T

T
Jurig Tawuran



Selalu tampil di garis depan dan bernyali raksasa. Itulah alasan Deden meski bertubuh kurus ceking disegani anak laki-laki di sekolahnya.


Jangan berpikir tentang perang melegenda, garis depan yang dimaksud adalah garis depan perang antar anak SMA. Perang paling tak berguna dalam sejarah manusia.


Gerimis rintik tak menyurutkan dua kelompok. Bertahan, mereka berniat melanjutkan rencana tawuran. Posisi makin dekat, batu pertama dilempar. Batu berikut berlintasan di udara.


Penyebab tawuran adalah sebotol pilox. Tulisan nama SMA B tempat Deden sekolah, ditindas dengan coretan pilox nama SMA K. Perang dingin terjadi, berbuntut kabar burung penyerangan SMA B ke SMA K.


Anak di jarak paling dekat menonjok lawan yang dibalas tendangan. Deden merangsek masuk, melayangkan bogem ke pipi anak di pihak lawan. Kaki kerasnya menjegal lincah. Lawannya jatuh terjungkal.


Mengambil batu dari tas, Deden menarget anak bertopi putih. Batu melesat mengenai pundak. Mundur sejenak ambil ancang-ancang. Deden mengambil batu kedua, melempar sekuat tenaga. Satu anak terkena bagian dada.


Tangan Deden menangkis ketika balok kayu melayang dari samping. Ujung kayu menyisakan goresan mengeluarkan sebaris bercak darah.


Priiiiiiit!


priiiiiiiit!


Nguing! Nguing! Nguing!


Sirine polisi terdengar, formasi dua kelompok anak SMA porak-poranda. Membuang senjata ditangan, mereka kabur tunggang langgang. Sialnya, polisi menghadang dari dua sisi. Memukulkan pentungan hitam ke betis, punggung, dan lengan. Siap menangkap semua remaja tengil yang terlibat.


Suara erangan dari seorang anak memegangi perut bersimbah darah. Deden sempatkan melihat disela pelarian.


"Cepot ketusuk! Cepot ketusuk!" teriakan menyebar.


"Woii! Ada yang bawa piso wooooiii!" Beberapa polisi menghampiri Cepot yang tergelatk di tanah. Darah segar mengalir memerahkan seragam atasan warna putih.


Seorang polisi meletuskan satu tembakan di udara.


Dor!


Semua membungkuk. Berhenti berlari.


Cepot, nama anak kelas sebelah. Deden mengenalnya tapi tak dekat. Dikenal dengan sifat baik dan peduli dengan teman, Cepot hari itu iseng ikut tawuran, sebagai bentuk solidaritas pada kawan-kawan.


Sial tak bisa ditolak, seorang anak membawa pisau dan menusuknya saat anak lain sibuk melepaskan dari kejaran polisi.


Suara tembakan menghentikan semua. Anak yang menusuk reflek membuang pisau ke semak-semak. Aksinya dipergoki seorang polisi dan langsung melepaskan tembakan ke udara.


Dengan sigap, polisi membekuk si penusuk.  Melihat salah satu teman terkapar berdarah-darah di jalan, anak lain shock. Tak ada lagi yang melanjutkan perkelahian. Polisi berhasil membekuk semua yang terlibat tawuran.


“Naik buru!” bentak polisi pada anak terakhir yang menaiki mobil pick-up.


Lima menit duduk berdesakan, empat puluhan anak SMA digiring ke kantor polisi.


“Jalan jongkok semua! Tangan di kepala!” Tak ada yang berani melawan. Menuju lapangan tempat matahari tak terhalang, para remaja dijemur satu jam lebih.


Empat guru datang dari kedua pihak sekolah. Wali murid wajib datang agar anaknya bisa pulang dan keluar dari kantor polisi setelah menandatangai surat perjanjian, kecuali si penusuk yang belakangan diketahui bernama Victor.


Victor tetap berada di kantor polisi, mendapat perlakuan khusus dan ancaman penjara.


Maman menaiki motor Honda Revo hitam. Motor terparkir, masuk ke kantor ia dapati Deden duduk jongkok di lantai bersama puluhan anak lain. Rambut gundul Deden menarik perhatian Maman. Pasti digunduli pak polisi, “Bagus 'lah!" pikir Maman dalam hati.


Setelah mendengar nasihat polisi dan menandatangani surat pernyataan, Maman membonceng Deden pulang. Tak ada satu kata terucap. Serupa adegan film bisu, hening.


***


Deden diam ketika Ela mengeluarkan rentetan omelan dari A sampai Z. Deden menunduk, tak menjawab apapun perkataan uminya.


“Mau jadi apa kamu teh kalo sekolah kerjaannya berantem terus?!” Belum pernah Ela marah pada anaknya, kenakalan Deden kali ini keterlauan jika sampai digiring ke kantor polisi.


Adang dan Agah masuk kamar, mendengar saudaranya dimarahi ibu mereka. Saling pandang tapi tak ada yang berbicara.


Satu jam Ela melampiaskan kesal.


“Dapat untung apa kamu ikut tawuran!”


“Dipikir punya nyawa lima belas apa! Sampai meni nggak takut mati pisan!”


Masih banyak bentakan yang direspon diam dan tertunduk.


Deden salah, ia mengaku.


Tawuran tak ada guna, ia tahu.


Supaya apa ikut tawuran? Deden menyalahkan darah mudanya yang haus adrenalin.


Bagaimanapun ia tetap salah.


Tahu dirinya bersalah, tak melawan perkataan ibunya adalah pilihan terbaik.


Ela, duduk di kursi melihat Deden tertunduk, habis kata.


Maman tak berkomentar atau menambahi omelan, ia biarkan istrinya meluapkan emosi.


Maman selalu dekat dengan putra-nya sejak mereka kecil. Tak pernah marah, membentak apalagi memukul.


Sekalipun Maman sayang pada putranya, salah tetap harus katakan salah. Agar dewasa kelak mereka tahu, orang tua mendidik menjadikan manusia benar. Mengakui salah jika ditunjukkan salah. Bukan membenarkan semua perbuatan.


Marah di puncak ubun-ubun sekalipun tak bisa buat Maman membentak anaknya. Ia pilih mendiamkan, beri waktu merenung.


Air mata Ela mengalir. Bayi yang ia timang belasan tahun lalu sudah besar sekarang. Doa Ela tak muluk-muluk. Jadikan mereka anak sholih. Cukup begitu.


Deden masuk kamar, dua saudaranya belum tidur. Agah belajar, Adang baca majalah otomotif. Deden merebahkan badan yang terasa nyeri dibeberapa bagian, oleh-oleh tawuran tadi siang.


Adang meletakkan tangan di pundak Deden.


“Udah Den ... Waktunya berenti. Kasian Umi ma Abah.” Kata Adang pelan. Tak ada jawaban.


***


Dua hari setelah hari tawuran, kabar meninggalnya Cepot membawa suasana berkabung selama berminggu-minggu di sekolah Deden. Tak terbayang bagaimana perasaan kedua orang tuanya mendapati anak yang pagi berangkat sekolah, pulang jadi korban penusukan.


Victor si penusuk dihukum penjara dan otomatis dikeluarkan sekolahnya.


Seperti dibenturkan ke tembok batu, semua yang ikut tawuran seolah tersadarkan betapa masa muda mereka tersia-sia karena perkelahian yang disebabkan masalah sepele.


Hidup bukan sekedar makan, tidur, belajar, main, dan mati. Kehilangan nyawa sebagai korban tawuran adalah hal paling menyedihkan yang tak bisa disesali jika sudah mati. Meraung-raung di alam kubur siapa peduli.


Deden berpikir lama, merenungi perkataan ibunya. Punya lima belas nyawa, siapa yang kasih?


Setiap manusia hanya dititipi satu nyawa, karena itulah kenapa disebut berharga.


Puluhan siswa berdiri menunduk di makam Cepot. Memandangi batu nisan bertuliskan nama temannya: Zainal Suaib bin Abdul Syukur.


Melihat ibu Cepot yang pingsan berkali-kali setiap melihat siswa berseragam abu putih, mengingatkan Deden pada uminya.


Kalau sudah begini, siapa bisa mengembalikan keadaan seperti semula.


Penyesalan dan permintaan maaf tak lagi bermakna.


Kepergian Cepot, meski tidak terlalu dekat dengan Deden, membuat Deden berhenti tawuran.


Nyawa, masa muda, kesedihan orang tua. Terlalu berharga dipertaruhkan dalam tawuran.


Ingatlah itu wahai pemuda!


***