T

T
Musim Gugur di Ajou



Pertengahan Oktober 2015


Agah memasukkan tangan ke dalam jaket mengurangi dingin udara pagi hari. Dedaunan pohon berwarna kuning, orange, dan merah berguguran. Agah melewati seorang ahjussi yang menyapu daun-daun berserakan di jalan utama depan Central library.


Suhu makin turun dibanding ketika pertama kali Agah menginjakkan kaki di Korea.  Satu setengah bulan lalu suhu rata-rata berkisar dua puluh lima derajat celcius sehingga tak beri efek kejut bagi Agah karena terbiasa merasakan sejuk udara gunung dari kecil.


Agah terpilih menjadi salah satu dari tujuh mahasiswa program student exchange di Universitas Ajou yang terletak di Suwon-si, provinsi Gyeonggi. Untuk menuju kw Ajou bisa dicapai sekitar satu jam dengan naik transportasi umum dari kota Seoul.


Mendapat kesempatan datang ke Korea Selatan pada semester musim gugur, memberi kesempatan Agah menikmati daun-daun kuning jatuh memenuhi trotoar jalan. Semua daun yang dulunya hijau berubah warna, kecuali daun pohon yang tumbuh di sekeliling patung Pioneer, yaitu patung penunggang kuda di depan Woncheon Hall yang merupakan simbol universitas Ajou.


Keindahan daun warna-warni membuat banyak mahasiswa mengabadikan moment musim gugur dengan ponsel atau kamera mereka. Di sudut mana pun berfoto dengan latar belakang daun musim gugur hasilnya tetap indah. Tempat foto kesukaan mahasiswa Ajou, yaitu di jalan utama di depan central library. Jalan utamanya diapit pohon lurus tegak berdaun kuning sempurna, berjejer rapi di kiri-kanan trotoar jalan.


Luas universitas Ajou hampir sama dengan kampus tempat Agah kuliah di Unpad Jatinangor. Namun padat tertata rapi dengan gedung dan lapangan difungsikan dengan efektif. Mulai dari gedung perkuliahan, student union, rektorat, laboratorium, asrama, aula, berbagai lapangan, taman-taman, Ajou hospital, hingga perpustakaan.


Agah teringat Basuki, kawan kosnya. Baru setengah bulan tak ketemu ia rindu juga dengan nyanyian sumbang dan kekonyolan Basuki. Di Korea, Agah satu kamar dengan seorang mahasiswa asli Korea yang mempunyai pembawaan kalem dan tenang. Bertolak belakang dengan Basuki yang berisik.


Sebagai mahasiswa pertukaran, Agah wajib tinggal di Ajou International Dormitorm. Gedung Asrama mahasiswa dimana setiap kamar diisi dua orang, yaitu satu orang mahasiswa Korea dan satu orang mahasiswa dari luar negeri. Agah sekamar dengan mahasiawa Korea jurusan tehnik  berasal dari pulau Anmyeon bernama Kang Ji Sung.


“Gah!” Agah menoleh mendengar namanya dipanggil.


Yusef melambai, kemudian berlari ke arahnya. Yusef adalah salah satu mahasiswa program exchange sama seperti dirinya.


“Paper lu dah beres?” tanya Yusef.


Mengumpulkan tugas berupa study case dan membuat paper setiap pekan sudah menjadi rutinitas. Sebagian tugas dikumpulkan dalam bentuk soft copy dan dikirim melalui email, sebagian lagi harus dikumpulkan dalam bentuk hardcopy.


Sebagian mahasiswa exchange paling geram kalau harus mengumpulkan hardcopy karena memerlukan mesin printer dan fotokopi. Masalahnya bukan karena tidak disediakan, mesin printer dan fotokopi disediakan dan bebas digunakan secara gratis, tapi tidak bisa diakses oleh mahasiswa exchange karena tidak memiliki akun. Ini harus diurus dulu dan prosedurnya berbelit-belit.


Beruntung Agah menemukan jalan keluar, setiap ada tugas hardcopy, Agah akan meengirimkan file tuganya ke email Ji Sung, teman sekamarnya. Kemudian Ji Sung mem-print dari email yang bisa dilakukan dengan memencet tombol dari komputer atau handphone-nya dari kamar. Agah akan turun ke lantai satu asrama untuk mengambil tugas yang sudah di-print. Tugas hardcopy beres.


“Ini,” Yusef menyerahkan bolpoin pada Agah.


“Apaan?”


“Pas Company Visit kemaren gua pinjem ke lu.”


“Yaela cuma bolpen Sef. Biarin aja,”


“Gapapa. Gua ada. Kemaren cuma lupa bawa aja,” Agah mengambil bolpoin hitam yang diberikan Yusef.


“Nuhun lho.”


“Sip.”


Agah menikmati perkuliahan singkatnya di Korea. Meski hanya enam bulan, banyak hal menyenangkan yang ia lakukan di universitas Ajou. Salah satunya Company Visit to Hyundai yang dua hari lalu baru mereka ikuti. Hampir semua kegiatan luar kuliah bagi mahasiswa exchange dibimbing oleh AGA (Ajou Global Ambassador).


Mengunjungi pabrik mobil terkemuka di Korea adalah kesempatan emas bagi Agah meninjau langsung proses perakitan mobil Hyundai. Didampingi seorang pemandu perusahaan, peserta Company Visit diajak berkeliling melihat proses pemasangan mesin, badan, roda, pewarnaan, hingga show room dengan penjelasan yang sangat detail.


Sepanjang touring, peserta hanya berkomunikasi menggunakan earphone. Sayang sekali peserta tidak diizinkan mengambil dokumentasi dalam bentuk apapun sehingga Agah tak bisa mengambil foto untuk dijadikan oleh-oleh buat Adang.


Teknologi memotong dinding jarak komunikasi. Meski Agah berada Korea, ia rutin berhubungan dengan dua saudaranya. Adang yang sudah menyelesaikan pelatihan selama tiga tahun, langsung direkrut menjadi karyawan Mercedes dan ditempatkan di salah satu dealer resmi di Jakarta.


Masih menekuni bisnis clothing, Adang lebih banyak menerima pesanan massal pembuatan kaos. Biasanya untuk perusahaan, sekolah, atau komunitas. Dengan begitu Adang tidak hanya menjual produknya secara satuan. Banyaknya pesanan yang masuk dari kenalan atau pelanggan yang sudah tahu kualitas produk Adang, membuat Adang mau tak mau harus memperkerjakan karyawan karena ia terikat dengan pekerjaan di perusahaan.


Sememtara Deden, tidak lagi bekerja di bengkel. Mengikuti kursus video editing dan design grafis memberi Deden kemahiran baru. Ia mencoba fokus membuat kanal youtube dengan konten terkait video dan desain. Dan mendapat pekerjaan di perusahaan start up sebagai tenaga desain.


Setidaknya seminggu sekali Agah rutin menelpon saudaranya. Menelpon Deden untuk berbicara langsung dengan Aki ukun, seringnya komunikasi terjadi di grup whatsapp yang hanya beranggotakan mereka bertiga.


“Nitip tawarin kaos gua ke temen kamu di Korea,” pesan Adang pada Agah sambil memasukkan selusin kaos One Punch ke dalam koper Agah ketika berkemas sebelum berangkat ke Korea. Masih tersisa banyak ruang untuk menampung titipan Adang. Adang tak membawa banyak pakaian, ia hanya membawa pakaian yang ada dalam lemari kosannya ditambah dua jaket tebal.


Menghabiskan masa kecil di kaki Gunung Beser, tak pernah terlintas dalam pikiran Agah suatu saat ia akan keluar negeri. Apalagi untuk kuliah. Orang tua lulusan SD dan SMP, kuliah pun mencari biaya banting tulang, menjual sambal, menjadi pegawati fotokopi, mengajar les, dan menjual kaos. Semua usaha maksimal dilakukan untuk tetap bertahan melanjutkan kuliah.


Sepeninggal Maman, tiga kembar bersaudara saling membantu. Deden yang sudah mempunyai pendapatan meski sedikit selalu menyisihkan untuk menambah bayar kuliah Agah. Begitu juga Adang, setelah selesai pelatihan dengan beasiswa dan direkrut langsung oleh Mercedes-Benz sebagai tenaga kerja, selalu ia sisihkan penghasilan untuk bantu Agah bayar kuliah. Baik Adang maupun Deden tak ingin kuliah Agah terputus di tengah jalan. Sementara Agah sebisa mungkin tak lepas tangan dengan berusaha kerja sampingan dan menghemat pengeluaran.


Saling bantu menjalankan dan menawaran produk saudara, dan hanya membeli barang yang dibutuhkan. Untuk urusan penampilan, pakaian seadanya asal layak untuk kuliah dan bekerja.


Begitu juga ketika tinggal di Korea, tak terlintas keinginan untuk membeli apapun barang tak berguna.


***


“Yes, i will!” jawab Agah tersenyum. Mina balas tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya yang manis kemudian meninggalkan Agah yang melanjutkan merapikan buku-buku di atas meja.


“Kenapa Gah?” tanya Yusef.


“Nggak, Mina minta gua datang ke toko baju punya kakaknya yang baru buka.”


“O ... Gua kirain apa. Perasaan tu anak nempelin lu wae,” Yusef melihat Mina berjalan meninggalkan ruangan. Agah tersenyum menggeleng.


“Lu mah. Dia mah bageur, baik anaknya. Ramah. Ke lu juga ramah ‘kan?” Agah memakai jaket.


“Nih brosurnya. Ntar kita iseng aja datang liat-liat. Kalo beli mah bisi mihil!” Agah merangkul Yusef.


Mereka keluar ruangan, baru saja selesai mengikuti kegiatan english cafe yakni pertemuan yang diadakan sebulan sekali dan dihadiri oleh para profesor, mahasiswa internasional, dan mahasiswa Korea. Sesuai namanya, dalam kegiatan itu tidak seorang pun diperkenankan menggunakan bahasa lain selain Inggris. Tak peduli apakah bahasa ibunya Indonesia, Hangul, Mandarin, atau Prancis, saat kegiatan english cafe wajib gunakan bahasa Inggris. Tidak peduli salah atau benar, modal utama adalah berani bicara.


Banyak mahasiswa program pertukaran mengikuti kegiatan english cafe untuk menambah teman, kenalan profesor atau untuk melancarkan kemampuan bahasa Inggris. Banyak juga mahasiswa Korea ikut serta, salah satunya Mina yang berasal dari Yeongdong. Gadis mungil dan ceria. Jika tersenyum matanya berbentuk bulan sabit.


Penghujung musim gugur tiba di awal Desember, pohon-pohon yang awalnya berwarna merah, kuning, dan jingga hanya tersisa batang dan ranting-ranting. Tak ada lagi dau berserakan di jalan, sehingga tak ada lagi ahjussi yang biasa menyapu. Pakaian wajib dikenakan saat keluar asrama adalah jaket tebal, sweater, syal, sarung tangan, kupluk dan semua perlengkapan untuk menghangatkan diri. Karena suhu di luar berkisar antara lima hingga minus delapan derajat celcius.


Agah memasukkan lima kaos titipan Adang. Hari ini ia dan Yusef berencana datang ke pembukaan toko baju dan pernak-pernik milik kakak Mina. Dari pintu gerbang universitas Ajou, jalan sekitar sepuluh menit, akan tampak jajaran toko-toko kecil.


Toko baju serupa distro-distro yang Agah temui di Bandung mencolok karena dicat warna kuning kunyit. Nama toko tertulis bercahaya di papan: ‘Introvert’.


“Bener ini,” Agah mencocokkan nama toko dengan brosur yang diberikan Mina beberapa hari lalu.


Dinding kaca tebal membuat Agah dan Yusef yang berada di seberang jalan bisa melihat beberapa orang di dalam toko.


“Noh! Bukan gua doang yang diundang!” kata Agah, Yusef nyengir.


Warna hijau lampu penyebrangan menyala, tanda dipersilahkan menyeberang. Mina melihat mereka dari dalam toko. Membuka pintu bahkan sebelum Agah dan Yusef sampai. Melambai dengan mata bulan sabitnya, Mina berseru “Agaaaah! Jousep! Welcome!” Yusef terkekeh mendengar namanya disebut dengan cara aneh.


Sebagian besar yang hadir adalah kawan kakak Mina, beberapa orang Agah kenal karena merupakan peserta english cafe. Toko berukuran delapan kali empat meter persegi ditata dengan desain interior sederhana dan minimalis. Beberapa produk yang dijual adalah kemeja, kaos, topi, jaket, celana, sepatu, juga aksesoris bernuansa simple kesukaan para gadis dipajang semenarik mungkin.


Agah menggantung jaket di tempat yang disediakan. Mina menggandeng seorang pria bertopi mendekati Agah dan Yusef.


“Agah, he is my brother,” kata Mina. Pria itu mengulurkan tangan sambil tersenyum, ia memiliki mata bulan sabit yang sama dengan Mina.


“Minho,” kata pria itu.


“Agah. This is yusef, my friend and Mina’s friend” Yusef berjabat tangan dengan Minho.


“Thanks for coming,” tambah Min ho. Agah mengangguk.


Mina berbicara pada Minho menggunakan bahasa Korea sambil menunjuk pada Agah.  Min ho mengangguk. Agak tak terlalu pandai bahasa Korea, hanya sedikit kata yang ia mengerti merupakan hasil mengikuti mata kuliah Korean Language.


Mina menjelaskan pada Agah, bahwa kakaknya tertarik dengan desain kaos Agah. Bahan bagus dan desain sederhana. Sesuai dengan tema toko minho. Agah mencoba mengingat darimana Minho tahu tentang kaos One Punch buatan Adang.


“Lu ‘kan waktu acara International Day kasih kaos buat Mina gara-gara bajunya basah pas permainan air,” Yusef menjelaskan. Sekarang Agah ingat.


Mina mengangguk, mengatakan kalau Agah masih punya produk yang sama, Minho ingin membeli beberapa untuk tes pasar dipajang di Introvert. Agah mengangguk mulai paham kenapa semalam Mina mengirim pesan teks meminta Agah membawa beberapa kaos jika mau datang ke acara pembukaan toko.


Agah membuka ransel, mengeluarkan lima kaos terkemas rapi dalam plastik lengkap dengan nama merek: One Punch. Setiap kaos memiliki gambar desain berbeda. Mata Minho melebar, ia meminta ijin membuka kemasan kaos dan melihat dengan seksama.


“I want to buy all!” kata Minho semangat. Sekarang giliran mata Agah yang melebar.


“I like your design!” jelas Minho.  Mina memperhatikan Agah dengan wajah berseri-seri, Yusef memperhatikan Mina dengan ekspresi penasaran.


Sebelum pamit pulang, Agah melihat kaos One Punch milik Adang terpajang di etalase toko Introvert. Agah meminta ijin untuk mengambil foto menggunakan ponsel, Minho dengan senang hati menyetujui.


Cklek!


Oleh-oleh manis yang akan buat Adang bahagia.


***