
Hening terasa. Deden menyeruput kopi menikmati sore di teras rumah. Tak ada hal ia rencanakan hari ini. Stok sambel masih ada sepuluh toples tersimpan di lemari. Pesanan disain sudah selesai semua, beberapa video yang ia siapkan untuk di-upload di channel youtube miliknya sudah selesai proses editing.
Aki Ukun duduk menemani Deden. Tersisa mereka berdua saja di rumah itu. Agah baru akan pulang dari Korea pekan depan, Adang bekerja dan kos di Jakarta untuk menghemat tenaga pulang pergi.
Kini mereka menempati rumah Aki Ukun yag dibeli tak lama setelah pindah ke Bogor. Tadinya disewakan,
Aki Ukun ingin menempati sendiri karena tenaganya makin melemah jika harus mengurusi kebun di rumah Haji Salam yang mereka tinggali sejak kembar masuk SMP.
Haji Salam membujuk agar mereka tetap tinggal di sana, namun Aki Ukun bersikeras. Ia ingin tinggal dan menua di rumah milik sendiri. Haji Salam tak bisa memaksa.
Rumah berukuran delapan kali delapan meter persegi itu dibangun dua lantai. Sewaktu membeli tanah di Pandu Raya, nama daerah tempat rumah itu berada, masih sepi dan dikelilingi tanah kosong.
Kini, lingkungannya berubah drastis. Jalan aspal lebar dibangun sebagai jalur alternatif menuju Katulampa. Perumahan bermunculan, dan banyak ruko bermunculan seperti jamur. Rumah Aki Ukun yang tadinya berada di antara kebun kosong, berubah menjadi rumah berposisi tepat di sisi jalan besar.
Deden sebagai satu-satunya cucu yang bekerja di Bogor, selalu sabar menemani dan merawat kakeknya. Memasak dan menyiapkan makanan, mencuci pakaian, dan mengajak berbincang Aki Ukun. Sesekali mengajak keluar untuk makan doclang di daerah Pasir Jaya, soto bogor Surya Kencana, toge goreng Air Mancur atau ketan bakar kesukaan kakeknya.
Walaupun sudah tua, Aki Ukun tidak sakit-sakitan. Badannya sehat meski terkadang sudah mulai lupa membedakan mana Adang mana Deden. Hanya Aki Ukun yang tersisa. Umi Njum, umi, dan abah meninggalkan mereka berempat.
“Tak ada lagi yang kalian miliki. Salinglah menjaga, saling membantu,” pesan Aki Ukun pada cucu-cucunya.
“Aki, Cuma punya rumah ini untuk kalian. Gunakan sebaik mungkin,” Aki memberi saran agar Deden
membuka rumah makan di rumah yang mereka tinggali sekarang. Melihat posisi di pinggir jalan tempat mobil, motor dan banyak orang berlalu-lalang, Aki ingin usaha sambal Deden bisa dikembangkan menjadi usaha rumah makan dengan tetap mempertahankan khas sambal.
Deden mencoba memikirkan tawaran Aki Ukun. Pendapatan yang ia peroleh dari bekerja di perusahaan start-up lumayan, bahkan bisa ia tabung sebagian dan menyisihkan untuk bayar kuliah Agah. Begitu juga dengan Adang, yang mempunyai gaji lebih dari cukup untuk seorang pemuda lajang tanpa keluarga. Belum keuntungan dari bisnis kaos. Adang tak pernah lupa menambah bayar kuliah Agah sekaalipun membanti sedikit.
Apakah mereka perlu melebarkan sayap mencoba bisnis rumah makan?
Deden melihat angka tertera di saldo akhir buku tabungan miliknya. Ia berencana membicarakan ide Aki Ukun pada Agah dan Adang setelah Agah pulang dari Korea.
***
Adang memainkan janggutnya yang tak lebat. Deden menunggu pendapat Adang. Aki Ukun menonton televisi sementara dua cucunya duduk di ruang tamu dengan pintu depan terbuka. Membiarkan suara bising kendaraan menemani obrolan mereka.
“Berarti kamu harus berenti kerja Den. 'Kan ogut ga mungkin ikut jaga karena kos di Jakarta. Agah juga belum beres kuliahnya. Emang kamu sanggup ngerjain sendiri?” Deden diam. Adang ada benarnya.
“Kalau mau, coba aja dulu di gerobak. Buka di teras rumah. Soalnya modal buat rombak ruang
tamu juga ga sedikit Den,” Deden mengangguk.
“Bisa juga kamu tetep kerja, kita rekrut satu pegawai. Sambel dan ayam sudah kita sediakan. Dia cuma bagian goreng ayam, tempe, tahu dan wadahin sambel. Jadi rasa tetep bisa kita kontrol.” Deden mengangguk mendengarkan Adang.
Benar kata Adang, membuka rumah makan membutuhkan dana besar untuk rombak lantai bawah rumah. Rencana awal, Deden mau menggunakan lantai satu rumah untuk tempat usaha, dan lantai dua khusus untuk kamar dan tempat tinggal Deden dan Aki Ukun.
Pendapat Adang masuk akal, membuka rumah makan tak semudah yang dipikirkan dalam sketsa rencana. Lebih baik tabungan yang ada untuk membuat gerobak dan coba berjualan kecil-kecilan di tempat strategis.
“Ogut ikut bantu modal. Bisa kita bagi dua. Coba kamu cari-cari gerobak bekas terus kita modif biar keren. Cari-cari info tempat untuk jualan dan harga sewa. Kalo mahal, berarti gerobak disimpen di depan rumah. 'Kan jalan depan itu udah rame.” Diskusi bersama Adang tak pernah mengecewakan. Deden setuju.
“Untuk penjaga coba cari kenalan temen yang bisa dipercaya orangnya. Kamu jangan langsung keluar kerja. Sambil kerja sambil buka usaha. Kemasan sambel di toples tetap kita jual juga.” Adang menambahi.
Malam itu obrolan rencana pembukaan jenis usaha baru berakhir. Deden dan Adang sepakat berbagi modal. Deden menghabiskan banyak waktu mencari desain gambar gerobak. Mencari info harga kayu dan membuat daftar barang-barang yang perlu mereka beli.
***
Beberapa teman tampak tak dijemput siapapun, sama seperti dirinya. Orang tua sudah tiada, kakek sudah makin menua, dan saudara punya urusan masin-masing. Tak ada anggota keluarga yang Agah harap akan menjemputnya di terminal kedatangan. Cukup saling memahami saja.
Diperiksa isi dompet. Jangan sampai tak ada uang rupiah tersisa yang bisa dipakai untuk ongkos pulang. Agah tersenyum kecut. Ada empat lembar uang kertas dua puluh ribu rupiah, tiga lembar uang sepuluh ribu rupiah dan dua lembar uang dua ribuan. Sisanya tiga uang koin 10 won, dua uang koin lima ratus won dan dua lembar uang kertas warna biru bergambar Yi Hwang, seorang tokoh cendekiawan dan ilmuwan Korea dari Dinasti Joseon.
"Mas, sapu tangannya jatuh." Seorang wanita paruh baya menunjuk sapu tangan biru di dekat sepatu Agah.
"Oh iya ibu. Terima kasih banyak" Agah memungut sapu tangan bermotif garis tipis dan ada bordir huruf hangeul di salah ujung, bertulis Mina.
Sapu tangan pemberian Mina sebagai ganti kaos yang Agah berikan waktu baju Mina basah di acara International Day, juga sebagai kenang-kenangan.
Menunggu bis damri rute bandara-bogor, Agah menyalakan ponsel. Tak lama kemudian satu pesan teks masuk.
"Kalau dah landing kabarin." Pesan singkat dari Adang.
"Udah landing. Tunggu di rumah aja." Belum sempat mengirim teks yang sudah ia ketik, ponsel bergetar panjang. Panggilan dari Deden.
"Kalo nyampe terminal baranangsiang, nitip beliin soto mi buat Aki." Tanpa basa-basi Deden mengatakan apa yang memang perlu ia katakan.
"Ho oh. Ogut kira kamu nelpon karena mau jemput," Agah asal bicara.
"Yaela! Emangnya perempuan pake dijemput segala. Udah ya ogut tutup. Ati-ati di jalan. Kalo laper beli aja di luar sekalian. Ogut nggak masak." Panggilan ditutup. Agah tersenyum memikirkan bagaimana cara ia dan saudaranya berkomunikasi. Tanpa basa-basi, tanpa romantisme. Mirip dengan komunikasi pasangan suami istri yang sudah menikah dua puluh tahun.
Meskipun begitu, Agah sangat mengenal saudaranya. Betapa mereka sangat menyayangi Agah, betapa mereka peduli padanya.
"Gimanapun caranya kuliah kamu harus sampe beres. Masalah biaya semester kita cari bareng-bareng." Begitulah yang dikatakan Deden sebulan setelah abah mereka wafat.
"Rugi kalo nggak dilanjutin Gah. Abah sama Umi juga pasti pengennya kamu berhasil jadi sarjana. Setidaknya di antara kita, ada satu yang berhasil kuliah sampai tinggi," tambah Adang.
Agah tak bisa mundur bagaimanapun sampai titik darah penghasiban ia akan melakukan yang terbaik. Demi dirinya, demi abah, umi, Aki Ukun, umi Njum, Deden dan Adang yang sudah banyak berkorban.
Setelah program pertukaran pelajar usai, masih ada dua semester tersisa yang harus ia jalani. Dua semester lagi, seperempat jalan lagi. Sedikit. Satu tahun itu sebentar. Apalagi untuk mahasiswa macam Agah. Sibuk bekerja sambilan, sibuk mengajar les, sibuk jualan, sibuk memburu beasiswa.
Begitulah waktu. Terasa lambat atau cepat relatif.
Tergantung bagaimana kita menghabiskannya.
Sesampainya di rumah, Agah mendapati tumpukan kayu jati Belanda di depan teras rumah. Pintu rumah terbuka lebar, Deden yang memakai sarung tangan tebal keluar membawa gergaji mesin kecil.
"Eh udah sampe. Masuk gih. Salim dulu sama Aki!" Deden sibuk memilih potongan kayu.
"Ok. Ngomong-ngomong kamu mau bikin apa Den?" Penasaran Agah tak bisa menunggu nanti.
"Gerobak!"
Agah mengernyitkan kening, "Ide baru apalagi nih?"
***