktifkan mata. Tak ada yang berbicara di perjalanan.  Tinggi gunung Gede Pangrango total adalah 2.958 mdpl. Dari alun-alun Surya Kencana butuh waktu dua jam untuk menanjak ke puncak.


Semburat merah matahari menyusup di antara awan. Deden menutup resleting jaket, memakai topi di kepala menutupi rambut acak-acakan, mengucek mata sambil sedekap mengagumi cahaya merah kekuningan. Benda bulat raksasa lambat laun sebaris demi sebaris menunjukkan diri.


Pendaki lain ada yang baru sampai di puncak, sebagian mengambil foto, sebagian lagi hanya memandangi lukisan cakrawala. Pemandangan yang tak akan pernah didapati di perkotaan. Inilah sejumput bahagia para pendaki. Adang tersenyum.


“Kopi pertama hari ini” Tono memberikan gelas kertas berisi kopi. Lengkap sudah. Matahari dan kopi.


Satu tegukan kopi melalui kerongkongan Adang, ketika seseorang memanggil dari samping.


“Black?” Tak ada yang panggil Adang dengan nama Black kecuali alumni SMP Z. Adang menoleh. Pemuda berkumis tipis memakai topi rajut hitam menutup hingga telinga.


“Marko?” Ragu Adang menyebut nama kakak kelas yang pernah ia tonjok hingga pingsan.


Marko mengangguk. Nyengir.


***