
Ruang IGD penuh. Tenaga kesehatan mondar-mandir keluar masuk ruangan. Ada yang membawa obat, ada yang lari terburu-buru membawa infus.
Ela meremas telapak tangannya. Ia tidak paham apa yang dilakukan dokter pada Agah. Ia sesenggukan menyalahkan diri sendiri. Kalimat seharusnya dan seandainya silih berganti salto dalam pikirannya.
"Harusnya nggak masukin cairan pembersih lantai ke gelas Aqua."
"Harusnya nggak nyimpen di lemari bawah."
"Seandainya aku ngecek anak-anak lebih sering."
"Seandainya aku tak sibuk goreng ubi di dapur."
Kalau mau berandai-andai, seharusnya lebih ekstrim lagi. Seandainya nabi Adam tidak turun ke bumi. Sekalian. Tapi, Ela bukan orang yang suka berfilsafat. Ia hanya ibu rumah tangga biasa lulusan SMP yang tinggal di pelosok Cianjur.
Ela ingat pernah membaca tulisan dalam kemasan cairan pembersih untuk menyikat kamar mandi pasti tertulis "Jauhkan dari jangkauan anak-anak".
Tulisan yang akan diingat oleh Ela, sampai anak anaknya jadi bujang, sampai ubannya tumbuh memenuhi setengah populasi rambutnya.
Tulisan itu lebih penting dan harus diperhatikan melebihi tulisan 'Isi lebih banyak 20%' pada bagian depan produk cairan pembersih.
Wajah Ela pucat seperti remaja yang merawat wajah dengan bedak Nyai Pohaci. Putih.
Jika suatu yang buruk sampai terjadi pada Agah, ia tak bisa memaafkan dirinya seumur hidup sebagai ibu.
Memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, membuat Ela tak pedulikan sinyal lapar yang dikirim saraf ke otak. Perut bunyi tak terdengar. Sakit usus melilit tak sebanding dengan kekhawatiran dalam benak. Kalut.
Di Ruang IGD, dokter mengelilingi Agah. Mulut Agah biru sebiru Bulao, produk tenar zaman Klingon yang biasa dioleskan ke wajah anak-anak ketika terkena sakit gondong.
Selang dipasang. Jarum suntik ditusukkan.
Cuss.
Agah tak menjerit karena tidak sadar. Koma. Namun belum titik.
Setelah beberapa jam menunggu di luar ruangan IGD, dokter berkepala botak menghampiri Maman dan Ela.
"Dokter," sapa Maman berharap.
"Untuk saat ini, kami sudah lakukan yang terbaik. Cairan sudah dikeluarkan, kami akan terus pantau kondisi Agah." Hanya itu yang dikatakan dokter.
Ela dan Maman mengangguk lega.
***
Umi Njum selalu hadir mendukung anak dan menantunya. Ia menjaga Adang dan Deden saat Ela dan Maman sibuk di rumah sakit. Ela tak punya keberanian tinggalkan Agah sendiri di rumah sakit.
Satu minggu kemudian, Agah membaik. Keterlibatan dokter spesialis bedah anak sejak Agah masuk IGD, membuat luka Agah selalu terpantau. Mulut Agah tak lagi biru. Luka melepuh di bibir mengering.
Dua pekan di rawat, Agah kembali tertawa dan aktif. Wajah Ela kembali bersinar, dihiasi senyum bahagia saat Agah diperbolehkan pulang meski harus kontrol rutin pekan depannya.
Agah mainkan mobil-mobilan di atas ranjang, Ela merapikan barang-barang bersiap pulang. Maman menuju ruangan administrasi.
Ela rindu dua anaknya yang lain, selama dua minggu ia terfokus di rumah sakit. Hanya sempat bertemu Adang dan Deden sebentar ketika pulang bergantian jaga dengan Maman.
“Biayanya pasti sangat mahal." Pikiran Maman gelisah, khawatir uang yang ia siapkan tidak cukup melunasi biaya rumah sakit.
"Pak Maman Surahman!" panggil petugas kasir.
Maman berjalan gontai seperti penderita encok, rematik, dan pegal-pegal.
Membaca rincian membuat Maman makin pusing. Daftar nama obat, tindakan dan uraian lain yang tertulis di kertas tidak bisa ia baca.
Bukan karena Maman tidak bisa baca, tetapi semua istilah medis yang tertulis adalah kata-kata asing yang baru pertama kali ia dengar.
Daripada kepala pusing seperti ditendang kaki domba, Maman pilih melewati bagian perincian. Matanya langsung tertuju pada total angka paling bawah.
Dua juta empat ratus ribu rupiah.
Perasaan lega membuat udara panas seolah berubah. Angin jadi terasa sejuk sepoi-sepoi. Maman merasa bagai di pantai Hawai. Santai.
Percaya diri, Maman serahkan semua uang tunai dalam amplop yang ia bawa.
"Ini Pak." Petugas kasir menerima dan menghitung lembaran uang yang dibayarkan Maman.
"Bentar ya Pak. Saya print-kan kuitansinya." Maman mengetukkan jemari ke meja, telapak kakinya berayun pelan ikuti ketukan lagu yang terdengar dari speaker komputer kasir.
***
Maman dan Ela menyewa angkutan umum, pulang menuju rumah. Beruntung ada sisa uang satu lembar untuk pulang. Sesampai rumah Umi Njum dan Aki Ukun menunggu di depan pintu.
Adang dan Deden berlarian menghampiri ibu mereka. Bungah kabina-bina, bahagia sekali.
Yang paling bahagia, tentu saja Maman. Ia merasa bangga dan terhormat mampu lunasi biaya perawatan rumah sakit tanpa berhutang pada Aki Ukun, atau meminjam ke lintah darat. Bagi Maman hal itu adalah pencapaian hebat.
Pelunasan itu, membantu Maman naik level jadi laki-laki mandiri. Ia merasa menjadi manusia paling bahagia seantero Gunung Beser, kecamatan Campaka, Cibeber, Cianjur.
Maman gembira, melihat ketiga anaknya kembali berkumpul. Tumbuh bersama, sehat dan ceria. Bisa menemani dua orang tuanya yang renta, tetapi sehat wal afiat. Didampingi seorang istri sederhana nan setia.
Maman tak peduli jika masa tugas motor Honda tua kesayangannya harus berakhir, dibarter dengan uang dua juta lima ratus ribu rupiah.
Sesuai kalender 1997. Jumlah dua juta lima ratus ribu rupiah tidaklah sedikit. Maman adalah Bapak sejati. Seandainya ia harus menukar nyawa dengan kebahagiaan, kesehatan, dan keselamatan keluarganya, tentu akan ia lakukan!
***
Deden yang asyik main pedang-pedangan dari batang singkong, tiba-tiba jongkok di pojokan. Ia melihat sesuatu yang menarik.
Sebuah koin. Terselip di bawah kursi kayu keropos. Deden menoleh ke kanan dan kiri, tolah-toleh seperti maling. Entah darimana, Deden mendapat ide menyimpan uang koin lima ratusan di dalam mulutnya.
Selanjutnya bisa ditebak. Deden keselek. Uang koin bukan cuma masuk ke mulut, tapi meluncur ke kerongkongan. Tersangkut.
Deden panik. Ia lari, sambil memegang leher.
“Umiiiii!”
Sejam kemudian, Ela dan Maman, bertemu lagi.
Dengan siapa?
Ya dokter!
Dokter siapa?
Dokter botak. Di ruang IGD.
***