T

T
Hirarki



Mobil Kijang berhenti di pinggir jalan rumah Aki ukun. Seorang pria paruh baya berbadan tambun, memakai peci dan koko putih turun dari mobil.


“Assalamualaikuuuum ... Haji Ukuuuuuun!” Salam semangat mengagetkan Aki Ukun yang tidur di dipan belakang rumah menemani Umi Njum mengupas talas.  Mendengar suara tidak asing, Aki Ukun terbangun bergegas membuka pintu.


“MasyaAlloooooh! Haji Salam!” Dua lelaki berpelukan setelah tujuh tahun tak berkabar berita.


“Damang Pak Haji?” tanya Aki Ukun.


“Alhamdulillah.”


“Mangga atuh. Silakan duduk," Aki Ukun melihat ke belakang mencari sesuatu.


“Sendiri?" Biasanya Haji Salam ditemani supir, Aki Ukun hafal.


“Muhun," jawab Haji Salam mengiyakan.


Haji Salam terkenal sebagai tuan tanah ratusan hektar sawah. Awal perkenalan Aki Ukun dan Haji Salam bermula ketika Aki Ukun menjadi mandor pembangunan rumah Haji Salam di Cianjur kota.


Sikap jujur, bertanggung jawab, dan ramah. Membuat Aki Ukun kembali dipekerjakan Haji Salam ketika hendak dirikan masjid di atas tanah waqaf untuk warga kampung Cibeber.


Beberapa tahun kemudian Haji Salam memutuskan mengadu nasib di Malaysia dengan membuka usaha rumah makan khas Sunda di Malaka. Butuh waktu tahunan sampai bisnis sukses, tetapi tidak lantas membuat Haji Salam betah tinggal di rantau.


Haji Salam putuskan kembali ke Indonesia dan membuka usaha di Bogor.


Kedatangannya kali ini adalah meminta tolong pada Aki agar menjadi mandor pembangunan rumah


makan dan masjid di Bogor.


“Saya mah sudah tua pak Haji. Takut nggak ada tenaga kalo harus ke Bogor." Haji Salam mengatakan ada kebun seluas seribu lima ratus meter miliknya tak terpakai. Ia berharap, Aki Ukun bersedia tinggal di sana untuk mengurus kebun sekaligus jadi mandor pembangunan agar tidak bolak-balik Bogor Cianjur.


“Maman ... Bagamana?" tanya Haji Salam. Tepat ketika itu Maman datang mengembalikan motor yang ia pakai mengajak anak-anaknya maen ke Curug Cikondang.


"Itu Maman." Maman mengenali sosok tambun berwajah ramah.


Obrolan berlanjut ditemani talas kukus dan kopi panas.


***


Maman berpikir lama, apakah ia harus mengambil kesempatan yang diberikan Haji Salam padanya.


Warung kopi dan Indomie Ela berjalan datar, sementara pekerjaan jadi kuli atau tukang jagal sedang sepi. Haji Salam memintanya membantu pekerjaan di Bogor seperti yang dikatakan pada Aki Ukun sebelumnya.


“Ga perlu bingung rumah. Pake aja yang di kebon Cimahpar Bogor. Ada rumah tak terpakai." Bujuk Haji Salam.


Selain rencana bekerja sebagai pengawas kuli, Jika pembangunan rumah makan sudah selesai, Maman akan dipekerjakan di rumah makan Sunda sebagai tenaga maintenance yang mengurusi perbaikan dan perawatan restoran.


“Tapi ... Saya belum pernah mandorin Pak Haji."


“Kan ada Bapak, nanti dibantuin, diajarin sama Bapak," Haji Salam menunjuk Aki Ukun.


Kesukaan Haji Salam pada keluarga sederhana itu tidak mungkin membuatnya mundur. Pada siapa lagi ia akan mempercayakan kalau bukan pada Aki Ukun dan Maman.


Cocok dengan istilah  ‘siapa memelihara Lebah, dia yang panen madu’. Sikap jujur dan bertanggung jawab dalam bekerja, tidak pernah membawa rugi atau penyesalan.


Sementara bagi kembar bersaudara, Bogor menanti mereka dengan kejutan tak terduga.


***


Tidak terbayang oleh Maman punya kesempatan tinggal di Bogor. Tak perlu jauh lagi jika ingin datang ke Kebun Raya, paru-paru kota. Naik angkot berwarna hijau dua kali, sampai tepat di gerbang masuk.


Banyak syukur ia ucap setiap kali sujud. Ia tak perlu bingung tentang pekerjaan. Sekarang ia menjadi pegawai tetap di rumah makan Pak Haji Salam, sekaligus menjadi pengurus masjid yang pembangunannya ia mandori. Jaraknya, hanya sepuluh menit naik motor.


“Kaosku mana?" teriak Adang dari kamar. Ia mengacak-acak kamar yang acak serupa rambutnya. Sibuk persiapan sebelum berangkat sekolah jadi rutinitas pagi.


Agah memasukkan buku pelajaran lembab karena ilernya menempel semalam. Deden menyerah mencari, ia memakai sepatu hitam tanpa lapisan kaos kaki.


“Umi, Deden berangkat dulu." Setelah mencium tangan Uminya di dapur, Deden lari meninggalkan dua saudara kembarnya.


“Udah siang nih! Pada berangkat gih! Kebiasaan tidur habis subuh siih!"  Omelan Ela tak dipedulikan anak-anaknya.


Sudah biasa jika ibu punya hobi ngomel, begitu pikir mereka. Ela melihat ketiga anak kembarnya, terburu-buru berangkat sekolah tanpa sarapan.


“Biarin ah! Lelaki ini!" Ela membesarkan hati sendiri melihat nasi goreng buatannya tak tersentuh.


Adang, Deden, dan Agah sudah masuk SMP. Semuanya, sekolah di tempat berbeda. Itu kesepakatan, karena mereka kompak tidak mau satu sekolah.


Adang sekolah di SMP Z, ia memiliki badan paling tinggi diantara saudaranya. Badannya tegap dan rambut kasarnya sepintas tampak bergaya pompadour. Adang adalah yang paling cuek dan sedikit bicara.


Agah yang paling gemuk dan paling putih, berkacamata, dan konsisten dengan rambut buzz cut terdaftar di SMP T.


Memilih bersekolah di tempat berbeda, membawa mereka pada petualangan baru bagi persaudaraan mereka. Masing-masing sepakat, jika tidak sengaja bertemu di jalan, dan ada yang bersama teman-temannya, maka mereka akan saling pura-pura tidak kenal.


Kesepakatan aneh memang, tentang hal ini Ela dan Maman tidak pernah tahu. Itu semua murni


kesepakatan antar saudara laki-laki.


***


“Gah! Ayo ikutan! Muka lu jadi kayak rayap geura kalo belajar mulu!” kata Bobi teman sebangku Agah.


Penggunaan bahasa pergaulan anak Bogor berbeda dengan Cianjur. Dekat dengan Jakarta, bahasa yang digunakan bukan lagi bahasa Sunda murni. Ter-blender dengan bahasa Indonesia dan beberapa kata Betawi.


Panggilan 'Lu' yang awamnya dikenal sebagai kata yang digunakan di Jakarta, juga digunakan di kalangan anak muda Bogor.


“Aku nggak jago berantem." Jawab Agah. Kabar burung menyebar tentang rencana anak SMP G yang akan menyerang Anak SMP T.  Tak tinggal diam, anak SMP T berniat melawan.


Cerita tawuran antar sekolah bukan isapan jempol, Agah sudah mendengar sejak ia duduk kelas satu. Biasanya anak kelas dua dan tiga yang aktif turun. Anak kelas satu dianggap bocah kemarin dan memilih jadi penyemangat kakak kelas saja kecuali beberapa orang.


Naik kelas dua, lain cerita. Agah si anak pendiam dan rajin, yang kebetulan satu bangku dengan Bobi si penggila tawuran makin susah mengelak terlibat di dalamnya.


“Masa anak cowok nggak bisa berantem. Bencong bukan?” Bobi menekan, anak lain terkekeh.


“Sekali ini aja, bukan dengan anak SMP Z kok. Ntar kita ga bakalan ngajakin kamu lagi." Janji Bobi.


Hirarki sekolah tidak hanya dinilai dari prestasi sekolah mencetak anak-anak dengan nilai tinggi yang tertulis jelas di atas kertas rapot atau ijazah. Di kalangan anak laki-laki ada hirarki kasat mata dan tak pernah tertulis dalam nominal angka dalam kertas.


Hirarki level tawuran.


Dibedakan dari tingkat keberanian, alat yang dibawa, dan tehnik mencari gara-gara atau masalah.


SMP Negeri, berada di level paling bawah. Kasta paling rendah. Anak-anaknya dianggap cupu, karena mayoritas tidak ada yang ikut tawuran, kecuali satu atau dua SMP Negeri dari belasan SMP Negeri yang ada di Bogor. Siswanya pun jarang yang mencari gara-gara. Kalau berkelahi, senjatanya tendangan dan kepalan tangan.


SMP Swasta. Berada diatasnya. SMP G cukup tenar. Siswanya suka bergerombol, jalan bersama di pinggir jalan. Mainnya bukan di mall, tapi nongkrong bersama anak SMA swasta lain, di warung.


Kadang, diantaranya sudah ada yang ikutan mabuk. Cara cari gara-garanya, memalak atau mengganggu anak SMP yang pacaran, yang keliatan cupu, yang tampak penakut, atau sedikit beda. Gendut atau kebanci-bancian misalnya.


Jika berkelahi, sudah berani bawa penggaris besi yang diasah. Batu atau paving blok dijadikan alat untuk melempar. Tawuran pun cukup terorganisir dalam pembagian peran. Ada pemimpin, ada yang disuruh, ada yang di-bully kalau tidak ikut.


SMP Z, ini yang menempati hirarki tertinggi. Dapat didikan alumninya. Semua siswanya, bisa kelahi. Suka, bahkan tawuran jadi hobi. Palak-memalak sudah pasti. Bahkan minta upeti. Mereka suka datang ke tempat tongkrongan anak SMP lain, lalu seenaknya minta uang. Untuk pilok, coret-coret dinding atau untuk mabuk.


Kalau tawuran, senjata yang digunakan macam-macam. Rantai motor, gir, obeng, kadang polisi atau Satpol PP yang merazia menemukan senjata tajam. Asupan keberaniannya, adalah kisah-kisah heroik kakak kelas atau alumninya. Teroganisir.


Mendengar nama SMP Z yang menempati hirarki paling tinggi dalam dunia pertawuran, tak jarang, belum sampai bertemu pasukannya, anak-anak SMP lain sudah kabur. Memilih lari ketimbang berhadapan langsung dengan mereka. Lebih baik cari aman, tak cari gara-gara ketimbang sial.


“Lu mah tugasnya cuman buat ngegertak doang! Badan lu pan gede. Lumayan buat nambah orang,” lanjut Bobi.


Agah menggaruk kepalanya yang berkeringat. Kali ini ia tidak punya alasan lagi. Agah mengangguk ragu.


“Gitu doooong! Kita tunggu besok pulang sekolah di belakang kantin." Bobi menepuk pundak Agah.


Keesokan harinya, puluhan murid laki-laki lain sudah siap di belakang kantin. Beberapa bersiap menyembunyikan balok kayu di dalam tas, beberapa melepas sabuk, ada juga yang memasukkan puluhan batu ke dalam ransel.


Ketika Agah datang, Bobi memberinya tongkat kasti yang diambil dari gudang peralatan olah raga. Tentu saja tanpa sepengetahuan guru olah raga. Nyolong.


Debu jalanan berputar-putar saat angkutan umum berhenti. Puluhan anak memilih jalan terpisah agar tidak terdeteksi oleh warga jika hendak tawuran. Beberapa lagi naik angkot. Satu kilometer di depan, murid SMP G melakukan hal yang sama. Berjalan bergerombol sebagian, sebagian sudah sampai di lokasi dengan bersembunyi di beberapa titik.


Selalu ada pemantik tawuran antar sekolah. Seringnya berawal gesekan masalah khas anak-anak. Sepekan sebelum hari tawuran kasak-kusuk tersebar, ada anak SMP G yang dipalak oleh tiga anak SMP T.


Korban yang dipalak bercerita pada teman-teman sekolah, yang kebetulan adalah aktivis tawuran militan. Darah muda mendesir. Tak terima teman di-bully, mereka mengumpulkan prajurit untuk balas dendam memberi pelajaran pada SMP lain bahwa anak SMP G tidak bisa diperlakukan sembarangan.


Hari itu tiba. Beberapa puluh meter dua kelompok siswa SMP sudah bisa saling melihat jumlah lawan. Jumlah yang besar.


Agah yang ketakutan melihat kelompok lawan jalan melambat sambil sesekali menutupi diri di belakang gerobak mamang cilok, menyembunyikan tongkat kasti yang tersimpan di punggung tertutup seragam. Keringat bercucuran. Kali ini Agah tidak bisa berbalik arah.


Sepersekian detik,  kelompok lawan berlari mendekat. Batu-batu berterbangan salto di udara.


"Wah, anak-anak pada tawuran nih!" Mamang cilok menghindar, menjauhkan dagangannya dari kerumunan anak-anak. Tak mau rugi banyak, lari sejauh-jauhnya. Bukannya dilerai, padahal cuma anak SMP.


Tak ada tempat untuk Agah bersembunyi. Lawan makin mendekat, dua anak SMP G bahkan sudah ada yang menendang anak SMP T. Ada juga yang sudah saling mengayunkan balok kayu.


Agah menghindar batu kecil yang melesat hampir mengenai pundak. Dari kejauhan, Agah melihat wajah yang ia kenal. Wajah yang dari dalam kandungan menemani dan saling berebut ruang rahim ibunya.


Kaki Agah tak bergerak. Tangan bergetar memegang tongkat kasti yang masih tersembunyi di belakang.


Agah mematung.


***