T

T
Nama



Jumlah siswa di satu sekolah seribu lebih, biasanya tiap siswa hanya dekat dengan dua atau tiga orang. Seperti Deden yang dekat Alvin dan Wahyu. Agah dan Agus kemana-mana bersama saling melengkapi seperti batagor dan sambel kacang.


Adang yang pendiam, punya seorang sahabat kepercayaan sejak SMP, namanya Hartono. Begitu ia biasa dipanggil. Tono dan Adang tidak pernah satu sekolah, mereka bertemu ketika SMP saat acara perkemahan di Sukamantri.


Berawal dari obrolan terkoneksi dan merasa nyaman. Satu atau dua pekan sekali Adang dan Tono rutin bertemu sambil sepedahan di hari minggu pagi. Hobi Tono dan Adang cocok satu sama lain. Semua hal dilakukan bersama. Naik gunung, sepedahan, lari, bahkan beli sepatu di Pasar Anyar mereka bareng.


Mempunyai tinggi badan sama dengan Adang, kulit putih, rambut coklat kemerahan lurus dibelah dua, dan berwajah ganteng kebule-bulean. Tidak ada darah Eropa, papa Tono asli Palembang dan mamanya asli Garut. Paras ganteng ini sering kali jadi perhatian gadis-gadis belia yang direspon cuek oleh Tono.


Kecocokan Adang dan Tono tak hanya seputar hobi, mereka punya karakter dan sifat yang sama. Cuek, khususnya pada para gadis.


Naik sepeda berkeliling daerah kaki gunung di Bogor adalah salah satu alternatif kegiatan menyenangkan dan menyehatkan. Cukup bermodal sepeda dan sebotol air putih.


Tak pelu sepeda atau perlengkapan mahal seperti pesepeda profesioal. Anak SMA tak punya modal sebanyak itu. Sepeda apapun asal bisa dipakai, beli di toko sepeda yang berderet di Surya Kencana atau beli second di bengkel sepeda lebih murah. Sisanya adalah kemauan.


Melewati jalur perumahan elit Bogor Nirwana Residence, melintasi wisata kolam renang The Jungle Waterpark,  naik ke atas ke arah Ciapus banyak pemandangan pohon rimbun dan udara segar.


Bisa juga bersepeda ke arah Pamoyanan, melewati wisata Duren Warso, terus ke Cijeruk, menuju tempat penangkaran Elang di kaki Gunung Salak. Jalur menanjak dan berbatu memuaskan pencari adrenalin.


Jika Deden mencari adrenalin dengan tawuran, Adang lebih suka menaklukkan tanjakan batu terjal dengan sepeda usangnya bersama Tono. Mereka berhenti di pinggir jalan, meluruskan kaki sambil minum dan menikmati udara gunung, pemandangan ratusan pohon hijau.


"Gua ada helm buat sepeda. Ada dua. Kalo lu mau ambil aja ke rumah," kata Tono.


Beberapa kali Adang berkunjung ke rumah Tono. Papa Tono sering dinas luar kota, mamanya yang berprofesi jadi dosen terkadang menginap satu atau dua malam untuk kegiatan diklat. Tono anak tunggal, jika sedang sendiri biasanya ia mengajak Adang main ke rumahnya.


"Boleh boleh. Besok 'lah pulang sekolah gua mampir," Adang tak mau menolak rejeki.


Keesokan hari setelah kegiatan ekskul karate di sekolah, memakai sepeda federal second warna hitam yang sudah ia pakai sejak kelas dua SMP,  Adang sengaja mampir di rumah Tono. Jam setengah lima sore, Tono pasti sudah sampai di rumah, pikir Adang.


Berada di posisi hook, rumah Tono tampak sepi. Pagar depan tak terkunci, mobil Innova terparkir di garasi samping.


“Assalamualaikum ....” Adang mengetuk pintu warna coklat tua. Rumah dua lantai dengan dinding dan pagar didominasi warna putih, dan pohon bunga Bougenvil ungu melebat di depannya.


“Permisiiiii!” Lama menunggu, tak ada bel bisa dipencet, Adang mencoba kedua kali.


Dua menit kemudian terdengar suara langkah dari dalam. Seorang pria berkumis tebal dan rambut coklat kemerahan berkaca mata membuka pintu.


“Pasti papanya Tono,” pikir Adang.


“Waalaikumsalam. Nyari siapa ya?” Memakai kaos oblong putih dan celana kolor bahan jersey, kelihatan wajah baru bangun tidur.


“Hartono ada Om?” kata Adang sopan. Sesaat laki-laki itu terkejut, wajahnya memasang ekspresi kesal.


“Ngapain nyari saya!” Intonasi suara meninggi.


“Bukan Om! Saya nyari Hartono," jawab Adang bingung.


“Ya! Saya Hartono! Mau apa?” Laki-laki di depannya tampak lebih bingung. Adang hilang kata.


“Maksud saya anak laki-laki SMA ... Yang suka sepedaan” Tak terpikir nama apapun di benak Adang. Ia benar-benar tak tahu nama asli Tono.


“Kampret tuh anak!” Omel Adang dalam hati.


“Rio? Rio nggak ada di rumah. Keluar sama pamannya.”


“Baik Om, terima kasih.” Malu, Adang segera pamit mendengar jawaban pak Hartono.


“Rio. Jadi Rio nama aslinya.”


Sahabat macam apa yang tak tahu nama asli sobatnya. Adang menggaruk kepala, reflek mencium jari yang dipakai menggaruk. Aroma ketombe.


Baru menggowes sepeda satu blok seseorang memanggilnya.


"Dang! Adang!" Adang menoleh, Tono eh Rio melambaikan tangan dibonceng sepeda motor oleh lelaki gemuk.


Adang berhenti, begitu juga motor yang membawa Tono eh Rio. Melepas helm, Rio berlari ke arah Adang.


"Dari mana lu? Rumah gua?" Adang mengangguk.


"Mo ambil helm yang kemaren lu bilang," Rio mengangguk.


"Mana helmnya?"


"Pan lu nya kagak ada. Ga enak 'lah gua asal minta aja ke bapak lu." Rio mengerti.


"Balik aja yuk. Gua ambilin," ajak Rio. Adang ragu-ragu.


"Ntar aja deh pas jadwal sepedaan aja."


"Napa emang?"


"Ga enak gua. Tadi manggil nama lu Tono-Tono. Ternyata itu nama bapak lu ya?" Rio ngakak. Ia sendiri baru sadar kalau Adang belum tau nama aslinya. Nama Tono sudah jadi panggilan Rio sejak SD. Semua temannya sekalipun tahu nama aslinya Rio, tetap saja memanggilnya Tono.


Sebagian tahu Tono adalah nama bapaknya Rio. Sebagian lagi berfikir itu adalah nama alias seperti Adang yang dipanggil Black.


"Kampret lu! Malu gua ketemu bapak lu!" Adang kesal. Rio ngakak membayangkan wajah papanya mendengar Adang memanggil Tono.


Meski begitu, hari berikutnya, tahun berikutnya, dan seterusnya nama Tono masih melekat pada Rio. Susah merubah kebiasaan memanggil orang yang sudah dekat, apalagi Adang sejak pertama memanggil Rio dengan nama Tono.


Begitulah sebuah nama terpatri dalam kenangan masa muda kita.


***