
Agah membuka kertas undangan yang diberi Caca padanya. Kesibukan Agah mengerjakan proposal skripsi dan kegiatannya terkait pemasaran Gerobak One Punch menyedot konsentrasinya. Tak sempat sama sekali ia mengingat Caca. Lagipula siapa Caca sampai harus dipikirkan oleh Agah. Pacar bukan, istri apalagi.
Pagi itu Caca datang ke toko fotokopi. Setelah fotokopi makalah dan membeli sambal, Caca menyerahkan kertas berwarna emas pada Agah.
“Kalau ada waktu, datang ya Gah,” Caca malu-malu.
Agah belum mengerti maksud Caca sampai ia membuka kertas dalam kemasan plastik yang serupa undangan. Bukan serupa, tapi memang undangan. Kartu undangan pernikahan Caca. Mengulang membaca karena tak percaya mata sendiri, pelan-pelan tiap suku kata Agah baca mengeja seperti anak SD belajar baca.
Tasya Aulia dengan Alvino Pratama.
Kuliah belum juga lulus, tapi Caca sudah berani memutuskan menikah. Agah berpikir betapa hebatnya Caca. Eh tapi bukankah seharusnya ia merasa patah hati? Agah segera sadar, kembali pada kenyataan bahwa gadis yang ia sukai sejak SMA akan dinikahi pria lain bernama Alvino Pratama.
Belum pernah patah hati sebelumnya, Agah bingung harus bagaimana. Apa ia harus menangis meratapi nasib malangnya. Atau perlukah ia marah karena nasib baik tak berpihak padanya. Bahkan untuk memutuskan hendak melakukan apa saat patah hati Agah dilanda kebingungan.
Kata orang, akan terasa sakit sekali dalam dada ketika ditinggal kekasih hati. Agah sadar Caca bukan kekasih atau pacarnya. Posisinya sebagai secret admiror masih pada tempatnya. Apakah sebagai secret admiror dia juga harus merasakan sakit jika Caca memutuskan menikah dengan orang lain.
Kenapa ia perlu marah dan sakit hati pada Caca, sementara dirinya tak punya nyali mengatakan perasaan. Agah memasukkan kartu undangan. Belum Agah putuskan apakah ia akan datang atau tidak di acara pernikahan Caca.
Suara ponsel mengagetkan Agah dari lamunan.
“Kenapa Den?”
...
“Oh. Ok!” Agah menutup telpon. Deden meminta ia pulang ke Bogor akhir pekan ini. Sudah empat bulan lamanya ia tak pulang karena terlalu sibuk mengerjakan proposal. Beruntung senin lalu proposal skripsi sudah disetujui. Ia harus banyak memberi waktu khusus agar skripsi bisa selesai tepat waktu, agar kuliah tak sampai molor lama.
Pekan depan, waktu yang sama dengan hari pernikahan Caca juga diadakan di Bogor. Apa semua adalah pertanda bahwa Agah memang harus datang ke pernikahan Caca.
Di kosan, Basuki yang sedang mengerjakan laporan praktikum segera menghampiri Agah yang baru datang.
“Woi! Gah! Lu dapet undangan ga?” Agah tahu kemana arah pertanyaan Basuki. Agah mengangguk tak semangat.
“Yes! Kita berangkat bareng ya?”
“Gua mo pulang hari Kamis. Ada urusan. Kalo lu mau, lu inep aja di rumah gua. Ntar berangkat bareng dari rumah.”
“Rencananya gua mo bareng anak-anak kelas gua,” Basuki tak semangat.
“Ya udah kalo gitu. Ketemu di acara aja.” Agah sudah putuskan. Ia tak mau berlama-lama membahas pernikahan Caca lebih detil lagi. Agah mandi bersihkan debu dan keringat menempel. Ia coba menangis seperti model di video musik tentang rasa sakit patah hati, tapi tak ada air mata ingin keluar. Tak ada sedih mendidih.
Mungkin itu semua jawaban yang ia cari kenapa ia tak pernah termotivasi menyatakan perasaan pada Caca. Bisa jadi, semua merupakan pertanda, bahwa ia tak pernah memberikan hati seutuhnya pada Caca.
***
“Pak Johan?” tanya Agah. Deden dan Adang mengangguk.
Deden dan Adang baru saja mengatakan pada Agah bahwa Pak Johan punya niat untuk berinvestasi di bisnis mereka. Sekitar dua tahun tak jumpa, apa yang membuat Pak Johan datang tanpa dijemput pulang tanpa diantar ke gerobak One Punch.
Menurut cerita Deden, yang didapat dari pengakuan Pak Johan, sebelumnya Pak Johan pernah beberapa kali membeli ayam di gerobak One Punch dan dilayani oleh Fadli. Suatu hari, saat kebetulan lewat Bu Sofia dan Pak Johan tak sengaja melihat Deden bersama Fadli sibuk melayani pembeli.
Di hari lain, Pak Johan beranikan diri, ketika lewat gerobak One Punch ia turun membeli dan bertanya pada Fadli pemilik bisnis makanan tersebut. Mendengar jawaban Fadli Pak Johan pun memikirkan bagaimana bisa terus melanjutkan hubungan dengan tiga pemuda yang ia kenal sebagai anak-anak baik.
Sikap Deden dan saudara-saudaranya yang begitu sabar dan tulus memaafkan kesalahan Bu Sofia dan tak melanjutkan kasus ke polisi sekitar dua tahun lalu membuat Pak Johan malu. Bahkan ketika ditawari uang bantuan untuk lanjutkan kuliah karena abah mereka meninggal, tiga bersaudara menolak baik-baik.
Setelah itu, lama Pak Johan tak mendapat kabar dari Deden karena nomer Deden ganti. Rumah dimana juga Pak Johan tak tahu. Dua tahun terputus hubungan baik antara mereka. Ketika Pak Johan melihat lagi wajah Deden, ia tak mau melepas kesempatan.
Pak Johan tawarkan investasi dengan berikan modal membuat rumah makan dan buka cabang gerobak One Punch.
“Tapi kami tak bisa janjikan apapun atas investasi Bapak,” kata Adang sewaktu Deden memintanya berbicara langsung menemui Pak Johan.
“Untuk pembukaan cabang gerobak One Punch, sistemnya kita buat franchise. Jadi Dek Adang dan Dek Deden tak perlu terbebani dengan keuntungan cabang yang saya buka. Saya membayar biaya ijin pada Dek Deden dan Dek Adang sebagai pemilik brand One Punch.” Jelas Pak Johan.
Dengan kemampuan komunikasi yang luwes dan pemahaman pada sistem bisnis, Adang bisa pastikan Pak Johan bukan pemain baru di dunia bisnis.
“Coba Dek Adang pikir baik-baik, dan banyak baca tentang sistem franchise. Jika sudah menetapkan keputusan, silakan hubungi saya.” Pak Johan menatap Adang yakin.
Kini tiga bersaudara itu sedang berdiskusi bagaimana baiknya menjawab tawaran Pak Johan. Mereka paham betul, Pak Johan menawarkan kerja sama bisnis berawal dari rasa terima kasih atas sikap mereka tak membawa kasus kecelakaan yang membuat abah mereka meninggal sampai ke ranah hukum. Tapi di sisi lain, Pak Johan juga memahami tiga pemuda bersaudara itu punya harga diri yang membuat mereka tak akan mau menerima bentuk bantuan apapun dalam rangka kasihan atau terima kasih.
Maka sebagai jalan tengah, Pak Johan menawarkan sistem franchise. Sehingga baik pihak One Punch yakni Adang, Agah dan Deden mendapatkan keuntungan, begitu juga Pak Johan.
“Kalo memang begitu, uang hasil franchise bisa kita gunakan untuk rombak lantai bawah dan dibuat semacam resto ato cafe. Tapi bisnis berbasis gerobak tetap jalan,” kata Agah setelah lama terdiam.
“Coba ntar kita bicarakan lagi sama Pak Johan.”
Pertemuan ditutup. Jam menunjuk pukul sebelas malam. Aki Ukun sudah terlelap dari jam sembilan malam. Agah menyetrika kemeja yang akan dipakai esok hari.
“Mau kemana Gah?” tanya Deden yang menyiapkan tempat tidur.
Di kamar sebelah terdengar suara dengkuran Fadli yang berbagi kamar dengan Adang.
“Nyiapin buat besok kondangan.”
“Ogut juga ada kondangan besok. Bareng aja bawa motor Aki,” jawab Deden.
“Emang kamu daerah mana kondangannya?”
“Biotrop.”
“Lha sama dong!” Agah kecilkan setrika, mengambil undangan dalam tas, dan menyerahkan pada Deden.
“Ini bukan undangannya?” Deden mengambil undangan yang ditunjukkan Agah. Deden mengangguk.
“Emang kamu kenal Caca?” Makin penasaran Agah duduk di samping Deden.
“Sapa Caca?”
“Itu yang nikah. ‘Kan namanya Tasya Aulia. Kamu kenal?”
“Nggak!”
“Lha kamu ke kondangan ini juga ‘kan?” Agah mulai kesal karena Deden berbelit-belit dan selalu beri jawaban singkat.
“Iya.”
“Lha kalo nggak kenal, terus kamu dapat undangan dari siapa?”
“Alvin. Temen SMP ogut.” Agah diam sesaat. Membuka undangan dan membaca ulang.
“Ini? Alvino Pratama?” Agah menunjukan tulisan nama di kartu undangan. Deden mengangguk.
“Alvino Pratama itu temen kamu?” Deden mengangguk lagi.
“Temen SMP ogut. Kuliah di kedokteran Unpad. Kenapa emang? Kamu kenal?” Deden balik bertanya.
“Ogut kenal sama pengantin perempuannya. Caca. Temen SMA ogut. Anak kedokteran gigi Unpad.” Suara Agah melemah.
“Jadi, besok mo bareng nggak?” Deden bertanya lagi. Agah mengangguk layu.
Memang benar, dunia tak selebar daun kangkung!
***