
Barack menatap penuh kebencian ke arah, wanita di depan sana yang duduk di sebuah bangku dengan menyilangkan kaki.
Gaya penuh kharisma seorang pemimpin, bahkan Barack sangat asing dengan tatapan juga gaya istrinya sekarang.
Wajah Angeline terlihat tenang dengan kedua mata terpejam, mendengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.
Senyum miring terlihat di salah satu sudut bibirnya, merasakan ke datang Barack.
Kedua mata indah, yang dahulu terlihat teduh pun bersahaja, kini tampak, menentang juga berani.
Barack sangat yakin, wanita di hadapannya ini bukanlah istrinya. Melainkan orang lain.
Angeline menegakkan punggungnya yang sedang posisi bersandar, tersenyum lebar melihat penampilan kacau Barack.
Pria itu seakan berubah sangat menyedihkan, tanpa barang mewah di sekitar tubuh atletisnya.
"Aku rasa kau sangat pantas berada di sekitar sini. Tidak akan ada seseorang menganggumu bukan? Kau juga tidak perlu memikirkan tentang harta milikku yang akan kau ambil alih. Kau cukup hidup nyaman disini, dapat tempat tinggal gratis, begitu juga dengan makanan dan minum. Bukankah, hidupmu begitu beruntung?" Angeline berhasil membuat amarah Barack terselut.
Mengeluarkan kata-kata hina kepada pria tampan di depannya tersebut.
"Kau siapa sebenarnya? Aku sangat mengenal istrku dengan benar, dan sikapmu ini meyakinkan aku kalau kau bukan dia," mendengar pernyataan Barack, Angeline hanya terkekeh. Menatap penuh selidik ke arah Angeline.
"Cih, benarkah? Kau begitu mengenalku? Bukankah, kau tidak pernah peduli? So, darimana kau tahu tentang diriku? Kau bahkan tidak pernah menganggapku istrimu, tuan Barack Jhonson." Sergah Angeline dengan senyum sinis, sambil bangkit dari bangku yang tersedia di depan tahan.
"Aku sangat yakin kau bukanlah, dia!" Sentak Barack yang begitu yakin dengan pikirannya.
"Terserah, aku di sini bukan untuk menyaksikan drama yang kau buat. Aku kesini ingin mengambil sesuatu dari dirimu," ucap Angeline, wanita itu memerintahkan seorang dokter juga dua perawat untuk melakukan tugas yang sudah ia perintahkan.
"Lakukan sekarang, aku tidak ingin terlalu lama bersamanya disini," pinta Angeline kepada dokter tersebut.
Barack yang tidak mengerti pun kini berusaha memberontak saat didudukkan di tempat Angeline sebelum.
"Apa-apaan ini! Hey lepaskan akun sialan!" Gertak Barack yang tidak terima dirinya diperlakukan semena-mena oleh kaum rendahan.
"Stt, diamlah. Bersyukur aku melakukannya dalam keadaan sadar, jadi kau akan melihat tetesan darah keluar," pungkas Angeline yang memberikan perintah kepada sang dokter.
"Apa maksudmu!" Sekali lagi Barack menolak perintah Angelin dan kini ia diikat paksa.
"Aku membutuhkan banyak darah untuk keselamatan bayiku. Hanya kau yang memiliki DNA sama dengannya," terang Angeline.
Barack pun bisa tersenyum penuh rencana saat mendapat sebuah rencana.
Namun seketika hancur, saat mendengar seruan Angeline.
"Lepaskan! Kau tidak berhak melakukan ini!" Pekik Barack, yang enggan untuk memberikan darahnya.
"Aku tidak memerlukan protesmu, aku hanya butuh banyak darahmu," Sahut Angeline, tanpa memperdulikan wajah benci Barack.
"Lepaskan, ini begitu sakit!" Teriak Barack kembali, saat dokter tiba-tiba mengambil tangannya dan langsung menancapkan jarum.
"Rasakan saja semua sensasi ini. Aku bahkan begitu lebih sakit, saat perutku di belah tanpa obat bius, sungguh rasanya begitu sakit.
"Akh, Barack kembali berteriak, saat Angeline melukai pergelangan tangan pria itu dengan senjata tajam.
Darah mengucur di atas lantai, dengan pergelangan tangan Barack yang terlihat goresan dalam.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan pada bayiku, jadi bersiaplah, aku akan menguras banyak darahmu.
Akhirnya Barack pun tidak mampu melawan, darah terus mengalir mengisi kantong darah yang menggantung.
Barack terlihat semakin pucat, saat beberapa kantong darah berhasil diambil. Membuat senyum Angeline semakin lebar.
Melihat wajah pucat Barack yang tidak mampu berbuat apa-apa. Ia juga sangat puas saat mendapat beberapa kantong darah dari hasil pemaksaan hingga Barack tidak mampu bergerak lagi.
Angeline meninggal suaminya itu begitu saja dengan kondisi lemah. Tidak ada wajah prihatin yang Angeline perlihatkan, yang ada wajah puas.
"Antar ini semua ke Mansion!" Titah Angeline saat berada di dalam mobil, memerintahkan kepada sang dokter untuk membawa kantong darah yang ia beroleh dari suaminya.
"Berhenti!" Angeline menghentikan laju mobil saat berada di depan sebuah restoran mewah.
"Biar aku turun dan berjalan sendiri, kalian kembalilah. Beritahu aku kalau sesuatu buruk terjadi!" Pesan Angeline, keluar dari mobil dan jalan menuju pintu masuk restoran.
Angeline melangkah dengan elegan dan wajah tegasnya terus menatap ke depan. Mengabaikan tatapan kagum orang-orang yang melintas di depannya.
Jiwa baru di tubuh Angeline,ingin merasakan masakan di zaman sekarang yang jauh berbeda dengan makanan pada zamannya.
"Bruk." Saat pintu restoran otomatis itu terbuka, tubuh Angeline menabrak seseorang, wajah wanita itu mengenai dada keras pria di hadapannya.
Hampir saja Angeline akan terjatuh di atas lantai, beruntung pria di depannya dengan sigap menahan tubuhnya.
Angeline mengarahkan pandangannya pada sosok pria di hadapannya, yang seketika membuat kedua kelopak matanya terbuka lebar, terkejut melihat wajah di depannya, membuat seketika tubuhnya menegang dengan raut wajah tidak percaya.
"K-kau?!