T

T
Bengkong



“Cunat?” tanya Ela pura-pura tak mengerti.


“Bukan!" jawab Deden.


Ela mikir. Peragakan telapak tangan kanan kiri, digabung. Jemari telunjuk bersatu menunjuk langit. Jemari lain dalam kepalan.


“Cunat, kayak gini?"


“Bukan Umi!” Tak kurang kreatif. Ela balikkan badan. Menusuk belahan pantat Deden pakai dua telunjuk yang disatukan tadi.


“Iya, yang gini kan?"


“Bukan, Umiiiiiiii!" Hampir Deden nangis. Putus asa.


“Sunaaaaaaaat! Umiiiiiiiiiiiiiiiiiii!” Deden kesal.


Ela tertawa, "Oh, rupanya anakku sudah besar. Ingin disunat."


Tak salah, Ela berpikir demikian. Istilah cunat, tengah populer zaman itu. Setiap anak, orang tua, Danramil, Koramil, Aparat Desa, bengkong, tukang pijit, terpapar istilah cunat. Cunat dipraktikan dimana-mana. Anak kecil, dewasa, tua, berbagai profesi.


Deden elap ingusnya. mengangguk.


“Kalo Agah dan Adang juga pengen?" tanya Ela pada dua anak lain.


"Terserah Umi we," jawab Adang.


Pandangan Ela beralih pada anak bertubuh paling gemuk, Agah.


“Nggak mau!" teriak Agah. Mata Agah berkaca-kaca. Ia menggeleng. Membenamkan kepala di lengan ibunya. Ela tersenyum.


“Ya udah, sunat we atuh kalo gitu.” Ela menggoda.


Deden semangat, “Horeeee!"


***


Sejak sepekan lalu, wacana sunat didengungkan Aki Ukun. Inilah prakondisi. Saat ajak anak-anak main, Aki Ukun akan menghasut.


“Cucu kakek yang baik, mau Cunat nggak?" tanya Aki Ukun di suatu sore pada tiga cucunya.


“Cunat apaan?” Deden yang punya sifat selalu ingin tahu bertanya.


“Dibersihin burungnya Nak. Biar sehat,” Aki menunjuk celana Deden.


“Kalo nggak dibersihin kenapa Ki?” cecar Deden.


“Nanti nggak bisa tinggi. Jadi kuntet!” timpal Aki Ukun bohong.


Fakta pertama tentang sunat:  Sunat bukan faktor utama penentu tinggi badan anak laki-laki, camkan itu kisanak!


Deden berpikir. Agah yang mencuri dengar mendekat, penasaran.


“Sakit gak Ki?” tanya Agah hati-hati.


“Nggak atuuuuh, kayak digigit semut.” Lagi, Aki Ukun berbohong.


Fakta kedua tentang sunat:  Sunat itu sakit dan pedih!


Masa penyembuhan sunat butuh waktu satu sampai dua minggu. Semut mana yang bisa meninggalkan rasa sakit selama itu? Jika sunat terasa seperti digigit semut, maka tak akan ada anak nangis sampai menjerit-jerit kejer di ruang sunat.


Aksi kebohongan yang dilakukan Aki Ukun, tak membuat cucu kembarnya tertarik dengan sunat. Ia pun menggunakan jurus andalannya.


“Nanti, kalau beres sunatan, Aki beliin sepeda. Roda tiga. Warnanya merah!" bujuk Aki Ukun.


Agah menaikkan alis. Mata Deden melotot. Adang menganga. Umpan Aki dimakan ikan.


“Sepedanya satu atau tiga?" Bakat negoisasi Adang muncul.  Aki Ukun diam sebentar. Ia berfikir. Kira-kira  jawaban apa yang harus ia beri.


“Tilu!” Jari keriput Aki Ukun, teracung tiga di hadapan cucu-cucunya.


“Wah!” Deden terkagum-kagum. Agah mengangguk dan Adang berfikir sejenak.


“Adang nggak pengen sepeda, Ki. Ganti yang lain boleh?” kata Adang dibalas anggukan Aki Ukun.


“Motor yang kayak punya Aki,” Adang menunjuk motor Aki Ukun yang terparkir di halaman.


“Motor? Emang Adang bisa pake?" Aki Ukun tertawa geli mendengar jawaban Adang.


“Abah yang pake, kalo ada motor, ntar Abah bisa ngebonceng kita lagi keliling desa sore-sore."


Aki Ukun terhenyak pucat. Sementara, Agah dan Deden memandang Adang kagum setelah dengar jawaban Adang.


Motor yang sudah dijual beberapa bulan lalu, membuat Maman tidak bisa lagi menghibur anak kembarnya jalan-jalan keliling kampung lihat sawah menghampar dan pemandangan Gunung Beser.


Perundingan sore antara Aki Ukun dan Adang berjalan alot. Aki Ukun tidak putus usaha. Keesokan harinya, keesokannya lagi, Aki Ukun terus menggoda agar cucu-cucunya mau disunat.


Namun, rencana kacau ketika salah satu tetangga mengadakan acara hajatan. Dua minggu setelah Asep, anak tetangga disunat. Tetangga yang rumahnya terletak enam rumah dari rumah Aki Ukun mengadakan acara Buroh alias Sisingaan.


Sisingaan adalah acara dimana bocah yang disunat dinaikkan ke atas bangku bentuk binatang. Dipanggul empat orang diarak keliling kampung.


Cucu kembar Aki Ukun punya respon yang berbeda setelah melihat acara itu.


Adang tidak semangat. Ia lebih tergoda dengan puluhan gelembung sabun berterbangan, ditiup mamang tukang jualan di pinggir jalan.


Agah dan Deden pucat. Tak sanggup membayangkan mereka didudukkan di atas bangku seperti Asep. Agah yang pemalu tidak mau jadi tontonan orang sekampung. Lebih baik tidak sunat daripada dipamer-pamer keliling kampung.


Sejak itu, Agah tidak tergoda dengan iming-iming Aki Ukun, namun Adang punya rencana lain. Tanpa sepengetahuan saudaranya, ia membuat kesepakatan dengan Akinya.


Hadiah sunat:


Tiga sepeda roda tiga.


Plus motor Aki Ukun, boleh dipakai Abah Maman kapanpun mereka minta dibonceng keliling kampung


***


Tokoh yang bisa membuat bulu kuduk anak-anak kaku berdiri, bukan monster, bukan culik, bukan juga polisi. Bengkong adalah legenda yang buat nyali anak paling berani beringsut menyusut.


Bengkong adalah tukang sunat kampung yang dilengkapi alat penjepit terbuat dari bambu, ada juga yang berbahan perak dan pisau untuk memotong.


Di daerah pinggiran atau udik, bengkong biasa menggunakan getah kimpul sebagai obat luka sunat. Mereka juga memberikan sulfanilamit, serbuk andalan sebagai obat luar berbentuk puyer.


Di desa Campaka, Abah Samlani adalah bengkong berusia enam puluh tahun. Ia populer di kalangan warga kaki Gunung Beser.  Sekalipun usia tua, pandangan matanya masih tajam dan akurat.


Aki Ukun merekomendasikan Abah Samlani menyunat cucu kembarnya. Ela dan Maman beda. Mereka punya keinginan lain. Keduanya pilih menyunatkan anak-anak di Pak Mantri, yang buka praktik di desa Cibeber.


Pak Atim namanya. Badannya tinggi kurus dan berambut keriting cepak. Meski bernama Atim, warga selalu memanggilnya : Pak Mantri.


Pak Mantri adalah kepala perawat. Ia tak pernah membuka praktek secara resmi di rumah, tetapi karena banyak warga tahu profesinya sebagai tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit Cianjur, sehingga warga sakit dari sekitar dan tetangga desa, lebih memilih datang berobat ke rumah Pak Mantri dibanding ke Rumah sakit.


Obat yang diberikan Pak Mantri tidak jauh-jauh dari Parasetamol, vitamin C, Vitamin B, atau antibiotik Amoxilin. Untuk kulit gatal adalah salep hydrocortizon.


Banyaknya warga yang sembuh dengan obat dasar pemberian Pak Mantri, membuat Pak Mantri jadi lebih dipercaya dibandingkan dokter Puskesmas. Lambat laun, kepopuleran Pak Mantri tidak hanya seputar pada obat yang mujarab, tetapi sebagai tenaga medis yang bisa menyunat secara modern dan terpercaya.


Banyak warga menyunatkan anak di Pak Mantri. Selain ebih modern, obat yang diberikan pak Mantri juga dipercaya lebih ampuh.  Itulah yang mendasari Ela dan Maman membawa anak-anak kembarnya ke Pak Mantri.


Hari sunat tiba, Agah menjerit-jerit saat disunat. Adang nyengir menahan sakit, dan Deden menangis sebentar. Pulang dari rumah Pak Mantri, mereka bahagia melihat sepeda roda tiga baru berjejer di halaman rumah.


Tak ada acara buroh atau sisingaan seperti janji Aki Ukun pada Agah. Butuh uang banyak mengadakan acara heboh melibatkan orang banyak.  Cukup, nasi liwet lauk ayam goreng, tempe orek, dan sambel pedes seuhah dibagikan ke tetangga sebagai bentuk syukur.


Bagi Adang, kebahagiaan yang didapat setelah Sunatan adalah dapat banyak uang saku dan kembali bisa menikmati udara sore sambil dibonceng sepeda motor Honda Astrea Grand milik Aki Ukun yang dipinjamkan pada Abah.


***