T

T
Aroma Warteg



Aroma uap talas kukus dan kopi pahit menari-nari Salsa di pawon Umi Njum. Pawon adalah kompor tradisional terbuat dari bata dilekatkan tanah liat yang menggunakan kayu bakar sebagai penghasil api.


Umi Njum, adalah panggilan untuk Ibunya Maman. Meski telah berusia lima puluh tahun, tenaga Umi Njum tidak kalah dengan pemuda yang rajin bayar iuran bulanan di pusat kebugaran.


Badan ringkih Umi Njum kuat memanggul ikatan talas seberat sepuluh kilogram yang ia panen dari kebun miliknya. Talas dipanggul menekan tulang pundak Umi Njum dari ladang sampai ke dapur yang berjarak dua ratus meter, dengan medan naik tanjakan tiga kali dan tutun di pengkolan berbatu lima kali.


Aki Ukun menggigit talas yang masih mengepulkan uap hangat. Dua gigitan, satu sruputan kopi sachet. Nikmat sampai ke sumsum tulang belakang.


Umi Njum baru akan duduk menemani Aki Ukun ketika Maman terengah-engah menaiki tangga kecil dari bambu menuju pintu depan.


“Ada apa Man?” tanya Umi Njum santai.


Maman terhenti, belum sempat menjawab pertanyaan ibunya, Maman melihat ke arah Aki Ukun, terkejut.


Kaki Maman terasa lemas, perasaan panik ketakutan tiba-tiba terlepas ketika melihat Deden berada di pangkuan Aki Ukun.


”Dedeeeen!” seru Maman melepas penat.


Deden si pria kecil pemilik jurus putaran seratus delapan puluh derajat ternyata tidak diculik, tapi dibawa oleh sang kakek yang tinggal sejauh empat rumah dari rumah orang tuanya.


Anggap saja itu sebagai kejadian epik pertama dalam hidup Deden.


***


1997


Sudah tiga hari Adang si anak berkaki panjang terserang gelombang demam pasang surut. Pagi turun malamnya meninggi, keesokan paginya turun landai dan tengah malam naik meroket.


Ela sudah membawa ke dokter di puskesmas terdekat. Menuruni jalan terjal berbatu, karena jalan utama perkampungan belum di aspal dan belum ada angkutan umum lewat untuk mengangkut warga.


Ela diantar Maman ke puskesmas dengan motor bebek kebanggaannya.  Honda C70 produksi tahun 1969 dengan kapasitas mesin 71,8.  Motor yang sama yang Maman gunakan untuk mengantar istrinya melahirkan dua tahun lalu.


Dokter meresepkan parasetamol untuk menurunkan demam, tetapi tiga hari demam Adang tidak juga mengundurkan diri.


Di usia dua tahun terlihat perbedaan mencolok dari ketiga anak kembar tersebut.


Biasanya orang akan susah membedakan anak-anak yang terlahir sebagai saudara kembar, namun kasus kelahiran anak-anak Maman merupakan kelahiran fraternal alias kembar tidak identik, jadi wajah ketiga anak tidak mirip.


Masing-masing punya wajah berbeda, jenis rambut, warna kulit, struktur wajah, semua beda. Membedakan mereka seperti mencari beda antara nasi kuning lauk perkedel dengan nasi goreng lauk telur ceplok.


Terlalu mencolok.


Siang menjelang sore, Maman bersama beberapa buruh bangunan lain menggali tanah membuat pondasi rumah salah satu warga. Agah dan Deden berlarian mengacak-acak kamar Umi Njum, sementara Adang masih terkulai lemas dengan wajah berwarna maroon karena demam tinggi.


Umi Njum inisiatif membantu Ela mengasuh dua anak yang sehat agar menantunya tidak terlalu lelah menjaga anak yang sakit.


Suara Agah dan Deden bermain di halaman rumah dengan pengawasan Aki Ukun terdengar sampai dapur Umi Njum.


Umi Njum mengusap air mata yang memburamkan pandangannya. Apa gerangan yang membuat Umi Njum menangis?


Sedih?


Umi Ujum menangis karena zat propantial S-oksida menguap ketika pisau Umi Njum mengiris bawang merah, memicu kelenjar lakrimal mengeluarkan air mata.


Umi Njum meletakkan irisan bawang merah di piring kecil dan menuangkan minyak kletik tradisional buatan sendiri. Segera ia menuju ke rumah anak Maman.


Ela tampak gelisah. Umi Njum mendekati cucunya yang masih tidur, melepas baju Adang kemudian membalurkan campuran irisan bawang minyak kletik sambil memijat pelan bagian perut serta punggung Adang.


Sepersekian detik, semerbak aroma bawang merah memenuhi kamar.


Resep leluhur dalam menangani anak demam dipraktekkan Umi Njum. Tidak tertulis di atas prasasti sejarah apalagi resep dokter, namun cara klasik terkadang lebih ampuh.


Terbukti, keesokan hari Adang mulai menunjukkan tanda-tanda ingin bermain dan makan.  Baluran bawang merah dan minyak kletik tidak diulang lagi, karena demam Adang sudah pergi tanpa pamit esok harinya.


Tidak ada gejala efek samping serius dari terapi bawang merah kecuali satu, menyebabkan aroma badan anak, sprei, selimut dan kamar menjadi bearoma sama dengan dapur warteg Bu Ningsih.


Beberapa hari kemudian, Adang ceria lompat-lompat melempar sandal mungil miliknya pada cicak di dinding rumah.  Tertawa ceria, tampak benda putih menyembul dari daging gusi.


Ah, ternyata demam yang berhari-hari datang bertamu adalah pesan alamiah gigi susu yang menumbuh.


Jika Adang demam berhari-hari karena gigi susu yang tumbuh, Deden dan Agah tidak mengalami hal serupa.


Sama rahim dan sama makanan tidak membuat anak kembar punya gejala dan sistem imun sama.


Begitu pula dengan rasa sakit, datang silih berganti. Setelah Adang demam, ganti Deden mencret, berganti dengan Agah yang gatal-gatal. Terkadang mereka kompak menunjukkan gejala kaligata.


Wajib miliki stok sabar menggunung dalam mengasuh tiga balita. Terlebih balita laki-laki yang tingkahnya tidak kalah heboh dengan penari barongsai di perayaan Imlek.


Hujan gerimis membawa pasukan kabut penuhi udara kebun. Air di kamar mandi sedingin es, jika memasukkan kaleng minuman soda setengah jam ke dalamnya, kaleng berubah sedingin es.


Tidak perlu kulkas untuk nikmati minuman dingin, tidak perlu gumpalan es batu untuk membuat es teh manis. Tinggal saja di kaki Gunung Beser, alam akan beri suhu lemari es secara gratis.


Hujan membuat semua orang pilih diam di rumah. Maman menyelimutkan sarung duduk merapatkan lutut dan paha, Ela membuat ubi goreng di dapur, sementara tiga anak kembar tidur pulas.


Suara dengkuran kecil Agah tidak terdengar. Agah bangun sementara dua saudaranya masih tidur pulas. Langkah kaki kecil membawa Agah ke dapur karena haus.


Ela tak menyadari salah satu anaknya sudah bangun dan sedang memandanginya dari pintu masuk dapur. Haus, tanpa suara Agah meraih botol plastik air mineral di dalam rak bawah meja yang terbuka.


Agah baru minum satu tegukan ketika Ela balikkan badan hendak mengantar ubi goreng ke ruang depan. Ela teriak histeris melihat Agah memegang botol.


“Agaaaaah!” Mendengar suara nyaring Ela, Maman langsung lompat ke dapur.


Ela merebut botol dari tangan Agah dan memasukkan ibu jari ke mulut Agah supaya muntah.


“Akaaaaaaang! Gimana ini?” Ela menangis histeris, karena Agah belum muntahkan apa yang tadi diminum.


Maman melihat botol plastik yang direbut Ela, paham apa yang terjadi. Maman menepuk punggung Agah. Cairan tak juga keluar.


Agah terjatuh lemas, buih putih keluar dari mulutnya.


***