T

T
Membuang Minder



Caca memperhatikan wajah pegawai toko fotokopi. Wajah yang tak asing. Caca berpikir pegawai itu mirip sekali dengan Agah, teman SMA-nya. Agah yang Caca kenal sebagai pemuda baik, pintar, sopan, dan pemalu.


“Agah?” Caca bertanya dalam hati.


Agah bingung menentukan sikap apa yang harus ia ambil. Haruskah ia pura-pura tak mengenal Caca, atau lebih dulu menyapa Caca dengan ramah. Agah berpikir, pertemuan mendadak itu terjadi di suasana dan tempat yang tidak tepat.


Dalam kisah cinta romantis, seringkali pertemuan terjadi di tempat-tempat indah dan keren. Taman bunga, pesta ulang tahun, atau di cafe. Tokoh cerita juga pastinya dalam kondisi penampilan terbaik. Cantik, tampan, wangi, pakai baju mahal dan sebagainya.


Agah menyesalkan pertemuannya dengan Caca terjadi di tempat biasa yang umum dikunjungi mahasiswa, toko fotokopi. Ditambah penampilan dirinya tak mengesankan sama sekali, berkeringat, bau dan sebagai pegawai toko fotokopi.


Nasib, nasib!


Tak ada mimpi apapun yang Agah alami semalam sebagai pertanda ia akan bertemu Caca.


“Gah! Sini biar gua yang potong. Lu handle fotokopi aja.” Soleh mengambil alih pekerjaan Agah, membuat Agah tak punya pilihan selain menghadapi Caca.


“Tiga puluh ribu,” kata Agah menatap Caca.


“Hah?”


“Itu ... Harga sambal kemasannya,” Agah menunjuk toples Sambal Bawang One Punch.


“Oh iya” Caca hampir lupa dirinya menanyakan harga sambal.


“Saya mau satu aja” Mengeluarkan dompet di tas, Caca tak berani tanya apakah pemuda di depannya adalah Agah, teman SMA-nya.


“Ini buku dan kertas fotokopiannya” Agah menyerahkan buku pada Caca.


“Oh iya, jadi total semua berapa?” Tak berani melihat, mata Caca menghindar agar tak bertemu dengan mata Agah.


“Semua empat puluh lima ribu,” Caca menyerahkan uang pas. Segera pergi tak berkata apa-apa lagi selain ucapan terima kasih.


Agah melihat Caca berjalan keluar toko. Kerudung lebar warna biru yang dikenakannya melambai tertiup angin.


Jam delapan malam Agah baru sampai kosan sepulang kerja. Suara petikan gitar dan nyanyian Basuki terdengar sampai halaman depan rumah.


“Assalamualaikuuum” Agah mengucap salam membuka pintu. Basuki dan tiga orang teman kosan duduk di ruang tamu menghibur diri disela tumpukan tugas dan rasa sepi malam Minggu tanpa belahan jiwa, mereka nyanyikan lagu cinta bermodal suara sumbang.


“Woi! Baru pulang lu Gah?” tanya Basuki.


“Jawab atuuh kalo ada yang salam teh” Agah melemparkan bungkusan gorengan yang sengaja ia beli untuk teman-temannya.


“Asoy! Gorengan! Iya iya, waalaikumsalam Pak Kiyai. Hatur nuhun gorengannya. Semoga diberi rejeki melimpah Pak Kiyai.” Basuki tersenyum lebar membuka bungkusan dan memakan tahu goreng bersama teman yang lain.


Agah terkekeh dan masuk kamar bersiap untuk mandi. Aroma asam dari badannya tak tertahankan, ingin segera dibilas.


Setelah mandi, Agah bergabung bersama kawan-kawannya meluapkan emosi nyanyikan lagu cinta. Nasib mahasiswa tanpa pacar di Sabtu malam, habiskan waktu dengan teman dan gorengan.


Teringat Agah pada Caca. Tak ada kepercayaan diri tersisa dalam dirinya. Bahkan untuk sekedar mengakui bahwa ia adalah Agah teman SMA, apalagi untuk menyatakan perasaan. Masih jauh.


Malam itu, Agah tidur nyenyak karena lelah. Tak sempat ia pikirkan tentang pertemuannya dengan Caca. Biarlah yang sudah terjadi, jika kesempatan datang lagi Agah berharap saat itu dialah yang menyapa Caca duluan.


“Gah! Gah!” Basuki mengguncang badan Agah yang tak lagi kelebihan berat. Tetap fokus kuliah dengan menjalani dua pekerjaan sambilan tidak mudah. Selain bekerja di toko fotokopi, Agah mengajar privat seminggu dua kali.


Murid privatnya adalah siswa SMP kelas tiga yang bersiap menghadapi Ujian Nasional. Tubuh Agah terus beraktifitas, otaknya dipaksa bekerja keras tetap fokus belajar agar IP-nya tak anjlok. Lemak dalam tubuh, lambat laun menyusut.


Meski belum bisa disebut kurus, minimal buncit perut merata, pipi tak lagi serupa bakpau. Turun berat badan membuat wajah Agah pun berubah. Jadi lebih ganteng.


“Gah! Gah! Mo ikut ga?” Basuki berniat mengajak Agah olahraga pagi.


“Hm."


“Olahraga! Joging! Joging!” Agah membuka mata sedikit, Basuki sudah rapi memakai baju olahraga berupa kaos dan celana training. Agah menggeleng.


“Capek!” jawab Agah singkat, kemudian membalik badan memunggungi Basuki dan menutupkan kain sarung ke wajah untuk halangi silau cahaya lampu.


“Kalo gitu gua nitip ya?” Basuki meletakkan buku di atas meja yang terletak di tengah ruang memisahkan kasur Basuki dan Agah.


“Apa?” Setengah sadar Agah bertanya.


“Hm." Agah menjawab asal sebelum kembali terlelap.


Jam sembilan pagi di hari Minggu, apa yang lebih baik dari secangkir kopi susu panas dan tiga telur ceplok tersaji di atas piring. Alunan lagu dari ponsel di kamar Jaka memenuhi isi kosan. Menambah semangat di hari libur.


Agah sudah bangun dan mandi. Tidurnya cukup. Menuang kecap di atas telur ceplok buatannya, menghirup aroma kopi susu instan, Agah menggerakkan kepala ikuti irama musik.


Basuki belum pulang, buku diktat yang dititipkan pada Agah belum ada yang ambil. Aroma ikan asin digoreng ibu kos tercium semerbak dari dapur rumah sebelah.


Jaka sibuk melatih otot lengannya dengan mengangkat beban yang terbuat dari botol plastik bekas air mineral yang diisi pasir dan kerikil. Kreasi Jaka sendiri. Daripada beli beban di toko peralatan olahraga, lebih hemat membuat sendiri. Mengurangi sampah botol plastik dan mengurangi jumlah uang yang keluar dompet.


“Assalamualaikum!” Suara salam terdengar dari luar. Jaka mengintip dari jendela karena kamarnya berada paling depan. Segera memakai baju dan membuka pintu.


Beberapa saat kemudian kembali, “Gah! Basuki udah balik belom?” tanya Jaka.


“Belum.”


“Ada temen Basuki. Ceunah mo ambil buku,” lanjut Jaka.


“Oh ... Ada bukunya.” Agah masuk kamar mengambil buku, Jaka kembali membuka kaos dan angkat beban lagi di depan cermin lemari.


Tak mau mengganggu Jaka, Agah keluar membawa buku untuk diberi pada si empunya.


Dua orang gadis berkerudung menunggu di depan pagar. Langkah Agah ragu, tapi ia tetap menghampiri dan menyerahkan buku.


“Basuki lagi keluar. Buku ini ya?” tanya Agah.


Caca terkejut bertemu lagi dengan pegawai fotokopi yang ia mirip Agah temannya. Teman Caca menerima buku yang diberikan Agah.


“Iya, yang ini. Makasih ya.”


“Apa kabar Ca?” Deden tak mau mengulang kesalahan sama dengan kemarin. Ia beranikan diri menyapa. Caca kaget, begitu juga temannya.


“Lho? Kenal?” tanya teman Caca. Agah mengangguk.


“Iya. Ini aku, Agah. Kemarin, maaf ga sempet nyapa baik-baik” Agah melihat Caca.


“Jadi ... Kemarin yang di fotokopian itu, kamu?” tanya Caca. Agah mengangguk.


“Aku kira cuma mirip. Soalnya agak beda, makanya aku ga berani nyapa,” raut wajah Caca mulai santai.


“Hehehe. Iya, rada kurusan sekarang,” Agah menggaruk kepala, bukan karena ketombe, tapi sudah jadi kebiasaan.


Caca dan temannya langsung pamit, tak berbicara banyak. Agah melihat Caca dan temannya berjalan pergi.


Bangun tidur pagi, Agah seolah dapat energi baru. Banyak pikiran positif bermunculan di kepala Agah. Kenapa harus merasa malu bertemu Caca ketika ia sedang kerja sambilan jadi pegawai toko fotokopi.


Ia tak melakukan kejahatan, juga tak melakukan hal hina. Agah menyadari ia tak perlu merasa malu bekerja sambilan di toko fotokopi. Tak melakukan tindakan kriminal, tak rugikan orang lain, juga merupakan pekerjaan halal.


Agah berusaha bertahan dan terus cari pengalaman saat tinggal jauh dari rumah. Kuliah bukan sekedar belajar dan membaca buku diktat.


Sebisa mungkin tak tergantung dengan uang kiriman orang tua, dan melakukan apapun untuk meringankan beban keluarga.


Memang melelahkan, kadang muncul keinginan berhenti. Tetapi menjalani rutinitas kuliah dan bekerja membuat Agah sadar, mencari uang tak pernah semudah menghamburkannya.


Merasakan betapa lelah mencari uang senilai harga sepatu yang terpajang di pusat perbelanjaan, menjadikan Agah selalu berpikir tentang prioritas kebutuhan.


Apakah barang itu perlu untuk dibeli, atau beli hanya karena keinginan memiliki. Tameng pikiran menyelamatkan Agah dari rayuan iklan dan gemerlap hedonisme.


Langit biru dan hangat cahaya matahari pagi menyorot wajah Agah. Setelah buang jauh rasa minder dalam dirinya, Agah merasa lega bernapas.


"Bandung indah hari ini," pikir Agah.


Ketika Agah menikmati langit di teras, ponsel Agah yang terletak di atas kasur bergetar lama. Lima kali panggilan masuk tak terjawab. Ponsel berhenti bergetar, tiga puluh detik kemudian ponsel kembali getar satu kali. Pesan dari aplikasi Whatsapp berbunyi:


“Gah bisa pulang ga! Abah kecelakaan.”


***