T

T
Ahli udud



Ritual pemujaan roh atau arwah, itulah awal mula penggunaan rokok oleh suku kulit merah, Indian Amerika. Abad enam belas, bangsa Eropa menjelajah tanah Indian, melihat prosesi udud, akhirnya tertarik ikut-ikutan mengisap.


Satu isap.


Dua isap.


Sepuluh isapan.


Mengisap tembakau ternyata enak, pikir penjelajah Eropa. Sebelum pulang, mereka tak lupa bawa oleh-oleh barang baru: tembakau.


Dari Eropa menjelajah ke Amerika, jumlah tembakau terbatas, sehingga di Eropa dijual mahal. Hanya kalangan bangsawan yang mampu beli, sejak itu rokok dikenal sebagai cara bersenang-senang kaum borjuis di Eropa.


Di Indonesia, rokok naik daun karena coba-coba. Haji Djamari mencoba racik obat asma dari cengkeh dan tembakau. Hasilnya, Haji Djamari merasa asmanya reda setelah mengisap racikan tembakau cengkeh. Kabar burung menyebar tentang khasiat obat baru ini.


Kebiasaan melinting tembakau jadi populer di kalangan laki-laki. Dijual 'lah rokok, cengkeh tembakau dibungkus klobot, daun jagung kering. Dibakar dulu sebelum dihisap, klobot terbakar mengeluarkan suara  kretek kretek. Sejak itu rokok ramuan Haji Djamari disebut rokok kretek.


Suara kretek halus terdengar dari ujung rokok terbakar. Bukan rokok kretek, tapi rokok kertas. Rokok pabrikan produksi Sampoerna. Agah mengisap pelan, sesaat kemudian ...


Uhuk! Uhuk! Uhuk!. Napas Agah tersedak.


Perdana bagi Agah mengisap rokok. Diajak coba coba sama Agus teman sebangkunya.


Wajah Agah merah, mata berair dan batuk belum terhenti. Agus ngakak lihat Agah dari balik kepulan asap.


“Pelan-pelan Gaaaah!” katanya menepuk pundak Agah.


Sebenarnya Aguspun baru ketiga kali isap rokok, di depan Agah ia bergaya seolah jadi ahli udud. Pertama kali mengisap, Agus batuk lebih parah dari Agah.


Agah coba lebih pelan. Belum juga masuk pangkal hidung, batuk menyerang. Agus ngakak lagi.


Agah buang rokoknya, sebal.


Banyak alasan dibalik remaja SMP atau SMA mengisap rokok. Alasan paling dasar adalah coba-coba seperti Agah. Memuaskan penasaran rasa rokok yang buat orang rela beli. Tak apa tak makan, yang penting ada rokok. Kata mutiara khas perokok militan.


Alasan kedua adalah ingin pengakuan. Merokok membuatmu tidak diremehkan. Remaja lelaki merasa dewasa kalau sudah pandai merokok.


Alasan ketiga adalah cari perhatian. Remaja laki-laki ingin dianggap keren. Menurut sebagian orang, rokok menaikkan level kejantanan sampai enam puluh persen. Tak usah pikirkan dompet kosong untuk tarik perhatian gadis belia, sebatang rokok cukup buat mereka terpesona.


Dari mana pikiran itu meracuni remaja Indonesia? Dari pikiran. Tak ada riset membuktikan rokok membuat lebih jantan. Yang jelas, jadi sesak napas, bengek. Rokok bukan lagi racikan cengkeh tembakau semata, ada tar, sianida, formalin, dan ratusan racun sebagai komposisi.


Meski awalnya dipercaya sebagai obat asma, rokok bermutasi dengan modifikasi bahan yang bisa sebabkan paru-paru hancur. Mengundang asma dan kanker paru.


Belum berhasil mengisap selancar laju mobil di jalan di tol, Agah menggeleng, menyerah.


Mengipasi kepulan asap putih di atas kepala Agus. Agah yang ijin mau baca buku malah berakhir di gang sempit belakang toko buku.


Tiga anak laki-laki mendekat, Agus dan Agah tak mengenal satupun dari mereka. Seseorang jongkok mengulurkan tangan.


“Bagi rokoknya!” Agus dan Agah paham situasi. Mereka dipalak.


“Cuma punya ini.” Menyerahkan bungkus rokok isi setengah. Tak senang, anak lain berkata, "Duit mana duit!” gertaknya.


Agah tak mengira berada di situasi menyebalkan, ia menunduk.  Agah benci kekerasan. Tawuran kala SMP pengalaman baginya, betapa anak sekolahan bisa jadi musuh mengerikan untuk sesamanya. Situasi sekarang, jauh lebih buruk dari tawuran. Bullying.


“Oi! Gendut! Denger ga?” Agah terhentak. Ia melirik Agus beringsut. Kepercayaan diri yang dipunya Agus saat menertawakan Agah buyar.


Tak sabar, anak laki-laki paling besar mendorong Agah hingga jatuh.


“Jangan gitu dong!” Agus mencoba berani. Agah membersihkan celana jeans terkotori tanah. Padahal jeans baru beli dua minggu lalu. Menarik napas kesal, Agah tak rela diperlakukan seenaknya.


“Apa lu gendut! Mau ngelawan?” kata anak lain.


Agus bingung lihat Agah berdiri tegak, tatap ramah di mata Agah lenyap. Agah berubah jadi superhero. Bukan, bukan superhero. Agah berubah jadi pemberani.


“Gah ... ” bisik Agus mengingatkan Agah. Agah bergeming.


“Kalo gua ga kasih duit, lu mau apa?” Agah menantang. Agus gemetaran.


“Gawat! Agah udah kesurupan!” Teman yang ia kenal lembut dan ramah, tak pernah berantem, tiba-tiba menantang tiga anak tengil. Apalagi kalau bukan kesurupan namanya.


“Nantang lu ya?” Anak paling besar mengepal tinju diarahkan ke Agah.


Agus menutup mata, tak tega lihat temannya dihajar.


Badan besar terjatuh setelah membentur tembok gang. Agus membuka mata lihat keadaan Agah. Makin terbelalak mata Agus karena bukan Agah yang jatuh. Agah masih berdiri pasang kuda-kuda. Dua anak tengil lain mundur ragu-ragu melihat temannya kena tonjok.


Tak percaya Agus melihat Agah. Bagaimana bisa?


Anak yang terjatuh dibantu bangun temannya. Maju merangsek, tapi kaki Agah menendang perutnya. Terhuyung ke belakang.


“Beraninya keroyokan. Sini satu satu!” Agah pantang mundur. Senang hati menyadari ia mampu melawan anak-anak tukang bully. Siapa sangka ajaran Adang si jago karate ternyata terpakai juga.


Setelah pengalaman tawuran pertama dan terakhir, Agah minta Adang mengajarinya cara membela diri. Badan gemuk Agah sering dijadikan bahan bully. Kalau hanya dikata-katain saja, Agah tak akan diambil pusing. Tapi jika sudah main fisik beda cerita. Ia pilih bertahan, tapi bukan bertahan jadi samsak.


Adang mengajari Agah tehnik tendangan dan pukulan dasar. Didukung badan besar, Agah punya keuntungan menambah volume pukulan. Lebih berat.


Agus berdiri di samping Agah. Perlawanan Agah menumbuhkan percaya diri Agus. Melihat korban melawan, tiga anak memilih pergi.


Agah membiarkan mereka pergi, selain memang ia tak yakin bisa melawan mereka sekaligus jika main keroyok. Sebelum ketiganya balik bawa bala bantuan, Agah dan Agus bergegas pergi.


“Gah, masih mo nyoba?” Agus menyodorkan bungkus rokok.


“Ga kuat euy!” Agah tak malu menolak. Rokok tak pernah cocok untuk Agah. Sejak insiden keracunan cairan pembersih lantai waktu balita, daya tahan tubuh Agah ikut menurun. Diantara saudaranya, ia paling gampang sakit.


Demam dan flu datang serutin motor ganti oli. Gejala alergi berupa kaligata hadir bagai panen ubi jalar,  tiga empat bulan sekali.


Rokok tak diperuntukkan bagi orang berimun rentan seperti Agah. Meski tak juga cocok bagi orang sehat sekalipun.


Tak jauh dari sejarah awalnya sebagai media ritual pemujaan arwah.


Rokok era milenial populer sebagai sarana tumbalkan paru-paru.


***


Asap bentuk donat berputar di atas kepala Deden. Teman-temannya, Alvin dan Wahyu melihat penuh kagum. Tak banyak yang bisa membuat bentuk donat dari kepulan asap rokok, apalagi anak SMA.


Merokok sejak SMP melatih skill Deden merubah kepulan asap rokok jadi karya seni. Seringnya, ia dapat rokok dari pengasih alias gratis. Jarang beli sendiri sebab uang saku sedikit, tak cukup karena disisihkan sebagian untuk beli barang incaran.


Sampai SMA, rokok yang ia hisap adalah hasil pemberian dari teman yang punya uang saku berlebih.


Ketika sedang seru-serunya datang tiga anak lain. Seorang dari mereka memegang hidung yang disumbat tisu.


“Napa lu Yan?” tanya Deden. Yandri, anak berhidung mimisan kesal tak menjawab.


“Diserang di belakang Gramed Pajajaran” jawab lainnya.


“Sama siapa?” Deden penasaran. Mereka menggeleng, tak ada nama bisa disebut.


“Sekolah mana?" Tak ada jawaban. Mereka tak tahu.


“Tapi gua apal mukanya kalo ketemu lagi," kata Yandri. Dua teman lain mengangguk mengiyakan.


“Sok lah, kabarin kalo butuh kita mah” timpal Wahyu.


Satu minggu kemudian ...


Suasana halte depan rumah sakit PMI sepi, Agah dan Agus baru jenguk seorang teman yang di rawat karena kecelakaan sepeda motor dua hari lalu. Gerimis turun meski matahari cerah, angkot yang ditunggu belum lewat.


Agus menyalakan rokok setelah tawarannya ditolak Agah. Lima menit satu angkot lewat. Agah perhatikan, penuh. Lima meter di depan angkot berhenti, menurunkan bapak berjaket biru di jalan masuk komplek.


Empat anak SMA bercanda tak peduli hujan, berpapasan dengan bapak yang baru turun angkot, belok ke arah trotoar depan RS PMI.


“Yan, kayaknya dia yang waktu itu ya?” kata seorang anak pada temannya menunjuk dua anak SMA duduk di halte. Melihat seksama, putih, gemuk, pakai kacamata, dan tahi lalat di ujung alis kiri. Tak salah, Yandri mengangguk memastikan.


“Yuk samper!” kata Yandri ajak yang lain.


Agah menggoyang kaki bosan menunggu.


“Gah ... ” Agus melihat empat anak SMA mendekati mereka. Agah mengikuti pandangan Agus.


Wajah dua anak ia kenali pernah memalak mereka seminggu lalu, satu anak berwajah asing, dan satu wajah familier mengepulkan isapan terakhir lalu membuang rokok ke selokan, Deden.


Agah menelan ludah: kacau.


***