T

T
Teman Saudaraku Adalah Temanku



Lampu jalanan berjejer menyala menemani perjalanan mereka menuruni jalur Puncak Bogor yang disesaki antrian mobil.


Motor melaju pelan meski isi ransel berkurang tiga puluh persen. Adang sebisa mungkin mencoba terjaga. Klakson mobil bersautan, lagu khas jalur puncak minggu malam.


Warga saling rebutan gunakan badan jalan setelah wisata habiskan waktu akhir pekan.


Aroma jagung bakar menyusup hidung. Nikmatnya. Memancing perut lapar bunyikan orkestra lambung. Kruyuk kruyuk. Bukan kokok ayam, anggap saja suara perut keroncongan.


“Mau ngopi dulu nggak?" tanya Deden di belakang. Adang menggeleng.


Motor melaju, jalan menurun sepi lumayan sepi.


BRAK!!


Motor oleng, Adang mencoba mengendalikan sekuat ia mampu. Seorang pengendara di belakang menabrak ban belakang motor mereka. Sementara Tono dan Jae sudah jauh tinggalkan mereka.


Motor oleng ke kiri tabrak besi pembatas jalan. Terjatuh, begitu juga Adang dan Deden.


Tiga orang hampiri mencari tahu kondisi. Motor yang menabrak mereka berhenti. Pengendaranya melepas helm segera berlari mendekati Adang dan Deden yang tersungkur.


“A! Gapapa A?” tanya lelaki itu.


Tak melarikan diri dan turun membantu, indikasi ia tak sengaja menabrak. Bisa jadi ia lepas kontrol, pikir Adang.


Adang menggeleng jawab tanya si penabrak, ia merasa perih di tangan, luka terbuka mengalirkan darah dari lengan kanan. Kaki kiri terjepit motor masih kaku digerakkan. Adang melihat Deden coba membantu angkat motor yang menindihnya.


Punggung tangan Deden luka lecet karena gesekan dengan aspal, mengeluarkan sedikit darah dan kulit terbuka.


“Dang, gapapa?” Deden membantu Adang berdiri.


Celana taktikal Adang sobek di bagian betis, terkotori bercak darah, tanda bagian betis mengalami luka lebar.


Deden melihat kondisi motor. Spion motor terlepas satu, lampu depan pecah. Ban depan penyok, tak mungkin dikendarai.


“Ah ... Motor Abah” Deden menggaruk kepala yang gatal.


Lelaki penabrak menyodorkan botol air minum baru ia beli pada Adang dan Deden. Diterima tanpa berkata. Ingin sekali Deden mengumpat, tapi ia terlalu lelah.


“Maaf A, saya lepas kontrol. Ga sengaja” kata lelaki itu pada Adang dan Deden yang duduk di pinggir jalan mencoba mengatur nafas. Deden melihat Adang mengangguk maklum.


Mengumpat, marah atau emosi dalam kondisi kecelakaan tak disengaja lebih melelahkan dari mendaki gunung. Menghabiskan energi dan tak selesaikan masalah. Daripada saling menyalahkan atau baku hantam pinggir jalan lebih baik gunakan energi untuk cari solusi.


“Saya antar ke dokter A, ada klinik dua puluh empat jam di depan.” Coba berniat baik. Kondisi Deden lebih baik dari Adang, meski punggung telapak tangan dan kakinya terasa sakit, Deden masih bisa berdiri. Masih kuat mendorong motor sampai bengkel terdekat.


Jam menunjuk pukul sembilan malam. Lalu lintas masih ramai. Tak berapa lama Tono dan Jae yang berbalik arah mendekati mereka. Kaget dengan kondisi motor dan luka di badan Adang. Tono segera berlari menyebarang.


“Kenapa Dang?" Tono membantu menopang badan Adang.


“Saya yang salah A. Maaf. Hapunten saya nggak sengaja," kata lelaki itu pada Tono.


Deden memperhatikan wajah si penabrak. Wajah yang tidak asing dalam ingatan. Entah dimana, ia merasa pernah bertemu dengan lelaki yang tampak seumuran dengan mereka.


Siapa ya. Kayak kenal. Deden bergumam.


Adang dibonceng Jae menuju IGD klinik dokter terdekat, Tono mendorong motor di belakang, dan Deden dibonceng pemuda itu mengiringi motor Jae.


Dari spion Deden memperhatikan wajah lelaki yang mengenalkan diri dengan nama Agus.


Agus, bukan teman sekolah Deden. Tapi ia merasa pernah melihat sosok Agus dalam balutan seragam putih abu.  Apa mungkin mereka pernah saling lawan di medan tawuran saat SMA. Sepertinya bukan. Deden berpikir keras.


Adang mendapatkan pengobatan untuk luka-lukanya, semua dibayar Agus tunai langsung di kasir klinik. Motor dengan ban penyok tak berdaya.


“Saya yang akan tanggung biaya perbaikannya,” Agus menyerahkan kartu nama.


Pro Oto, Bengkel mobil dan motor terpercaya.


“Kalo boleh, motor saya angkut dibawa ke bengkel itu aja A, itu punya Ayah saya. Saya akan telpon orang untuk ambil motor kesini." Adang membaca alamat bengkel, tertulis nama jalan di daerah Bogor Kota. Tak jauh dari rumah.


“Di belakang ada nomer saya” tambah Agus. Adang mengangguk.


“Gua ikut ke bengkelnya. Buat mastiin” kata Deden direspon anggukan oleh Agus. Jangan percaya pada siapapun yang baru kamu kenal, begitu pikir Deden.


“Ngomong-ngomong, sekolah di Bogor bukan?” Deden penasaran. Ingatannya jarang salah dalam mengenali wajah. Agus mengangguk.


“Baru lulus?” Agus mengangguk. Deden mencoba ingat lagi.


Setengah jam kemudian, mobil box terbuka memasuki tempat parkir klinik. Motor diletakkan di box belakang, sementara Deden duduk di depan. Di depan Agus membonceng Adang, dan di belakang mobil ada Jae dan Tono mengiringi.


Di perjalanan menuju bengkel, Deden tak berhenti mengingat dan berpikir.


Plak!


Deden menepuk keras pahanya sendiri, semangat. Ia ingat!


Wajah Agus pernah ia lihat di halte depan rumah sakit PMI, kasus Yandri teman sekelas Deden yang memalak Agah. Agus adalah teman yang bersama Agah waktu itu. Deden yakin.


Seperti anak kecil belajar puasa mendengar kumandang adzan magrib, tak sabar dan semangat makan apapun di depannya, Dede tak sabar ingin memastikan pada Agus.


"Agah? Itu mah temen temen maen saya A. Kemana-mana bareng” jawab Agus waktu Deden tanya apa ia kenal Agah. Cocok. Benar tebakannya.


"Jangan panggil Aa atuh. Kita mah seumuran” kata Adang.


“Bener?” Adang mengangguk.


“Kita sodara Agah. Inget ga dulu pernah ketemu depan PMI sama yang malak Agah?” Deden menjelaskan.


“Pastesan, dari tadi saya mikir kayak pernah kenal. Ternyata pernah ketemu di depan PMI” Agus mengangguk. Laki-laki di depannya adalah anak SMA kurus yang pecah koalisi sama teman-temannya waktu itu.


“Gua Deden. Ini Adang” Deden megulang menyebut nama mereka agar Agus tak lupa.


“Agah di Bandung kan ya?” Agus memastikan.


Agus tak menyangka anak kurus berwajah tengil yang bertindak sebagai bos waktu itu adalah saudar kandung Agah. Bagaimana bisa Agah siswa rajin, pintar dan baik punya saudara mirip preman. Tapi itu hanya masa lalu. Deden tampak sudah berubah, begitu pikir Agus.


"Ngomong-ngomong, sodara Agah maksudnya sepupuan ya?" Agah tak pernah cerita apapun pada Agus tentang saudara kandungnya.


"Kembar" jawab Adang singkat.


"Hah! Kembar? Siapa yang kembar?" Agus bingung.


"Kita bertiga. Gua, Adang, dan Agah. Kita kembar tiga" jelas Deden santai.


"Hah! Kembar tiga?" Agus tak percaya.


"Emang bener Dang?" Tono yang ikut mendengar percakapan mereka jadi penasaran.


Bertahun-tahun kenal Adang, tak pernah bercerita tentang saudaranya apalagi saudara kembar. Bahkan bertemu Deden baru kemarin pertama kalinya.


"Iya bener. Kita kembar tiga" Adang menegaskan.


"Serius?" Jae ikut penasaran.


"Serius!" jawab Adang dan Deden bersamaan.


Tono, Agus dan Jae mengamati wajah dua orang yang mengaku kembar. Agus membandingkan mereka dengan wajah Agah yang ia ingat. Kembar? Rasa tak percaya membuat Agus geleng-geleng kepala.


"Kembar darimana nya? Muka lu berdua aja ga ada sama-samanya" kata Jae disambut anggukan Tono setuju.


"Lha dibilangin ga percaya. Ya udon lah kalau begitu!" Deden sebal.


"Ya udon. Ya ramen kali!" Jae menimpali.


Agus tak komentar apa-apa lagi. Mencoba meyakinkan diri apa yang dikatakan Adang dan Deden bukan sekedar canda. Tapi fakta di depan mata tak bisa ia acuhkan. Mereka sama sekali tidak mirip.


"Kembarnya kalo diliat dari sedotan di atas puncak Gede kali" Tono tak mau kalah.


"Iya deh. Serah lu!" Adang ikut sebal. Tak ada yang percaya, Adang dan Deden berhenti meyakinkan Jae, Tono dan Agus.


Apa salah kalau anak kembar tak nampak sama? Namanya juga kembar tak identik. Kembar tapi tak sama.


Hari itu lingkar pertemanan mereka bertambah diameternya. Teman Adang, Tono dan Jae jadi teman Deden. Teman Agah, Agus jadi teman Adang dan Deden juga.


Serupa sinetron hiburan ala Indonesia yang punya judul panjang:  Teman saudaraku adalah temanku.


***