T

T
Kasep



Saling lempar pandang, Agah tak bisa mengacuhkan wajah sedih yang menatapnya dari tadi. Agah mendekat, duduk dan mengelus pelan. Kucing putih berbulu tebal menggerakkan ekor ke kanan dan kiri, tanda ia menyukai Agah.


“Rumahmu dimana?” Sudah tiga hari Agah melihat kucing itu di tempat yang sama. Setiap pulang kuliah, kucing bermata hijau melekatkan pandangan pada Agah yang melintas.


“Jangan-jangan, kamu ga punya rumah ya?”


“Meong."


Agah berpikir sejenak, menggaruk kepala basah karena keringat.


“Ikut aku aja yuk!”


“Meong.”


Agah mengangkat kucing yang berdiri di jalan perumahan tempat Agah ngekos.


Selepas lulus SMA Agah mendapat beasiswa untuk sekolah di Unpad Bandung, Deden dengan nilai kurang dari pas-pasan dan lulus karena faktor keberuntungan memilih ikut kursus di Balai Pelatihan Kerja kota Bogor mengambil program ilmu otomotif selama tiga bulan.


Adang memiliki nilai bagus tapi sedari awal ia tak berniat kuliah. Tidak semua orang yang memiliki nilai bagus ingin kuliah, Adang salah satunya,  ia mencoba mendaftar beasiswa Automotive Mechatronic Training Program yang diberikan oleh Mercedes Benz.


Setelah melalui ujian dan seleksi ketat, Adang berhasil menjadi salah satu peserta penerima beasiswa tersebut berupa pelatihan selama tiga tahun tanpa dipungut biaya dan mempunyai kesempatan untuk berkarir di seluruh bengkel atau dealer resmi Mercedes.


Biaya kuliah tak sedikit, kemampuan ekonomi Maman dan Ela terbatas untuk memasukkan anak tiga kuliah secara bersamaan. Agah yang paling pintar diberi kesempatan oleh dua saudaranya untuk mendaftar kuliah.


Untuk apa kuliah jika tak suka belajar, kuliah berkutat dengan buku tak pernah cocok bagi Deden ataupun Adang.


Tiga motor terparkir di depan rumah bercat biru langit dan pagar besi warna hitam. Menggendong kucing temuannya Agah memasuki rumah setelah menyapa beberapa teman Basuki, teman sekamarnya.


“Kucing sapa Gah?” tanya Basuki.


“Nemu! Tiga hari gua liat diem di jalan, gua ambil aja.” Agah menurunkan kucing, meletakkan tasnya ke meja kamar.


“Kucing bagus.” Basuki mengelus kucing.


“Ho oh. Bersih ya, ga kayak kucing liar.” Agah mengambil piring kecil meletakkan sedikit nasi kemudian memberikan pada kucing barunya.


“Bantuan 'lah ngerawat nya. Lu kan penyayang binatang” kata Agah.


“Siyap!” jawab Basuki singkat.


Seperti penghuni baru, kucing yang diberi nama Kasep diperlakukan sangat baik. Disayang-sayang, bahkan agah rela menyisihkan uang makan untuk membeli makanan kucing yang harganya lebih mahal dari kerupuk.


“Sep! Makan nih!” Begitu cara Kasep dipanggil.


Kasep yang seharian tidur melangkah malas menghampiri piring makanan. Sepertinya Kasep memang kucing rumahan, meski pintu terbuka lebar, ia jarang keluar, hanya sesekali keluar untuk buang kotoran.


Terbukti Kasep bukan kucing liar, karena Kasep tahu dimana harus buang kotoran, bukan di dalam rumah seperti kucing yang sudah dilatih toilet training.


Suatu hari, Agah ada jadwal kuliah sampai sore. Basuki berangkat dari siang, karena tidak ada orang di rumah, Basuki berinisiatif mengunci Kasep dalam kamar supaya tidak kabur kemana-mana.


Sore jam tiga. Agah belum pulang, Basuki masih praktikum di kampus. Dari dalam kamar terdengar suara Kasep mengeong. Dodi salah satu penghuni kos mengetuk pintu kamar.


“Bas! Basuki! Gah! Agaaaah!" Tak ada jawaban kecuali suara Kasep.


“Belom pada balik!” jawab Hari penghuni kamar lain.


“Eta si Kasep kenapa ya?" Suara kuku Kasep mencakar-cakar pintu.


Jam empat, ketika Agah pulang buka pintu kamar, aroma kotoran memenuhi ruangan.


“Huek! Naon yeuh!” Kotoran Asep terparkir indah di atas kasur Basuki.


“Ooo! Pantes!” Dodi menceritakan sesiang Kasep mengeong dan mencakari pintu, mungkin ingin keluar, ingin buang hajat. Sudah kebelet apalah daya, pintu tak terbuka, Kasep buang kotoran di atas kasur Basuki.


“Assalamualaikum!” Suara Basuki baru pulang. Agah dan Dodi berdiri depan kamar sambil menutup hidung.


“Ada apa?” Belum juga terjawab Basuki bisa menemukan penyebab dua teman kosannya menutup rapat hidung. Kasurnya dijadikan Kasep tempat buang kotoran.


“Kaseeeeeeep!” jeritan putus asa Basuki menggelegar sampai terdengar tetangga kos.


Tak sabar, Basuki menendang Kasep yang tak berdaya.


“Sana pergi!!” Agah dan Dodi ngakak melihat Basuki menendang Kasep.


Besoknya atas kesepakatan, Basuki membawa Kasep keluar rumah. Untuk dijual.


Jual murah. Siapa saja yang mau asuh Kasep. Basuki sudah ilfil kasurnya jadi korban. Bau kotoran Kasep tak hilang dijemur berhari-hari, akhirnya Basuki pilih beli kasur baru.


“Nih Gah!” Basuki menyerahkan uang lima puluh ribu pada Agah.


“Apa ini?"


“Duit jualan Kasep. Kan itu kucing lu. Ni duitnya buat lu.” Basuki merasa bersalah.


“Sante we. Buat beli pecel lele aja lah. Makan bareng-bareng.” Kata Agah.


Malam itu, perut mereka kenyang dengan nikmat pecel lele karena jasa Kasep. Basuki menjual Kasep pada teman kampus seorang pecinta kucing tulen.


“Ngomong-ngomong, siapa yang beli Bas?” Agah penasaran.


“Anak Bogor juga, kali aja lu kenal Gah,” lanjut Basuki.


“Siapa namanya?” Agah jadi penasaran.


“Caca. Nama lengkapnya sapa ya? Bentar, lupa lagi gua.” Mendengar nama Caca membuat Agah berhneti mengunyah kol goreng. Nama sama yang buat jantung Agah berdegup dua kali lipat lebih cepat ketika SMA.


“Oh. Tasya. Tasya Aulia. Make kerudung gede, Sipit, pake kacamata!" seru Basuki.


Plok!


Kepala lele jatuh ke piring tepat di atas sambel. Tanpa sadar, Agah menjatuhkan kepala lele yang ia nikmati karena mendengar nama Tasya. Nama yang sekarang membuat giginya tak punya tenaga untuk menggigit.


***


Poster pengumuman kegiatan ekskul kerohanian ditempel. Tiga siswi berkerudung menutup kaca papan mading, membahas sesuatu yang membuat mereka tertawa renyah. Diam-diam Agah memperhatikan salah  seorang diantaranya.


Kerudung lebar menutup hingga ke paha membuat gadis itu tampak mencolok di antara siswi lain. Mata sipit di balik kacamata berbingkai warna biru. Melihat dari belakang cukup membuat degup jantung Agah berdetak lebih cepat dua kali lipat.


Caca, semua teman memanggil begitu. Nama aslinya Tasya Aulia. Parasnya bukan yang paling cantik, tapi wajah teduh meninggalkan efek adiktif bagi beberapa anak laki-laki. Salah satunya Agah.


Menatap mata Caca langsung, tak pernah Agah lakukan. Bukan tak berani, tapi tak bisa. Jika keadaan memaksa ia harus bicara dengan Caca, melihat ke arah lain selalu jadi pilihan Agah. Menjadi teman sekelas terkadang menjadikan mereka berada dalam satu kelompok tugas.


Caca suka satu kelompok dengan Agah. Agah dikenal sebagai sosok pintar dan bisa diandalkan jadi ketua. Sebaliknya, Agah tidak suka satu kelompok dengan Caca, karena sering membuatnya salah tingkah.


Tak ada yang tahu perasaan Agah pada Tasya, tidak pernah ditunjukkan juga tak pernah dikatakan.


Agah tak punya nyali dan percaya diri. Keyakinan bahwa Caca pasti akan menolaknya sudah tertanam dalam kepercayaannya. Mana mungkin gadis berkerudung lebar dan aktif kegiatan keagamaan mau pacaran. Bukan hanya dengan Agah, dengan siswa paling populer sekalipun Caca pasti menolak.


Menjadi secret admiror mempunyai kebahagiaan tersendiri. Karena tak seorangpun tahu, maka bebas untuk memandang sesekali tanpa digoda teman-teman. Menaruh hati sejak kelas satu SMA, Agah menyimpan perasaan sampai kelas tiga SMA.


“Gah, yang tugas kelompok waktu itu, punya salinannya ga?” tanya Caca.


Deg! Deg!  Deg! Jantung Agah lari marathon.


“Mmm ... Lupa lagi. Bentar aku cek dulu.” Mengulur waktu, Agah tahu ia punya salinan, bahkan untuk menjawab hal sepele saja, Caca membuat otak Agah kosong tiba-tiba.


“Oh! Ada nih!” Agah menyodorkan buku. Ia menutupi dadanya dengan tas ransel, khawatir suara degup di dalam terdengar oleh Caca. Padahal tidak mungkin.


“Aku pinjem dulu ya?” kata Caca setelah membolak-balik buku. Agah mengangguk singkat tanpa melihat Caca.


“Makasih. Kalo udah ntar aku balikin.” Caca meninggalkan Agah yang berkeringat dingin.


Ada alasan lain kenapa Agah menyukai Caca. Selain wajah teduh, Caca tak pernah menertawakan Agah.


Badan tambun, perut buncit, pipi luber, Agah tak pernah menonjol dalam olahraga. Ketika teman lain mengejeknya gendut, buncit, atau Agah Begah, Caca tak pernah memanggil dengan sebutan yang buat Agah kesal. Sikap baik Caca menumbuhkan rasa kagum dalam diri Agah.


Cinta bertepuk sebelah tangan? Entahlah, toh Agah tak pernah mengungkapkan perasaannya.


Cinta ditolak? Juga tidak, karena Agah tak pernah menyatakan cinta.


Sampai lulus  SMA Agah menyimpan rapi perasaan pada Caca. Ketika pengumuman penerimaan universitas, Agah tak pernah mencari tahu dimana Caca kuliah. Gadis pintar itu pasti masuk jurusan kedokteran, pikir Agah.


Mendengar nama Tasya Aulia disebut Basuki, menyisakan pertanyaan besar apa mungkin itu adalah Tasya Aulia yang sama dengan gadis yang ia pikirkan.


Kalau sama terus kenapa? Agah bertanya pada diri sendiri. Setidaknya Agah cukup senang mengetahui Kasep yang pernah ia elus-elus dan gendong kini digendong-gendong Caca. Takdir yang indah bukan?


Pak!!


Basuki menepuk pundah Agah yang tersenyum geli sendiri.


“Udah stres apa lu mikirin kuliah sampe senyum-senyum gitu sama buku?” Agah melengos.


“Noh ada yang ngetuk pintu. Gua mau mandi. Anak-anak pada keluar tadi barusan.” Terdengar suara ketukan pintu, menutupi badan dengan handuk Basuki masuk kamar mandi.


“Iya! Sebentar!” Agah membuka pintu. Gadis kecil berambut keriting memakai kaos oblong tersenyum canggung pada Agah.


“A ... Punten mau tanya. Liat kucing anggora warna putih ga ya? Bulunya tebel, matanya ijo, terus ekornya ada warna abunya dikit,” tanya gadis itu. Agah diam sesaat, berfikir. Ciri-ciri yang disebutkan cocok dengan Kasep.


“Rumah saya di blok sebelah A. Kali-kali aja dia maen ato Aa pernah liat."


Agah tersenyum menggeleng pelan.


“Nggak pernah Dek, coba aja tanya kosan lain” Agah merasa berdosa.


“Ya udah kalo gitu A. Makasih ya.” Gadis kecil itu pergi bersama teman yang menunggu di pintu pagar.


“Maaf ya. Moga cepet ketemu” seru Agah sebelum menutup pintu.


Lha ternyata Kasep bukan kucing liar, ada yang punya itu kucing. Terlanjur Basuki sudah menjual Kasep pada Caca, uang lima puluh ribu tak bersisa ditukar pecel lele.


“Maaf ya Dek. Maaf ya ....” Agah bergumam pelan mengintip dari belakang jendela kaca.


Jangan sampai Basuki atau anak kosan yang lain tahu kalau ada yang mencari Kasep. Bisa runyam urusan!


***