
Ruang IGD sepi, dua dokter menangani pasien kecelakaan. Deden duduk di ruang tunggu. Berusaha tidak panik melihat darah abahnya menetes di lantai.
Setengah jam lalu, panggilan dari ponsel Maman ia angkat. Namun bukan suara abahnya yang terdengar. Suara perempuan, mengabarkan bahwa pemilik ponsel yang ia pakai telpon yang tidak lain adalah Maman, berada di ruang IGD rumah sakit BMC.
Deden, yang sudah siap berangkat ke bengkel untuk kerja, segera menuju tempat yang disebut perempuan yang menelponnya.
Sampai di IGD, Maman sudah ada di dalam ruangan dengan luka robek di bagian paha, darah menetes mengenai lantai. Meninggalkan jejak tetesan darah di lantai keramik putih beraroma karbol.
Seorang perempuan gemuk paruh baya berambut pendek dan berkacamata menghampirinya, ditemani laki-laki yang mengenalkan diri sebagai suaminya. Puluhan permohonan maaf terucap sebelum mengenalkan diri.
Air mata mengalir di antara hidung memerah, perempuan itu mengenalkan diri dengan nama Bu Sofia.
“Saya benar-benar minta maaf Dek,” Bu Sofia berkata dirinya baru pertama kali menyopir sendiri tanpa ditemani siapapun setelah lima bulan belajar mengemudi, dan mengakui ia masih kaku memindahkan gigi perseneling.
Di jalan kecil, Bu Sofia panik mendengar klakson mobil dan motor di belakang mobilnya karena ia butuh waktu lama untuk balik arah di belokan sempit. Panik membuat Bu Sofia yang harusnya menginjak pedal rem, malah menginjak pedal gas.
Maman yang menaiki motor berada posisi tepat di depan arah belokan Bu Sofia, tak sempat menghindar saat mobil Terios putih melesat ke arahnya.
Maman terjungkal saat itu juga. Dibantu warga sekitar dan pengemudi lain, Bu Sofia membawa Maman ke IGD rumah sakit terdekat dan segera mengambil ponsel Maman, melihat daftar kontak dan mencari nama kontak untuk dihubungi.
Dari sedikit daftar kontak di ponsel Maman, Bu Sofia menelpon Deden yang nomernya tersimpan dengan nama ‘Anakku 1 Deden’ di kontak ponsel Maman.
Deden tak bisa marah, seandainya yang berada di posisinya sekarang adalah Adang atau Agah, mereka juga pasti hanya menghela napas meredam amarah.
“Motor bapak saat ini ada di bengkel langganan saya. Saya inisiatif menelpon bengkel agar ada pegawai yang angkut motor. Ini alamatnya.” Pak Johan, suami Bu Sofia menyerahkan kartu nama.
“Kalau dibawa ke kantor polisi dulu, biasanya susah keluar Dek, urusannya berbelit-belit makanya saya langsung bawa ke bengkel,” Pak Johan yang saat kejadian ada di rumah, menjadi orang pertama yang ditelpon Bu Sofia sesaat setelah kejadian. Tak buang waktu, Pak Johan segera mengurus semua karena istrinya panik ketakutan.
“Kami belum lapor polisi. Jika boleh meminta, apakah kita bisa selesaikan dengan cara kekeluargaan?” Pak Johan hati-hati mengungkap permohonan.
“Saya tahu istri saya salah. Kami akan tanggung semua biaya pengobatan, perawatan juga perbaikan kendaraan. Apapun akan kami lakukan asal jangan sampai perkara ini ditangani polisi,” Bu Sofia menggenggam tangan Pak Johan cemas dan menangis tersedu-sedu.
Deden melihat pasangan paruh baya di depannya, pandangan mata layu penuh harapan pada dirinya. Belum pernah ada orang yang memohon pada Deden sebelum ini.
“Saya ... Ada anak yang masih kecil. Umurnya baru enam tahun. Saya, tak tahu harus bagaimana kalau sampai saya masuk penjara,” Bu Sofia tersedu.
Seorang dokter menghampiri mereka. Pak Johan dan Bu Sofia segera berdiri, “Pak, kami minta tanda tangan wali untuk persetujuan pemeriksaan organ dalam dan tindakan operasi jika diperlukan,” kata dokter pada Pak Johan.
“Saya walinya. Saya anak kandungnya,” kata Deden tegas. Dokter melihat Deden mengangguk mengerti.
“Pendarahan karena luka di kaki tidak bahaya, asumsi kami sepertinya terjadi pendarahan juga di organ dalam pasien. Kalau tidak segera ditangani bisa berakibat fatal.” Dokter menyerahkan kertas untuk ditanda tangani.
Deden mengambil kertas, membaca sebentar dan langsung membubuhkan tanda tangan tanpa pikir panjang.
“Mohon bantuannya untuk kebaikan abah saya.” Mengembalikan lembar persetujuan. Dokter mengangguk menepuk pundak Deden dan kembali ke ruangan.
Deden menoleh ke arah Pak Johan dan Bu Sofia, “Untuk saat ini, fokus saya adalah kesembuhan abah saya. Silakan Bapak dan Ibu membantu semaksimal mungkin.” Pak Johan mengangguk paham.
“Ibu silakan istirahat dan menenangkan diri dulu. Sebentar lagi dua saudara saya akan datang menemani saya.” Deden sebisa mungkin menata intonasi suara.
Ada amarah bergemuruh dalam dada dan kekecewaan yang siap keluar dalam bentuk umpatan atau melempar barang pada wanita paruh baya di depannya.
Jika belum ahli menyopir mobil kenapa harus bawa mobil sendiri. Fatal akibatnya karena membahayakan nyawa pengguna jalan lain. Dari sekian ribu pengguna jalan di Bogor, kenapa harus abahnya yang jadi korban kecerobohan pengemudi baru belajar.
Ponsel Deden bergetar, panggilan masuk dari Adang. Memberi isyarat meminta ijin angkat telpon, Deden meninggalkan Pak Johan dan Bu Sofia.
***
Bis jurusan Bandung-Bogor berhenti di Terminal Baranangsiang Bogor. Agah bersiap turun, menunggu giliran berbagi jalan keluar dengan penumpang lain.
Pedagang asongan menawarkan dagangannya, penjual rujak dan asinan bogor dikerumuni pembeli yang mayoritas perempuan. Melangkahkan kaki menuju arah Masjid Raya Bogor yang berjarak lima ratus meter.
Agah ingin menenangkan diri sebentar dengan berwudu dan salat zuhur. Setelahnya Agah berencana ke rumah sakit BMC yang butuhkan tujuh menit jalan kaki menuju ke tempat abahnya di rawat.
Panggilan dari nomer Adang masuk, ponsel Agah bergetar.
...
“Ok.”
Penggilan berakhir. Adang menunggu di lantai lima dan meminta Agah langsung menuju ke rumah sakit segera setelah salat zuhur.
Suasana lantai lima sepi, tiga perawat berada di meja informasi sibuk melakukan pekerjaannya. Agah melihat Deden dan Adang duduk di kursi besi depan ruang operasi bersama seorang lelaki paruh baya berwajah oriental.
“Tunggu sini dulu. Operasinya belum beres,” kata Adang menyapa Agah.
Deden mengenalkan Agah pada Pak Johan. Menceritakan alur kejadian dari awal sampai opsi operasi diputuskan. Agah mengangguk mengerti.
Pak Johan menyodorkan wadah berisi makanan pada Agah.
“Makan dulu Dek, pasti capek perjalanan dari Bandung.”
“Makasih Pak.”
Pak Johan meminta Bu Sofia pulang untuk istirahat sebentar menenangkan diri, urusan rumah sakit dan semuanya Pak Johan ambil alih.
Deden yang sejak awal hadir, memperhatikan betapa sabar dan tenangnya Pak Johan menangani permasalahan. Paham istrinya mudah terkena serangan panik, tak banyak kata dan ocehan Pak Johan menenangkan dan melindungi Bu Sofia sekuat yang ia mampu. Begitulah laki-laki seharusnya. Tampil di depan untuk pasang badan dan siaga di samping untuk mendukung.
Dua jam kemudian, dokter keluar ruang operasi. Mengabarkan operasi berjalan lancar. Maman harus menunggu satu jam di ruang observasi sebelum dipindahkan ke ruang perawatan.
Semua menghela napas lega. Wajah Pak Johan berseri. Di antara empat orang yang menunggu di luar ruang operasi, tak bisa ditebak siapa yang merasa paling bahagia.
Maman terbangun setelah delapan belas jam operasi. Ia melihat ketiga anaknya menunggu di ruangan. Kedua kalinya, Deden ceeitakan semua dari awal kejadian. Maman mengangguk mengerti.
Sudah tiga hari Maman dirawat di rumah sakit. Pak Johan memilih ruang perawatan VIP agar anak-anak Maman yang gantian berjaga merasa nyaman.
Sehari dua kali Pak Johan dan Bu Sofia datang. Pagi dan sore, tak pernah absen membawa makanan. Deden, Agah dan Adang tak pernah merasa lapar selama menunggui Maman. Makanan berlimpah. Bu Sofia mengisi kulkas dengan segala jenis buah, kue-kue, dan minuman ringan.
Bu Sofia selalu membawa kotak makanan enam tumpuk berisi nasi lengkap lauk-pauk istimewa. Tak banyak yang bisa Bu Sofia lakukan untuk tunjukkan penyesalan dan permintaan maaf. Selain menanggung semua biaya rumah sakit, menyediakan makanan terbaik untuk anak-anak dari korban kecerobohannya adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
Aki Ukun diberi tahu belakangan oleh Deden setelah Maman dipindah ke ruang perawatan. Deden ceritakan semua dari awal peristiwa, itu adalah ketiga kali bagi Deden jadi juru cerita peristiwa kecelakaan abahnya.
Usia yang sepuh Aki Ukun mengurangi banyak tenaga yang tersisa. Agar tak tak perlu ikut ke rumah sakit, Deden meminta kakeknya untuk di rumah saja sementara urusan di rumah sakit dipercayakan pada dirinya, Adang dan Agah. Aki Ukun menurut. Agah, Deden, dan Adang bergantian tidur di rumah untuk menjaga Aki Ukun.
***
Malam kelima di rumah sakit. Tanda-tanda vital Maman tiba-tiba menurun. Tekanan darah drop, demam tinggi menyerang. Mendengar Maman mengigau dalam tidur dan keringat dingin di dahi, Adang segera memencet tombol untuk memanggil suster yang berjaga.
Maman menggigil, Adang memperhatikan suster memeriksa abahnya. Tak lama suster kembali ke luar, menelpon dokter.
Saat itu juga Maman dipindah ke ruang ICU. Adang menelpon saudaranya yang segera datang. Suasana malam yang tenang berubah gelisah seketika.
“Jangan kemana-mana tunggu di sini saja.” Suster menjelaskan kondisi Maman yang drop dalam keadaan kritis.
Menunggu depan ruang ICU, tak bisa melihat apa yang terjadi di dalam, hanya terdengar suara suster dan dokter beserta alat-alat medis berbunyi.
Tak ada yang mulai pembicaraan antara Deden, Adang, dan Agah. Semua tersedot alam pikiran masing-masing.
Dua jam berada di ruang ICU, dokter keluar. Kepalanya tertunduk menghampiri tiga pemuda.
“Maaf ... Kami sudah berusaha semaksimal mungkin ....” Suara dokter serak. Suster membuka gorden ruangan ICU, membuka lebar pintu kaca. Mempersilahkan keluarga pasien masuk.
“Maksudnya Dok?” Deden tak mau ambil kesimpulan sendiri menebak kalimat dokter di depannya.
“Pak Maman sudah berpulang.”
***