
Wanita suku Dinka di Sudan Selatan menoreh wajah menggunakan pisau tajam. Demi apa? Demi dianggap cantik. Pisau dicelup tinta. Wajah dipermak tato bercorak. Kaum lelaki suka.
Standar kecantikan setiap daerah berbeda, mengikuti pandangan masyarakat setempat. Bagaimana dengan standar cantik warga Kampung Campaka? Tentu gadis-gadisnya, wanoja wanoja-nya tidak perlu melakukan hal ekstrim seperti yang dilakukan wanita suku Dinka.
Warga Kampung Campaka, terutama yang wanita, hampir semua memiliki standar kecantikan sesuai cara pandang orang Sunda pada umumnya: kulit putih, bersih, tubuhnya wangi, rambut tebal hitam, dan bulu mata lentik.
Kadang, kita menemukan wajah gadisnya, mirip bule. Matanya coklat, kulit putih, rambut pirang.
Ada yang bilang, beberapa warga Kampung Campaka memang keturunan Belanda. Entah sebagai anak dari istri sah, istri hasil simpanan atau hubungan gelap. Karena tidak bisa dipastikan. Banyak orang aneh yang pikirannya dengdek, ngaco, memilih opsi kegelapan mengenai asal muasal gadis bule Campaka.
Ada pula yang cantik bermata sipit. Kalau yang sipit dibilang turunan bule, tentu yang bilang juga kurang waras. Salah satunya Sari.
Bukan. Sari bukan kurang waras.
Sari adalah gadis tercantik, bermata sipit. Sekolah kelas dua di SDN Campaka. Rambutnya hitam panjang. Selalu dihiasi pita. Selain senyum manis, kepintaran Sari menjadi nilai tambah di kalangan anak laki-laki. Tak terkecuali bagi si kembar.
Agah yang pemalu tiba-tiba menjelma patung bila Sari ada di depannya. Deden yang aktif dan selalu ingin tahu, berlaku bagai kuncup daun putri malu.
Setiap Sari lewat anak laki-laki akan saling menggoda, “Sari! Dicariin Asep niiih."
“Siapa yang manggil, kamu kali!" sanggah Asep tak mau kelihatan konyol di depan Sari.
“Sari, dapat salam dari Deden," kata anak lain.
“Nggak kok!" Deden protes.
Dan segala jenis rupa godaan menyapa Sari dari anak-anak yang usianya belum sampai usia puber.
Beda dengan Adang. Ia bersikap cuek. Jika ada anak laki-laki menanyakan pendapatnya tentang Sari, ia selalu menjawab, "Nggak peduli dengan anak perempuan!"
***
Udara dingin memaksa anak-anak berjalan menuju sekolah dengan menyilangkan tangan, mengapit telapak tangan demi mengalirkan suhu hangat dari ketek. Udara dingin menjadikan rasa mulas terasa di perut. Menciptakan konser orkestra di lambung.
Sari merasa tidak enak perut sejak pagi. Sudah dua kali ia ke kamar mandi sebelum jam berangkat sekolah. Namun Sari tetap masuk sekolah karena hari itu ada ulangan harian.
Kertas ulangan dibagikan, pensil dikeluarkan, para murid mulai menjawab soal-soal. Baru tiga soal terisi, keringat dingin merayapi punggung Sari. Di dahi bermunculan buliran air. Mulas membuat wajah Sari pucat.
Angin lambung mendesak mau keluar. Sari memegang perut dan menggigit bibir menahan sakit. Sementara murid lain fokus pada kertas di depan, beberapa anak ada yang bisik-bisik saling memanggil. Ada juga yang pakai isyarat mata untuk saling tukar jawaban.
Sari ingin sekali meminta ijin pada guru, tetapi ia takut jika berdiri, angin yang aman mengambang di usus karena dibantu bangku untuk menahannya malah jadi keluar tak terkontrol. Dilema membuat si pintar Sari tidak fokus pada soal ulangan.
Sepuluh menit berlalu, kaki Sari mulai bergetar. Bukan lagi angin yang ia tahan, tapi cairan lengket ikut antri berdesakan di usus.
Buliran keringat berubah jadi kucuran. Makanan apa yang ia makan semalam, hingga memberikan derita semulas itu, pikir Sari.
Bukan waktu mengingat-ingat, sekarang waktu untuk segera ke kamar mandi. Lagi-lagi Sari ragu. Antara tetap duduk atau segera berdiri berlari. Tak mampu menahan lagi, Sari menangis menutupi wajahnya.
Seisi kelas menoleh ke arah Sari, ibu guru menghampiri mencari tahu. Baru tiga langkah, ibu guru terhenti ketika bunyi pret keras terdengar. Semerbak aroma kotoran yang lama diungkep dalam usus memenuhi ruang kelas beberapa detik kemudian.
Gadis paling cantik di kelas itu menangis sejadi-jadinya. Menangis karena sakit perut dan tentunya karena malu. Seorang anak di pojok tertawa sambil menunjuk Sari.
“Sari kacapirit bu Guruuu!” Suara tawa terdengar membahana.
Ibu guru menutupkan jari telunjuk ke mulut, memberi isyarat anak-anak agar diam.
Sari menangis dan anak-anak lain tertawa sambil menutup hidung. Ibu guru sibuk meminta tolong tukang kebun sekolah untuk memanggil orang tua Sari. Beberapa anak lain menggunakan kesempatan untuk saling tukar jawaban.
Kelas yang tadi sunyi berubah seperti pasar burung. Ulangan harian kacau.
Beberapa saat kemudian ibunya Sari datang dan langsung menggendong Sari yang nangis jejeritan, pulang dengan rok seragam merah berhias pasta kuning kecoklatan di bagian belakang.
Sari pulang, meninggalkan bau tak tertahankan. Ibu guru sampai mau muntah dengan bau peninggalan Sari, anak-anakpun demikian. Ulangan harian dibatalkan.
"Horeee!"
Selama sepekan berikutnya, Sari masih enggan dan malu datang ke sekolah. Ibu guru memberikan anak-anak pengertian agar berhenti mengejek Sari jika ia masuk lagi. Namanya juga anak-anak, sebagian masih bisik-bisik menertawakan.
Seorang yang tak pernah peduli dengan insiden kacapirit itu, dan tak pernah tertawakan atau mengejek Sari adalah Adang.
Begitulah lelaki sejati: sedikit bicara hal tak penting, apalagi untuk mengejek, membicarakan dan menertawakan kekurangan orang di belakang. Terlebih jika seseorang itu adalah orang yang diam-diam ia sukai.
Pantang!
***