
“Siapa Gah?” Basuki baru keluar kamar mandi.
“Bukan siapa-siapa. Orang nanya alamat” Agah tak mau Basuki tahu pemilik Kasep datang mencari. Basuki bisa murka keluarkan jurus kamehame kalau tahu kucing yang ia jual ternyata bukan kucing liar. Biarlah rahasia dipegang oleh Agah.
“Kapan-kapan, gua boleh ikut lu kuliah?” tanya Agah mengalihkan topik pembicaraan. Basuki berbalik menatap Agah aneh.
“Ngapain lu ikut kuliah gua? Udah bosen ma jurusan lu?” Basuki terkekeh. Agah tak bisa bilang bahwa ia ingin bertemu Caca. Memastikan bahwa pembeli Kasep, teman sejurusan Basuki adalah Caca yang sama dalam kenangan SMA Agah.
“Ya iseng aja 'lah. Ntar kalo gua ga ada jadwal masuk kerja. Gua ikut lu pas kuliah sore."
Dua bulan jadi mahasiswa Agah mencari kerja sambilan untuk tambah uang kuliah. Besaran beasiswa yang didapat tidak bisa diharapkan, apalagi baru cair satu semester sekali. Meminta uang saku pada abahnya, bukan hal bijak karena penghasilan Maman tidak besar.
Agah putar otak, iseng tawarkan tenaga sebagai pekerja sambilan untuk shift sore atau malam dimana ia tak ada jadwal kuliah. Setelah seminggu dari pintu ke pintu menawarkan diri, Agah diterima jadi pegawai penjaga toko foto copy tak jauh dari kampus.
Seorang pegawai terpaksa berhenti karena pulang ke Sukabumi lantaran orang tua sakit parah. Rejeki tak akan kemana, Agah datang menawarkan tenaga disaat tepat. Hari itu ia diterima sebagai pekerja shift malam yang dibayar perminggu. Lumayan menambah uang makan.
Mencoba cari celah, tak ada jadwal libur Agah cocok dengan kuliah Basuki. Agah libur di hari minggu. Tak ada perkuliahan di hari minggu. Agah harus bersabar lebih lama.
Namun, dua hari kemudian, secara tak sengaja Agah melihat Basuki dan kawan-kawannya diskusi di perpustakaan kampus. Agah datang meminjam buku referensi tugas makalah. Saat itulah ia melihat dari kejauhan Basuki tertawa bersama beberapa kawannya.
Empat orang mahasiswi ada di antara mereka, duduk terpisah. Satu orang berkerudung lebar menulis sesuatu dengan serius. Seperti detektif melakukan misi, Agah sembunyi-sembunyi mendekati kelompok belajar Basuki.
Menutupi badan gemuk di antara lemari buku, Agah mendekat dan melihat jelas sosok berkerudung lebar dari belakang.
" Apa benar itu Caca?"
“Ca!” Seorang di belakang Agah memanggil. Reflek Agah menutup wajah dengan buku.
Caca menoleh, Agah bisa pastikan. Dia adalah gadis yang sama. Jantung Agah berlari mendadak, muka memerah. Gejala yang berbulan-bulan tidak ia rasa sejak lulus SMA, kini kembali.
Agah bersorak dalam hati. Ia satu kampus dengan gadis idamannya.
***
Pintu masuk kebun raya Cibodas masih sepi. Adang menghentikan motor, sementara Deden duduk diboncengan belakang celingukan mencari seseorang.
“Mana Tono?” tanya Deden tak sabar. Adang mengamati beberapa orang, belum kelihatan sosok Tono sahabat karibnya.
“Katanya disini. Pintu masuk kebun raya Cibodas,” Adang menjelaskan.
“Tunggu dulu bentar” Adang menepuk pundak Deden.
Hari itu Adang mengajak Deden naik gunung bersama Tono dan pamannya. Mendaki Gunung Gede Pangrango. Sementara Agah sibuk dengan urusan kucing dan pengejaran gadis idaman di Bandung tempat ia kuliah, Adang menikmati akhir pekan dengan melakukan hobi.
Tono lambaikan tangan dari kejauhan. “Den! Yok!” Menyalakan motor pinjaman dari Abah mereka, Adang mendekati posisi Tono.
“Dari tadi?” Paman Tono, yang selisih usia tiga tahun dari mereka menyapa, ia mengenal Adang sudah lama. Mahasiswa IPB jurusan Agrobisnis, perawakan tinggi besar dan rambut keriting berantakan. Biasa dipanggil Bang Jae oleh Tono, begitu pula Adang memanggilnya.
“Ini sodara saya Bang. Deden” Deden tersenyum. Pertama kali Deden bertemu Tono dan Jae.
Zainal Yakub, nama lengkapnya. Biasa dipanggil Jae, ia adalah adik bungsu dari ibunya Tono. Meski bertubuh tinggi besar semi gendut tak membuat gerakannya melambat. Penyuka kegiatan yang bersentuhan dengan alam, badan besar Jae lincah dan bisa diandalkan.
Naik gunung dan rafting adalah hobi utama Jae. Tak terhitung gunung di Indonesia yang sudah ia daki sejak SMP. Semeru, Salak, Pangrango, Sumbing, Merbabu, Rinjani, Merapi, dan masih banyak lagi.
Banyak cerita seru Jae punya. Kisah yang sering ia ceritakan pada Tono dan Adang. Dari Jae 'lah tumbuh kesukaan Tono dan Adang pada pendakian. Belajar mendirikan tenda, mengenal tanaman gunung beracub, dan ketrampilan survival di alam.
Di gunung, hutan, sungai, air terjun, dimanapun ia berada, apapun aktifitasnya Jae selalu menjaga sholatnya. Salah satu hal yang membuat Tono dan Adang respek padanya. Jempol lima buat Jae.
"Perbekalan udah siap semua?" Jae memastikan.
"Siap Bang."
"Obat-obatan? Buat jaga-jaga."
"Udah Bang." Semua sudah disiapkan seksama oleh Adang sejak semalam.
"Udah pada sarapan?"
"Udah Bang, tadi makan bubur di pinggir jalan."
Jae mengangguk, melihat jam tangannya. Jam enam lebih sepuluh menit.
“Bismillah! Yok! Langsung. Biar ga kemaleman.” Motor dinyalakan. Jae membonceng Tono, Adang membonceng Deden. Bawaan ransel besar di depan dan belakang perlambat laju motor.
Tenda, panci, sleeping bag, makanan instan, botol minum, kompor portable, perlengkapan P3K dan masih banyak lagi isi berjejalan dalam ransel. Persiapan bermalam di hamparan pasir Alun-Alun Surya Kencana.
Hari itu, mereka berniat menaklukkan Gunung Gede.
***
--Bonus-- Resep Sambel Bawang anak kost.
Bahan:
Tujuh cabe rawit merah, penyuka warna orange boleh diganti cabe rawit orange. Boleh juga menambah jumlah cabe biar makin jeletot. Suka-suka kalian saja.
Dua siung bawang putih, bagi penggemar bawang putih yang baik hati silakan ditambah siungnya, asal memang suka dengan aromanya.
Satu sendok makan minyak goreng panas.
Garam, gula dan micin secukupnya bagi yang suka.
Cara membuat Sambal :
Cuci bersih cabe rawit, rendam dalam air panas selama dua atau tiga menit aja. Lalu buang airnya.
Siapkan cobek, boleh cobek batu, cobek kayu, cobek tanah liat, cobek murah atau cobek mahal, asal jangan cobek pecah. Tak bisa dipakai.
Ulek cabe rawit dan bawang putih. Cabenya tak perlu sampai halus ya, supaya krenyes-krenyes kalau dikunyah dan untuk menghemat energi kalian. Tambahkan minyak panas, garam/kaldu bubuk dan gula. Ulek lagi sampai rata.
Siap dimakan pakai nasi panas dan kerupuk bagi anak kos kere. Jika memasak di awal bulan atau beasiswa baru cair lebih baik ditambah ayam goreng atau udang goreng. Perbaikan gizi.
Selamat membuat sambal!
***