T

T
One Punch for Corona



Maret 2020


Deden mengetukkan jari ke meja. Tampak sekali ia gelisah. Tahun dua ribu dua puluh baru saja mulai, pukulan gelombang dahsyat memukul usaha mereka. Memaksa One Punch rehat karena mengalami resesi.


Pertengahan 2018 sampai akhir 2019 adalah fase keemasan bagi One Punch.  Satu tahun setengah roda berputar bawa mereka pada posisi puncak. Satu demi satu cabang bermunculan, baik cabang gerobak ataupun cabang resto. Penjualan meningkat pesat. Sampai-sampai mereka bisa mengumpulkan untuk membeli rumah Aki Ukun.


Mereka tak ingin jadi benalu bagi kakeknya, rumah dibeli dan uang sepenuhnya diserahkan pada Aki Ukun. Deden membuka buku tabungan pada Aki Ukun, jari menunjuk angka saldo terakhir.


“Yang di atas ini uang bayaran sewa tiap bulan. Deden simpen disini juga, Ki. Kalau yang di bawah ini uang bayaran beli rumah Aki,” Aki Ukun tak mampu menolak keinginan cucunya.


Berkali ia bilang untuk memakai rumah itu tanpa perlu bayar sewa apalagi membeli, tapi Deden dan Adang memaksa.


“Aki gunakan uang itu buat yang lain. Kalau mau Aki beli rumah untuk disewakan lagi. Tinggal tetap di sini bareng Deden. Atau bisa juga Aki wakafkan. Semua terserah Aki, karena itu hak Aki," Deden mengelus punggung kakeknya yang mengangguk pelan.


Berita munculnya jenis virus baru corona yang lebih kuat dari Sars menjadi pukulan telak dunia. Ya, dunia. Semua negara dipaksa menutup akses keluar masuk warga dan pendatang demi memutus mata rantai penularan.


Berawal dari daratan Wuhan, dalam waktu singkat mengglobal hingga ke seluruh daratan Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. Tak ada satu ruangpun ditinggalkan. Puluhan negara mengambil langkah lockdown, memaksa warga berdiam di rumah dan melakukan aktifitas luar seminimal mungkin.


Toko-toko ditutup, mall, tempat makan, tempat wisata, kantor pemerintahan, bahkan perusahaan. Hanya tersisa rumah sakit dan toko kebutuhan sehari-hari diijinkan buka dengan durasi waktu operasi terbatas dan protokol kesehatan wajib dipenuhi.


Semua perusahaan wajib memgikuti kebijakan work from home. Begitu juga dunia pendidikan, sekolah diliburkan, pembelajaran dilakukan secara online, school from home.


Mahkluk tak nampak mata itu, menyebabkan resesi ekonomi global. Jutaan usaha bangkrut, ratusan juta orang kehilangan pekerjaan, diberhentikan tanpa pesangon.


Jalan-jalan sepi serupa penggambaran dalam film zombie. Fasilitas tempat wisata rusak dengan sendirinya, berkarat lama tak terpakai. Suasana jam enam petang tampak seperti jam dua dini hari, sepi dan mencekam. Roda ekonomi berhenti.


Sementara, laporan jumlah orang terinfeksi terus meningkat tak terkendali, jumlah korban meninggal meroket terutama untuk usia lansia. Dunia kalang kabut karena hanya bisa lakukan penanganan korban semaksimal mungkin tanpa tahu obat dan vaksin untuk menggempur virus ini.


Kemanusiaan mendapat pukulan telak dalam menangani korban meninggal. Tak ada sentuhan, tak ada keluarga boleh mendekat menyentuh apalagi memeluk. Melepas kepergian kerabat dan sahabat yang terinfeksi virus dari jarak jauh. Melihat peti mati dan pemakaman dari kejauhan.


Deden duduk di dalam resto seorang diri. Melihat kursi dan meja kosong. Pintu tertutup, dalam kegelapan ia berusaha memikirkan rencana lain yang bisa ia ambil untuk menyelamatkan bisnisnya.


Sejak diperlakukan peraturan physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sebagian besar usaha tutup, termasuk rumah makan. Tak terkecuali One Punch. Pak Johan menyarankan untuk bersabar dulu. Selama ini mereka sudah bekerja keras tak berhenti seperti berlari, mungkin sekarang waktunya rehat.


Cabang gerobak milik Pak Johan juga tutup. Tak tersisa. Pegawai diberhentikan sementara dengan membayar mereka dua kali gaji sebagai pesangon. Beruntung Adang masih bertahan dengan pekerjaannya. Puluhan orang dipaksa pensiun dini dan diberhentikan. Adang merupakan salah satu yang beruntung menjadi pegawai yang dipertahankan. Sementara Deden sejak tahun lalu berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan fokus pada usaha One Punch.


“Kita rehat dulu Den. Jangan terlalu dipikirkan. Masih harus banyak bersyukur, sekalipun tak bisa pertahankan mereka, setidaknya kita masih bisa beri hak pesangon pegawai,” ucap Adang di suatu sore.


Cabang lain tak jauh beda, semua pemilik cabang menghentikan operasional. Tak bisa mereka mengeluh pada One Punch pusat, yakni Deden dan Adang, karena mereka pun paham, semua bukan karena kesalahan menejemen. Tapi karena serangan corona.


Siapa yang bisa mengelak saat ini. Tak ada yang mampu, tak ada yang bisa. Mengikuti pendapat Pak Johan dan Adang, Deden berusaha tenang. Mungkin benar, inilah saat rehat.


“Masih banyak yang harus disyukuri,” kata Adang di hari aturan PSBB diterapkan, “kita tak keluarkan biaya sewa karena rumah sudah jadi milik sendiri, kamu masih ada penghasilan dari youtube meskipun tak banyak, setidaknya cukup untuk sekedar mengganjal perut serta bayar tagihan listrik dan air,” Adang tahu Deden terpukul dengan perubahan mendadak bisnis One Punch yang Deden rintis dari awal.


“Agah juga masih bekerja dan siap sedia membantu jika dibutuhkan. Kita saling bantu, jika kamu perlu apa-apa bilang saja. Aku masih dapat gaji dari perusahaan.” Mendengar perkataan Adang, Deden menghela napas.


Adang selalu punya cara pikir sederhana, selalu lihat hal positif untuk disyukuri agar tak berlarut dalam kesedihan dan stres.


“Kalau sudah berlalu pandemi ini, gimana kalo kita jadwalin naik gunung lagi?” ajak Adang merangkul saudaranya.


“Ajak Tono dan Bang Jae,” balas Deden.


Tono bekerja sebagai staf personalia di perusahaan obat dan menikah tiga bulan lalu, Jae yang masih betah melajang menjalankan bisnis sayur dan lele organik.


“Kita ikuti saja protokol kesehatan, sambil melakukan apapun untuk saling bantu.” Deden menghabiskan tegukan terakhir kopi susunya yang sudah dingin.


Dalam masa rehat resto, Fadli lebih banyak disibukkan dengan panggilan service elektronik oleh pelanggan yang ia peroleh dari iklan mulut ke mulut.


Awalnya Marko yang tahu Fadli bisa perbaiki kulkas, Marko meminta Fadli memperbaiki kulkas tempat penyimpanan daging miliknya. Dari Marko, Fadli mendapat panggilan perbaikan lain untuk mencuci AC dari rumah ke rumah. Begitu selanjutnya.


Jika biasanya panggilan harus menyesuaikan dengan jadwal kerja di One Punch, dimasa PSBB Fadli bisa membuat janji kapanpun ia mau. Lumayan untuk tambah uang makan harian. Yang penting ada usaha dan tidak larut dalam keadaan. Biarpun wabah corona tak kunjung usai, jangan sampai wabah putus asa menjangkiti.


Banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan, usaha-usaha kecil bangkrut tak mampu bertahan, membangunkan kesadaran Deden dan Adang untuk saling berbagi.


“Gah! Mo ikutan ga?” Adang menelpon Agah yang tinggal dan bekerja di Bandung.


“Apaan?”


“Mau bagi-bagi sembako sama duit buat orang-orang, juga aat-alat medis buat di rumah sakit.”


“Hayu atuh! Boleh-boleh Tapi ogut ga bisa balik Bogor euy!"


“Sante we, transfer we duitna,” Adang terkekeh.


“Okay!”


Adang mengakhiri panggilan. Tiga bulan setelah wisuda Agah mendapat pekerjaan di perusahaan ekspedisi pengiriman paket sebagai staf keuangan. Satu tahun setelah diterima bekerja, Agah mencoba buka gerobak One Punch cabang Bandung yang dibuka di daerah kampus Unpad Jatinangor dan Pati Ukur dari hasil menabung sebagian gajinya.


Agah mendapat kenaikan jabatan sebagai supervisor setelah dua tahun bekerja. Seperti halnya Adang, nasib baik bagi Agah karena tak menjadi salah satu pegawai yang dirumahkan.


Pandemi membuat Agah, mau tak mau menutup sementara dua cabang gerobaknya. Dua gerobak tersimpan di garasi rumah sederhana yang ia tempati.


Ketika mendengar Agah diterima kerja di Bandung, Deden membeli sebuah rumah kecil dengan uang franchise cabang Puncak Bogor. Agah menolak pada awalnya, tapi Deden punya pendapat sendiri.


“Cuma tiga saudara, Abah dan Umi sudah tak ada. Aki juga udah sepuh. Kalo emang ada kenapa ga saling bantu. Kamu juga ikut andil bangun One Punch. Setiap hasil yang kita dapat ya kita bagi bareng.” Ketika Agah bilang akan membuka cabang gerobak di Bandung, Dedenlah yang paling bahagia.


Sedih belum mampu mempertahankan pegawai, Agah tak hendak mengeluh. Apa yang ia dapat sebelum masa pandemi lebih dari cukup.


Hari masih pagi, Adang dan Deden sibuk memasukkan kardus-kardus berisi sembako dan uang dalam amplop. Hari ini mereka akan berkeliling, membagikan bantuan. Aki Ukun yang mendengar rencana pembagian sembako, menyerahkan ATM miliknya pada Deden.


“Ambil Den, Aki ikutan.” Singkat tapi jelas, Aki tak pernah melewatkan kesempatan untuk berbagi. Uang yang selama ini ia dapat dari sewa rumah dan pembayaran pembelian rumah oleh Deden masih utuh tak tersentuh. Aki Ukun berpikir, terlalu tua baginya menimbun uang. Alirkan saja biar manfaat dan berkah terus mengalir.


Lima puluh kardus berisi sembako, empat kardus berisi baju APD yang akan diserahkan ke rumah sakit rujukan Covid memenuhi Daihatsu Grand Max yang ditempel stiker One Punch memenuhi badan mobil. Siap dibagikan. Target penerima adalah duafa, pedagang kecil, anak yatim, juga keluarga yang kepala keluarga di-PHK, guru honorer serta guru ngaji.


Kloter pertama siap berangkat, rencananya seminggu sekali mereka akan melakukan aksi berbagi yang diberi nama One Punch for Corona.


Seperti biasa, Deden membuat video dan dokumentasi aksi dan dibagikan di situs dan media sosial One Punch. Wajah penerima donasi sengaja ditutupi untuk menjaga harga diri penerima agar mereka tak malu.


Tak disangka, dalam dua malam, ratusan komentar bertanya nomor rekening yang digunakan untuk pengumpulan bantuan. Puluhan orang ingin turut serta. Adang dan Deden tak menduga akan medapat respon antusias.


Ketika hampir semua orang kesusahan, masih banyak yang punya keinginan menyisihkan sebagian rejeki bagi sesama.


Perputaran bisnis mungkin sedang melambat, ekonomi melayu, dan kegiatan sehari-hari dipaksa berhenti. Tapi hati nurani tetap hidup, harapan terus menyala, keinginan saling berbagi bahagia tetap terpancar.


Gelombang kebaikan tak bisa dibendung. Apapun nama mahkluk yang menyerang, semangat tak boleh mati. One Punch for Corona!


***