T

T
Pria-pria Kesepian



Awal 2014


Subuh buta Adang dan Deden menembus kabut jalanan. Di atas motor, mereka menggigil tak bisa hindari terpaan angin bercampur embun. Tak ada pilihan, mereka harus segera ke Cianjur. Begitu juga dengan Agah, yang berada dalam bis perjalanan Bandung-Cianjur.


Orang tua mereka, Maman dan Ela sudah di Cianjur sejak dua hari lalu. Langsung berangkat ketika dapat kabar dari Aki Ukun bahwa Umi Njum sakit.


“Sakit biasa, cuma masuk angin” kata Aki Ukun. Ela tetap berangkat ke Cianjur.


Umi Njum selalu sehat, jarang sakit meski tubuhnya kelihatan kurus. Kabar bahwa Umi Njum sakit, sekalipun hanya dianggap masuk angin, bagi Ela itu bukan hal biasa. Sejak jadi menantu, Ela tak pernah melihat mertuanya sakit walau sekedar masuk angin.


Ela dan Maman tak mau menunggu lama, seketika itu mereka berangkat ke Cianjur dengan naik colt (mini bus) jurusan Bogor–Cianjur. Meninggalkan Deden di rumah. Tak perlu khawatir meninggalkan Deden, anak itu sudah dewasa.


Demam dua hari, tak ada penyakit serius, dokter pun hanya meresepkan parasetamol. Siapa sangka malam ketiga Umi Njum meninggal. Tak ada sakit bawaan, atau sakit kronis tahunan. Maman segera mengabarkan pada anak-anaknya yang terpencar seperti bola naga Goku. Satu di Bogor, satu di Ciputat, satu lagi di Bandung.


Mendapat kabar nenek mereka meninggal, Adang langsung pulang ke Bogor dan rencana berangkat ke Cianjur bersama Deden naik motor. Begitulah awal keberadaan Adang dan Deden di atas kuda besi yang melaju menembus embun subuh agar tak tertinggal acara pemakaman.


Agah pun demikian, tak peduli dengan jadwal kuliah, ia berangkat dari Bandung menuju Cianjur.


Jam tujuh pagi Adang dan Deden sampai, rumah Umi Njum ramai dipadati tetangga takziah. Jenazah Umi Njum sudah bersih dan rapi terbungkus kain kafan, Umi Njum siap dimakamkan.


Agah datang setengah jam setelah Deden dan  Adang. Bendera kuning dari kertas terpasang di pinggir jalan rumah Aki Ukun. Penanda ada penghuni yang meninggal. Aki Ukun berusaha tegar. Tak ingin ia keluarkan air mata di hadapan banyak orang.


Puluhan tahun hidup bersama istri sekaligus sahabat sejatinya, cinta pertama dan terakhir itu kini meninggalkan Aki Ukun yang telah menua habiskan sisa usia sendirian. Ada lubang besar menganga di hati Aki Ukun. Serupa black hole, lubang itu membiarkan luka, sepi, rindu, sedih, kehilangan dan semua rasa masuk dalam diri Aki Ukun.


Maaf, belum mampu membahagiakanmu.


Maaf, belum bisa mewujudkan semua mimpi dan asamu.


Maaf, harus membiarkan dirimu pergi sendiri.


Banyak kata maaf tersimpan dalam diam Aki Ukun.


Mata rabun Aki Ukun memandang sosok tertutup kain. Di balik kafan putih, di sanalah tubuh wanita yang lahirkan anaknya terbungkus. Hendak pergi terkubur selamanya.


Adang mengelus punggung Aki Ukun, teraba tulang tua nan ringkih yang telah bekerja keras menghidupi keluarga.


“Nenek Umi orang baik Ki. Saya saksinya. Alloh pasti tempatkan Nenek di tempat terbaik” kata Adang pelan tepat di dekat telinga Aki Ukun.


Mengangguk, Aki Ukun tersenyum menepuk pundak Adang. Sudah besar cucunya, sudah pandai membesarkan hati pria tua yang dirundung sedih.


Agah duduk di sebelah Ela yang tak henti kucurkan air mata.  Ela menganggap mertuanya seperti ibu kandung sendiri, tak bisa membendung sedih. Teringat semua kebaikan Umi Njum padanya. Membantu mengasuh tiga anaknya, meringankan lelah mengasuh tiga anak kembar.


Tak pernah Umi Njum cerewet menuntut Ela harus begini dan begitu. Ela merasa nyaman tinggal dekat mertua. Perhatian Umi Njum, pengertian yang diberikan, dukungan melimpah dan kasih sayang tanpa pamrih. Semua membuat Ela tak rela melihat Umi Njum berpulang.


“Umiiiiiii ... Saya minta maaf Mi, saya sering menyusahkan Umi," Sedih Ela tak  tertahan. Adang mengelus punggung ibunya. Berusaha membuat Ela tenang.


Maman lebih bisa mengendalikan diri. Ia banyak berbicara dengan para pelayat. Pembawaannya tenang. Namun siapa bisa tengok dalam hatinya. Hanya satu ibu ia punya, dan satu-satunya itupun kini telah tiada. Tak mungkin Maman tak sedih dan kehilangan. Ia pun merasa kehilangan dan kerinduan sama besar seperti yang dirasakan Ela.


Deden , Adang dan Agah sebisa mungkin tak buat suasana makin kacau dengan ekspresi kesedihan mereka. Sekalipun tak diucap lewat cerita dan tangisan, semua orang tahu trio kembar sangat kehilangan Umi Njum yang sabar mengasuh mereka sejak kecil.


Ketiga cucu mengangkat jenazah Umi Njum, memasukkan dalam keranda. Ditutup kain hijau bertulis dua kalimat syahadat. Pagi menjelang siang, jenazah Umi Njum diberangkatkan menuju makam. Enam lelaki kesayangan Umi Njum memanggul kerandanya. Adang, Deden, Agah, Maman, Aki Ukun dan adik kandung Umi Njum, Ki Ajat.


Tanah pemakaman berjarak lima ratus meter dari rumah. Iring-iringan tetangga dan sanak keluarga ikut antar berjalan kaki. Ada yang melantunkan doa, ada yang berbincang bahas kebaikan hati Umi Njum semasa hidup, ada juga ungkapan bela sungkawa dari lubuk hati terdalam.


Semua kehilangan Umi Njum. Wanita biasa. Bukan siapa-siapa. Seorang ibu, nenek, istri dan saudara yang tersohor dengan kebaikan hati. Ringan tangan berbagi, tutur kata tak pernah menyakiti, sering datang bersilaturrahmi, dan pandai mengaji.


Hanya kebaikan yang dilukis Umi Njum, begitulah yang diingat oleh tetangga dan teman-temannya.


Wanita biasa, kepergiannya tinggalkan kenangan luar biasa. Kenangan yang tak dijual di pasar manapun. Kenangan yang terbentuk dalam rentang waktu puluhan tahun melalui perilaku sehari-hari.


Manusia, tak ada yang tersisa jika mati, antara kebaikan atau keburukan yang akan terpatri. Tergantung bagaimana cara kita menjalani hidup sehari-hari.


Tanah coklat basah menggunung baru ditimbun. Batu nisan penanda identitas penghuni tertulis nama: Jumaroh bin Abdul.


***


Deden berbekal ilmu pelatihan otomotif yang diadakan Balai Latihan Kerja selama tiga bulan, ia diterima bekerja di bengkel mobil di daerah Tajur, Bogor. Walaupun tak besar, lumayan bisa membantu orang tua bayar tagihan air dan listrik.


Tak puas dengan ketrampilan otomotif, Deden mendaftar pelatihan gelombang berikutnya mengikuti pelatihan ilmu komputer. Deden sebisa mungkin membagi waktu antara kerja dan jadwal pelatihan.


Sementara Agah berjuang keras hidup hemat di Bandung. Gempuran  gaya hidup hedon di kampus, godaan distro atau indie clothing pemuda Paris Van Java memaksa Agah tepis keinginan belanja fashion. Ia hanya gunakan uang untuk makan dan kebutuhan kuliah. Tak ada lagi yang bisa ia gunakan foya-foya meski kerja sambilan terus berjalan.


Adang, tekun mengikuti training. Banyak ilmu baru ia dapat. Adang bersyukur ia memilih jalur yang benar dengan mendaftar beasiswa, apa yang terjadi setelahnya adalah nasib baik. Seleksi ketat, persyaratan detil, Adang tak yakin ia bisa lolos diantara ribuan pendaftar jika tak didukung faktor X: Keberuntungan.


Masing-masing punya kesibukan dan impian untuk dicapai. Meninggalnya Umi Njum, merupakan kesedihan di awal tahun. Tak ada yang menerka, beberapa bulan kemudian, sedih kembali memencet bel pintu, bertamu menyapa mereka.


“Mi! Itu ketelnya udah bunyi. Mau dipindah ke termos?” Suara siulan air mendidih keluar dari mulut ketel.


Sudah jadi kebiasaan, pagi-pagi merebus air untuk mengisi termos agar ada stok air panas jika sewaktu-waktu perlu air panas untuk teh atau kopi.


Tak ada jawaban dari kamar Ela. Jam delapan pagi, ada rutinitas yang dihafal oleh anak-anaknya, sholat dhuha.


Tak juga mendengar jawaban, sementara ketel makin berisik, Deden matikan kompor dan masukkan air panas ke termos. Mungkin Umi masih sholat, pikir Deden. Hari itu Deden jadwal libur kerja, sore hari ia ada kelas pelatihan komputer di BLK.


Setengah jam sejak ketel berbunyi, Ela belum juga keluar kamar. Deden yang mengisi waktu iseng melihat acara tivi coba mengecek kembali.


Tok tok. Pintu diketuk.


...


Tak ada jawaban.


Tok tok.


“Mi ... Umi ... ” panggil Deden pelan.


...


Belum ada sahutan.


Tak biasanya sholat dhuha butuhkan waktu selama itu, sebagai wanita yang punya banyak hobi, setelah sholat dhuha biasanya Ela sibuk dengan kegiatan lain. Membuat kue, urusi tanaman, atau membuat rangkaian tali macrame.


Deden inisiatif buka pintu.


Ceklek!


Pintu tak terkunci.


Kepala Deden melongok. Tak nampak ibunya di atas tempat tidur.


“Miii!” Kaki melangkah masuk. Empat langkah mendekat, Deden melihat Ela tersungkur masih mengenakan mukena toska motif bunga-bunga.


“Umiiiii” Berlari, Deden membalik badan Ela. Mengguncang pundak dan menepuk pipi berusaha bangunkan uminya. Tak ada reaksi.


“Mii!” Deden letakkan telinga ke dada sang ibu. Tak terdengar detak jantung. Meyakinkan diri, ia tempelkan jemari ke nadi leher. Tak terasa denyutan. Belum menyerah, Deden letakkan telingan ke mulut Ela, menunggu hembusan napas ibu terasa. Nihil.


Deden terkesiap, napasnya terasa ikut berhenti.


“Umiiiiiiiiiii!"  Teriakan histeris pertama dalam hidup Deden.  Panggilan tak berjawab.


Deden lari ke puskesmas terdekat memanggil dokter, dokter jalan tergopoh-gopoh.


Seperti perkiraan Deden. Napas terhenti, sukma ibunya telah terangkat.


Hari itu, lima bulan setelah Umi Njum wafat, menantu kesayangan menyusul.


Kepergian Umi Njum dan Ela, meninggalkan Adang, Deden, Agah, Maman dan Aki Ukun sebagai kumpulan pria-pria kesepian.


***