
September 2018
Dua piring nasi, dua ayam goreng, satu piring tempe dan tahu goreng, satu piring kol goreng, dan dua minuman yogurt disajikan Fadli. Senyum ramahnya terkembang menghiasi wajah.
“Untuk sambal bisa diambil sendiri di Sambal Corner ya Kak, ada banyak pilihan sambal bawang,” Fadli menunjuk meja di ujung yang diatasnya tersedia tujuh pilihan jenis sambal bawang yang bisa dipilih. Pelanggan mengerti karena mereka sudah pernah datang ke tempat itu sebelumnya.
Adang berdiri di meja kasir memberikan uang kembalian pada pengunjung yang telah selesai makan.
“Terima kasih, ditunggu kedatangannya kembali,” ucap Adang ramah.
Deden sibuk di dapur memasak pesanan berikutnya dibantu dua orang pegawai bernama Luki, Baim, Dodi dan Rafi. Bersama Fadli, total lima pegawai dipekerjakan di resto One Punch.
Menggunakan uang franchise dari Pak Johan, Deden dan Agah memutuskan merombak lantai satu atas dengan persetujuan Aki Ukun. Bagaimanapun bangunan itu adalah milik Aki Ukun. Adang dan Deden menyisihkan pendapatan bulanan untuk membayar uang sewa lantai satu untuk resto.
Bersikeras Aki Ukun menolak, meyakinkan bahwa rumah itu memang untuk cucu-cucunya, tetap aja Adang, Deden, dan Agah selalu membayar uang sewa pada Aki. Mereka tahu, Aki Ukun adalah lelaki tua yang gemar bersedekah. Tak pernah Aki Ukun menolak siapapun yang datang meminta padanya. Entah itu pengemis atau pengamen atau penarik sumbangan, selalu ada dana di saku Aki Ukun yang bisa diberikan.
“Uangnya simpan buat Aki. Nanti bisa Aki sedekahkan pada siapa aja,” ucap Deden meyakinkan kakeknya.
Sulit menolak kemauan cucu-cucunya, karena mereka mewarisi karakter yang sama dengannya, kalau tidak mau disebut keras kepala, anggap saja berkemauan kuat.
Resto One Punch namanya. Semua usaha dan produk mereka diberi nama sama untuk memudahkan. Beberapa minggu lalu Adang mendaftarkan hak paten nama dan logo merek dagang One Punch. Pak Johan yang memberi masukan terkait hak paten.
"Untuk berjaga-jaga jika di kemudian hari ada pihak yang mempunyai merek sama, pihak Adang dan Deden bisa mengklaim bahwa One Punch adalah merek milik mereka", saran Pak Johan.
Rumah Aki Ukun dirombak total. Lantai satu dimaksimalkan sebagai resto. Penggunaan cermin di beberapa titik membuat ruangan lebih luas. Memanfaatkan tanah kosong di sebelah rumah, Adang membangun distro One Punch untuk menjual produk clothing One Punch berupa kaos, jaket, topi, dan kemeja.
Beberapa merek clothing lain yang dititipkan pada mereka. Dulu produknya selalu diterima baik untuk dititip jual ke distro lain, sekarang giliran Adang membantu kawan-kawan yang baru merintis usaha clothing dengan memajang produk mereka di distronya.
Dinding luar bagian lantai dua diberi rangka kayu untuk memasang papan nama besar agar tampak mencolok dan mudah terlihat oleh orang yang lewat. Pagar dirubuhkan, untuk tempat parkir dan diganti dengan pagar minimalis.
Sekalipun ada resto untuk makan di tempat yang tersedia berbagai menu tambahan dan pilihan jenis sambal bawang, cabang usaha gerobak One Punch, selalu ramai. Pak Johan membuka cabang di daerah kampus Pakuan, Air Mancur, dan kampus IPB Dramaga. Hanya perlu satu tahun, Pak Johan menambah cabang lain dengan memberi izin franchise di dua tempat berikutnya.
Ada dua cabang resto One Punch di Depok salah satunya di sekitaran kampus UI. Satu cabang resto di Puncak Bogor, semuanya adalah milik tiga orang berbeda yang menjadi mitra franchise One Punch.
Daihatsu Grand Max putih masuk tempat parkir. Seorang pria menurunkan delapan container box, mengangkat satu demi satu ke dapur lewat jalan samping. Di dapur resto pusat yang tak lain adalah rumah Aki Ukun adalah tempat pembuatan semua produk sambal bawang dan ayam goreng. Kemudian akan dikirim pada setiap cabang One Punch.
“Den, Marko!” Adang memberi isyarat Deden untuk membuka pintu samping karena Marko datang membawa ayam yang sudah terpotong bersih.
“Yoi!” Deden membuka pintu.
“Makasih!” Sigap Marko dan seorang temannya meletakkan container di dapur dan kembali mengambil container box berikutnya.
Setelah selesai Marko menuju meja kasir, membuka topinya dan merapikan rambut yang lengket.
“Rame, Dang?” Memperhatikan resto yang penuh, hanya dua meja kosong tersedia.
“Alhamdulillah. Udah makan belom?” tanya Adang sambil menghitung uang.
Menggeleng Marko menolak, “Kenyang.”
Ya, itu adalah Marko yang sama yang ditonjok Adang sewaktu SMP. Marko kini menjadi supplier yang menyediakan dan mengantarkan daging ayam potong langsung ke dapur One Punch. Semua berawal ketika Marko iseng mengirim pesan pada Adang bahwa ia punya usaha sampingan supplier ayam potong.
Marko bersama seorang temannya, yang baru lulus kuliah empat bulan lalu mencoba menekuni bisnis ayam potong. Merasa tak cocok bekerja kantoran, Marko memilih berdagang dan menawarkan produknya ke setiap rumah makan dan usaha kuliner lain berbasis ayam.
Pertama kali membaca pesan Marko, Adang sudah memutuskan akan menjadikan Marko mitra usaha. Setelah Deden menyetujui, sejak saat itu Marko yang memastikan bahwa daging ayam yang ia sediakan terjaga kualitas, kebersihan, kehalalan, termasuk peternakan ayamnya bisa dicek jika mereka mau.
Deden menyempatkan waktu melihat dan membuktikan. Merasa sesuai dengan harapan, kerja sama dengan Marko disetujui sebagai supplier utama daging ayam di One Punch.
“Ke Bandung besok. Agah mau wisuda,” jelas Adang.
“Tutup berarti restonya?” tanya Marko. Adang menggeleng.
“Ada anak-anak," Anak-anak yang dimaksud Adang adalah lima pegawai. Adang menunjuk Fadli yang membersihkan meja. Marko mengangguk.
“Mo minum ga?” tawar Adang. Marko menggeleng.
Marko pamit pergi, masih ada beberapa container daging ayam lagi yang harus di antar ke rumah makan di Jalan Pajajaran. Adang tersnyum.
Memperhatikan bagian belakang Marko yang berjalan menuju mobilnya, Adang tersenyum. Hidup itu seperti perahu kayu yang terombang-ambing di lautan. Kita tak pernah tahu di daratan mana gelombang laut akan mendamparkan perahu.
Sama seperti halnya jalan hidup Marko, sewaktu sekolah dulu, tak pernah terpikir ia akan jadi supplier daging ayam, sedikitpun tak pernah terlintas dalam daftar cita-cita.
Siapa peduli kau punya ijazah sarjana apa, Marko menyukai pekerjaannya saat ini dan berniat jadi sukses dalam dunia bisnis daging ayam.
***
Adang merapikan topi toga Agah yang miring. Deden menuntun Aki Ukun berjalan. Setelah rapi semua mereka mengambil posisi untuk foto. Basuki siap dengan kamera di tangan. Menunggu aba-aba untuk memencet tombol.
“Oke Bas! Siap!” Agah memberi tanda.
“Sip! Siap ya!"
" Satu! Dua! Bunciiiiiiiiiis!” Basuki menghitung semangat.
Cklek!
Satu foto kebanggaan dalam keluarga mereka. Aki Ukun melihat Agah dengan mata berbinar. Bahagia ia melihat Agah lulus sebagai sarjana pertama dalam trah keturunannya.
Aki Ukun memperhatikan satu demi satu wajah cucu yang selalu sabar menemaninya.
Deden yang paling kurus tapi paling telaten merawatnya. Dedenlah yang selama ini selalu ada di samping Aki Ukun ketika Agah kuliah di Bandung dan Agah di Jakarta.
Adang dengan ekspresi wajah penuh misteri namun berhati Hello Kitty, yang selalu bersikap dewasa dan berpikir positif.
Banyak sekali hal mereka lalui untuk sampai pada titik yang mereka capai saat ini.
Setelah berfoto bersama teman-teman lain, Agah memutuskan kembali ke kosan, sementara Adang, Deden dan Aki Ukun kembali ke hotel tempat mereka menginap. Lima langkah berjalan, kaki Agah berhenti. Caca berdiri di hadapannya bersama sang suami.
“Lu di sini juga Den?” Alvin berseru.
“Alvin!” Deden tak kalah heboh. Mereka tak sangka akan bertemu di acara wisuda di Bandung.
“Wah! Keren lu dah jadi dokter!” Deden merangkul Alvin, melepas toganya dan mengacak-acak rambut Alvin.
“Nggak ‘lah. Masih panjang prosesnya!” Deden dan Alvin melepas kangen, terakhir mereka bertemu adalah saat acara penikahan Alvin dan Caca .
Agah memperhatikan Caca yang melihat Alvin suaminya dengan pandangan penuh cinta. Sebelum tenggelam dalam pesona Caca, ponsel di kantong Agah bergetar.
“Agah ... How are you?”
Teks singkat dari gadis Korea bermata bulan sabit. Mina.
***