
Api dari hau, kompor tanah liat berkilat-kilat jilati bagian bawah wajan. Hangatkan dapur dingin karena udara pagi membawa embun dari luar,
Jemari Ela tangkas mengupas tiga belas siung bawang merah. Kenapa harus tiga belas siung? Suka-suka Ela, 'kan dia yang masak. Dua cabe rawit keriting kriwil dibuang tangkainya, untuk menyesuaikan level pedes ramah anak.
Tutup ujung pipa yang terbuat dari kayu dilepas, air dikucurkan, bawang merah dan cabe dibolak-balik menghilangkan kotoran menempel. Belum ada jaringan PAM masuk sekitar wilayah Gunung Beser. Air yang mengaliri rumah warga adalah sumber mata air yang dialirkan melalui pipa.
Beberapa rumah sudah menggunakan kran, sebagian lagi masih menggunakan pipa dan hanya ditutup kayu berbalut kain untuk menyumbat aliran air, seperti yang ada di rumah Maman dan Ela.
Jangan tanya bagaimana dingin airnya. Sedingin air kulkas dengan warna jernih dan rasa segar. Meski begitu, tidak ada warga yang merebus air untuk mandi. Semua mandi apa adanya. Air dingin otomatis membuat bibir bergetar. Untuk menyiasati hal itu, kebiasaan mandi di waktu agak siang adalah hal lumrah.
Kembali pada kegiatan Ela di dapur. Minyak dipanaskan, Ela mengukur suhu menggunakan telapak tangan diletakkan di atas wajan berisi minyak. Untuk mengukur seberapa panas. Bukan mencelup, tapi hanya mendekatkan.
Dirasa cukup panas, Ela memasukkan bawang dan cabe kemudian diaduk sebentar agar minyaknya rata. Kalau khawatir kena cipratan minyak, tutup saja wajan dengan tutup panci seperti yang Ela lakukan.
Ela menunggu beberapa saat sampai suara ledakan cabe dari dalam wajan terhenti. Ia buka tutup wajan. Bawang merah kecoklatan jadi lembek, cabe tidak keras lagi. Ela mengangkat wajan, bawang dan cabe lalu diletakkan di cobek batu.
Garam, gula, dan sedikit micin ditaburkan di atas bawang dan cabe. Lengan daster Ela singsingkan, tenaga disiapkan dan mulai mengulek. Pelan sampai halus. Kenapa harus pelan? Supaya tidak menciprat ke mata. Bisa pedih habis air mata tak berhenti sengsaranya.
Semua bahan sudah diulek halus, Ia tuangkan sedikit minyak panas ke cobek dan mencampur sampai rata. Sambal bawang sederhana ala Umi Ela jadi. Aroma bawang dan warna kecoklatan bawang goreng setengah matang menggiurkan.
Ela membawa cobek ke ruang tamu sekaligus ruang keluarga dan ruang makan. Maman dan kembar tiga menunggu. Uap nasi panas mengepul. Tempe tahu goreng kering kecoklatan, telur dadar yang dibuat dari tiga telur dikocok digoreng dipotong jadi lima, dan kerupuk bulat berjaring masih terkemas di dalam plastik, siap jadi lauk menemani.
Ketika Ela datang, semua mata berbinar-binar. Empat lambung lapar bersorak. Agah bertepuk tangan suka cita. Deden mengetukkan sendok dengan piring, Adang tak sabar menyendok nasi ke piring.
“Doa dulu Dang," kata Maman menghentikan Dadang. Semua anggota keluarga duduk memutari menu sarapan pagi hari, Maman memimpin doa. Suara burung gereja bernyanyi mematuk mencari makan menemani suasana pagi.
Anak-anak makan lahap, Agah menambah hingga tiga kali. Menghabiskan porsi paling besar diantara saudaranya. Deden si kurus ceking, tambah dua kali.
Di akhir makan, sambal bawang yang tersisa tidak akan diberi kesempatan kembali ke dapur. Kerupuk bulat putih siap dicocol sambal.
“Sambel Umi enaaaaak!" Agah mengacung jempol semangat. Kebahagiaan sederhana Ela: melihat anak-anak lahap menghabiskan makanan, indikasi mereka sehat.
“Alhamdulillaaaah” jawab Ela tak kalah semangat.
Sarapan hari itu adalah menu sehari-hari keluarga Maman. Menu yang diputar-putar sesuai stok bahan di dapur dan kebun. Hari ini nasi panas sambal bawang, hari lain tahu kecap, nasi liwet ikan asin, dan puluhan menu sederhana di setiap harinya.
Sebisa mungkin memasak apa yang tersedia, meminimalkan belanja di tukang sayur berarti
makin sedikit uang yang dikeluarkan.
Adang, Deden, dan Agah menggemari semua masakan ibu mereka, terutama sambal bawang. Di awal perkenalan hanya satu cabe yang ditambahkan. Anak-anak suka, pedas yang tak membakar lidah mereka.
Lambat laun sambal jadi idola. Terkadang sambal bawang satu-satunya lauk menemani nasi putih panas di piring, tentu dengan renyah kerupuk. Bagi kembar bersaudara, segitupun sudah enak. Yang penting ada sambal.
“Umi jualan nasi sambel saja we," kata Adang.
“Kenapa kudu jualan?" tanya Ela.
"Sambel Umi ngeunaaaah! Enaaaaak! Pasti laku!" puji Adang.
Ela tersenyum geli memikirkan anak yang baru kemarin masih bayi sudah bisa memikirkan ide bisnis.
“Semua orang juga bisa masak sambel Dang. Ntar nggak ada yang mau beli sambel Umi," Ela memberi alasan.
Anak-anak mana tahu bahwa semua orang juga terbiasa membuat dan makan sambal. Tidak ada yang istimewa dari sambal bawang, pikir Ela.
Warung Ela yang menjajakan kopi instan dan Indomie tidak bisa dibilang ramai. Terkadang, ketika ada uang lebih Ela menggunakan untuk kulakan produk lain untuk dijual seperti shampoo, sabun, atau jajanan anak-anak.
Sedikit demi sedikit warung Ela menjual berbagai produk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Meski tidak besar, pendapatan dari jualan sangat membantu apalagi saat Maman tidak ada pekerjaan atau panggilan sebagai buruh.
Sambal bawang Ela bukan satu-satunya rasa sambal bawang yang mereka kecap. Sambal bawang Umi Ujum, sambal bawang Abah, dan sambal bawang Aki Ukun adalah varian rasa yang memperkaya cerita indera pengecap mereka.
Dinding dapur menghitam jelaga, aroma kayu bakar dan citarasa makanan menyatu. Inilah rasa yang terpatri dalam ingatan mereka. Kecintaan, kesederhanaan dan rasa rindu kuat menggiring mereka menemukan ide bisnis kelak di usia dewasa.
Jauh ke belakang sebelum bisnis berdiri, di awal fase pubertas menapaki jenjang masa SMP, Kembar bersaudara mempelajari kenyataan baru: menjadi saudara tidak semudah membuat sambal bawang.
***