T

T
One Punch Clothing



Tempat: Resto One Punch


Waktu: Januari 2020; 16.30 WIB


 


Good morning, son


Twenty years from now


Maybe we'll both sit down


...


Lirik lagu Still Fighting It terdengar jelas di telinga Adang. Lagu yang dirilis sejak tahun 2001 itu baru pertama kali ia dengar ketika masih jadi peserta pelatihan Mercedes-Benz lima tahun lalu.


Dari Resti, ia mengenal lagu itu. Liriknya yang bercerita tentang kasih sayang seorang ayah pada anaknya. Lagu itu membawa ingatan Adang pada Maman, abahnya yang berpulang lima tahun lalu.


“Selamat sore!” Suara Deden ramah menyapa pelanggan yang datang.


“Pak Johan! Sehat, Pak?” Adang mendengar Deden menyebut nama yang akrab di telinga. Adang mengintip memastikan.


Benar. Pak Johan datang bersama Bu Sofia dan Ken anak laki-laki mereka berusia sebelas tahun. Adang keluar dari dapur menghampiri mereka.


“Hari ini bawa pasukan lengkap Pak,” Adang tersenyum mengacak rambut Ken.


“Iya, kebetulan lewat habis jemput Ken. Ibu juga sudah lama tak kesini,” jawab Pak Johan. Bu Sofia mengangguk membenarkan.


“Silakan Bu, pilih tempat yang mana saja,” Agah mempersilahkan.


“Iya nih. Udah kangen sama sambel bawang kalian.” Menggandeng Ken ke set sofa di ujung yang berdekatan dengan taman.


“Gimana cabang yang Surya Kencana Pak? Lancar?” tanya Adang setelah Bu Sofia duduk meninggalkan Pak Johan bersama tiga pemilik resto.


“Lumayan. Banyaknya orang Jakarta yang datang,” jawab Pak Johan.


“Soalnya udah jadi destinasi wisata kuliner di situ Pak,” kata Agah.


Adang kembali ke dapur setelah minta ijin Pak Johan, melanjutkan mengupas bawang merah bersama Luki, salah satu staf resto.


Everybody knows


It sucks to grow up


And everybody does


It's so weird to be back here


Let me tell you what


The years go on and


We're still fighting it


We're still fighting it


You'll try and try


And one day you'll fly


Away from me


Adang tak bisa menahan diri bersenandung. Seandainya abahnya masih hidup, pasti akan bangga melihat apa yang sudah mereka capai.


***


Adang keluar dari kamar kos, terkejut mendapati Resti berdiri tepat di depan pintu nyengir.


“Baru mandi lu ya?” tanya Resti.


“Nih!” Adang memberikan baju dalam plastik. Resti langsung membuka dan mengepas kaos warna hitam.


“Kegedean! Lu bukan yang milih?” Resti protes.


Adang melihat gadis ceria berkerudung hitam di depannya. Hampir tiga tahun Adang mengenal Resti sebagai sesama penerima beasiswa pelatihan yang diberikan Mercedes.


“Gua bagian terima doang. Ini juga dititipin ke gua karena kos gua deket ma rumah lu.” Resti melipat kembali kaos mengangguk mendengar jawaban Adang.


“Kalo udah sana pulang. Gua mo tidur lagi.” Adang berbalik membuka pintu tapi langkahnya terhenti karena Resti menarik kaos oblongnya.


“Bentar! Traktir bakso dulu di depan.” Resti memasang wajah imut.


Resti adalah gadis pertama yang paling banyak bicara pada Adang. Sejak SD Adang tak pernah dekat dengan anak perempuan. Masa SMP dan SMA-nya banyak dihabiskan bersama Tono.


Hubungan Adang dengan teman-teman perempuan sebatas kenal karena sekelas, itupun jarang bicara kalau tak terpaksa. Dua puluh orang beasiswa didominasi oleh para pemuda, empat orang di antaranya adalah perempuan, Resti salah satunya.


Sejak pertama bertemu, Adang mengenal Resti sebagai gadis aktif, ceria, mudah dekat dengan siapa saja dan hobi melucu. Entah untuk mencari perhatian atau memang karakternya begitu, Keberadaan Resti membuat suasana menyenangkan.


“Kenapa harus gua yang traktir?”


“Bejo di kosannya.”


“Ya iya gua tahu! Sekarang gua di sini ya minta traktirnya sama lu. Kalo gua di kosan Bejo ya minta traktirnya sama Bejo ‘lah!”


Perempuan memang seringkali menyusahkan, tak pernah mau kalah. Adang tak bisa menolak. Ia masuk dalam kamar kosnya.


“Kok masuk lagi?” Resti menarik kaos Adang lagi.


“Mau ambil dompet dulu!” Resti tersenyum mendemgar jawaban Adang.


Ada lima orang pengunjung warung bakso Sido Sugih milik Pak Sugih. Warung bakso yang terkenal enak di sekitar tempat pelatihan. Bakso berisi hati ayam dan sambal cabe menjadi ciri khasnya. Kesukaan Resti adalah bakso goreng. Bakso digoreng diberi kuah seperti bakso pada umumnya.


Adang memperhatikan Resti lahap makan. Tak ada yang istimewa dari paras Resti, warna kulit kuning langsat membuat penampilan Resti tak jauh beda dengan gadis-gadis lain.


Namun, sikap konyolnya membuat siapa saja betah main atau berbicara dengannya. Resti melihat Adang yang melihatnya. Pandangan mereka bertemu sebentar, Adang segera kembali menikmati baksonya.


“Itu bukan?” tanya Resti.


“Hah?”


“Kaos yang lu jual,” Resti menunjuk kaos warna abu tua sablonan yang Adang pakai.


Adang mengangguk.


“Lu yang bikin?” Menyuap bakso besar Resti membuka mulut lebar.


Agah mengangguk.


Kepergian abahnya enam bulan lalu membuat Adang harus lebih jeli cari peluang mencari nafkah. Berharap setelah pelatihan usai, ia akan direkrut perusahaan untuk bekerja. Tiga bulan ke depan pelatihannya akan berakhir, dan kini ia malah disibukkan dengan jualan kaos.


Seperti Agah, produk sambal Deden juga dititipkan pada Adang. Menawarkan pada teman-teman dan kenalan sekitar, termasuk menitipkan di warung bakso Sido Sugih yang sering Adang kunjungi.


Melihat Deden menekuni bisnis sampingan, membuat Adang mulai terpikir bisnis apa yang sesuai dengan dirinya. Adang kebingungan. Suatu hari ia mendapat ide ketika bertemu Tono dan Jae yang hadir di pemakaman Maman, abahnya.


Dari obrolan iseng tentang menjamurnya distro di daerah sekitar Universitas Pakuan Bogor, Jae menawarkan Adang ikut belajar membuat sablon.


Membuat kaos sablon dengan desain sendiri. Adang tertarik. Dua hari ikut Jae belajar sablon pada seorang teman, Adang belajar membuat sablon di atas kaos polos bahan katun combed yang dibeli di pasar Tanah Abang dengan harga murah.


Menyisihkan uang hasil kerja sambilan di toko otomotif, Adang membeli peralatan sablon. Jika hari libur tiba, ia akan menghabiskan waktu di kosan untuk membuat sablonan.


Sablonan pertama tak rapih, sablonan ketiga cat kurang nempel, sablonan kelima Adang mulai temukan trik yang tepat. Setelah percobaan berulang menggunakan kaos biasa, Adang berniat membuat produk kaos sablon dari bahan yang berbeda.


Pertengahan tahun 2014 bisnis kaos diramaikan dengan bahan katun bambu. Bahan katun bambu adalah bahan terbuat dari campuran kapas kualitas terbaik dengan benang dari serat bambu.


Kelebihan serat bambu adalah anti bakteri, menyerap keringat dengan baik, anti bau, anti listrik statis serta bisa di daur ulang. Kain katun bambu cocok untuk kulit sensitif karena strukturnya lembut, elastis, tahan lama serta sejuk meskipun digunakan di bawah sinar matahari, kerena daya tembus cahaya UV di serat bambu dua puluh persen lebih rendah dibanding bahan lain.


Menggunakan katun bambu sebagai bahan kaos, tentu menjadikan harga kaos lebih mahal.


Jika harga produksi lebih mahal, harga jual pasti mengikuti. Adang memikirkan cara bagaimana agar produknya tetap bisa terjual meskipun dibandrol dengan harga mahal.


Kaos produksinya memiliki kelebihan yang ada pada serat bambu. Hal itu membuat Adang percaya diri tetap akan ada konsumen yang tertarik karena harga berbanding lurus dengan kualitas produk. Ada harga ada rupa.


Adang coba pesan kaos polos bahan katun bambu secara online selusin, kemudian ia sablon sendiri di sela waktu libur. Tak disangka, proses sablon lebih mudah dan hasil yang didapat memuaskan dibanding kaos bahan katun combed.


Puas dengan hasil sablonan dan kenyamanan bahan kaos, Adang percaya diri memulai usaha clothing dengan merek One Punch.


Tak mau mikir lama, Adang memakai nama brand yang sama seperti yang digunakan Deden. One Punch.


Setiap minggu, dua belas kaos bisa Adang produksi. Untuk kemudian dijual secara online dan tawarkan langsung pada teman-teman.


Dua belas produksi pertama ludes. Produksi kedua ia kirim ke Bandung untuk dijual Agah. Produksi ketiga ia bawa ke Bogor untuk dijual Deden.


Hampir selalu ludes. Adang optimis dengan rintisan bisnis yang dibantu para saudaranya. Ia mulai beranikan diri membeli bahan dasar kaos dalam jumlah besar untuk menghemat biaya produksi dan memberi persentase keuntungan lebih besar untuknya.


Sejak itu, Adang terkenal sebagai pemilik merek clothing One Punch. Produknya bertengger di gantungan etalase beberapa distro di Bandung dan Bogor berkat usaha Agah dan Deden mendatangi tiap distro dari pintu ke pintu.


“Gimana?” tanya Resti. Adang melamun tak mendengar perkataan Resti.


“Apanya?” Resti berdecak sebal. Panjang lebar ia bicara dianggap radio rusak tak didengar.


“Ayah aku mau pesen kaos buat acara gathering perusahaan tempat ayah aku kerja. Perlu sekitar lima puluh biji gitu. Lu bisa terima order ga?” Resti mengulang. Adang berpikir sambil melihat mangkok bakso Resti kosong, tersisa sedikit kuah.


“Ternyata ini toh alasan minta traktir bakso. Mau kasih orderan?” timpal Adang. Resti menaikkan alis isyarat menunggu jawaban.


“Oke.” Resti tersenyum lebar.


Ponsel Adang bergetar lama, ada yang menelpon. Nama Agah muncul di layar ponsel.


“Ya, kenapa Gah?”


“Gua mau ke Koreaaaaaa. Hahahahahah!” terdengar suara Agah tertawa bahagia.


“Korea?” Adang tak mengerti. Setelah suara tawa panjang terdengar, tampaknya Agah tak mendengar pertanyaan Adang. Agah mengakhiri panggilan. Adang menggeleng, menyadari betapa tak jelas saudaranya itu.


Satu tempat yang menarik perhatian Adang. Korea.


***