
Sudah dua hari suara gergaji mesin dan ketokan palu bersahutan di teras rumah. Deden dengan gergaji mesin memotong dan mengukur batangan kayu Jati Belanda. Agah dengan palu dan paku memasang kayu sesuai gambar yang di-print Deden. Aki Ukun duduk di sofa merah ruang tamu memperhatikan cucunya membuat gerobak.
Belum pernah membuat satu pun furniture atau perlengkapan rumah tangga, Deden nekat mencoba membuat gerobak sendiri. Membeli lembaran kayu, gergaji mesin, paku-paku dan gambar desain gerobak yang ia peroleh dari internet.
Jika pesan ke orang lain, biayanya jauh lebih mahal. Pada dasarnya bukan murni membuat gerobak dari nol hingga akhir. Deden membeli gerobak bekas yang sudah tak dipakai berjualan. Deden sudah mempunyai rencana akan dirombak seperti gerobak bekasnya.
Dibuang bagian yang kurang bagus, dan dipasang dan modifikasi besar-besaran agar sesuai dengan model yang ia harapkan. Sepulang dari Korea, tak ada pesta penyambutan untuk Agah. Kehidupan berjalan seperti biasanya, seolah Agah pulang ke Bogor dari Bandung.
Deden menunjukkan gambar gerobak pada Agah. Gerobak sederhana tapi ada nuansa modern. Agah mengangguk paham apa yang hendak dibuat Deden.
“Assalamualaikum! Wah, udah mulai,” Adang baru saja datang saat Agah dan Deden mengamplas potongan kayu.
“Waalaikumsalam, hayu ‘lah bantuin sini,” jawab Agah.
“Kamu bukannya baru dateng Gah?” tanya Adang melihat Agah sudah mulai semangat bantu Deden. Agah mengangguk.
“Kalo capek berenti dulu. Biar ogut ma Deden yang pegang."
"Sante aja, lagian ga capek kok. Di pesawat duduk ma tidur doang," jawab Agah.
Adang melihat ada kakeknya duduk di ruang tamu memperhatikan. Segera menghampiri dan salim.
“Sehat Ki? Ini ada pisang ambon buat Aki”, Adang menyodorkan tas plastik yang ia bawa.
“Tadi di deket Taman Topi ada yang jual,” tambah Adang. Aki Ukun mengangguk dan ucap terima kasih.
Adang segera bergabung dengan Deden dan Agah. Mempelajari gambar gerobak yang di-print Deden.
“Bagus nih. Simple tapi kesan modern tetap ada,” pendapat sama persis seperti Agah.
“Bisa gitu kita bikin sendiri?” Agah pesimis dengan kemampuan pertukangan yang ia miliki.
“Bisa. Inikan udah ada gerobaknya. Kita tinggal modif aja. Jadi ga akan seribet kalo bikin gerobak dari awal,” Deden menjelaskan.
“Yuk ‘lah kita coba dulu.” Adang beri aba-aba mulai.
***
Dua pekan kemudian gerobak One Punch sudah berdiri di depan rumah mereka. Deden memberi banyak pencahayaan agar mencolok dan menarik pembeli. Bagian bawah gerobak warna hitam, bagian atas ditutup kaca depan dan sebelah kanan dan kiri. Kayu Jati Belanda memberi aksen klasik dipadu dengan kaca dan peralatan berwarna perak untuk mendapat kesan modern.
Tulisan Gerobak One Punch dalam neon box bentuk bulat berwarna merah. Bagian depan sepertiganya tertutup dan tertempel daftar menu yang dijual. Nasi ayam dan sambal bawang One Punch. Dua pertiga bagian depan tertutup kaca bening tebal, sehingga pembeli bisa melihat ayam goreng yang sudah matang dan kemasan sambal bawang One Punch dalam toples yang bisa dibeli.
“Terima delivery order khusus hari Sabtu dan Minggu,” Agah membaca tulisan di atas gerobak dengan nomer telepon Deden yang dicantumkan.
“Kenapa cuma Sabtu Minggu?” tanya Agah.
“Soalnya ogut libur. Jadi bisa masak pesenan.” Agah menggut-manggut.
Tak ada ruang terbuang di gerobak itu. Bagian bawahnya dipasang info tentang produk One Punch lain, yaitu kaos buatan Adang. Seluruh bagian gerobak dibuat mencolok dengan lampu tumblr yang dipasang di setiap sisi luar gerobak, di papan nama, hingga di menu.
Deden membentuk kardus yang ia pesan sejak dua minggu lalu. Kardus khusus bertulis One Punch yang ia desain sendiri. Warna kardus didominasi warna hitam dan tulisan berwarna putih. Semua sudah dipikirkan dan direncanakan dengan matang oleh Deden.
“Jadi besok bukanya?” tanya Agah, dibalas anggukan mantap oleh Deden.
“Udah siap Fad?” pemuda yang ditanya mengangguk tersenyum.
Fadli namanya, adalah cucu dari Aki Ajat, yang tidak lain adalah adik semata wayang mendiang Umi Njum. Delapan hari lalu, Aki Ajat datang ke rumah bersama Fadli yang berniat mencari kerja selepas lulus SMA. Melihat cucu-cucu Aki Ukun yang mandiri dan dewasa, Aki Ajat ingin agar Fadli banyak belajar dari mereka.
Deden memberi saran agar Fadli daftar di pelatihan yang diadakan BLK seperti dirinya. Kalau memang tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah, dan Fadli merasa lemah dalam hal akademik, maka mencoba ikut berbagai pelatihan dan kursus untuk menggali potensi dalam diri. Fadli mengangguk mengerti. Deden menjelaskan bagaimana cara daftar dan apa saja yang ia dapat. Semua tanpa ditarik biaya.
Karena waktu untuk mengikuti kursus dan pelatihan tidak seharian penuh, Fadli bisa mencari kegiatan lain untuk tambah pengalaman.
“Ini rencananya mau Aki titipkan di sini. Sambil bantu dibimbing,” kata Aki Ajat.
“Fadli mau sambil kerja?” tanya Deden, Fadli mengangguk semangat.
Deden menceritakan rencananya buka usaha jual makanan di depan rumah. Deden tunjukkan gerobak yang masih dalam proses akhir pembuatan.
“Kalo Fadli mau, bisa sambil ikut pelatihan, trus pulangnya bantu A Deden jualan. Aa punya kerjaan di tempat lain, jadi emang lagi nyari orang buat jaga. Kita kerjain bareng-bareng. Ntar Agah ma Adang juga bakal bantu kalo mereka lagi pulang ke Bogor,” jelas Deden panjang lebar.
Aki Ajat tampak tertarik dengan rencana Deden. Meski belum bisa dibilang sukses, Aki Ajat memperhatikan, baik Deden maupun dua saudaranya adalah contoh pemuda yangg bisa dijadikan teladan. Mereka bisa mendapatkan ilmu dan keterampilan memanfaatkan peluang dengan baik. Mencari beasiswa, mencari info pelatihan gratis, sambil tetap mencari tambahan uang agar mandiri tak bebani keluarga. Aki Ajat menaruh respect pada cucu-cucu iparnya.
“Boleh A, Fadli mau.”
Deden menawarkan jumlah gaji yang mampu ia berikan pada Fadli untuk pekerjaan menjaga gerobak dari hari Senin sampai Jumat. Fadli tak menolak. Gaji yang ditawarkan Deden dirasa wajar dan cukup bagi Fadli.
Banyak persiapan dilakukan. Banyak latihan diajarkan. Seperti halnya Deden dan Agah, Fadli tak kalah semangat. Rencananya gerobak akan mulai dibuka Sabtu depan. Biasanya weekend banyak orang keluar rumah untuk mengisi libur dengan mencari dan mencoba makanan di tempat-tempat kuliner.
Tiga hari sebelum hari pembukaan, Adang datang. Wajahnya sumrigah mengeluarkan kardus dari tas ransel. Deden, Agah, Fadli, dan Aki Ukun yang sedang makan bersama menghentikan aktifitas mereka karena penasaran apa yang dibawa Adang.
Mesin bluetooth thermal printer mini warna hitam.
“Apaan?” Deden mendekat.
“Printer mini buat cetak struk pembelian,” Adang menjelaskan.
“Makenya pake komputer ato tablet?”
“Ini sistemnya pake bluetooth. Jadi bisa lamgsung dihubungin ke handphone android,” Deden dan Agah mengangguk.
“Ini portable. Jadi bisa dipindah kemana-mana,” tambah Adang.
“Sama handphone Fadli bisa nyambung A?” Fadli mengeluarkan handphone yang dibelikan kakeknya. Adang mengangguk.
“Sok 'lah makan heula, entar diajarin makenya” Adang mencuci tangan dan mengambil piring. Ikut bergabung makan bersama keluarga tercinta. Sambil duduk lesehan dan membicarakan apapun merangkai kedekatan.
Fadli betah tinggal bersama mereka meskipun ia harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang tak pernah dilakukan di rumah seperti mencuci dan mengepel. Melihat Deden dan Agah bergantian melalukan kerja bersihkan rumah bahkan memasak, membuat Fadli tak merasa canggung melalukan hal sama. Dari keluarga beranggotakan laki-laki semua, Fadli memahami bahwa pekerjaan rumah bukan hanya untuk kaum wanita. Siapapun bisa melakukan.
Sama seperti wanita yang bisa menjadi montir, supir truk, pilot, atau polisi. Laki-lakipun bisa melakukan pekerjaan rumah.
Agah berencana kembali ke Bandung hari Minggu untuk melakukan daftar ulang semester berikutnya. Deden meski sibuk bekerja di perusahaan IT, ia sempatkan membuat konten video. Semua proses mulai dari awal pembuatan gerobak, modifikasi, melipat kardus, dan semua yang berhubungan dengan usaha One Punch ia rekam dan upload di youtube. Perlahan tapi pasti secara signifikan jumlah subscriber channel miliknya terus bertambah.
Hari pembukaan tiba. Di hari pertama Deden membantu Fadli dan mencontohkan bagaimana berkomunikasi dengan pelanggan. Pasang senyum ramah, selalu pakai sarung tangan untuk menyajikan makanan, lepas sarung tangan saat menerima pembayaran dan memberi kembalian, dan tak lupa ringan mengucap ‘maaf’ dan ‘terima kasih’.
Kardus, kertas makanan, tas kemasan dari kertas sudah disiapkan sejak semalam. Mereka sepakat meminimalisir penggunaan plastik.
Agah dan Deden berjaga di dapur belakang saat hari pertama pembukaan gerobak One Punch. Satu demi satu pembeli datang. Beberapa adalah tetangga mereka sendiri, juga tetangga dari toko yang ada di sekitaran rumah mereka. Selebihnya adalah pembeli yang turun dari mobil dan motor yang lewat.
Awal yang baik untuk penjualan hari pertama. Delapan jam pembukaan gerobak One Punch di hari pertama berikan hasil memuaskan. Sepuluh kilogram ayam goreng yang disiapkan habis, sambal kemasan yang dipajang terjual tujuh botol.
Deden tak lupa mengambil video rekaman untuk mengabadikan hari itu, dan sebagai bahan konten youtube miliknya. Melihat beberapa kendaraam berhenti di depan rumah mereka, Aki Ukun tersenyum.
Optimis. Itulah ekspresi yang ditunjukkan wajah mereka.
***
Empat bulan berjalan tak terasa, gerobak One Punch banyak dikenal para pecinta kuliner. Teknik marketing online jadi metode pemasaran dan iklan yang dipilih oleh Deden, Agah, dan Adang. Manfaatkan teknologi sebaik mungkin. Media sosial, adalah senjata yang selalu bisa diandalkan.
Mengawali iklan di facebook, membagi video di youtube, menyebarkannya pada kawan-kawan, relasi, kenalan dengan whatsapp, mengadakan program give away produk clothing One Punch dengan meng-upload foto dan video terkait ayam gerobak One Punch, dan membagikan kupon makan gratis bagi semua pelanggan yang memberikan testimoni dan foto di akun dan halaman sosial media One Punch.
Semua sudah direncanakan. Dibuat jauh-jauh hari oleh mereka. Akun media sosial, situs resmi One Punch, dan semua hal terkecil dipersiapkan dengan matang. Bukan hanya Deden, Adang dan Agah yang berada jauh mendapatkan tugas dalam menyukseskan promosi berbasis internet marketing.
Pembukaan usaha adalah awal, kualitas produk adalah pengikat loyalitas konsumen, menjual produk langsung adalah langkah nyata, media sosial adalah senjata. Tanpa marketing yang massive penjualan akan jalan melambat bagai siput. Marketing adalah piston yang mempercepat eksekusi.
Darimana ilmu ini mereka dapat? Bekerja di perusahaan start up yang bergerak di bidang IT memberikan pelajaran dan ilmu gratis pada Deden memahami dunia periklanan dan penjualan di era milenial.
Dalam waktu empat bulan, gerobak One Punch viral.
Mobil Honda Jazz merah menepi, seorang pria paruh baya turun, mendekati Fadli yang sibuk melayani pelanggan.
“Dek, Dedennya ada?” tanya pria itu.
“Oh, ada Pak. Di dalam, sebentar saya panggil,” setelah minta ijin ke pelanggan lain untuk masuk ke rumah sebentar, Fadli meninggalkan gerobak.
Fadli segera kembali, mempersilahkan pria itu duduk di teras menunggu. Dua menit kemudian Deden muncul, memakai celemek hitam bertulis One Punch. Deden menghampiri pria yang melihatnya tersenyum.
“Pak Johan?” Menyebut nama pria itu otomatis mengingatkan Deden pada almarhum abahnya.
Pak Johan mengangguk, tersenyum mengulurkan tangan.
“Sudah lama tidak bertemu Dek Deden.”
***