
Hangat sinar matahari menerpa wajah. Kabut di atas pepohonan tampak seperti awan dari puncak, terkikis perlahan. Adang memperhatikan Deden dan Tono berbincang.
Marko menyodorkan bungkus rokok, Adang menggeleng.
“Makasih. Gua ga ngerokok," tolak Adang sopan. Marko memasukkan rokok dalam saku jaket tanpa komentar.
“Lama ga ketemu, udah berapa tahun ya?” Marko menyalakan pemantik, membakar ujung rokok sambil mengisap pelan.
“Tiga tahun lebih kayaknya” Adang senyum, mengingat masa SMP-nya yang dikelilingi mitos.
“Sekarang lu kuliah?” Marko mengembuskan asap rokok.
“Nggak, gua ikut pelatihan di Mercedes."
“Yang di Ciputat itu?” Adang mengangguk.
“Keren juga lu. Kan lumayan itu, gratis. Bisa direkrut kerja juga kalo dah beres” tambah Marko.
“Moga aja sih lancar. Lu? Kuliah?” Adang balik bertanya.
“Hmm. Di Pakuan” jawab Marko singkat.
"Widih! Jadi anak kampus" goda Adang.
"Mahasiswa. Kedengeran keren, padahal mah gitu-gitu aja" Marko terkekeh.
Antara geli atau rendah diri menemui kenyataan diri menjadi salah satu generasi dengan sebutan Agent of Change. Kenyataannya kehidupan kampus tak sekeren yang ia bayangkan sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Masih seputar belajar, main, pacaran, nonton konser, atau bagi sebagian yang aktif dengan kegiatan kampus, ada kesibukan lain bernuansa elite: rapat dan diskusi.
“Itu, temen-temen lu di Pakuan?” Adang memperhatikan kelompok pendaki yang datang bersama Marko.
“Hm.” Tatapan Marko menerawang tertuju matahari.
Kejadian enam tahun lalu terlintas. Ancaman, pukulan, kucuran darah, dan ego masa pubertas yang membuncah. Kenangan sekolah yang tak membanggakan untuk diingat.
Adang yang waktu itu kelas satu, melawan balik Marko, kakak kelas tiga yang mengajaknya gabung membela sekolah di ajang tawuran.
Murid baru memukul jatuh kakak kelas dua tahun di atasnya, entah darimana keberanian Adang muncul selain dari insting membela diri.
“Maafin gua,” kata Adang pelan. Pandangan Marko masih melekati bola matahari di depannya.
“Waktu itu gua belum sempet minta maaf. Lu keburu lulus” lanjut Adang melihat Marko serius. Mengembuskan asap rokok, Marko tersenyum menggeleng.
“Harusnya gua yang minta maaf. Gua yang ngomporin lu duluan” Adang perhatikan pandangan mata Marko tidak sama lagi. Mata mengancam dan rasa lebih unggul yang pernah Adang lihat enam tahun lalu memudar. Adang tersenyum.
“Namanya juga anak SMP” Adang menertawakan masa lalu mereka.
“Dang! Yuk!” panggil Tono. Adang menoleh, kemudian menepuk pundak Marko pamit turun.
“Gua duluan." Marko mengangguk.
“Kapan-kapan kita jadwalin naik bareng.” Adang mengangguk menerima tawaran Marko.
Saling bersalaman, mereka meluruhkan dendam dan sakit yang pernah terpahat.
Berapa banyak waktu bisa mengubah seseorang. Marko adalah sosok berbeda dengan yang ia temui ketika SMP.
Bukankah begitu seharusnya manusia? Mengendarai waktu mengaktifkan mesin metamorfosa. Terus berproses jadi lebih baik.
***
Perjalanan turun dirasakan Deden jauh lebih ringan. Beberapa kali bertemu rombongan pendaki menuju ke arah sebaliknya. Kesan menikmati indah matahari terbangun di awal hari, secangkir kopi panas dan kabut dingin menorehkan efek adiktif dalam diri Deden.
Adrenalinnya terpacu saat melewati tanjakan, ambisi menyusur hingga puncak membuat Deden jatuh cinta. Begini rasanya menjamah hutan pegunungan.
Tak ada emosi benci atau obsesi saling mengalahkan. Semua pendaki saling membantu, berbagi, mendukung dan melindungi. Dalam tawuran kemenangan diraih saat lawan mundur dan rasa jjadi pemenang hadir saat berhasil cederai lawan. Namun dalam pendakian, perkelahian terjadi dalam diri setiap pendaki, kemenangan adalah menaklukkan pesimis diri sendiri.
Keyakinan akan sampai di puncak, keberhasilan mengacuhkan lelah, menahan keluhan dan menepis rasa tak percaya diri.
Seorang pendaki, harus optimis dan percaya pada kemampuan diri. Namun tetap rendah hati meletakkan keyakinan bahwa gunung adalah salah satu sarana untuk mengenal ciptaan-Nya.
“Menumbuhkan rasa bahwa kita ini kecil” kata Jae ketika di puncak pada Deden.
“Bayangkan, mendaki baru sampai puncak gunung gede, di negara lain sana, puluhan gunung lebih tinggi menjulang kokoh menunggu ditaklukkan. Di atas gunung ada triliyunan bintang menggantung di langit. Bintang yang ukurannya ribuan kali lebih besar dari matahari,” Deden mendengarkan.
“Setiap merasa lelah kita sadar bahwa kita lemah. Ketika melihat mentari terbit dan tenggelam kita sadar ukuran kita tak sebanding dengan pusat tata surya yang ada di hadapan. Saat itu rasa sombong meleleh. Menyadarkan bahwa kita hanya selevel butiran debu." Jae memandang matahari.
Deden menikmati hari itu. Suatu hari nanti, ingin ia menghabiskan waktu bersama dua saudaranya mendaki gunung.
Inilah adrenalin yang membuat Adang ketagihan selama ini. Beginilah cara Adang melarikan diri dari riuh keinginan tampil mengesankan di ajang tawuran.
Meski tak diucapkan, hari itu Deden untuk kedua kali menaruh respek pada Adang. Pertama ketika menyelamatkan dirinya sebagai sosok One Punch Boy, dan kedua karena telah menunjukkan keindahan semesta jiwa di balik pendakian dengan mengenalkannya pada Jae.
“Air lagi?” Botol air ditawarkan Adang. Deden menggeleng.
Atas pengalaman menyenangkan yang diberikan Adang padanya, Deden berkata dalam hati, “Nuhun Bro”.
***
Pukul empat sore, masih di perjalanan turun. Dua jam lagi mereka akan sampai di akhir perjalanan. Seorang pendaki berlari hampiri mereka. Tersengal-sengal, pemuda itu mengatur nafas sebelum bicara.
"Bang! Tolong Bang!" Adang, Deden, Tono dan Jae berhenti.
"Pelan-pelan. Ada apa?" tanya Jae menawarkan botol minuman yang ditolak oleh anak itu.
"Temen saya Bang. Tolong Bang" Anak itu menarik tangan Adang yang paling dekat dengannya, diikuti Deden, Tono dan Jae di belakang. Mereka berlari mengikuti anak itu. Sepuluh menit kemudian, mereka bertemu tiga anak lain yang ketakutan melihat ke arah teman yang terkapar di lantai.
Jae percepat langkah, mendekati anak yang pingsan. Periksa gerakan nadi di leher, berdetak.
"Gimana ini ceritanya?" Jae melihat empat anak berwajah pucat ketakutan.
"Dia, tiba-tiba teriak Bang. Kepalanya dijedok-jedokin ke pohon sambil bilang perutnya sakit. Trus langsung pingsan."
"Emang temen kalian tadi ngapain?"
"Nggak tau Bang. Tadi cuma pamit mo pipis aja. Trus nggak tau kenapa, dia teriak-teriak. Pas kita datangin udah kayak orang gila kelakuannya Bang!" Jae memperhatikan empat anak lain, total lima dengan yang pingsan.
"Sama siapa lagi naik kesini?" tanya Adang.
"Ga ada Bang. Cuma kita berlima" jawab anak yang meminta tolong pada mereka. Melihat tas ransel perbekalan. Serupa ransel tas sekolah, pakaian apa adanya tak ada yang memakai jaket tebal, bahkan dua orang diantaranya hanya memakai sandal.
"Kalian emang mau ngedaki ato cuma maen aja" Tono penasaran melihat persiapkan ala kadarnya.
"Maen doang Bang. Cuma sampe tanjakan sana aja buat poto-poto. Terus mau turun lagi."
"Pantes!" gumam Adang.
"Belum ketemu pendaki lain?" Tono membuka jaket anak yang pingsan.
"Belum Bang. Udah dua puluh menitan Beler gitu Bang. Bingung kita."
Kelimanya adalah anak SMA kelas satu, baru satu jam setengah memulai pendakian. Perjalanaan mereka terhenti karena tiba-tiba anak yang dipanggil Beler pingsan tanpa sebab jelas.
"Jangan deket-deket Bang. Takutnya ngamuk-ngamuk lagi," Anak yang memakai hoody hitam mengingatkan ketika Tono dan Adang membuka jaket Beler.
Deden diam, tak tahu harus berbuat apa. Ia tak punya pengalaman apapun berhubungan dengan kejadian aneh dalam pendakian gunung.
Cerita Jae semalam tentang suara aneh, gamelan dan pasar setan teringat lagi. Melihat anak SMA pingsan dalam lebat hutan memberi serangan bulu kuduk berdiri. Deden memperhatikan Adang, Jae dan Tono yang sibuk.
Beberapa detik kemudian, Beler buka mata lebar. Adang dan Tono mundur serempak. Jae pasang kuda-kuda siap.
Melihat sekitarnya dengan mata marah. Beler teriak melompat dengan arah random menyerang siapapun di dekatnya. Empat anak lain beringsut. Takut.
"Ini mah kudu diiket kayaknya" kata Jae pada Tono dan Adang. Secepat mungkin mereka ambil posisi menyebar mengelilingi Beler.
"Kenapa Bang?" Deden beranikan diri bertanya pada Jae.
"Kesurupan."
***