T

T
Sambel Bawang One Punch



2015


Suasana rumah sepi. Aki Ukun makan ditemani Maman satu-satunya anak yang ia miliki. Menu siang itu adalah nasi liwet, telur dadar, terong goreng tepung dan sambal bawang.


Tak terasa air mata Aki Ukun mengalir ketika lidahnya mengecap rasa sambal bawang buatan Deden. Iya, semua menu yang tersaji di meja makan adalah hasil buah tangan Deden. Sebelum berangkat kerja ke bengkel, Deden selalu menyempatkan diri memasak untuk Abah dan Aki Ukun.


Tak ada perempuan dalam rumah, bukan berarti dapur berhenti mengepul. Hasil didikan Ela pada anak-anak laki-laki nya tak sia-sia. Terbiasa membantu memasak di dapur dan diberi tanggung jawab pekerjaan sehari-hari, menjadikan Adang, Deden dan Agah tak canggung dengan pekerjaan rumah.


Menyapu, ngepel, mencuci, memasak. Maman boleh berbangga mendiang istrinya memberi pendidikan hebat pada ketiga putranya. Sehingga, bahkan ketika tak ada seorang perempuan  di rumah, mereka masih bisa menikmati masakan rumahan ala Deden.


Tak akan ada yang percaya, anak laki-laki alumni 'Tawuran Warriors' bisa masak seenak masakan ibu. Sambal bawang selalu mengingatkan Aki Ukun pada Umi Njum, begitu pula Maman yang teringat pada Ela.


Betapa sambal bawang telah mengambil ruang hati mereka.


Deden dikenal sebagai montir cekatan. Pekerjaannya selalu rapi dan cepat. Dua kali Deden pindah tempat kerja, bukan karena gaji tapi Deden ingin punya jadwal shift pasti yang beri ia waktu luang untuk mengikuti kursus komputer.


Tiga bulan pelatihan komputer di BLK, Deden tak puas. Ada hal lain ingin ia pelajari yakni video editing dan design grafis. Menyisihkan sebagian gajinya, Deden mengikuti kelas di lembaga kursus.


Bengkel tempat ia bekerja adalah milik bapaknya Agus, teman Agah. Agus merekomendasikan Deden pada bapaknya yang langsung menyukai Deden.


Demi menghemat biaya makan, kadang Agus membawa bekal dari rumah untuk makan siang. Nasi, lauk dan tak lupa sambel buatannya. Jika  bapak Agus membelikan para pegawai makan, Deden menyimpan bekal untuk jam makan selanjutnya.


Bekal Deden menarik perhatian karyawan lain. Sambal menggoda. Sesekali mereka iseng incip-incip, lalu ketagihan. Tak enak minta terus, akhirnya mereka menyerah. Mereka pesan sambal buatan Deden. Beli. Bukan pesan satu porsi, pesan satu toples plastik ukuran dua ratus lima puluh gram.


Tak mau buang peluang, Deden terima pesanan sambal. Ia buat sendiri di dapur rumahnya. Sejak itu, Deden punya profesi lain selain montir: penjual sambal.


Agah yang  sedang berada di Bogor membantu Deden hati-hati memasukkan sambal yang sudah jadi dalam toples plastik. Semua adalah pesanan orang. Total ada delapan toples.


Agah melihat botol bening bertutup putih berisi sambal. Tak ada label ditempel.


“Ga dikasih nama Den?” tanya Agah iseng.


“Nama apaan?”


“Eta sambel. Kasih nama atuh. Biar keren,” saran Agah.


“Gimana caranya?"


“Yaela! 'kan tinggal bikin stiker aja. Di-print terus tempel” Deden mendengarkan saran Agah.


“Kamu kan ikut kursus design. Sok atuh design sendiri merknya.” Kenapa tak terpikir oleh Deden.


Selama ini ia mengemas sambal dalam toples, menutup rapat dan langsung diberi pada pemesan yang sebagian besar adalah kawan kerja atau pengunjung bengkel.


Pak Malik, bapaknya Agus mempersilahkan Deden meletakkan dagangan di dekat meja kasir agar pengunjung bengkel bisa melihat. Dari situlah pesanan demi pesanan datang.


“Bener juga. Namanya apa ya kira-kira?” Menutup toples terakhir, Deden berpikir sejenak.


“Coba baca sejarah sambel geura. Sapa tau dapet ide” Agah menyarankan.


“Aduh! Mun baca mah kamu aja 'lah” Dengar kata baca membuat Deden tak semangat.


“Sok atulah baca ma kamu. Bantuin cari nama” Deden menepuk pundak Agah yang empuk.


Konon, kampung halaman cabe adalah Amerika. Suku Inca dan suku Maya di Amerika, suku Aztek di Meksiko telah mengenal cabe dan membudidayakannya. Christophorus Columbus kemudian membawa sebagai oleh-oleh ke Eropa. Masuk ke Indonesia melalui gerbang kepulauan Maluku dibawa oleh pelaut Portugis.


Ketika seorang pelayan di masa VOC iseng berinovasi menumbuk cabe dicampur garam untuk disajikan pada tuan menirnya, tak disangka tuannya suka. Tumbukan cabe dan garam mulai dikenal banyak orang dan gemari.


Setiap perempuan yang hendak datang ke wilayah Hindia (Indonesia) wajib punya buku resep Groot Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek karya J.M.J Catenius van der Meijden yang diterbitkan tahun 1903 berisi resep makanan wajib bisa. Beberapa nama sambal yang populer pada masa itu antara lain sambal bajak, sambal serdadoe alias sambal terasi, dan sambal brandal.


Tapi, jauh sebelum VOC, tertulis dalam manuskrip Serat Centhini dibuat tahun 1814, empat puluh enam jenis sambal disebut diantaranya sambal kluwak, sambal gocek, sambal trancam congor, serta sambal cempaluk.


Agah garuk-garuk kepala, mencium aroma ketombe yang menempel di kuku. Sedap.


Deden pamit ke pasar membeli bahan-bahan. Hanya ada Agah dan Aki Ukun di rumah. Abahnya, Maman masih sibuk di masjid mengurusi acara sunatan massal.


Keringat mengucur di punggung Agah. Berniat mandi, Agah mencari kaos ganti di lemari baju. Satu lemari untuk tiga orang. Adang, Deden dan Agah.


Sebagian besar adalah baju milik Deden karena Agah dan Adang jarang di rumah. Tak banyak baju Agah dan Adang tersisa di rumah, karena itu setiap pulang mereka seringkali meminjam baju Deden.


Kenapa masih disimpan? Dipakai sekarang juga tak akan cukup, pikir Agah melipat kembali hoody dikembalikan ke tempat semula.


Tring! Tring! Tring!


Muncul kerlipan cahaya ide di kepala Agah. Senyum lebar, Agah temukan nama brand sambal bawang Deden.


Satu jam kemudian Deden pulang. Bawa belanjaan berupa bawang, cabe, minyak. Tak lupa dua bungkus soto Bogor kesukaan Aki Ukun dan Maman.


“Den! Kamu udah bisa bikin design kan?” tanya Agah hampiri Deden di dapur.


“Hm. Napa?”


“Itu pesenan sambel jangan dikasih dulu ke yang pesen. Tempel nama dulu. Bikin design sekarang trus print. Langsung tempel. Cepet!” Agah semangat.


“Namanya apa?” Deden memasukkan toples ke tas untuk dibawa ke bengkel tempat kerjanya.


“One Punch."


Deden diam, menoleh ke Agah. Otaknya memproses. Sudah lama tak ia dengar kata One Punch.


“Sambel Bawang One Punch” tambah Agah bangga.


“Kenapa One Punch?” Deden ingin tahu.


“Karena rasanya nonjok! Hahaha” Agah terkekeh tak sangka ia punya ide sekeren itu. Bangga kok pada diri sendiri.


Deden menggigit bibir, tak perlu pikir lama. Ia pakai helm menarik lengan Agah.


“Yuk!"


“Kemana?”


“Ikut gua ke Pakuan. Cari rental komputer. Kita bikin design” Tak ada komputer di rumah mereka, laptop adalah barang tersier di rumah itu. Kesukaan baru Deden dalam bidang video grafis dan design, membuat Deden memimpikan punya laptop sendiri.


Barang mahal bagi seorang montir bengkel, tak biasa beli nyicil atau hutang, Deden bersabar tabung lembar demi lembar rupiah untuk beli laptop.


Karena belum ada, untuk keperluan design cukup pergi ke rental komputer yang banyak tersebar di daerah sekitar kampus, salah satunya kampus Pakuan paling dekat rumah mereka.


Menaiki motor milik Aki Ukun yang sudah dihibahkan bagi cucu-cucunya, Deden dan Agah menyusuri jalanan kota Bogor disambut daun-daun jatuh diterpa angin.


Dari bilik rental komputer lahir logo brand produk mereka: Sambal Bawang One Punch, kombinasi warna merah dan hitam dengan tambahan detil gambar kepalan tangan.


Stiker ditempel ke toples. Jauh lebih menarik dibanding toples polos. Agah dan Deden nyengir kuda. Bangga!


***


“Sok lah, bikin yang banyak. Gua ikut jualin di Bandung” kata Agah. Deden mengangguk setuju.


Agah menawarkan pada teman kos-kosan, teman sekelas, sejurusan, ibu kos, bapak ibu dosen, semua yang ia kenal ditawari. Bahkan Sambal Bawang One Punch merambah ke toko  photocopy-an.


Pemilik toko fotokopi tempat Agah kerja sambilan, beri ijin Agah meletakkan beberapa toples Sambal Bawang One Punch di atas kaca etalase. Agar terlihat oleh pengunjung toko, dan targetnya tentu saja membeli.


Dua pekan sekali Deden mengirim selusin toples Sambal Bawang One Punch ke Bandung untuk dijual Agah. Tak lupa dikirim juga ke Ciputat tempat Adang.


Siang itu fotokopi sibuk. Banyak pekerjaan dari mahasiswa tingkat akhir menjilid skripsi. Agah tak sempat duduk, terlalu sibuk mengurus pekerjaannya.


“Bang, ini Sambel Bawangnya dijual?” tanya seorang pengunjung fotokopi.


“Iya,” jawab Agah tanpa melihat si penanya. Mata Agah sibuk mengukur kertas yang hendak dipotong.


“Berapaan Bang?” Kali ini Agah sempatkan melihat. Bukannya segera menjawab, Agah malah diam menatap pembeli. Gerak jantung Agah menjadi cepat, bibirnya tercekat.


Tak menyangka si penanya harga sambal bawang itu adalah gadis yang ia suka: Caca.


***