
Perut terasa mulas tiba-tiba, Agus mematikan rokok. Gelisah.
"Ayo Maaang buru dateng!" kata Agus dalam hati mengharap angkot lewat. Agah tenang meski tahu Agus menjawil tangannya beri tanda kabur. Geleng kepala, Agah percaya diri.
“Ini wilayah sekolah mereka kayaknya Gah!” bisik Agus.
Tiga meter jarak antar mereka. Mengenali bocah gendut yang disebut temannya, ternyata adalah Agah. Langkah Deden terhenti.
“Ketemu lagi kita.” Yandri nyengir.
“Oh ... Hai!” Agus menyapa basa basi.
“Ngapain di sini, ini wilayah kita!” timpal Yandri arogan. Deden melihat dari belakang.
“Abis nengok temen sakit.” Menunjuk rumah sakit di belakang, Agus ragu-ragu. Agah diam tak berkomentar.
“Ndut, napa lu diem aja?” Mendekati Agah, Yandri percaya diri.
“Yan! Situasi kemaren sebenernya gimana? Dia tiba-tiba mukul lu?” Dari belakang Deden bertanya memastikan, ia tahu Agah bukan tipe yang suka memulai keributan.
Cerita Yandri dipukul anak sekolah lain, terpotong di bagian awal. Deden belum bertanya apa sebab Yandri dipukul. Setelah tahu Agah adalah tersangka yang diceritakan, Deden meragukan Yandri.
“Ya ... Dia mukul gue!” Yandri gagap.
“Lu dulu yang malak kita!” timpal Agah. Ia melihat ke arah saudaranya. Deden paham Agah coba memberitahu kalau teman Deden 'lah yang mulai semua. Deden dan Agah berpandangan.
Jika teman dan saudara saling berlawanan, dimana harus berdiri? Situasi aneh ini pernah Deden alami waktu SMP. Apa kali ini ia harus diam saja dan tetap pura-pura tidak kenal Agah.
“Bener Yan?” tanya Deden.
“Yaela! Cuman rokok lu bilang malak!” sanggah Yandri.
“Lu juga minta duit!” Agah menimpali, Agus tak tahu bagaimana menghentikan Agah. Yang Agus pahami, mereka bukan di posisi bisa melawan empat orang. Terlebih anak paling kurus di belakang tampak paling tengil dan berani.
“Kalo malak, lu ngaku malak. Jangan cuman cuman!” Deden dekati Yandri.
Benar penilaian Agus, Deden sekalipun kurus, paling berani di antara mereka.
“Emang sekarang penting ya? Lu mau lepas tangan ga ngebela temen?” Anak di belakang Yandri menengahi mereka.
“Ya penting 'lah! Kalian malak orang, masak gua harus bela!” Deden emosi. Yandri tak menjawab, juga dua teman lainnya. Agah dan Agus diam tak komentar.
"Pecah koalisi!" pikir Agus, keuntungan buat mereka.
Angkot hijau berhenti depan halte. Agah mengajak Agus naik. Bergegas mereka masuk angkot. Yandri mau menarik lengan Agah, keduluan Deden menghalangi.
Angkot jalan, Deden melihat Agah pergi.
“Apa si lu?” Yandri kesal.
“Lu yang apa? Jangan libatin gua sama masalah kayak gini!” Deden pilih pergi, Wahyu lari mengikuti Deden di belakang, meninggalkan Yandri dan Ojan.
Jam delapan malam, rumah sepi. Adang sudah tidur karena kelelahan. Maman dan Ela belum pulang, ada kajian di masjid tempat Maman jadi marbot. Tersisa Agah dan Deden di ruang tengah membahas Yandri.
“Jangan maen sama yang kayak gitu 'lah!” Agah menceritakan detil kejadian antara dia dan Yandri.
“Kamu tahu ogut ga bakal mulai duluan. Males ogut!” tambah Agah.
“Ogut yang beresin, kamu ga usah ikut mikir.” Jawab Deden singkat.
***
Keesokan di sekolah, Yandri ribut dengan Deden.
“Penghianat lu!”
“Serah lu mo ngomong apa! Kalo malak gua ogah belain. Mau sebut pengkhianat kek, mata-mata
kek. Sebodo!” Deden menggebrak meja.
“Jangan ganggu anak itu lagi!” tambahnya.
Tapi Yandri tak berhenti begitu saja. Dua hari kemudian sepulang membeli alat tulis di toko ABC di Jalan Surya Kencana, Agah bertemu dengan Yandri dan dua temannya di salah satu gang area pecinan Bogor itu. Agah tak peduli. Kali ini ia sendiri, Agus bolos sekolah, main ke puncak bersama teman lain.
“Sekarang siapa yang bantuin lu!"
Agah menghela napas. Bosan. Sampai kapan ia harus berurusan dengan teman Deden yang tengil ini, pikirnya.
Yandri tak sendiri, ditemani dua anak lain yang pernah memalak Agah dan Agus sebelumnya. Tiga lawan satu, Agah berpikir apa ada kesempatan menang untuknya.
Belum sempat melawan, dua anak lain memegangi tangan Agah.
“Beraninya keroyokan! Maju satu satu kalo berani!” Agah berontak berusaha melepas kepitan tangannya. Hampir berhasil.
Buagh!
Pukulan kedua disiapkan Yandri, Agah melayangkan kaki secara random. Mengena tepat titik lemah Yandri.
"Nice shot!" seru Agah dalam hati. Yandri memegangi bagian yang ngilu. Agah mengayun tangan cepat untuk melepas kuncian tangan.
Tak sengaja pukulan mengenai pelipis salah satu anak. Anak itu otomatis melepas tahanan tangan, satu tangan Agah bebas. Mudah melepaskan kepitan tangan anak lainnya dengan sekali pukul.
Agah melepas ransel, mengayunkan ke arah Yandri dan teman-temannya.
Wuussh.
Wuussh.
Agah beruntung punya kebiasaan bawa buku diktat lengkap ke sekolah, memperberat massa tas sehingga cocok dijadikan alat pukul.
Ketiganya berusaha menghindari ransel Agah, tapi sesekali oleng terkena hempasan tas. Melihat ada celah untuk kabur, Agah lari ke jalan utama. Naik angkot apapun untuk menghindar dari kejaran.
Sesampainya di rumah, Agah membuka tas. Kesal mendapati roti yang ia beli di minimarket penyok. Ia keluarkan roti isi coklat sambil berdecak kecewa.
"Dasar orang gila!" umpat Agah dalam hati.
Luka gores di ujung bibir tertutup darah kering. Lengannya terasa sakit karena kuncian dua anak lain, meninggalkan bekas guratan merah di kulit.
“Kenapa Gah?” Adang baru selesai mandi, melihat makanan kesukaan Agah penyok di atas meja. Agah menggeleng.
Deden yang baru pulang, melempar ransel ke tempat tidur, memperhatikan raut kesal di wajah Agah.
“Ini kenapa?” tanya Deden menunjuk ujung bibir Agah.
"Ck!" Agah menepis tangan Deden kesal.
“Temen kamu tuh. Bencong semua. Main keroyokan!" Agah keluar membanting pintu kamar. Adang dan Deden berpandangan. Tak biasanya Agah marah sampai banting pintu.
“Kenapa?" tanya Adang pada Deden. Meski Agah tak cerita, Deden mengerti yang terjadi. Pasti kelakuan Yandri lagi.
Esoknya, Agah diam sepanjang pagi. Sarapan dan berangkat sekolah tak bicara apa-apa pada dua saudaranya. Meski kesal pada Yandri, Agah tak tahu kenapa melampiaskan pada Adang dan Deden, padahal mereka tak ikutan.
Setelah makan bubur ayam langganan mamang yang lewat tiap pagi di depan rumah. Agah langsung berangkat tanpa menunggu dua saudaranya. Tak ada yang komentar. Mereka beri waktu Agah meredam rasa kesalnya.
Sesampai di sekolah, Deden menggulung kain slayer ke telapak tangan berjalan masuk ke kelas. Di bangku belakang pojok kanan, Yandri, Ojan, Alvin dan Wahyu membicarakan sesuatu sambil bercanda.
Alvin melambaikan tangan menyapa Deden. Deden tak membalas, seperti banteng kesal dengan kain yang digoyang-goyang matador, mata Deden merah meredam amarah di dada.
“Yan!" Yandri menoleh mendengar panggilan Deden. Sekejap, Deden menindih bàdan Yandri, melesatkan pukulan.
Bugh! Bugh! Bugh!
Pipi, pelipis, mulut, dahi, semua wajah Yandri jadi target pukulan Deden.
Anak-anak perempuan menjerit ketakutan. Serangan tiba-tiba membuat anak laki-laki lain melonjak kaget. Alvin dan Wahyu segera menghentikan Deden.
“Den! Udah Den! Den! Deden!” Alvin menarik mundur badan Deden, menjauhkan dari Yandri yang tak sempat melawan.
“Gila lu ya!” Yandri coba berdiri, bersiap menyerang balik, Ojan memegangi badannya.
“Lu yang gila! Udah gua bilang dari awal jangan ganggu anak itu!” Ludah Deden muncrat karena saking emosi.
“Emang apa urusan lu sama si gendut itu hah? Peduli amat lu!” Yandri berpikir Deden pasti tahu kejadian kemarin.
“Tiap hari gua ngasih lu rokok, lu gua anggap sodara. Ini balasan lu!” Yandri tak terima.
Yandri selalu berbagi rokok pada teman-temannya, termasuk Deden. Ia tahu Deden tak pernah gunakan uang saku untuk beli rokok. Sementara Yandri punya uang lebih untuk berbagi pada temannya dengan uang saku pemberian ayahnya yang seorang pilot.
“Jadi lu bagi gua rokok buat ngebeli gua. Hah! Najis gua liat muka lu!” Anak kelas lain berdatangan melihat dari jendela kaca.
“Ngapain lu bela-bela dia dibandingin temen sendiri. Hah!”
“Dia sodara gua anyiiiing!” Melepaskan diri dari pegangan Alvin, Deden melayangkan satu pukulan tepat di hidung Yandri.
Buagh!
Yandri terjengkang. Jeritan anak perempuan makin berisik. Alvin cepat menarik badan kurus Deden.
“Udah Den! Den!” teriak Alvin.
Yandri mengusap darah yang keluar hidung. Sodara? Mendengar kata itu, Yandri tak punya alasan melawan. Ia melihat Deden berdiri di depannya.
“Jangan ganggu sodara kandung gua!” Deden mengambil rokok sisa pemberian Yandri yang tersimpan di tas, lalu melemparkan ke Yandri.
“Makan tu rokok!” Menepis badan Alvin yang menahannya, Deden meninggalkan Yandri dan teman-teman. Pergi keluar kelas sebelum guru datang.
Sejak kejadian itu, pertemanan Deden dan Yandri merenggang. Begitu pula kedekatannya dengan rokok. Hari itu, Deden berhenti jadi ahli hisap.
***