T

T
Black



“Kenapa ini, Den?” Ela marah-marah melihat seragam anaknya penuh noda pasir. Deden nyengir.


“Nanti biar Deden yang cuci sendiri, Mi,” jawab Deden.


“Kenapa ada luka macam begini?” Ela memencet luka gores di jidat Deden.


"Jatuh Mi."


Tak mau lama ditanya-tanya lebih jauh, Deden masuk ke kamar mandi membasuh lecet di badan. Agah yang sudah pulang lebih dulu memerhatikan Deden dari dapur sambil makan.


Jam menunjuk pukul empat sore, Adang belum pulang, ada pertandingan karate tingkat SMP di Gor Pajajaran Bogor. Sejak kelas satu SMP Adang mengikuti ekstrakurikuler karate.


Adang menyimpan bakat terpendam yang baru digali, ia selalu menang turnamen tingkat kota dan selalu jadi andalan sekolah. Agah lebih tertarik dengan ekskul pramuka, sementara Deden aktif jadi tim sepak bola.


Ela pikir, ketiga anaknya menjalani kehidupan siswa SMP biasa. Belajar, ikut ekskul, dan main bersama teman-teman. Andai saja Ela tahu, kalau tawuran menjadi salah satu aktivitas sampingan yang dilakukan anak kembarnya, mungkin Ela akan ngegebotin, memukul mereka  dengan sapu lidi biar kapok.


Agah membaca komik One Piece sambil tiduran. Di kasur sebelah ada Deden ngiler terlelap kecapekan. Agah perhatikan Deden. Ia mengingat jelas badan kurus Deden melempar batu dengan gerakan tangan lincah.


Tidak seperti dirinya yang ketakutan, Agah menyadari meski bertubuh kecil kerempeng Deden kelihatan gagah bak karakter utama One Piece, Luffy. Deden tampil berani di barisan depan. Barisan depan pihak lawan.


Agah berbalik tak ingin Deden melihatnya. Sejak awal otak pintarnya berkata, ikut tawuran itu paling salah dan ngawur. Tak ada benarnya, tapi ia tak punya keberanian menolak ajakan Bobi karena harga diri. Harga diri tak mau disebut bencong.


Agah tak mengira akan bertemu Deden di antara hujan batu. Ia tak mau jika harus memukul atau melempar saudara yang selalu berbagi makanan untuknya.


Saling bertengkar bukan hal baru bagi Adang, Deden dan Agah. Sejak kecil saling rebut, saling pukul, saling tendang, saling dorong menjadi cerita harian mereka.


Meski berbadan paling besar, Agah tak pernah bisa menang dari dua saudaranya. Perkelahian antara Adang dan Deden selalu berakhir seri, tak ada yang mengalah atau berhenti sebelum dilerai.


Begitulah saudara.  Belum disebut saudara jika belum berkelahi, tapi semua hanya sekilas. Bukan perkelahian serius. Satu menit bertengkar lima menit berikutnya sudah saling berbagi dan main bersama lagi.


Tawuran adalah hal berbeda. Tawuran serupa perang. Dimanapun kamu berdiri, disitulah kamu harus memenangkan kelompokmu. Tak peduli apakah kelompokmu salah atau benar. Intinya tunjukkan kekuatan dan panggul kemenangan. Maka sekolahmu tak akan diremehkan.


Itulah kebanggaan.


Kebanggaan sesaat yang ada di kepala remaja masa pubertas yang masih pabaliyeut, bingung menemukan jati diri dan haus pengakuan eksistensi.


“Mau kemana lu?" Bobi menarik lengan Agah sebelum berhasil kabur.


Pihak lawan makin mendesak maju. Bobi melepas pegangannya pada Agah dan berlari mengayunkan balok kayu secara acak.


Tak lama kemudian, kelompok ketiga datang: ibu-ibu entah darimana datangnya membawa ember berisi bekas cucian piring milik pedagang di sekitar.


Air disiram ke dua kubu.  Ibu-ibu dengan suara cempreng memaki-maki. Sementara warga lain membantu dengan memukul para bocah nakal.


“Bubar! Bubar! Sudah dibiayain sekolah mahal-mahal malah tawuran!”


Formasi dua kelompok berantakan. Tawuran berhenti, bubar. Gerombolan anak-anak SMP itu tak berani melawan orang yang lebih tua, terlebih ibu-ibu.  Mereka takut kualat.


Sisi positif  dongeng Malin Kundang sering dibahas dalam pelajaran Bahasa Indonesia:  Senakal apapun, seberani apapun, sejago apapun dalam tawuran, jangan pernah melawan sosok ibu.


Agah pulang setelah membuang tongkat kasti di selokan pinggir jalan. Diam-diam ia naik angkot. Setiap ada anak berseragam putih biru berjalan ia perhatikan seksama. Agah berharap Deden baik-baik saja, pulang dengan selamat.


Agah menghela napas lega, melihat napas Deden naik turun teratur tidur di kamar yang sama dengannya. Ia tak berani bertanya atau membahas apapun tentang tawuran hari itu. Semoga Deden tak pernah melihatnya, hanya itu harapan Agah.


***


“Gah, pinjam buku matematika ya?" Deden menunjuk buku diktat matematika.


“Suka diperiksa Guru." Jelas Deden, Agah mengangguk.


Untuk  menghemat mereka biasa pakai buku diktat bergantian. Meski tidak satu sekolah, beberapa pelajaran menggunakan buku keluaran penerbit sama. Sehari setelah hari tawuran semua berjalan seperti biasanya.


“Katanya kemarin anak SMP T tawuran dengan SMP G,” kata Adang sambil melipat seragam karate.


“Kata siapa?" tanya Deden pura-pura tak tahu.


“Ada teman ogut cerita kemaren pas pulang turnamen. Katanya disiram emak-emak baru semua bubar." Agah menyibukkan diri menata buku dalam tas. Tak merespon.


“Mandelaaaaaaaa. Buruan turun, ntar nggak sempat sarapan lagi!” teriak Ela dari bawah.


“Yaaa miiiiiiiiiiiii!” jawab Adang, Deden dan Agah bersamaan.


Mandela? Siapa itu Mandela?


Benahi posisi duduk, baca perlahan, berikut kukisahkan siapa itu Mandela.


Nama Mandela pasti mengingatkan sosok revolusioner antipartheid Afrika Selatan, Nelson Mandela. Namun yang dipanggil oleh Ela dengan nama Mandela, sebenarnya adalah ketiga anaknya.


Mempunyai tiga anak sekaligus, sering harus memanggil mereka secara bersamaan. Ela tidak mau terlalu ribet dengan nama, setelah berpikir lama dan panjang, satu hari sebelum Maman berangkat ke catatan sipil mengurus akta kelahiran, mereka sepakat menambahkan nama belakang ketiga anak mereka.


Mandela. Bukan terinspirasi dari Nelson Mandela, karena Ela dan Maman tidak kenal siapa itu Nelson Mandela. Hidup mereka terlalu sibuk untuk menghafal nama orang luar negeri.


Sederhana sekali, Mandela adalah nama gabungan antara Maman dan Ela: MANDELA.


Sesederhana itulah pola pikir Ela dan Maman. Mulai sekarang, mari kita sebut kembar bersaudara dengan Trio Mandela, sederhana kan?


Obrolan tentang tawuran terpotong. Masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Trio Mandela sarapan dengan tenang. Nasi hangat, sambal bawang, terong dan tahu goreng tepung.


Masa pertumbuhan membuat banyak perubahan dalam pola makan. Deden makan dengan porsi paling banyak, dan makan paling cepat.  Agah makan sedikit karena badannya terus mengembang, ia mengurangi porsi makan. Adang makan paling lama, porsi wajar.


Cara makan Adang yang lama membuat orang gregetan melihat. Ketika yang lain sudah makan tiga suap, Adang makan satu suap belum beres, masih dalam proses ngunyah. Sebelum mulutnya kosong Adang tidak akan masukkan makanan berikutnya.  Meski begitu Adang tumbuh paling tinggi dengan postur tegap di antara saudaranya.


 


Siang itu di SMP G tempat Deden sekolah, beredar kabar burung tentang jagoan di SMP Z. Kabarnya, jika jagoan ini turun medan tawuran, pihak lawan akan memilih mundur tanpa tanding.


Black namany. Tinggi besar dan ahli taekwondo, dikenal sebagai One Punch Boy, sekali pukul lawan langsung ngejoprak. Bahkan di SMP Z sendiri, Black tak ada lawan.


Mendengar cerita teman-teman, Deden penasaran ingin tahu sosok Black dari SMP Z ini.


Berbeda dengan dua saudaranya yang tidak suka tawuran. Deden sebaliknya.  Deden selalu bersemangat jika genderang tawuran dibunyikan. Tak peduli apapun akar masalahnya, yang penting turun ke jalan.


Seru-seruan bersama teman-teman. Bertarung membuat adrenalinnya terpompa. Makin menegangkan makin bahagia. Meski tidak punya skill tarung mumpuni, Deden punya nyali.


Keahlian main sepak bola menjadikan kaki Deden sekeras tiang listrik. Sekali tendang, bisa encok berminggu-minggu. Ingin sekali ia bertemu si Black dari SMP Z dan melihat sepak terjangnya langsung di medan tawuran.


***


Suasana damai selama sebulan sejak tawuran hari itu.  Tak ada tawuran antar sekolah. Perang dingin antar sekolah hanya terjadi di antara anak-anak tengil. Bagi anak-anak pintar dan baik, sekolah ya seperti apa adanya. Berangkat, belajar, main, dan pulang.


Bertemu dengan anak sekolah lain bukan hal aneh. Beberapa senang karena bisa bertemu dengan teman SD dulu. Lain soal di kalangan anak laki-laki penghobi tawuran. Beberapa wajah saling kenal, kenal dari sering jumpa saat tawuran, jika bertemu di luar terasa aura dingin antara mereka. Biasanya akan saling memalak.


Sepulang sekolah, Deden dan Alvin berencana membeli hoody. Kondisi ekonomi keluarga pas-pasan, Seperti dua saudaranya, Deden terbiasa menabung jika ingin membeli sesuatu. Deden menyisihkan uang jajan sebulan untuk membeli hoody di mall BTM tempat gaul anak sekolahan.


Keluar lift menuju lantai paling atas tempat toko baju yang dimaksud, Deden dan Alvin bertemu lima anak SMP Z. Salah satunya mengenali Deden.


“Woi!” Deden dan Alvin menoleh.  Mereka dipepet. Tanpa banyak omong, mereka menarik Deden dan Alvin ke pojokan. Masuk ke dalam lorong toko yang sepi. Tanpa penjelasan, pengenalan, pembukaan, wakil kelima anak ini langsung bicara.


“Kesiniin duit!”


Deden kebingungan, “Buat apa?"


Plak!


Telapak tangan anak itu melayang di kepala Deden.


"Gimana gua aja dong! Mau tau aja! Mau dipake mabok ato milok, gimana gua aja!" Mendengar kata mabok, terlebih melihat di lengan anak itu ada tato Deden dan Alvin mengkeret.


Padahal tatonya, tato tempelan. Sebulan bisa hilang. Dibuat di pinggir trotoar Taman Topi.


Terhimpit tak bisa melawan, tangan Deden gemetar menyerahkan uang tabungannya. Matanya panas, dada sesak. Adakah cara melawan mereka. Dua lawan lima tak sebanding, apalagi mereka bertubuh lebih besar darinya.


Deden mengulurkan uang. Namun seruan terdengar lantang dari luar lorong,


“Woi!” Terhentak, mereka menoleh ke sumber suara.


Lima anak SMP Z mundur belum sempat mengambil uang Deden. Ketika sosok itu maju, Deden segera memasukkan kembali uangnya ke saku.


“Balikin!” kata anak berseragam putih biru bertubuh tinggi besar memakai topi hitam dan tas slempang hijau belel pada lima anak di depan Deden dan Alvin.


Deden mengenali wajah pemilik suara. Itu adalah Adang saudara kembar tak identiknya. Adang berjalan dengan gagah mendekati mereka.


“Kita belum ngambil apa-apa kok, Black," Kata seorang dari mereka ketakutan.


Black? Mendengar nama Black disebut, Deden melotot tak percaya. Deden melihat Adang.


Tak percaya dengan jawaban anak lain, Adang bertanya pada Deden, ”Bener?”


Deden mengangguk pelan tanpa berkata.


“Jangan malak-malak orang. Malu-maluin nama sekolah aja. Sana pergi!” kata Adang, lalu lima anak pergi terburu-buru.


“Kalian nggak papa?” tanya Adang pada Alvin dan Deden.


“Nggak, makasih udah bantuin,” kata Alvin.


Adang pergi setelah melihat kondisi Deden, sesuai kesepakatan awal: mereka harus pura-pura tidak kenal jika bertemu di luar rumah dan ada yang bersama teman.


Deden diam.  Ia melihat Adang berlalu. Satu nama ia ingat: Black.


***