
Idul Fitri 2020
“Kalo ini siapa?” tanya lelaki tua yang biasa dipanggil Aki Ukun pada anak muda di depannya. Pemuda kurus berambut ikal sebahu kuncir kuda itu menyelipkan beberapa rambut yang tergerai ke telinga.
“Ini Deden, Ki, yang rambutnya ikal,” jawab pemuda itu sabar.
Aki Ukun mengangguk, lalu menepuk pundak Deden bangga. Mempersilahkan masuk dan menoleh ke arah pemuda berikutnya.
Berkulit putih, badan tambun dengan perut bundit, rambut dicukur cepak gaya siswa taruna baru diterima dan berkacamata bulat.
“Kalo ini Aki hafal, Agah!" kata Aki Ukun sambil terkekeh merasa bangga dengan ingatannya.
“Iya Ki, Agah.” Meraih telapak tangan Aki Ukun dan mencium dengan hormat. Agah duduk dan meninggalkan pemuda terakhir di belakangnya.
Berkulit sawo matang mendekati busuk, badan tinggi besar, brewok tumbuh menerapkan prinsip physical distancing di bagian bawah jambang dan rambut kasar dan kaku dipotong cepak bagian belakang tapi mengembang ke atas bagian depan. Niat mengikuti gaya Elvis Presley tapi gagal karena jenis rambut keriting kribo bawaan sejak lahir.
“Ini Adang, Ki,” kata Adang sebelum Aki Ukun sepat menebak.
“Aaaa ... Iya iya. Adang yang ganteng,” tambah Aki Ukun.
Tiga pemuda itu duduk berdempetan di sofa tua warna merah manis semanis sirup Marjan yang sering muncul di iklan televisi pada bulan Ramadhan. Gaya duduk mereka kelihatan tidak nyaman karena harus berdempetan.
Banyak kursi lain yang bisa diduduki, entah kenapa mereka bertiga memilih berdempetan seperti ikan sarden kalengan dikemas dadakan.
Aki Ukun memperhatikan ketiga cucu laki-lakinya, cucu-cucu yang ia banggakan pada kawan-kawan ketika sarapan di warung bubur ayam Cianjur. Cucu laki-laki, yang dalam pandangan Aki Ukun adalah para pemuda hebat.
Tiga pemuda sukses yang menjalankan bisnis kuliner dan pakaian, sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai seminar bisnis milenial.
"Ki, duduk sini Ki, kita foto-foto dulu," Deden menuntun Aki Ukun ke sofa. Sementara Agah menyiapkan kamera agar bisa mengambil gambar secara otomatis.
Aki Ukun di tengah, dikelilingi tiga cucu ganteng tiada tara.
"Udah siap! Timernya sepuluh detik ya!" Agah berlari menuju posisi dan memasang senyum lebar.
Clik!
Agah melihat hasil foto, tak ada yang buram. Aki Ukun tersenyum tampakkan gigi tua yang masih utuh, tiga cucu duduk di sekelilingnya, pasang senyum lebar. Sempurna.
Gambar foto yang abadikan kebersamaan. Tak terhitung kenangan mereka bersama sang kakek. Aki Ukun makin menua dan mulai pikun, membuat tiga cucunya sedih. Masih ada waktu untuk menjepret kenangan indah, terutama di hari istimewa.
"Hadiah lebaran tahun ini!" Agah berdiri mengumumkan kabar yang baru ia dapat dari ponselnya. Adang dan Agah menunggu.
"One Punch punya cabang di Korea!" Agah menunjukkan gambar dari ponsel sambil bersorak.
"Beneran Gah? Serius?" Deden tak percaya apa yang baru ia dengar.
Tampak seperti anak muda biasa pada umumnya, tiga pemuda penyuka sambal bawang itu telah bekerja keras melalui pergantian masa suka duka. Mengumpulkan batu pengalaman dan pembelajaran untuk membangun usaha bersama, One Punch.
Inilah kisah mereka.
***
Semua bermula ketika suatu malam Ela, seorang perempuan asli Cianjur merasakan mulas terangat melilit, terasa seperti ada yang mendorong tulang belakangnya.
"Kang, kayaknya ini bayi udah mau keluar," kata Ela pada suaminya, Maman.
"Wah, harus buru-buru Neng. Hayu ah, kita ke dokter," kata Maman balik ke kamar mengambil tas kain berisi peralatan yang sudah disiapkan sebulan lalu untuk persalinan.
Sejak masa kehamilan, Maman sudah tahu bahwa di dalam kandungan istrinya terdapat tiga bayi.
Waktu mereka melakukan pemerikaan USG, dokter mengabarkan ada tiga detak jantung terdeteksi dari dalam kandungan Ela.
"Bapak, sepertinya Ibu mengandung anak kembar," kata Dokter Suci yang wajahnya cantik mirip Shereen Sungkar.
"Kembar Dok? Dua?" tanya Ela. Dokter Shereen eh, Dokter Suci tersenyum.
"Tiga Bu." Mendengar perkataan dokter, Maman terdiam lama.
Otak Maman berhenti beroperasi, belum siap dengan banjir kejutan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Sekali melahirkan langsung diberi tiga. Kalau di warung dekat rumah Maman, seringkali ada promo beli tiga gratis satu.
Kali ini doa Maman dan Ela yang sudah lima tahun menanti keturunan agar diberi satu saja bayi oleh Yang Maha Pemberi, malah dikasih tiga.
Minta satu dikasih tiga. Kurang apa coba?
***
Adang, Deden, Agah. Semua adalah nama laki-laki khas bahasa Sunda yang berarti juragan atau majikan atau bangsawan.
Maman bekerja sebagai buruh bangunan di Kampung Campaka, terletak di kaki Gunung Beser Cianjur Selatan.
Sedangkan Ela membuka warung kecil-kecilan di depan rumah berupa imah awi, rumah bambu. Warung yang menyediakan kopi sachet dan fasilitas internet alias Indomie telor tempe penyet.
Meski kecil, tetapi rumah dengan kebun belakang yang ditumbuhi singkong, ubi, pohon asem, pohon jeruk nipis, rempah-rempah, dan sayur-mayur segala rupa adalah rumah milik mereka sendiri.
Rumah sendiri, hadiah dari bapaknya Maman, yang sekarang sudah sah jadi milik Maman.
Rejeki memang begitu, kadang datang lewat usaha keringat sendiri, kadang datang lewat kantong orang yang diberi pada kita.
Rejeki Maman juga datang dari usahanya sebagai tukang mutilasi.
Mutilasi? Anda tidak salah baca, memang tertulis mutilasi.
Kadang mutilasi ayam, kadang sapi, kadang juga kambing. Maman adalah salah satu tukang jagal terkenal di Kampung Campaka.
Kalau musim Lebaran Haji tiba, Maman sibuk memenuhi panggilan diudang kesana kemari. Apa lagi kalau bukan untuk menyembelih hewan kurban.
Apapun itu, yang penting halal dan berkah. Bukan hasil korupsi apalagi hasil dari menjaga lilin sampai pagi.
Mempunyai satu bayi baru tidak mudah untuk dilalui, apalagi punya tiga bayi baru. Demi memberi yang terbaik bagi kesehatan buah hati, Ela bertekat beri ASI eksklusif untuk ketiga bayinya.
Selain lebih sehat untuk tumbuh kembang anak, ASI juga menyehatkan kondisi ekonomi keluarga karena tak perlu dana moneter pembelian susu, terlebih bagi keluarga pas-pasan seperti pasangan Ela dan Mama.
Menyusui tiga bayi membuat Ela selalu lapar tiada henti. Baru makan sepiring nasi dengan tumis kangkung dan tempe goreng, sejam kemudian sudah lapar dan ingin makan daging kambing dengan sayur kol.
Dua bulan pertama kehadiran Adang, Deden, dan Agah adalah fase mengunyah bagi Ela. Aktifitasnya berputar antara makan, menyusui, ketiduran, makan, menyusui, mandi, makan, menyusui ganti popok, makan lagi, makan lagi, dan makan lagi.
Meski begitu, badan Ela tidak berkembang pesat lantaran semua ekstrak makanan disedot dalam bentuk tetesan ASI oleh tiga putra yang tiap hari makin menggemaskan.
Adang berkulit kecoklatan, rambut tumbuh paling lebat. Tidurnya selalu menopang dagu dan badan berukuran paling panjang.
Deden, paling kurus dengan tanda lahir besar di bagian punggung. Meski paling kecil, tingkah pola Deden paling aktif. Bahkan tidurpun tak bisa diam dan seringkali berputar seratus delapan puluh derajat.
Agah berkulit paling bersih dan putih, rambut paling sedikit, paling gemuk ginuk-ginuk dari ketiganya.
Sebagian besar produksi ASI banyak tertampung dalam perutnya. Tidur paling lama. Kalau saja mendengkur bisa dikategorikan sebagai bakat sejak lahir, Agah adalah bayi yang miliki bakat tersebut.
***
Matahari bersinar cerah menebar warna jeruk Ponkam sejak pagi. Tali jemuran di samping rumah terisi cucian warna-warni.
Maman masih berada di kebun mengambil ubi dan beberapa bawang. Sementara Ela ketiduran ketika menyusui bayi-bayinya bergantian.
Maman menengok ke dalam kamar. Dilihat istri tercinta terlelap meskipun sudah mandi. Alunan lagu dari radio sesekali mengeluarkan bunyi kantong keresek bergesekan.
Maman mendekati keluarga kecilnya. Istri dan dua anaknya.
"Dua?" Maman berpikir sebentar.
"Bukankah seharusnya tiga?" Maman menghitung ulang.
Maman gemetar, wajahnya pucat. Segera ia bangunkan Ela.
“Neng! Neng!” Digoyangkan badan Ela perlahan. Ela mengucek mata.
“Kenapa Kang?"
“Satu lagi mana?” tanya Maman dengan wajah pucat menunjuk pada bayi di samping Ela.
“Apanya?” Ela belum sadar sepenuhnya.
“Bayi Neng. Bayi!” Maman tak tahu bagaimana menjelaskan.
Ela melihat bayi-nya tertidur. Ada dua bayi. Menyadari hal itu Ela spontan terduduk.
“Deden kemana?" Setelah melihat beberapa saat, Ela sadar satu bayi yang hilang adalah Deden. Bayi yang hobi berputar seratus delapan puluh derajat.
“Dedeeeeeeeen!” Suara Ela pecah melintasi perkebunan, memantul seperti bola bekel di para-para rumah.
Membuat cicak terbirit-birit dan burung-burung Pipit yang bertengger di ranting pohon asam melonjak terbang.
Deden, kamu dimana Den?
***