Strong Woman

Strong Woman
bab 8



"Apa kau pikir bisa menghancurkan kami?" Barack berbisik di saat beberapa pihak kepolisian berada di sekitarnya. Bersiap untuk menahannya atas perbuatan yang ia lakukan kepada seorang nona muda Will.


Mendapat pertanyaan dari suaminya, Angeline hanya tersenyum miring. Ia bahkan menatap hina ke arah pria bertubuh tinggi di depannya.


"Aku bahkan bisa melenyapkan sekarang," balas Angeline dengan suara lirih. Barack semakin menatap lekat wanita di depannya ini. Ia seakan tidak mengenali wanita tersebut.


"Kau siapa? Kau bukanlah, Angeline Queen Will." Sentak Barack yang merasa yakin wanita ini bukanlah istrinya. Menilai dari tatapan matanya, ia sangat yakin wanita di hadapannya ini bukanlah, istrinya.


Angeline bukannya merasa tersudutkan dengan pertanyaan suaminya, ia bahkan terlihat tersenyum lebar. Semakin menatap Barack dengan cemoohan.


"Aku rasa kau benar-benar idiot. Jangan pikir aku akan memberikan tatapan damba dan kagum kepada pria payah sepertimu. Aku hanya muak berada di sekitar kalian. Ingat, tidak selamanya wanita yang terlihat lemah akan terus berada di posisinya, dia hanya menunggu waktu untuk membuat ledakan. Dan sekarang waktu yang sangat tepat menurut aku. Mengenai, luka sayatan di perut, kau jangan khawatir, aku akan membalasnya lain waktu, aku bahkan akan menyayat dadamu, karena menurutku hatimu yang kotor perlu di cuci." Sungguh Angeline sukses membuat wajah Barack tidak mampu berkata-kata. Wajah istrinya begitu terlihat tenang dan gayanya begitu elegan.


"Kenapa kalian diam! Lakukan tugas kalian dengan baik, aku tidak ingin mengeluarkan banyak uang untuk menyumbang pemerintah dan menggaji petugas seperti kalian yang lambat." Sungguh sifat Berliza yang kejam dan bengis sukses membuat semua orang tercengang.


Mungkin sifat lemah lembut nona muda Will sekarang lebih diakui sebagai nona muda arogan.


"Cepat bawa mereka! Dasar kalian pemalas dan lambat. Jangan buat aku merasa menyia-nyiakan harta yang sudah aku berikan kepada kalian!" Angeline meninggikan suaranya, yang mana semakin membuat orang tidak percaya.


Setahu mereka, nona muda Will, tidak pernah meninggikan suaranya kepada siapapun. Apalagi mengungkit pengeluaran harta untuk menyumbang keuangan pemerintah melalui wajib pajak yang tidak sedikit jumlahnya setiap tahunnya.


Barack pun digiring keluar Mansion mewah tersebut dengan nyonya Maria dan Patricia yang tampak berantakan menuju pintu utama Mansion super mewah itu.


"Lepaskan kami, apa kalian lupa siapa aku dan putraku, huh! Kami adalah seorang konglomerat kaya, asal kalian tahu!" Nyonya Maria terus berusaha memberontak untuk dilepaskan, sungguh ia tidak ingin meninggalkan kediaman super mewah milik Angeline.


Ia merasa baru saja ingin bersenang-senang dan dengan berbagai fasilitas lengkap yang ada di kediaman mewah itu dan ingin melakukan perjalanan keseluruhan dunia, tentu saja menggunakan materi milik Angeline.


Namun sepertinya semua harus dikubur dalam-dalam dengan kembalinya sang pemilik pewaris kerajaan bisnis WQ group. Yang menjadikan mimpi buruk bagi mereka.


Begitu juga dengan Patricia yang tidak jauh berbeda dengan nyonya Maria. Baru saja ia akan berfoya-foya dengan harta Angeline dan merasakan hidup kaya bersama kekasihnya, Barack Johnson. Namun kembali ia harus menelan impian indah mereka.


Wanita itu hanya bisa menatap dengan wajah sendu sekitar Mansion. Menatap semua pernak-pernik mewa yang ada di sana dan baru saja akan ia pamerkan kepada semua orang kalau dirinya layak disebut sosialita terkaya di dunia.


Angeline mengikuti langkah mereka dengan wajah puas, menoleh tajam ke arah pelayan yang tubuh mereka sudah bergetar takut.


Namun saat ketiga pemeran licik itu berada di bawah tangga kokoh, terdengar suara tangisan bayi.


Suara itu berasal di salah satu kamar di lantai dua. Patricia tersenyum kepada Barack, ia akan menjadi bayi itu sebagai pelindungnya.


Keduanya pun saling melempar senyum licik, Patricia mulai memasang wajah bersahaja seorang ibu.


Melirik ke arah Angeline yang terlihat membeku di tempatnya sambil mendongak ke atas.


"Bayiku!" Seru Patricia yang berusaha lepas dari genggaman para petugas kepolisian.


"Lepaskan, aku ingin menemui bayiku! Pekik wanita itu yang kini memasang wajah memohon.


"Aku mohon, lepaskan aku, biarkan aku menemuinya," punya wanita itu dengan raut wajah sedih seakan meminta belas kasihan.


Wanita itu berhasil lepas, saat anggota kepolisian merasa kasihan melihat wajah Patricia juga tangisan bayi tersebut.


Patricia dapat tersenyum puas dalam hati sambil melirik Angeline yang terlihat menatapnya tenang.


Wanita itu pun dengan pedenya ingin melewati Angeline, namun kepercayaan dirinya itu hilang, saat merasakan tarikan tangan seseorang di pergelangan tangannya.


"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku ingin menemui an …."


"Plak, plak." Lagi-lagi Patricia mendapat tamparan kuat dari Angeline, membuat tubuhnya terhempaskan ke tempatnya tadi yaitu di bawah kaki para kepolisian.


"Jangan pernah menyebut bayiku adalah darah dagingmu, karena kau tidak pernah merasakan perut dibelah tanpa obat bius," ucap Angeline dengan wajah suram ia perlihatkan kepada Barack dan mommynya.


"Apa yang kau katakan, dia bagiku, aku yang melahirkannya!" Teriak Patricia tidak terima dengan ucapan, Angeline.


"Akh!" Wanita itu memekik kesakitan, saat Angeline berjalan mendekat, lalu menarik rambut bagian belakangnya dengan begitu kuat.


Patricia bahkan merasa akar rambutnya ingin rontok hingga ke ubun-ubun.


"Bukankah, kelahiran butuh proses mengandung, nona stewart? Jadi katakan sejak kapan kau mengandungnya?" Sergah Angeline dengan suara dingin tepat di pinggir telinga wanita itu.


"Tapi dia memang ibu bayi yang ada di atas!" Nyonya Maria ikut angkat bicara dengan suara nyaring.


Barack masih diam, ia akan melihat sampai mana kekuatan Angeline, ia tahu bayi itu merupakan kelemahannya.


Patricia menganggukkan kepalanya sambil menahan rasa sakit. Jangan tanyakan wajah kedua orang tua wanita ini, yang begitu terpukul melihat keadaan putri semata wayang mereka.


"Benarkah? Kalau begitu aku ingin melihat jejak bayi itu saat keluar," ujar Angeline, melepaskan tangan sambil mendorong kepala belakang Patricia ke depan.


"Apa kau sudah gila! Kau ingin putriku berpenampilan polos di depan semua orang, di mana perasaanmu!" Pekik ibu Patricia, saat mendengar perintah Angeline pada seorang dokter untuk memeriksa jejak kelahiran yang wanita licik itu alami dan harus di saksi semua orang.


"Kenapa aku harus memiliki perasaan iba kepadanya, yang sudah menjadi pengkhianat dan menikamku dari belakang, seharusnya anda malu memiliki putri sepertinya yang sudah menjadi wanita murahan," tandas Angeline dengan kata-katanya yang tajam juga wajahnya yang arogan.


"Tidak, lepas! Apa yang akan kalian lakukan!" Patricia berusaha menghindar, saat beberapa perawat dan seorang dokter yang sudah Angeline siapkan untuk menghadapi rencana licik ketiga pengkhianat.


"Lakukan dan perlihatkan kepada semua orang, jejak pertarungannya dalam melahirkan seorang anak!" Titah Angeline, duduk di kursi yang disediakan oleh pengawalnya, menatap Patricia yang di baringkan di atas lantai dengan empat orang terlihat memegangnya.


"Apa yang kau lakukan, huh! Lepaskan dia!" Gertak Barack yang melihat Patricia yang mulai diperiksa oleh dokter tersebut di depan semua orang yang ada di sana.


"Kenapa aku harus melepaskannya? Oh, ayolah, aku sangat penasaran jalan keluar bayinya di mana?" Ucap Angeline dengan raut sinis juga santai.