T

T
Sambel Bawang Gagal



2009


Minggu terakhir di bulan Januari. Rumah sepi  karena Ela dan Maman menginap di Cianjur sejak dua hari lalu. Mereka berencana pulang sore ini. Tak ada yang memasak, Trio Mandela mengisi perut mereka dengan lauk sederhana yaitu telur, kadang berseling mi instan.


Minggu sekolah libur, mereka coba membuat sambal bawang seperti yang mereka pelajari dari Umi mereka.


Trio Mandela suka bawang, lima belas siung bawang merah disiapkan. Kupas kulitnya saja, meskipun prakteknya banyak bagian bawang ikut teriris dan terbuang. Lima cabe rawit tak dibuang tangkainya, bukan ingin bereksperimen, tapi mereka tidak tahu kalau tangkai cabe biasanya dibuang kalau mau bikin sambal.


Kran dibuka, air mengucur mencuci bawang dan cabe. Di Bogor, dapur mereka terpasang kran yang airnya merupakan air yang dialirkan dari PAM.


Kompor gas dinyalakan, tak perlu kompor hau, di rumah tidak ada komor tanah liat, semua penduduk memakai gas sekarang.


Minyak dituang, dibiarkan sampai panas. Cabe dan bawang dimasukkan dan ...


Pletak!!


Pletak!!


Pletak!!


"Astaghfirulloh!" Agah berseru menjauh.


Adang, Agah dan Deden loncat keluar dapur. Tidak hanya bawang dan cabe yang dituang, tapi tetesan air yang tersisa di wadah untuk mencuci.


Minyak meledak menciprat ke segala arah. Uap air membumbung di atas wajan. Suara ledakan masih terdengar, tak ada yang berani mendekat. Aroma beda tercium, bukan aroma bawang goreng, tapi aroma bawang gosong.


“Dang! Gosong Dang!” kata Deden menjawil Adang.


Asap meninggi, dapur berkabut. Tak mau ambil resiko lebih buruk, Agah beranikan diri dekati kompor dan langsung mematikan.


Bawang dan cabe dalam wajan tak serupa bentuk awalnya. Menyusut, kering dan hitam.


"Gimana nih?" Mereka Saling menatap. Kalau nekat diulek, sudah pasti bakalan tetap jadi sambal: sambal bawang gagal.


Pilihan disepakati membuang bawang dan cabe gosong. Beralih ke makanan idola rakyat Indonesia: mi instan.


Catatan Resep: Tutup wajan penggorengan jika kamu takut cipratan minyak.


**


2011


Dapur ramai suara potongan dan gorengan. Ela mengaduk tempe orek di wajan, Adang memotong daun bawang, Deden mengupas telur rebus, Agah mencuci piring dan Maman mengipasi nasi baru diangkat menghilangkan uap agar tak basi.


Penghasilan Maman sebenarnya cukup menafkahi keluarga, Ela tidak membuka warung seperti di Cianjur. Sebagai ibu rumah tangga full time Ela bahagia dan tercukupi dengan penghasilan suaminya. Bisa bayar sekolah tepat waktu ia sangat bersyukur.


Biaya sekolah Trio Mandela tidak mahal, sekolah negeri biaya SPP terjangkau. Anak-anak dibiasakan menabung. Membeli apa yang butuh bukan apa yang diinginkan.


Berawal dari kegemaran Ela memasak. Ela hobi membuat kue tradisional seperti papais, lemper, lepet, bacang atau uli. Selain untuk keluarga, seringkali Ela bagikan ke tetangga atau jamaah masjid tempat ia mengaji.


Ela biasa berbagi di hari Jumat, dua minggu atau satu bulan sekali. Tak hanya kue tradisional, pernah juga Ela membuat nasi liwet, nasi kuning, nasi uduk, atau nasi bakar. Tak malu berbagi seporsi setiap tetangga, Ela tak berniat apapun selain memanfaatkan beras yang ia punya agar tidak didatangi kutu jika terlalu lama didiamkan.


Aki Ukun selalu mengirim beras pada anak dan mantunya. Beras hasil panen sawah sendiri, terlalu banyak dimakan berdua dengan Umi Njum. Setelah dibagi sebagian ke tetangga karung beras masih banyak. Aki mengantar beras ke Bogor.


Para tetangga suka masakan Ela. Satu demi satu pesanan mengetuk dapur Ela.  Pesanan nasi kotak, kue tradisional atau lauk untuk arisan. Ela tak bisa menolak, apalagi tetangga sendiri. Minimal sepekan sekali selalu ada, kalau sedang ramai sepekan ada tiga pesanan.


Sejak itu aktivitas Ela lebih sibuk dari biasanya. Tiga anak laki-laki diturunkan, Maman pun ringan tangan membantu. Seperti minggu pagi itu, televisi di ruang tengah menyala ngoceh sendiri, sementara penghuni rumah sibuk di dapur.


“Gini cara motong sayur." Ela mengajar Adang memotong sayuran dengan benar.


“Mun ngupas bawang gini." Berpindah ke Deden diajar kupas bawang.


Tak peduli ketiga anaknya laki-laki, Ela tak ragu mengajar mereka memasak. Seringkali Agah masak nasi atau masak sayur bayem bening.


Resep sambal bawang gagal tinggal kenangan. Berkat bimbingan Umi, mereka kini bisa membuat sambal bawang maknyus.


Tak hanya memasak, pekerjaan rumah Ela bagi adil pada kembar. Ada yang menyapu teras, ngepel rumah,


menyikat kamar mandi, jemur baju, atau cuci piring. Semua dimulai sejak mereka SMP.


Ketika kembar masuk SMA , Ela pensiun dari kerjaan mencuci dan setrika baju. Apabila hari minggu tiba, sebelum berangkat main ke rumah teman, setiap anak punya tanggung jawab bersih-bersih lingkungan rumah.


Bisa dilihat dari bersih dan rapi rumah Ela dan Maman yang sederhana. Meski rumah pinjaman dari Haji Salam, wajib dirawat. Begitulah cara menunjukkan rasa syukur terima kasih.


***


Sore sebelum adzan ashar berkumandang. Pesanan selesei siap diantar ke rumah tetangga. Selesei bantu umi-nya, Deden izin berangkat ke rumah Alvin, teman SMP yang juga jadi teman SMAnya.  Agah ijin mau baca-baca di toko buku, sementara Adang berencana olahraga di Lapangan Sempur.


Keluar rumah bersama lalu pisah di ujung gang. Agah naik angkot menuju toko buku. Dalam saku celana ia meraba memastikan barangnya tidak tertinggal. Dompet dan rokok.


Susah payah Agah sembunyikan rokok dari jangkauan dua saudara dan orang tua.


Rokok. Jangan sampai ketahuan.


***